Literasi Di Ruang Publik


 Literasi Di Ruang Publik

Oleh Iman Sukwana*

Pada hakikatnya berkembangnya sebuah perpustakaan di tengah-tengah masyarakat merupakan indikator dan barometer berkembangnya literasi di masyarakat. Pada masa sekarang ini, informasi memegang peran penting dalam kehidupan, yakni masyarakat yang didalam kehidupannya memerlukan banyak ketersediaan akses dan kemudahan informasi. dengan demikian informasi menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuni seperti kebutuhan pokok lainnya. Perpustakaan memiliki peran, tugas dan fungsi yang strategis yang dapat melayani kebutuhan informasi masyarakat dengan baik, memuaskan dengan penuh perhatian dan memiliki kesan yang menyenangkan.

Mengingat perkembangan sarana informasi dan komunikasi pada saat sekarang ini sudah merambah semua lapisan masyarakat, dan sudah tidak lagi merupakan barang yang “aneh”, maka peran perpustakaan diarahkan lebih aplikatif dalam memberdayakan kehidupan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Suatu masyarakat yang dalam kehidupannya sehari-hari dengan intensitas yang teratur, rutin dan berkesinambungan menggunakan informasi. Keadaan masyarakat tersebut dapat disebut sebagai masyarakat informasi, didalamnya terdapat saling keterhubungan melalui alat atau jaringan informasi. hal ini menjadikan perpustakaan tertantang untuk mengusahakan ketersediaan dan kemudahan dalam mengakses informasi. dengan demikian, volume pekerjaan perpustakaan menjadi lebih besar, pengunjung lebih ramai, transaksi dan transfer informasi semakin tinggi.

Perpustakaan sebagai Ruang Publik

Abidin Kusno (2009) sebagaimana dikutip Alhanaan mengatakan bahwa ruang publik adalah ruang umum yang lebih bebas penggunaannya untuk partisipasi publik. Dengan kata lain ruang publik memiliki arti yang melebihi bentuk fisiknya dan bukan hanya merupakan sebuah ruang penampungan pasif yang dikesampingkan oleh sebuah kota untuk menjadi tempat bagi semua orang. Ruang publik adalah sebuah ruang yang aktif mengontrol dan membentuk kesadaran masyarakat.

Habermas berpendapat ruang publik adalah arena diskursif yang berbeda dan terpisah dari ekonomi dan negara, di mana melaluinya para warga berpartisipasi dan bertindak melalui dialog dan debat. Untuk itu, Habermas mensyaratkan ruang publik agar bebas dan kritis. Bebas artinya setiap pihak dapat berbicara di mana pun, berkumpul, dan berpartisipasi dalam debat politik. Kritis artinya siap dan mampu secara adil dan bertanggung jawab menyoroti proses-proses pengambilan keputusan yang bersifat publik (http://al-hanaan.com/penguatan-literasi-pendidikan-demokratis-dan-ruang-publik-untuk-menangkal-radikalisme/)

Mengingat ruang publik adalah sebuah area di mana keseharian kita berkecimpun di dalamnya. Dengan kata lain ruang publik tidak hanya bermakna ruang, di mana sebuah area menjadi tempat bagi kita beraktivitas. Namun lebih dari pada itu, ruang publik adalah sebuah ruang bagi berkembangnya ide, pikiran, ataupun artikulasi kepentingan kita. Ruang publik itu bisa taman, jalan raya, perkantoran, dan tempat kerja yang berkaitan dengan tata kota, termasuk didalamnya perpustakaan.

Dari pengertian tersebut, Perpustakaan Umum sebagai pengelola informasi yang dimanfaatkan oleh orang banyak tentu masuk dalam kategori ruang publik. Karena Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi.

Perpustakaan umum, seperti halnya perpustakaan Provinsi Banten  memiliki koleksi yang mendukung pelestarian hasil budaya daerah dan memfasilitasi terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat. Pada saat ini sudah mengembangkan sistem layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Sebagai ruang publik tentu saja perpustakaan menyediakan fasilitas-fasilitas pengembangan literasi masyarakat. Bagi masyarakat yang menggunakannya tentu ada kesepakatan-kesepakatan, agar fasilitas ruang publik itu dijaga dengan sebaik-baiknya.

Literasi Informasi

Literasi informasi adalah kemampuan untuk tahu kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi.

Menurut American Library Association (ALA), literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. (https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi_informasi).

Dengan demikian sikap seseorang terhadap informasi adalah mengetahui kapan memerlukan informasi, mengetahui mengapa memerlukan infomasi, mengetahui kemana mencari informasi, mengetahui bagaimana mengevaluasi informasi, mengetahui bagaimana menggunakan informasi, dan mengetahui bagaimana mengomunikasikan informasi.

Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1) Literasi Dini (Early Literacy), yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. 2) Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi. 3) Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah. 4) Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. 5) Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. 6) Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. (https://rahmarizqy.wordpress.com/2017/02/02/gerakan-literasi-sekolah/)

Literasi merupakan sebuah proses belajar sepanjang masa yang bertujuan membentuk individu yg bijak, kritis, kreatif, bersimpati dan berempati pada diri sendiri dan lingkungannya. Pada hakikatnya literasi bertujuan menciptakan individu yg cakap secara kognitif, memiliki kesadaran sosial, refleksi kritis melakukan perubahan kearah yg lebih baik, dan kontribusi dalam membangun peradaban.

Fasilitas Ruang Publik Di Perpustakaan Provinsi Banten

Perpustakaan sebagai sebuah lembaga dalam pelayanan publik berada pada posisi yang sangat strategis. Kekuatannya terletak pada pembentukan pola pikir dan perilaku masyarakat. Sutarno (2008) menyatakan bahwa peran perpustakaan ke depan adalah sebagai administrator, inisiator, fasilitator dan motivator.

Pertama, perpustakaan sebagai administrator adalah menghimpun, mengelola, mengatur, menyajikan dan memberdayakan sumber-sumber informasi secara sistematis kepada pemustaka. Kedua, perpustakaan sebagai inisiator adalah penggugah timbulnya ide/gagasan dan pemikiran masyarakat untuk melakukan perubahan. Ketiga, perpustakaan sebagai fasilitator adalah memberikan fasiltas dan kemudahan bagi masyarakat yang ingin belajar, meneliti, mengembangkan kemampuan dan memperluas wawasan. Keempat, perpustakaan sebagai motivator adalah memberikan dorongan agar masyarakat secara berkesinambungan memanfaatkan bahan informasi yang tersedia dengan berbagai kemudahan akses yang tersedia.

Agar perpustakaan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pengembangan dan pertumbuhan literasi masyarakat, maka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten menyediakan ruang-ruang untuk dimanfaatkan sebagai ruang publik.

Ada beberapa fasilitas layanan di Perpustakaan Provinsi Banten, diantaranya adalah :  

1. Layanan Sirkulasi. Merupakan layanan peminjaman dan pengembalian bahan informasi tercetak berupa buku yang termasuk kategori koleksi umum.

2. Layanan internet. Jenis layanan internet masih menjadi layanan yang banyak dicari oleh pemustaka. Dengan demikian perpustakaan perlu menyediakan ruangan ini untuk kenyamanan akses dan memperoleh informasi yang lebih luas.

3. Layanan Perpustakaan Keliling

4. Layanan Mobil Pintar

5. Layanan Storytelling

6. Layanan Bimbingan Pemustaka

7. Layanan Multi Media

8. Layanan Pemutaran film

9. Layanan Referensi, berupa layanan rujukan bagi pemustaka yang membutuhkan.

10. Layanan Konsultasi Pengelolaan Perpustakaan

11. Layanan Subject spesialist, berupa layanan rujukan yang diberikan kepada pemustaka bagi yang ingin mengetahui lebih dalam terhadap informasi yang ditelusuri.

12. Ruang Banten Corner dan Bank Indonesia Corner

13. Bedah buku

14. Berbagai kegiatan kepustakawanan dan lomba-lomba. Kegiatan ini diantara berupa bazar buku, seminar, peringatan hari kunjung perpustakaan, lomba bercerita/mendongeng dan lomba kepustakawanan lainnya.

Selain kegiatan yang mendukung kegiatan publik tersebut. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten juga menyediakan ruang publik berupa :

1. Ruang Audio Visual. Ruang ini digunakan untuk layanan pemutaran film, mendongeng, seminar, workshop atau pertemuan lainnya. dan dapat digunakan oleh masyarakat.

2. Ruang Teater. Fungsi ruang ini sama dengan ruang Audio Visual.

3. Halaman kantor. Halaman kantor dapat digunakan untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang menghadirrkan masyarakat secara masal, seperti promosi perpustakaan, bazar buku dan lain-lain.

4. Ruang diskusi. Ruang ini digunakan bagi masyarakat yang membutuhkan ruang untuk diskusi.

5. Pengadaan buku koleksi yang mengutamakan berbahasa Indonesia, sekitar 95% dibanding buku berbahasa asing.

6. Penerjemahan/alih bahasa buku/kitab berbahasa asing kedalam bahasa Indonesia.

7. Pengembangan informasi publik berbahasa Indonesia, berupa brosur dan informasi lainnya.

Penutup

Kita tidak dapat membayangkan, seandainya tidak ada perpustakaan yang menyimpan dan melestarikan karya-karya umat manusia pada masa lalu sebagai penuntun, penunjuk dan pedoman. Berdasarkan pengetahuan yang kita kuasai, dimasa sekarang ini kita bisa menyelenggarakan berbagai kegiatan yang ebih maju dari masa lalu dengan berbagai kemudahan, fasilitas dan perlengkapan. Sementara masa depan yang kita tuju harus dipersiapkan dari sekarang, karena wujud masa depan itu tergantung pada kemampuan dan kekuatan yang kita miliki sekarang.

Sebagai ruang publik, perpustakaan merupakan salah satu sarana untuk memfasilitasi dan merencanakan masa depan dengan lebih baik, yaitu bekal ilmu dan teknologi informasi. perpustakaan merupakan sesuatu yang integral dalam kehidupan moderen sekarang ini. Artinya perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan memberikan andil baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lembaga perpustakaan yang telah berfungsi dengan baik dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat, maka disini telah terjadi transfer informasi dan pengetahuan. Perpustakaan juga telah melakukan transformasi pola pikir, ucapan dan perilaku yang didasarkan pada penguasaan, pemaknaan, dan penerapan pengetahuan dan teknologi kepada pemustakanya.

Pengembangan literasi ini juga sejalan dengan  empat pilar pendidikan menurut UNESCO, yaitu : mampu memahami dan menguasai ilmu pengetahuan (learning to know), mampu menerapkan dan memecahkan masalah (learning to do), mampu menjadi manusia seutuhnya (learning to be), dan mampu hidup bersama dengan harmonis (learning to live together).

*Pustakawan pada DPK Provinsi Banten

 

Sumber tulisan :

Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

Sutarno NS. (2008). 1 Abad Kebangkitan Nasional & Kebangkitan Perpustakaan. Jakarta : Sagung Seto.

Al-Hanaan. penguatan-literasi-pendidikan-demokratis-dan-ruang-publik-untuk-menangkal-radikalisme. (http://al-hanaan.com/penguatan-literasi-pendidikan-demokratis-dan-ruang-publik-untuk-menangkal-radikalisme/). Diakses tgl.1-11-2018

https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi_informasi. diakses tgl. 1-11-2018.

             Rahma Rizky. Gerakan Literasi Sekolah.

          https://rahmarizqy.wordpress.com/2017/02/02/gerakan-literasi-sekolah/) diakses tgl. 1-11-2018


Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan