• Wednesday, 24 April 2019
  • Menumbuhkan Keterampilan Membaca Pada Anak


    Menumbuhkan Keterampilan Membaca Pada Anak

    Oleh Ai Bida Adidah*

    Pada usia anak-anak, membaca buku atau dibacakan buku akan membawa imajinasi mereka ke arah petualangan yang mereka inginkan. Melalui membaca, anak belajar menemukan perbendaharaan kata dan susunan kalimat, hal ini akan juga akan membantu dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.

    Ibarat orang ingin minum, seseorang akan tergerak motivasinya untuk mengambil air manakala ia merasa haus karena ia membutuhkan air. Atau seperti orag lapar, ia membutuhkan makanan untuk memenuhi rasa laparnya. Demikian halnya dengan membaca, seseorang akan mau membaca ketika dalam dirinya memerlukan wawasan, ilmu dan berbagai pengalaman untuk menyuplai kebutuhan intelektualnya.

    Namun demikian, mengutip pendapat Lilis Madyawati dalam buku “Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak” (2017) mengatakan bahwa kealamian pemerolehan bahasa tidak dibiarkan mengalir begitu saja, tetapi diusahakan sedemikian rupa sehingga agar anak mendapat stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Dengan begitu diharapkan anak tidak akan mengalami  kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk terampil berbahasa. Oleh karena itu pola asuh yang kreatif, inovatif, seimbang dan sesuai dengan tahap perkembangan anak akan menciptakan interaksi dan situasi komunikasi yang memberi kontribusi positif terhadap keterampilan berbahasa anak.

    Artinya untuk menuju ke arah pembahasaan, tentu orang tua harus memperhatikan kondisi psikologis dan sosial anak. Membiasakan hal-hal yang baru terhadap anak tidak bisa dipaksakan, karena akan mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Juke R. Siregar (dalam buku Dinamika Informasi dalam Era Global.1998) mengemukakan beberapa prinsip yang perlu dipahami antara lain pertama, pada anak yang belum mampu membaca sendiri, maka orang tua atau guru hendaknya membacakan buku atau menceritakan isi buku baik dengan bahasa buku sendiri atau menggunakan bahasa pencerita. Selama membacakan cerita, lakukan dialog berupa pertanyaan atau anak diberi kesempatan bertanya. Situasi ini akan mendorong rasa ingin tahu anak dan mengembangkan imajinasinya.

    Kedua, para orang tua atau guru hendaknya memberi kesempatan pada anak untuk membeli di toko buku atau memilih buku di perpustakaan berdasarkan minatnya. Kemudian menanyakan minat anak tentang topik buku yang ingin dibaca dan membantu untuk mencari tema buku yang dikehendaki. Selain itu anak diarahkan pada topik-topik yang memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu, meningkatkan perkembangan bahasa, kognisi, dan sosial emosional.

    Ketiga, orang tua, guru dan anak itu sendiri memiliki waktu yang cukup untuk membaca setiap hari. Bila kegiatan membaca membaca dilakukan oleh orang tua dan guru, keadaan ini  memberikan kesan pada anak bahwa membaca merupakan kegiatan penting dalam kehidupan sehari-hari. Pada anak yang belum mampu membaca, berikan waktu yang luang, sehingga mereka dapat mengamati buku dengan perlahan. Pada anak yang baru belajar membaca, diberi kesempatan untuk membaca sendiri. Hal ini akan mendorong untuk meningkatkan keterampilan yag baru tersebut. Dan pada anak yang sudah mampu membaca dan memiliki jadwal kegiatan yang penuh, maka para orang tua atau guru membantu untuk mengatur kegiatan tersebut dan memberikan waktu untuk membaca sambil istirahat dengan buku yang mudah dipahami.

    Keempat, para pengelola pendidikan dan media harus mempu menciptakan metode pengajaran yang menggabungkan perkembangan teknologi dan penggunaan buku. Apalagi sekarang perkembangan teknologi informasi sangat cepat. Di beberapa perpustakaan, peminjaman dan pengembalian koleksi sudah menggunakan aplikasi ebook (buku elektronik).

    Kelima, mengaktifkan perpustakaan sekolah, dan ini merupakan cara yang paling efektif yaitu dengan cara mendorong anak meminjam buku dari perpustakaan sesuai minat, sementara guru selalu meminta anak untuk mengungkapkan mengenai apa yang sudah dibacanya. Dengan demikian sekolah mengupayakan pengelolaan perpustakaan sekolah yang memenuhi kebutuhan informasi peserta didik.

    Perkembangan bahasa pada anak menyangkut empat komponen yaitu kemampuan berbicara, keterampilan menulis, kemampuan membaca, dan keterampilan menyimak. Semua komponen tersebut memiliki keterkaitan satu sama lainnya.

    Untuk melatih keterampilan menyimak misalnya, orang tua dapat menggunakan metode simak-dengar dengan memberikan cerita-cerita yag disukai anak. Penceritaan langsung tanpa menggunakan buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita langsung dengan kata-kata sendiri yang sangat dimengerti anak akan memberi efek yang lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu. Keterampilan menyimak akan berdampak pada keterampilan berbicara.

    Stimulus yag diberikan oleh orang tua berupa bahan bacaan yang dapat disimak bagi anak bisa di respons dengan metode ulang-ucap. Pada kegiatan ini anak diarahkan untuk menceritakan kembali apa yang sudah dibacanya, sementara orang tua bertindak sebagai pendengar yang baik. Biarkan anak bercerita dengan gaya berceritanya sendiri menurut pemahamannya.

    Seiring dengan perkembangnnya, anak akan mencari dan menemukan wahana lain yang akan membuka peluang lebih untuk mengekspresikan keterampilan yang telah diperoleh. Perkenalkanlan buku atau bacaan sedini mungkin kepada anak. Mengenal dunia baru lewat bacaan yang ada akan menjadi keasyikan tersendiri pada anak. Semoga.

    *Peminat Masalah Sosial.


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan