• Sunday, 24 March 2019
  • GURU DAN LITERASI DIGITAL UNTUK GENERASI MILENIAL


    GURU DAN LITERASI DIGITAL UNTUK GENERASI MILENIAL

    Oleh : Asep Awaludin

    Arus deras informasi di era digital menuntut masyarakat lintas generasi harus cerdas menangkap konten-konten yang bertebaran di dunia maya, baik melalui portal atau situs berita maupun media sosial. Langkah ini dilakukan karena tidak sedikit informasi palsu (hoaks) atau berita bohong (fake news) yang kerap mempengaruhi seseorang sehingga berdampak pada tatanan sosial, menimbulkan keresahan, dan perpecahan antar elemen bangsa.

    Istilah literasi digital dikemukakan pertama kali oleh Paul Gilster (1997), yaitu sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Ia mengemukakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks, seperti akademik, karier, dan kehidupan sehari-hari. Bawden (2001) memperluas pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an ketika komputer mikro semakin luas dipergunakan, tidak hanya di lingkungan bisnis, tetapi juga masyarakat. Sementara itu, literasi informasi menyebar luas pada dekade 1990-an manakala informasi semakin mudah disusun, diakses, dan disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring.

    Pemerintah Indonesia sangat menyadari bahwa perkembangan teknologi yang sangat masif ini akan berdampak pula pada pola pikir dan tingkah laku para generasi milenial. Generasi milenial disebut juga sebagai generasi digital.  Generasi milineial/digital adalah mereka yang tumbuh  dalam kemudahan akses informasi digital dan teknologi informasi. Generasi ini sangat dekat dengan perkembangan teknologi komputasi digital. Mereka sangat nyaman  dengan keberadaan teknologi komputasi ini, bahkan menjadikannya sebagai kebutuhan primer. Dan tak dapat dipungkiri bahwa mereka sangat ahli dengan teknologi tersebut yang melebihi orang-orang dari generasi sebelumnya. Sebagai dampaknya, mereka pun sangat rentan akan pengaruh buruk hoax  dan fake news.

    Dunia pendidikan juga  memiliki peranan penting guna menaggulangi pengaruh buruk perkembangan teknologi. Tujuannya adalah agar hoax  dan  fake news tak begitu larut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku para generasi milenial. Guru harus mampu mengintegrasikan  beragam teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pembelajarannya. Hal ini sebagai bentuk  penyesuaian pembelajaran dengan karakteristik  siswa sebagai generasi milenial.  Penyesuaian tersebut diantaranya meliputi pengembangan media-media pembelajaran elektronik dan pemanfaatan situs media-media sosial. Selain itu, guru juga dapat menfaatkan situs-situs  di media sosial untuk aktivitas pembelajaran dan pengembangan strategi-strategi  pembelajaran online dengan perpaduan antara online dan tatap muka.

    Saat ini tantangan terbesar dalam penerapan literasi informasi di sekolah berasal dari internal sekolah, di antaranya kemampuan guru di bidang literasi informasi yang kurang memadai, belum ada kebijakan sekolah tentang program literasi informasi, serta tidak ada program literasi informasi di sekolah, sehingga peserta didik tidak memiliki kemampuan dalam hal mencari, menelusuri, mengolah, dan mengevaluasi informasi secara efektif dan efisien. Rendahnya tingkat literasi informasi di kalangan peserta didik juga berdampak pada maraknya plagiarisme (penjiplakan) di lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, guru selaku pendidik harus memiliki keterampilan literasi informasi yang baik agar dapat mengajarkan keterampilan literasi informasi kepada para peserta didik.

    Seorang tenaga pendidik di zaman milenial, diwajib­kan untuk memahami teknologi informasi, dimana sektor pendidikan menjadi salah satu sasarannya. Sesuai tuntutan zaman, sekolah mewajibkan peserta didik menguasai atau memahami penggunaan teknologi informasi, terlebih tingkatan sekolah yang melaksanakan ujian berbasis komputer. Dalam hal ini tanggung jawab sekolah menyiapkan peserta didik menghadapi semua perubahan yang begitu pesat di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Mengharuskan sekolah dituntut untuk mampu menghasilkan peser­ta didik unggul dalam sumber daya manusia dan mampu bersaing dalam kompetisi global.

    Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Ba­dan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di­tegaskan bahwa tenaga pendidik harus memiliki kompetensi seba­gai agen pem­belajaran, sehat jasmani dan rohani, pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan atas. Arahan nor­matif tersebut yang menyatakan bah­wa tenaga pendi­dik da­lam hal ini sebagai agen pembelajaran me­nunjukkan pada harapan bahwa guru me­rupakan pihak pertama yang paling bertang­gungjawab dalam pentransferan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.

    Berangkat dari situasi akan pentingnya penguasaan teknologi informasi, peran tenaga pendidik juga dituntut untuk mampu memadukan keterampilan pedago­gisnya dengan penguasaan tekno­logi informasi, sehingga pembe­lajaran kepada peserta didik menjadi lebih efek­tif. Tenaga pendidik lebih mu­dah menerapkan pembelajaran aktif dan menyenangkan. Dengan metode peserta didik menjadi sentral pembelajaran bu­kan lagi tenaga pendidik. Dengan kondisi de­mikian tenaga pendidik wajib lebih pin­tar, memilih atau mendesain media pembelajaran sehingga terlihat nyata fungsi teknologi informasi sebagai alat bantu pembelajaran memang sangat efektif.

    Peranan teknologi informasi di sekolah fungsinya sangat pen­ting, dimana dapat mengubah cara penyam­paian materi pelajaran yang bervariasi kepada peserta didik. Untuk mengim­ba­nginya para tenaga pen­didik haruslah me­lek teknologi, mem­buat tenaga pen­didik biasa mema­n­fa­atkan tekno­logi infor­masi pada media pem­be­lajaran di dalam kelas. Perlu adanya satu terobosan dilakukan di sekolah yakni mencip­takan program berkesi­nam­bungan dalam hal pemero­lehan tek­nologi informasi bagi para tenaga pendidik, demi menuju terciptanya tenaga pendidik yang mampu me­man­faatkan teknologi informasi, sehingga menjadikan tenaga pendi­dik mampu mengikuti perkem­bangan zaman, bukan malah tergerus oleh kemajuan teknologi itu sendiri. Dimana dengan tekno­logi informasi sesuatu menjadi efisien atau dimudahkan. Apresiasi pemanfaatan tekno­logi infor­ma­si dalam proses belajar mengajar di sekolah, karena dapat mendorong para tenaga pen­didik untuk menguasai teknologi infor­masi. Sebab hampir semua informasi dan pe­ngetahuan saat ini terekam baik dalam tek­­­nologi informasi, mengharuskan para te­naga pendidik untuk mampu mengaksesnya se­cara baik. Bagaimanapun melek teknologi informasi satu keharusan bagi tenaga pendidik professional

    Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa  kolaborasi positif antara pemerintah dengan tenaga pendidik menjadi sebuah keharuasan. Hal ini bertujuan guna menanggulangi dampak negatif perkembangan teknologi terhadap pola pikir dan tingkah laku para generasi milenial. Perkembangan teknologi juga dapat dijadikan sebagai peluang besar  untuk meningkatkan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan tenaga pendidik. Beragam jejaring sosial pun dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem informasi yang baik antarelemen bangsa ini. Dengan demikian, para generasi milineal pun akan lebih bijak dalam mengakses, mengelola, menganalisis, dan mengevaluasi  berbagai macam  informasi yang tersebar di situs-situs media sosial.

    *Pemustaka

     


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan