LITERASI AL-QUR’AN DALAM BAHASA PARA PEMBACANYA


LITERASI AL-QUR’AN DALAM BAHASA PARA PEMBACANYA

Oleh Ilzamudin Ma’mur*

The Glorious Qur’an and its everlasting teaching invite humankind to a comprehensive program of life that guarantees their felicity in this world and the hereafter.

As the Qur’an was revealed in the Arabic language, these teachings need to be communicated to the world’s nations through the means of translations in various languages. (Muhammad Naqdi, 2003)

 

Bermula dari Jazirah Arab sekira hampir lima belas abad yang silam, Islam kini telah dipeluk oleh warga dunia yang menyebar dan bermukim di semua benua utama:  Asia, Afrika, Australia, Amerika, dan Eropa. Bermula dari sekira ribuan saja penganut, kini umat Islam telah berjumlah jutaan bahkan milyaran pemeluk, antara 1.5 milyar (Hasan, et al, 2012) hingga 1.7 milyar (Askari, et al., 2017)) orang. Kendati secara bahasa beragam, secara nasionalitas berbeda dan secara geografis berjauhan, mereka disatukan dengan nama umat Islam, mereka memiliki satu kiblat Makkah al-Mukarramah, mereka memegang satu panji ‘la ilaha illa Allah’, dan mereka mempunyai satu pedoman  yang sama, al-Qur’an.

Al-Qur’an untuk Semua

Al-Qur’an diwahyukan Allah SWT dengan menggunakan bahasa Arab (QS.20:113) kepada Nabi Muhammad SAW, yang berasal dari masyarakat atau bangsa penutur asli bahasa Arab, di jazirah Arab. Namun demikian al-Qur’an sejatinya ditujukan, bukan terbatas kepada bangsa Arab saja, melainkan untuk semua bangsa di seluruh dunia, lil‘alamin, untuk seluruh alam. Keyakinan senada dinyatakan Safarzadeh (2005), bahwa “the Holy Qur’an does not belong only to a selected people by the name of Muslims:it is is but for all people of the world,..”. Al-Qur’an bukan hanya milik umat terpilih dengan nama Muslim saja: tetapi al-Qur’an sejatinya diperuntukan bagi semua umat di dunia.

Sebagai kitab suci Islam dan pedoman hidup Muslim, al-Qur’an harus dipahami langsung oleh para pemeluk Islam atau umat Islam, baik langsung dalam bahasa Arab atau melalui bahasa yang dikuasainya, termasuk bahasa asli yang mereka gunakan sehari-hari, yang oleh karenanya memerlukan penerjemahan : penerjemahan al-Qur’an dari bahasa Arab ke dalam bahasa umat Islam yang beragam. Sejalan dengan pemikiran ini, Muhammad Naqdi (2003), Direktur Pusat Penerjemahan Kitab Suci al-Qur’an  di Iran, mempertegas, sebagaimana disebutkan dalam epigraf di atas, bahwa al-Qur’an al-Karim dan ajaran-ajarannya yang abadi mengajak umat manusia kepada program kehidupan yang menyeluruh yang menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Dikarenakan al-Qur’an diwahyukan dalam bahasa Arab, ajaran-ajaran ini harus dikomunikasikan kepada bangsa-bangsa dunia melalui bantuan terjemahan dalam berbagai bahasa.

Menurut sebuah sumber (worldatlas.com), jumlah penutur bahasa Arab, termasuk di dalamnya umat Islam yang kemungkinan dapat memahami langsung al-Qur’an dalam bahasa Arab,  sekira 420 juta orang saja, sedang selebihnya 1 milyar 280 juta orang adalah non penutur bahasa Arab. Dengan gambaran demografis yang demikian, maka sangat logis bila kebutuhan umat Islam dunia terhadap terjemahan al-Qur’an dalam bahasa asli nasional dan daerah mereka sangatlah besar, apa lagi, sebagaimana dinyatakan Ziauddin Sardar (2011:39), salah seorang futurolog Muslim asal Inggris, bahwa “for the vast majority of people, Muslims and non-Muslims alike, the Qur’an is only accessible in translation. Yakni, “sebagian besar orang, Muslim dan non-Muslim, al-Qur’an hanya bisa diakses melalui terjemahan saja.” Pandangan ini diperkuat oleh fakta bahwa al-Qur’an hingga tahun 1980, berdasarkan World Bibliography of Translations of the Holy Quran-Printed Translations 1515-1980 (Ismet Binark dan Halit Eren, 1986), telah diterjemahkan ke dalam 65 bahasa, termasuk ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bila penelusuran dilakukan lagi sekarang, jumlah terjemahan al-Qur’an dapat dipastikan jauh lebih banyak lagi.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, tentu saja memiliki al-Qur’an terjemahan sendiri.  Terjemahan al-Qur’an pertama di Indonesia, ditulis dalam bahasa Melayu, sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, terbit pertama kali pada abad ke 17, dan terbitan terakhir 1981. Terjemahan al-Qur’an tersebut berjudul Tarjuman al-Mustafid dan ditulis oleh Abdurrauf as-Singkili yang bernama lengkap Syeikh Abd al-Rauf ibn Ali al-Fansuri al-Singkili (1515-1593). Sejak itu lahir terjemahan-terjemahan lain di Indonesia baik dalam bahasa nasional maupun bahasa daerah, baik yang dilakukan oleh pribadi maupun kelembagaan pemerintah, baik dalam bentuk pilihan maupun lengkap, baik dalam bentuk terjemahan maupun tafsir al-Qur’an. Sejak saat itu, kendati agak lambat 3 abad kemudian, yakni awal abad 20, terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Indonesia pun bermunculan.

Di antara terjemahan dan tafsir yang dihasilkan para ulama Indonesia abad 20, antara lain, adalah A. Hassan, Al-Furqān, (1928); Mahmud Yunus, Tafsir al-Qur`an Indonesia (1935); Zainuddin Hamidy dan Fachruddi HS., Tafsir Al-Qu`rān (1959); Halim Hassan, Tafsir al-Qur`an al-Karim (1955); Munawar Chalil dengan Tafsir Al-Qur`ān al-Hidayatur Rahman (1958); Iskandar Idris Hibarna dan Kasim Bakry, Tafsir Al-Qur`an al-Hakim (1960); T. M. Hasby Ash-Shiddieqy, An-Nur (1965);  T. M. Hasby Ash-Shiddieqy, Al-Bayan (1971); Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Tafsir Al-Azhar (1973); Oemar Bakry Dt. Besar, Tasfir Rahmat (1982); H.B. Yassin, Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia (1982); dan pada awal abad 21, antara lain : Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an  (2000).

Terjemahan Bahasa Inggris

Mengingat jumlah umat Islam pengguna bahasa Inggris, baik sebagai bahasa pertama, bahasa kedua maupun bahasa asing, begitu banyak maka sangat wajar dan logis bila terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris pun bermunculan untuk menjawab kebutuhan tersebut, dan pada umumnya mendapat respons yang positif dari waktu ke waktu. Mengenai terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris, Sayyid Abbas Sadr-’Ameli (2003:17) menyatakan bahwa ”untuk membaca al-Qur’an, nyata sekali, mereka yang bahasanya bukan bahasa Arab dan mengusai bahasa Inggris, mula-mula, mengacu pada Kitab Suci dalam bahasa Inggris, sebab ini adalah bahasa internasional dan mungkin saja semua bangsa dengan penutur bahasa asli apa pun dapat membaca dan memahami al-Qur’an dalam bahasa Inggris.”.

Al-Quran pertama kali diterjemahkan langsung dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris pada abad 17 oleh George Sale (1697-1736), ahli hukum baragama Nasrani pada 1734 dan terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris paling mutakhir pada abad 21 oleh Seyyed Hossien Nasr, at al. (2015), ilmuwan dan filosuf Muslim abad 21, dari Georgewashington University, Amerika Serikat,  yang sangat masyhur di kalangan Muslim dan non-Muslim. Dalam kurun waktu empat abad, 1734 sampai 2015, terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Inggris telah berhasil dihadirkan kepada khalayak pembacanya tidak kurang dari 60 versi (Bruce Lawrence, 2017). Selama kurun waktu itu al-Qur’an terus diterjemahakan oleh perorangan, kolaboratif maupun oleh lembaga dan pada waktu dan tempat yang berbeda, dengan salah satu alasan utamanya adalah untuk melengkapi kekurangan dan menyempurnakan hasil karya terjemahan pendahulunya. Memasuki dua dasawarsa pertama saja dari abad ke 21 ini , tegas Bruce Lawrence, telah dihasilkan 45 karya terjemahan al-Qur’an baik bentuk paper-based  maupun online-based. Sesuatu yang belum pernah terjadi pada abad-abad sebelumnya, sejak penerjamahan al-Quran ke dalam bahasa Inggris dilakukan pada abad ke 17.

Penerjemah al-Qur’an

Di balik hasil karya terjemahan al-Qur’an berdiri penerjemah al-Qur’an. Perantara yang telah berjuang keras umumnya sendirian selama bartahun-tahun sebelum pada akhirnya diterbitkan dan dipersembahkan kepada khalayak pembacanya, bahkan ada yang mengalami penerbitan anumerta.  Latar belakang pendidikan, disiplin dan profesi para penerjemah al-Qur’an, terutama penerjemah ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris sangatlah beragam, mulai yang nampak linear dan relevan hingga dengan latar disiplin yang manjauh dari kebahasaan atau keagamaan. Demikian juga dengan latar keagamaan penerjemahnya, selain Muslim, ada juga yang beragama Nasrani, Katollik dan Protestan,  serta Yahudi.

Penerjemah seringkali tidak tampak dan cenderung terabaikan eksistensinya terutama dalam penerjemahan  non kitab suci, mereka sering disebut penulis bayangan atau sekunder. Mengingat peran mereka sangat penting, bagaimanapun, mereka layak ditampilkan dan diperkenalkan pada khalayak pembacanya, publik, melalui antara lain serial tulisan dalam media cetak, seperti surat kabar dan jurnal, guna memberikan pertimbangan kepada khalayak pembacanya untuk menentukan pilihan yang sadar. Karya terjemahan mana yang hendak dibeli dan dibacanya, di antara banyak versi terjemahan al-Qur’an.

Dalam hal penerjemahan al-Qur’an, umumnya penerjemah al-Qur’an sangat dikenal para pembacanya karena muncul pada sampul depan masing-masing karya terjemahan, tetapi sebaliknya, dalam hal penerjemahan tafsir al-Qur’an, penerjemahnya tidak atau kurang dikenal, sama seperti pada kasus penerjemah literatur  non kitab suci lainnya. Nama penerjemah Tafsir al-Qur’an hanya disebutkan dalam sampul bagian dalam atau bahkan hanya dalam kata pengantar karya terjemahan tersebut. Apapun latar para penerjemah al-Qur’an, menurut Ali Qarrai (2003), harus memenuhi kualifikasi dan komptensi berikut, terutama dua syarat pertama. Penerjemah seharusnya mampu (1) menunjukkan makna teks sumber dengan cara yang dapat dimengerti, (2) mempunyai bentuk ungkapan yang alami dan mudah; (3) menunjukkan ruh dan watak karya aslinya, (4) serta menghasilkan respons yang serupa dari pembacanya sebagaimana respons yang diberikan pembaca dalam bahasa aslinya.

Akhirnya, terlepas dari semuanya itu, ketika al-Qur’an baik dalam bahasa Arab atau bahkan tersedia dalam bentuk dwi bahasa, yakni bahasa Arab dan/atau terjemahan dalam bahasa pembacanya (Inggris, Indonesia bahkan sebagian bahasa daerah Nusantara), maka tidak ada alasan lagi bagi umat Islam khususnya untuk tidak menelaah, mangkaji dan memahami “ajaran-ajaran abadinya” secara intens baik secara individu atau kolektif-kolaboratif, untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan nyata. Dengan keyakinan sebagaimana dinyatakan dalam ayat Qur’an (2:112), yang juga dipahatkan pada tanda pusara Muhammad William Marmaduke Pickthall, Muslim Inggris pertama penerjemah al-Qur’an dalam bahasa Inggris : “Whosoever surrendereth his purpose to Allah, while doing good, his reward is with his Lord, and there shall no fear come upon them, neither shall they grieve.” Wallahu a’lam bi al-shawab!!!

*Ilzamudin Ma’mur adalah Dosen FTK dan WR1 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

(ilzamudin@uinbanten.ac.id)


Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan