• Monday, 21 October 2019
  • Persiapan Perputakaan dalam Penerapan Library 4.0


    Persiapan Perputakaan dalam Penerapan Library 4.0

    Oleh: Aip Rohadi*

    Pendahuluan

    Library 4.0 yang merupakan generasi selanjutnya atas perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Noh (2015) mengatakan bahwa perkembangan Library 4.0 sejalan dengan perkembangan Web 4.0 dan Industri 4.0. Perkembangan web 4.0 terlihat dari interface dan fitur-fitur yang tersedia dalam sebuah web, yakni tersedia fitur untuk membaca, menulis, dan mengeksekusi informasi secara bersamaan; agen-agen informasi berbasis intelijen, interaksi antar-web (saling terhubung), koneksi dengan intelijen, dan web berbasis intelijen.  Teknologi informasi dan komunikasi yang tak akan lepas dari perpustakaan selalu mendorong perubahan sistem yang digunakannya. Setelah 2.0, 3.0, maka sekarang merupakan 4.0 sistem yang harus diterapkan terhadap kebutuhan pemustaka. Library 4.0 yang merupakan impak dari industri 4.0 didasarkan atas kebutuhan hidup masyarakat atas perkembangan TIK. Efisensi akses terhadap sumber informasi menjadi kebutuhan masyarakat dalam melakukan aktivitasnya.

    Perpustakaan yang merupakan tempat sumber informasi yang dikelola dan disuguhkan kepada masyarakat juga harus mengikuti perkembangan zaman dalam pemenuhan kebutuhan informasinya. Seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi dalam menyediakan layanan, pengelolaan, serta sarana dan prasarana. Menurut survei Asosisasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 pengguna internet di Indonesia  mencapai 54,68% atau 143,26 juta jiwa dari 262 juta penduduk Indonesia. Angka tersebut naik dari hasil survei APJII tahun 2016 yang mencapai 132,7 juta pengguna internet. Pengguna internet yang akan terus berkembang akan merubah gaya hidup masyarakat dari yang konvensional menjadi digital. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan dalam menyajikan informasi bagi masyarakat penggunanya.

    Tantangan Perpustakaan dalam Menerapkan Library 4.0

    Pertukaran informasi yang dimudahkan oleh teknologi membantu masyarakat dalam menjalani aktivitasnya. Dengan sambungan internet siapapun, kapanpun, dan dimanapun dapat mencari dan memberikan informasi. Hal tersebut dapat memicu pertukaran informasi yang tak terbendung, keabsahan dari informasi yang diakses merupakan tujuan dari pencarian informasi. Maka perpustakaan yang memiliki tujuan dalam menyediakan informasi masyarakat yang berkualitas harus hadir dalam aktivitas informasi masyarakat. Seperti yang diamanatkan pada pembukaan UUD 1945 dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu sebagai tempat dimana informasi dikumpulkan, dikelola, dan disajikan maka perpustakaan memiliki peranan penting dalam mencerdaskan bangsa.

    Upaya mendorong masyarakat agar lebih akrab dengan perpustakaan menjadi tugas bagi perpustakaan dalam kehadirannya di tengah masyarakat. Dengan library 4.0 diperlukan inovasi, analisa, dan sosialisasi dalam penyediaan informasi oleh perpustakaan. Inovasi merupakan daya tarik dan akan menjadi identitas perpustakaan dalam pandangan masyarakat.Fasilitas dan layanan masyarakat haruslah dibuat dengan kreatifitas tinggi, dengan itu maka perpustakaan tidak lagi memiliki stigma kuno. Untuk memberikan fasilitas dan layanannya, perpustakaan haruslah menyediakannya atas dasar data kebutuhan pemustaka. Dalam pertukaran informasi di dunia maya akan meninggalkan rekaman yang dapat dianalisa oleh perpustakaan. Perpustakaan juga dapat  dengan mudah berkomunikasi dengan pemustaka melalui berbagai media seperti email, media sosial, website dan lain-lain. Dengan analisa kebutuhan pemustaka akan memudahkan perpustakaan dalam menyediakan fasilitas dan layanannya. Agar masyarakat mengetahui keberadaannya, maka perpustakaan perlu mensosialisasikan dan menunjukan eksistensinya di tengah masyarakat digital native. Media sosial, website, bahkan pesan broadcast pada aplikasi komunikasi dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan informasi mengenai fasilitas dan layanan yang ada di perpustakaan. Menurut data APJI pengguna internet di Indonesia banyak melakukan aktivitasnya pada media sosial.

    Yang Harus Disiapkan oleh Perpustakaan dalam Penerapan Library 4.0

    Pertama, Akses. tidak adanya batasan akses terhadap perpustakaan adalah salah satu tujuan penerapan library 4.0. perpustakaan haruslah hadir ditengah masyarakat kapan pun dan dimanapun. Dengan konten digital pada dunia maya  perpustakaan dapat memberikan layanannya kapanpun dan dengan sambungan internet perpustakaan juga dapat diakses dimanapun. Efisiensi akses sangat dibutuhkan oleh perpustakaan agar masyarakat selalu merasa dekat dengan perpustakaan, terlebih pada era teknologi yang saat ini mendukung dalam kecepatan mengakses informasi. Kemudahan, kecepatan, dan kualitas  dalam pelayanannya akan menjaga kepercayaan pemustaka dalam mencari informasi. Sehingga perpustakaan dapat menyediakan informasi yang murah dan berkualitas. Media-media yang ada saat ini dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan unutk memudahkan akses pemustaka terhadap informasi yang mereka miliki.

    Kedua, SDM. Perubahan sistem pada perpustakaan akan mendorong pola kerja pada tenaga pengelolanya. Penggunaan TIK dalam fasilitas dan pelayanannya menjadi syarat tersendiri bagi pengelola dan pustakawan dalam memahami TIK. Hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi pustakawan dalam peluang kerja mereka. Teknologi dapat mengambil alih sebagian kinerja pustakawan, tetapi hal tersebut demi kepuasan pemustaka. Pustakawan perlu memahami TIK dan berinovasi melalui ide dan gagasan dalam menyajikan informasi pada library 4.0. Sehingga pustawakan tidak terdisrupsi dalam pencapaian tujuan dari perpustakaan.  Patra (2017) mengatakan adanya pengembangan teknologi digital untuk pengelolaan sumber daya elektronik perpustakaan berdampak keberadaan peran pustakawan. dan digital perpustakaan. Digital perpustakaan, seperti pengelolaan big data, database (web), metadata, artificial intellegent, mobile aplication, cloudcomputing, makerspace, dan ERM di perpustakaan. Selainitu, pustakawan juga perlu memiliki kompetensi literasi riset,  , akses data dan publikasi penelitian, pengelolaan hasil penelitian, maupun diseminasi. Noh (2015) mengatakanbahwa pengelolaan Library 4.0 setidaknya   yang perlu dimiliki pengelola perpustakaan, diantaranya memahami dan mampu menggunakan teknologi semantic web, metadata, searching ontology, mobile application, artificial intelligence, context-awarenes, cloud computing, big data, augmented reality; serta mampu mengkonsep layanan maker space perpustakaan digital secara legal.

    Sementara Khoir (2018)  mengatakan bahwa, pustakawan dituntut memahami digital generation. Untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna digital, pustakawan perlu memiliki kemampuan literasi digital.Untuk mencapai kinerja yang dinginkannya, maka perpustakaan perlu membekali keahlian pustakawan dalam dunia teknologi melalui pelatihan, seminar, konferensi, dan lain-lain. Perubahan terhadap sistem digital pada library 4.0 masih membutuhkan tenaga pustakawan dalam berinovasi pada sistem perpustakaan yang sesuai dengan tujuan hadirnya perpustakaan itu sendiri. Pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan tujuan perpustakaan memerlukan wawasan dalam memahami kebutuhan pemustaka dan masa depan perpustakaan.

    Ketiga, Koleksi. Pada era revolus iindustri 4.0, perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi. Perpustakaan seharusnya sudah bergeser menjadi discussions room, welcome space dan working space. Sudah saatnya perpustakaan menyediakan ruang diskusi,   yang canggih sehingga memiliki nilai tambah maupun sebagai tempat untuk memunculkan inovasi baru sesuai pemustaka saat ini yang digital native.Untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pemustaka yang cenderung terhadap penggunaan konten digital, maka perpustakaan juga harus hadir dengan koleksi informasi digital.

    Keempat, Pengelolaan Big Data. Peralihan media cetak terhadap media digital dengan akses internet akan memudahkan perpustakaan dalam menganilisis pemustakanya. Saat ini perusahaan komersil sudah banyak melakukan analisis Big Data dalam melihat perilaku masyarakat, tujuannya adalah untuk melakukan evaluasi dan inovasi terhadap produk atau jasa yang akan mereka tawarkan. Big Data adalah kumpulan dari berbagai data yang dikumpulkan dengan kapasitas penyimpanan yang besar. Semakin banyak data yang terkumpul, maka volume penyimpanan akan semakin besar (Umi Farida, 2018). Dengan Big Data Perpustakaan dapat mengetahui kebutuhan informasi dan segmentasi penggunanya. Terlebih jika perpustakaan juga ikut serta dalam mengkampanyekan informasi yang mereka miliki melalui media yang ada pada dunia maya, seperti website, Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, dan lainnya. Atau perpustakaan juga dapat menganilis persebaran pengetahuan yang mereka buat melalui analisis Bibliomatric dan Altmatric. Dengan Big Data maka akan membuat Perpustakaan lebih terarah sesuai dengan visinya melalui analisis data.

    Kesimpulan

    Perpustakaan yang yang selalu berkembang mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini berkembang menjadi Library 4.0. Library 4.0 mendorong perpustakaan untuk menyediakan fitur dalam akses koleksi dan layanan secara bersamaan tanpa batas waktu dan tempat. Perubahan media konvensional menjadi digital dalam sebuah layanan virtual pada perpustakaan merupakan persiapan bagi perpustakaan dalam keikutsertaannya menyajikan informasi di era Industri 4.0. Membeludaknya informasi di tengah hegemoni penggunaan internet menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan dalam menjaga eksistensi dan esensinya di tengah masyarakat. Untuk mewujudkan Library 4.0 maka perpustakaan perlu menyediakan akses yang efisien terhadap sumber informasinya, SDM yang menguasai teknologi, koleksi digital, dan pengelolaan Big Data dalam melakukan analisis untuk melakukan inovasi dan evaluasi.

    *Pustakawan pada Universitas Bina Bangsa Serang Banten

    Daftar Pustaka

    Khoir, S. (2018). The Need to Change: Perilaku dan Manajemen Informasi dalam Era Normal Baru. Makalah Dies Natalis Ke-67 Perpustakaan Universitas Gadjah Mada pada hari ini 1 Maret 2018. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

    Noh, Y. (2015). Imagining Library 4.0: Creating a Model for Future Libraries. The Journal of Academic Librarianship.http://dx.doi.org/10.101 6/j.acalib.2015.08.020

    Patra, N. K. (2017). Digital Disruption and Electronic Resources Manajemen in Libraries. Elsevier: Chandos Publishing

    Umi Farida (2018). Pengelolaan Big Data Pada Perpustakaan : Tantangan Bagi Pustakawan Di Era Perpustakaan Digital. Journal Net. Library and Information Vol. 1 No. 1, Juni 2018 Hal: 19-29

    Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2018). Infografis Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia : Survey 2017


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan