• Wednesday, 24 April 2019
  • PERPUSTAKAAN INOVATIF DAN WISATA KEPUSTAKAAN


    PERPUSTAKAAN INOVATIF DAN WISATA KEPUSTAKAAN

    Oleh HMS. SUHARY AM*

    "..Niscaya Allah akan mengangkat (meninggikan) derajat orang-orag yang beriman diantara kamu  dan orang-orang yang diberi berilmu ketingkat beberapa derajat … “  (QS. Al-Mujadilah ayat 11)

    Perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kecerdasan masyarakat (smart people/community) serta keilmuan yang bersumber dari kitab-kitab/buku-buku, majalah, jurnal, dokumentasi dan berbagai literatur. Retno Hermawati (2017) dalam makalahnya  tentang Peran dan fungsi perpustakaan mengungkapkan : Pertama; bahwa perpustakaan sebagai jantung pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kedua; perpustakaan berfungsi sebagai pusat  pengumpulan dan penyimpanan sumber pengetahuan dan informasi. Ketiga; perpustakaan berfungsi sebagai ‘Pusat  Kegiatan Masyarakat’ (Community Centre) baik dalam pertemuan berkala, diskusi dan literasi/sumber bacaan.

    Minat baca masyarakat Indonesia masih jauh ketinggalan jika dibanding dengan negara-negara lain.  Disebabkan beberapa faktor yakni : Pertama, sistem pembelajaran di Indonesia belum mewajibkan peserta didik (SD,SLTP,SLTA dan mahasiswa di PT) harus membaca buku, mencari informasi atau ilmu pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya ilmiah, filsafat sastra dan lain-lainnya.  Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (games) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku. Ketiga, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karauke, night club, dan supermarket. Keempat, budaya baca yang memang belum diwariskan oleh nenek moyang kita. Kelima, para ibu, saudara/saudari kita senantiasa disibukan oleh berbagai upacara kemasyarakatan/keagamaan serta banyak disibukan dengan mata pencaharian/mencari nafkah yang terus menerus setiap harinya, sehingga waktu luang sangat minim sekali. Keenam, format perpustakaan yang monoton dan kurang inovatif, sehingga kurang menarik hati masyarakat untuk mengunjunginya. Mereka beranggapan mengunjungi perpustakaan adalah pekerjaan yang membosankan/ tidak menarik.

    Masyarakat Indonesia belum menempatkan Perpustakaan sebagai tempat wisata, wisata masyarakat Indonesia lebih banyak kepada dunia hiburan, mall, wisata kuliner, wisata ziarah kuburan (makam yang dipandang keramat Walisongo dan makam keramat lainnya di Indonesia), wisata di berbagai pantai, sebut saja pantai-pantai di Bali, pantai Carita, Anyer Banten, pantai Lombok, dan pantai-pantai lainnya di kawasan Indonesia. Lihat saja pada wisata religi di Banten lama, hari-hari tertentu seperti hari kamis malam jumat (tiap pekan, tiap harinya, bulannya, termasuk hari raya) jumlah pengunjung di Banten lama yang berziarah kepada makam Sultan Maulana Hasanuddin, Maulana Yusuf dan makam-makam lainnya , cukup banyak, dalam hitungan bulan bisa ratusan ribu.

    Bagaimana tentang wisata keilmuan ? masih rendah sekali jumlahnya. Kita melihat Perpustakaan Daerah Provinsi Banten (Pakupatan) lebih banyak anak-anak SD/SLTP/SLTA, sementara  dari Perguruan Tinggi dan masyarakat umum tidak terlalu banyak. Penulis lihat Gedung Dinas Perpustakaan dan kearsipan  Provinsi Banten belum memenuhi sebagai Perpustakaan yang inovatif, karena lingkungan perpustakaan dan landscaping tidak mencukupi sebagai tempat yang menyenangkan (comfortable), kawasan parkir yang tidak mencukupi, ruang perpustakaan yang masih bersatu dengan perkantoran, ruang baca yang kurang memadai baik di dalam gedung maupun di luar gedung. Idealnya satu lantai khusus ruang buku dan ruang baca, satu lantai lagi untuk perkantoran dan satu lantai berikutnya aula untuk forum dialog, FGD (Forum Group Discussion), dan seminar.

    Dari Rakor Perpusnas (19-21 April 2010) menghasilkan beberapa permasalahan pokok untuk perpustakaan yang inovatif, yakni :

    1. Inovasi layanan : Costumer Care + Costumers Satisfaction = Service Excellence, membuat layanan yang lebih baik, memuaskan dan berkelanjutan adalah dengan menghadirkan perpustakaan yang custumice yakni a. Fasilitas yang memadai, up date. b. Petugas yang friendly, intraktif dengan pengunjung dan santun dalam pelayanan. c. Kenyamanan (comfortable), ruang, kondisi dan situasi. d. Koleksi yang beragam, lengkap. e. Pemenuhan kebutuhan pengguna, tidak sekedar buku tapi program dan berkelanjutan.

    2. Inovasi Kegiatan. Kegiatan harus dibuat secara partisipatif bersama pengguna harus inline antara kegiatan yang satu dengan lainnya dan berkesinambungan, terus dikembangkan dan bermuara pada pencerdasan masyarakat yang berbasis pada kepentingan masyarakat.

    3. Inovasi Pemberdayaan Masyarakat. Maksudnya melibatkan masyarakat dalam layanan, dalam kegiatan perpustakaan.

    4. Inovasi Kemitraan. Perpustakaan tidak akan berkembang kalau berjalan sendirian, harus ada kerjasama kemitraan baik dengan pihak swasta maupun pihak sponsor atau kerjasama program yang dibahas bersama. Kepercayaan masyarakat/swasta dan peerintah harus dibangun  secara transparan dan profesional kerja, pertanggungjawaban yang jelas dan tepat waktu.Program Perpustakaan yang berhuhbungan dengan pelayanan masyarakat harus terus dilakukan dalam rangka mengakomodir kebutuhan masyarakat harus terus diupayakan sehingga sejalan dengan UU NO 43 dan UU NO 40 Tahun 2007 bisa berjalan selaras. Hal penting yang harus dilakukan hubungannya dengan masyarakat/dengan pihak swasta adalah : pertama, sudah memiliki ‘role model’ sebagai success story; kedua, memiliki sumber (resources) yang memadai; ketiga, memiliki komitmen dan eksistensi; keempat, memiliki konsep program yang jelas dan berkesinambungan/berkelanjutan; kelima, keberhasilan yang terukur dan keenam, pertanggung jawaban yang jelas.

    Inovasi Perpustakaan.

    Perpustakaan Inovatif selain yang dikemukakan dari hasil Rakornas Perpustakaan tersebut, tentu penulis ingin menambahkan tentang Inovasi Perpustakaan  yang memberikan motivasi kepada para pengunjung yang menarik perhatian serta merasa nyaman dan menyenangkan. Karena itu, perlu dibangun suasana dan lingkungan dan udara yang segar (fresh air). Beberapa hal yang perlu ditata adalah seperti berikut ini :

    1. Suasana Comfortable, ketika para pengunjung datang ke Perpustakaan hatinya sudah terpaut oleh suasana yang menarik dan menyenangkan, karena lingkungan yang sehat dan segar.

    2. Halaman yang luas di bawah rindangnya pohon-pohonan (Green Tree) dimana, para pembaca dapat duduk santai sambil baca dan menikmati makanan ringan dari coffee shop.

    3. Meja-meja bundar di halaman yang luas di bawah rindangnya pohon-pohonan yang membuat suasana nyaman dan menyenangkan.

    4. Kafe/Coffee Shop  perlu ada dalam lingkungan perpustakaan, bersih dan menyenangkan, dengan makanan dan minuman yang sehat.

    5. Buku-buku bagai makanan yang tersedia di atas meja-meja bundar di halaman luas dalam lingkungan Gedung Perpustakaan. Karena itu, jika Pemerintah Daerah dapat membangun khusus untuk perpustakaan beberapa lantai yang terpisah dengan perkantoran yang jaraknya tentu masih berdekatan. Hal itu, tentu sangat inovatif.

    6. Alunan musik tertentu yang menarik hati, membuat nyaman dan damai. Dunia ini terasa sejuk dan damai, tentu indah sekali.

    7. Beberapa pokok pemikiran Penulis tersebut kaitannya dengan Inovasi perpustakaan,  akan banyak menarik para pengunjung dan merasa betah serta terkesan, akhirnya masyarakat cinta dan rindu perpustakaan.

    8. Kesimpulannya adalah bahwa Perpustakaan yang maju itu apabila perpustakaan tersebut inovatif yakni nuansa dan suasana gedung dan lingkungan yang artistik, manajemen yang bagus, pengunjung yang berlimpah dan berkesinambungan dan pelayanan yang menarik/berkesan.

    *Penulis Ketua I Pimpinan Pusat Majlis Pendidikan Syarikat Islam Indonesia (PP.MPSII). Direktur Pusat Studi Islam dan Politik Kenegaraan (PSIPK) Provinsi Banten.                 

     

     


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan