• Wednesday, 24 April 2019
  • Membaca Dan Peran Perpustakaan


    Membaca Dan Peran Perpustakaan

    Oleh Ai Bida Adidah*

    Pendahuluan

    Ketika anak memasuki jenjang Sekolah Dasar, kemapuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki adalah membaca. Dimana membaca merupakan suatu kegiatan yang bersifat kompleks, karena kegiatan ini melibatkan kemampuan dalam mengingat simbol-simbol grafis yang berbentuk huruf, mengingat bunyi dari simbol-simbol tersebut dan menulis simbol-simbol grafis dalam rangkaian kata dan kalimat yang mengandung makna. Oleh sebab itu kemampuan membaca dilandasi oleh kemampuan memusatkan perhatian pada kata-kata yang membentuk kalimat serta mengandung makna. Kemampuan dasar ini akan menuntun anak pada kemampuan lainnya seperti menulis, berhitung dan dan kemampuan lain yang berhubugan dengan proses pembelajaran di sekolah.

    Saat ini masyarakat telah menikmati kebebasan  dalam berbagai level kehidupan, termasuk  dalam memilih bahan bacaan. Apalagi didukung  oleh bahan bacaan yang semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Secara logika, saat ini  sudah seharusnya tumbuh semangat untuk gemar membaca semakin kuat. Namun nampaknya  hal ini belum memberi banyak perubahan, karena berbagai faktor,   seperti kemampuan dan kemauan untuk  membeli  buku masyarakat masih rendah, dan pemberdayaan perpustakaan/ taman bacaan belum maksimal. Namun demikian, tak ada alasan sedikitpun untuk membiarkan bangsa ini terpuruk oleh rendahnya kegemaran  membaca yang di berbagai negara lain justru menjadi penopang utama bagi kemajuan bangsanya.  Oleh sebab itu berbagai langkah harus dilakukan oleh semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah  sebagai pengambil kebijakan. 

    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

    Selanjutnya pada pasal 4 dikatakan bahwa : (1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. (2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. (3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. (4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan pengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. (5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. (6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

    Tugas sebagai orangtua bukan menumbuhkan anak yang cerdas matematika atau olah raga atau seni. Juga bukan menumbuhkan anak-anak dengan kemampuan seragam. Tetapi tugas orang tua adalah membantu anak menemukan potensi diri, dan menumbumbuhkan potensi itu menjadi kekuatan nyata yang bisa mereka pakai untuk hidup dengan bahagia. Peran kita sebagai orang tua bukan mencetak anak sesuai impian kita tetapi mendampingi anak-anak dalam mewujudkan imian mereka. Bagimana kita membimbing mereka untuk meningikan gunung dan meratakan lembah, melejitkan bakatnya dan menumbuhkan kekurangannya.

    Beberapa Faktor

    Menumbuhkan minat baca pada anak (siswa) sangatlah penting karena membaca merupakan salah satu hal pokok yang bertujuan agar si anak (siswa) mendapat pengetahuan yang banyak dan bermanfaat. Namun seyogyanya, orang tua maupun guru harus memperhatikan beberap faktor  yang mempengaruhinya. Diantaranya Pertama, kondisi fisik. Kondisi fisik memang mejadi hal utama yang menjadi perhatian karena dengan kondisi fisik yang baik dan sehat, maka keadaan seseorang (siswa) akan stabil. Hal itulah yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap aktivitas yang ia lakukan, misalnya saja kegiatan membaca buku. Apabila kondisi fisiknya sehat, maka ia akan merasa senang dan suka untuk membaca.

    Kedua, kondisi mental. Tak ubahnya kondisi fisik, kondisi mental seseorang (siswa) juga sangat berpengaruh terhadap aktivitasnya sehari-hari. Apabila mental seseorang sedang “down” (“jatuh”), maka pelajar tersebut tidak akan merespon dengan baik apa yang akan ia kerjakan, misanya saja membaca buku. Sebaliknya, jika mental pelajar tersebut “bagus”, maka ia akan merasa senang dan suka untuk melakukan kegiatan membaca.

    Ketiga, status emosi. Tak ubahnya kondisi fisik dan mental, status emosi juga sangat berpengaruh terhadap kondisi tiap individu (siswa). Apabila kondisi emosinya stabil dan baik, maka ia akan senang dan ringan dalam melakukan kegaitan yang ia sukai, misalnya kegiatan membaca buku. Namun, apabila emosinya sedang labil, maka seorang pelajar tersebut juga enggan bahkan tidak mau untuk melakukan kegiatan apapun, tak terkecuali kegiatan membaca.

    Keempat, lingkungan sosial. Lingkungan sosial setiap individu (siswa) pastinya berbeda-beda. Jika lingkungan sosial tempat individu (siswa) tinggal adalah lingkungan yang baik, dalam artian lingkungan masyarakat yang suka membaca, maka si pelajar tersebut secara tidak langsung pun akan mulai suka dengan membaca, padahal ia sebenarnya tidak hobi membaca. Namun, apabila lingkungan tempat tinggal si pelajar tidak “sehat”, dalam artian kondisi masyarakat yang “amburadul”, maka ia pun juga akan terpengaruh menjadi “amburadul” dan cenderung atau tidak mau melakukan kegiatan yang bermanfaat, seperti kegiatan membaca.

    Dari keempat faktor yang sudah disebutkan di atas, sekiranya dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik, mental, emosi, dan lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap setiap individu (siswa). Dengan kondisi fisik, mental, emosi, dan lingkungan sosial yang baik dan sehat, maka setiap individu  (siswa) akan merasa senang melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan juga menambah wawasan pengetahuannya, seperti kegiatan membaca dan dari sinilah minta baca seseorang (siswa) akan “tumbuh”.

    Peran Perpustakaan

    Sardar (1988) mengatakan bahwa perpustakaan-perpustakaan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat di perkotaan dan di pedesaan, minoritas-minoritas etnis, dan kelompok-kelompok kultural tertentu merupakan salah satu senjata yang paling ampuh untuk memberantas buta huruf dan mempertinggi standar-standar pendidikan masyarakat. Namun di beberapa tempat, perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang paling diabaikan. Selain itu, beberapa perpustakaan yang ada cenderung menjadi lembaga yang pasif. Lembaga-lembaga tersebut bukan saja tidak mengambil bagian yang aktif dalam kampanye pemberantasan buta huruf, tetapi juga tidak pernah bertindak menciptakan kesadaran kelompok.

    Peranan perpustakaan di dalam pendidikan amatlah penting, yaitu untuk membantu terselenggaranya pendidikan dengan baik. Dengan demikian sasaran dan tujuan operasional dari perpustakaan sekolah adalah untuk memperkaya, mendukung, memberikan kekuatan dan mengupayakan penerapan program pendidikan yang memenuhi setiap kebutuhan siswa, disamping itu mendorong dan memungkinkan tiap siswa mengoptimalkan potensi mereka sebagai pelajar.

    Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya penyelenggaraan perpustakaan sekolah diharapkan dapat membantu murid-murid dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu segala bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat menujang proses belajar mengajar, maka dalam pengadaan bahan pustaka hendaknya mempertimbangkan kurikulum sekolah, serta selera para pembaca yang dalam hal ini adalah murid-murid.
    Perpustakaan sekolah tampak bermanfaat apabila benar-benar memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar di sekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya berupa tinginya prestasi murid-murid, tetapi lebih jauh lagi, antar lain adalah murid-murid mampu mencari, menemukan, menyaring dan menilai informasi, murid-murid terbiasa belajar mandiri, murid-murid terlatih kearah tanggung jawab, murid-murid selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.

    Penutup

    Keberadaan perpustakaan sekolah sangat berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Perpustakaan sekolah di Negara berkembang memiliki beberapa tujuan antara lain ; menggalakkan keberaksaraan, mendukung kurikulum, pendidikan secara umum, dan mengembangkan minat baca. Oleh karena itu pengelola perpustakaan sekolah seharusnaya tenaga terdidik. Selain itu, mereka juga harus memiliki pendidikan formal perpustakaan sebagai pengetahuan yang memadai, percaya diri, paham politik, dan tidak mengisolasi diri.

    Perpustakaan bukan sekedar gedung/ ruang sebagai tempat koleksi, tetapi juga system informasi. Sebagai system informasi, perpustakaan memiliki aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, dan penyebaran informasi.

    Kegiatan dan kebiasaan membaca dinyatakan atau dianggap berhasil atau bermanfaat jika murid memperoleh kepuasan dan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, yaitu rasa aman, status dan kedudukan tertentu, kepuasan afektif. Kebutuhan itu berpengaruh terhadap pilihan dan minat baca masing-masing individu.

    Jumlah dan ragam bacaan yang disenangi oleh oleh anggota keluarga juga berfungsi sebagai salah satu pendorong terhadap pilihan bahan bacaan dan minat baca setiap murid. Atas dasar prinsip itu, dapat ditegaskan bahwa minat baca setiap murid dapat timbul karena kebiasaan dan kesenangan anggota keluarganya masing-masing.

    Faktor guru berupa kemampuan mengelola kegiatan dan interaksi belajar mengajar, khususnya dalam program pengajaran membaca. Kejelian guru dalam memperhatikan perbedaan selera dan minat baca murid sangat mendorong pembinaan, pengembangan, dan peningkatan mibat baca murid. Prinsip ini menegaskan bahwa kegiatan kurikuler merupakan faktor pendorong dalam pembinaan, pengembangan, dan peningkatan minat baca murid.

    *pemerhati masalah sosial


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan