• Wednesday, 24 April 2019
  • Peran Perpustakaan Masjid Istiqlal dalam Pendidikan dan Perpustakaan Islam


    Peran Perpustakaan Masjid Istiqlal

    dalam Pendidikan dan Perpustakaan Islam

    Oleh: Ahmad Zaien*

    Pendahuluan

    Dalam sejarahnya, kebudayaan Islam pernah memiliki masa kejayaan sekitar abad 8-12 M. dengan ditandai keterbukaannya menerima dan mengapresiasikan budaya lain. Saat itu, Islam benar-benar menjadi kekuatan dan model peradaban dunia yang bersifat hibrida dan tak tertandingi. Sebagai warisan dari masa keemasan Islam dapat dilihat dari bangunan fisik yang terdapat diberbagai daerah kekuasaan Islam, seperti bangunan-bangunan kuno di Alhambra dan Cordova di Spanyol, kemudian Maroko, Istanbul dan lainnya.

    Dengan budaya terhadap penyebaran ilmu pengetahuan telah mendorong tumbuh dan berkembangnya perpustakaan pada masa Bani Abbasiah. Pada masa Khalifah Abbasiyah, buku-buku dikumpulkan di perpustakaan yang diberi nama Bait al-Hikmah. Pada masa itu perpustakaan merupakan sarana untuk belajar, hingga umat Islam mampu membangun peradaban besar yang bertahan beberapa abad lamanya (Yanto, 2015). Pada masa keemasan Islam, perpustakaan mengalami masa kemajuan dan perkembangan. Hal ini berkaitan dengan berkembangannya berbagai cabang ilmu pengetahuan dalam dunia Islam seperti munculnya karya tulis para sarjana muslim yang berkembang lewat artikel, selebaran, manuskrip, dan lain-lain, dan tersebar luas di seluruh wilayah Islam hingga ke negara-negara Eropa, yang memberikan dorongan besar, tidak saja bagi gerakan penulisan, penterjemahan dan pengajaran, tetapi juga berpengaruh pada gerakan pengumpulan naskah di kalangan ilmuan Muslim (Fatimah Zuhrah, 2008).

    Sejarah mencatat, bahwa perpustakaan Islam pada masa lalu mempunyai fungsi dan peran yang besar dalam membangun peradaban dan kejayaan umat Islam. Banyak informasi dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh cendikiawan muslim yang kemudian karyanya disimpan didalam perpustakaan selama berabad-abad. Bahkan fungsi dan peran perpustakaan pada masa kejayaan Islam banyak diadopsi oleh sebagian besar perpustakaan di negara maju seperti Inggris dan Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa peran perpustakaan pada masa awal Islam sangat penting dalam pengembangan dan memajukan masyarakat (Qalyubi, Syihabuddin, 2007)

    Di Indonesia ada beberapa perpustakaan Islam, salah satunya adalah Perpustakaan Istiqlal yang berada di Masjid Istiqlal Jakarta. Kehadiran Perpustakaan Istiqlal pada masa Orde Baru diharapkan dapat menjadi tempat rujukan dan pembelajaran agama islam di Indonesia. Sebagaimana yang tertuang dalam Tap MPR No.IV/MPR/1973. Tap MPRNo.IV/MPR/1978 dan Tap MPR No.II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara, mengindikasikan bahwa pendidikan agama semakin dikokohkan kedudukannya dengan dimasukkannya dalam GBHN sebagai berikut: “Diusahakan supaya terus bertambah sarana-sarana yang diperlukan bagi pengembangan kehidupan keagamaan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa termasuk pendidikan agama yang dimasukkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan universitas-universitas negeri”

    Sejarah Singkat Berdirinya Perpustakaan Masjid Istiqlal

    Perpustakaan Istiqlal pada awalnya dirintis oleh Pusat Dakwah Islam Indonesia (PDII) dengan nama Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII) sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Seminar Nasional Dakwah tahun 1969 bahwa di lingkungan Masjid Istiqlal perlu dibentuk sebuah perpustakaan Islam dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber informasi Islam bagi para ulama dan masyarakat Islam pada umumnya.

    Karena kondisi dan tempat yang belum memungkinkan pada saat Masjid Istiqlal sedang dibangun, maka untuk sementara PPII ditempatkan di komplek Museum Fatahillah Jakarta Kota, kemudian pada tahun 1975 kegiatan PPII dipindahkan ke Wisma Sejahtera unit IAIN (Sekarang UIN) di Ciputat dan tahun 1977 dipindahkan lagi ke komplek pendidikan Yayasan Said Naum di Jl Kyai Mas Mansur Tanah Abang, Jakarta Pusat. Akhirnya setelah berpindah pindah tempat, pada tahun 1980 PPII mulai dipindahkan ke Masjid Istiqlal dan menempati ruang 7 lantai dasar Masjid Istiqlal (Yulita Ambarsari, 1996).

    PPII digagas oleh Adi Sasono, yang kemudian bergabung dengan Pusat Dokumentasi dan Informasi (Pusdipi) yang digagas oleh Heri Ahmadi. PPII dan Pusdipi merupakan organisasi perpustakaan yang memiliki tupoksi yang berbeda. PPII berfokus pada pelayanan informasi keagamaan pada masyarakat. Sedangkan Pusdipi kepada jaringan perpustakaan. Pudipi berhasil merangkul perpustakaan Islam Perguruan Tinggi Agama Islam, Pondok pesantren, dan organisasi Islam yang ada di masyarakat. PPII dan Pusdipi yang menepati lantai dasar Masjid Istiqlal kemudian meleburkan namanya menjdi Pusdipi-PPII.

    Profil Perpustakaan Masjid Istiqlal

    1. Visi Misi. Visi dari Perpustakaan Masjid Istiqlal Yaitu Terwujudnya Perpustakaan Islam Modern dengan koleksi yang berkualitas, sistem pengelolaan yang mutakhir dan sumber daya manusia yang professional. Adapun misi dari Perpustakaan Masjid Istiqlal yaitu : Membangun dan mengembangkan perpustakaan Islam, berbasis teknologi, informasi yang meliputi perpustakaan dewasa dan perpustkaan anak. Membangun ketenagaan perpustakaan Islam. Membangun dan mengembangkan jaringan informasi Islam. Dan Menerbitkan publikasi Islam.

    2. Sumbangan dan Biaya. Untuk membiayai berbagai kegiatannya. Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII) menerima sumbangan dari Presiden Soeharto pada tahun 1974, bantuan rutin dari Badan Kerohanian Islam Departemen Agama Republik Indonesia dan juga sumbangan-sumbangan lain dari perorangan maupun lembaga. Sumbangan dana dan bantuan sarana senantiasa diupayakan untuk kelangsungan kegiatan PPII melayani masyarakat. Selain dana, PPII juga menerima sumbangan buku, foto, majalah, dan surat kabar dari perorangan dan lembaga/instansi Pemerintah dan Swasta. Sumbangan buku antara lain dari H. Adam Malik, H. Mas Agung, Prof. Dr. K. H. Mahmud Yunus, Prof. K. H. Zainal Abidin Ahmad, Ibu Arudji Kartawinata dan dr. Kartono dan lain-lain semua itu ditunjukan untuk melengkapi koleksi dan dokumentasi PPII.

    3. Kerjasama. Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII) dalam menyelenggarakan jasa informasi dan dokumentasinya melakukan kerjasama dengan perpustakaan-perpustakaan lain, khususnya perpustakaan islambaik yang terdapat di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Selain itu PPII juga melakukan kerjasama dengan Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN) dalam rangka menerbitkan sari karangan terpilih tentang Islam dan masalah-masalah kemasyarakatan di Indonesia. Kerjasama yang lain adalah dengan kelompok Kerja Ahli Bidang Ukhwiyah Pembangunan MUI, Lembaga Studi Pembangunan dan sejumlah lembaga sukarela dari ITB dalam rangka pembentukan Pusat Dokumentasi dan Informasi Pengkajian Islam (PUSDIPI), serta pengembangan program komputerisasi perpustakaan. Adapun beberapa kerjasama lainnya yaitu, kerjasama Yayasan Asia untuk Mizan, VSO untuk bahasa inggris, PPM Nasional dalam rangka kerjasama penyediaan buku perpustakaan remaja dan anak.

    4. Tujuan. Tujuan diselengarakannya perpustakaana adaalah untuk Meningkatkan pengetahuan kaum muslimin dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya berdasarkan pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Meningkatkan pengertian dan kesadaran kaum muslimin akan ajaran agamanya dalam menunjang pembangunan di segala bidang. Membantu Pemerintah dan masyarakat pada umumnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan budaya baca. Menignkatkan profesionalitas ketenagaan perpustakaan masjid. Mewujudkan pusat pengkajian Islam melalui jaringan perpustakaan Islam.

    5. Sasaran. Terwujudnya komitmen yang solid antar pelaku sistem jaringan akan pentingnya pengembangan layanan informasi melalui sistem jaringan informasi terpadu. Terwujudnya sosok sumberdaya manusia Indonesia yang profesional dalam memberikan pelayanan prima dalam bidang pengkajian keislaman. Terselanggaranya berbagai kegiatan kepustakawanan berskala nasioanal, regional dan internasional sebagai perwujudan PPII sebagai rujukan utama pusat perpustakaan Islam se Indonesia.

    6. Fungsi. Menyediakan sumber-sumber informasi Islam meliputi buku-buku keagamaan dan pengetahuan umum lainnya. Merintis berdirinya perpustakaan masjid dan taman bacaan masyarakat. Menyelenggarakan koordinasi dan kerjasama perpustakaan masjid dan perpustakaan Islam lainnya serta dengan lembaga lembaga perpustakaan, dokumentasi dan informasi pada umumnya melalui system jaringan informasi Islam. Mengadakan pembinaan dan pelatihan perpustakaan Masjid dan Perpustakaan Islam. Melakukan pengkajian-pengkajian Islam dan temu ilmiah keagamaan. Mengadakan kegiatan peningkatan budaya baca masyarakat. Menyelenggarakan penerbitan monografi dan majalah Islam.

    7. Ruang Lingkup Kegiatan. Sejalan dengan fungsi Masjid, khususnya Masjid Istiqlal sebagai pusat keagamaan dan kemasyarakatan, maka PPII mengembangkan kegiatan di bidang Perpustakaan, dokumentasi dan informasi, pendidikan, pengembangan serta pengkajian masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Kegiatan PPII ditunjukan untuk melayani masyarakat Islam pada umumnya, cendikiawan, Ulama, Mubaligh dan para peneliti, pelayanan ini mencakup peminjaman buku dan saranan informasi lainnya di bidang agama dan kemasyarakatan. Pertama, Bidang Perpustakaan yaitu Mengumpulkan dan melengkapi buku-buku keagamaan dan buu-buku lain yang berkaitan erat dengan masalah keagamaan. Memberikan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat dalam hal bacaan di bidang keislaman dan kemasyarakatan. Membantu menumbuhkan dan mengembangkan perpustakaan-perpustakaan Islam di daerah, termasuk dengan pelatihan dan bimbingan perpustakaan. Menyelenggarakan Perpustakaan Anak di Masjid Istiqlal, sebagai model bagi penyelenggaraan Perpustakaan Anak di masjid-masjid lainnya. Mengadakan kusrsus dan latihan bagi calon tenaga teknis perpustakaan. Mengadakan kerjasama dalam bentuk jaringan informasi dalam rangka pembentukan Union Catalogue.

    Kedua, Bidang Dokumentasi dan Informasi, yaitu Mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data tentang Islam Indonesia dan perkembangan Islam pada umumnya. Mengumpulkan dan merawat dokumen-dokumen tentang Islam dan selanjutnya mengolah dan menyajikan dalam bentuk pelayanan informasi kepada masyarakat. Membuat guntingan pers dan indeks pers tentang Islam dan kemasyarakatan. Visualisasi budaya Islam dengan membuat slide, film, dan bentuk lainnya tentang kegiatan dan kehidupan masyarakat Islam Indonesia. Pelayanan informasi untuk masyarakat yang mencari informasi tentang Islam, khususnya Islam dan masalah-masalah kemasyarakatan di Indoensia. Program ini dikembangkan dengan menggunakan computer yang merupakan kerjasama PPUU-MUI melalui Kelompok Kerja Tenaga Ahli Bidang Ukhuwah Pembangunan.

    Ketiga, Bidang Penerbitan.  Menerbitkan jurnal MIZAN, The Indonesian Forum of Islamic and Social Studies, sebagai media informasi tentang Islam Indonesia untuk masyarakat di dalam dan luar negeri. Menerbitkan Pedoman Perpustakaan Masjid, Klasifikasi Islam, dan Katalogisasi Buku-buku Berbahasa Arab, serta menerbitkan buku paket latihan teknis pengelolaan Perpustakaan Anak dan Dewasa. Menerbitkan buku-buku khususnya buku bacaan anak dan remaja. Menyusun bibliografi Islam dan kemasyarakatan. Menerbitkan Berita Pustaka tentang dunia kepustakaan Islam dan kemasyarakatan, guna menumbuhkan minat dan kegiatan terhadap buku-buku Islam dan kemasyarakatan. Menyelenggarakan kegiatan dalam rangka meningkatkan mutu dan jumlah buku Islam. Keempat, Bidang Pendidikan, Pengembangan Masyarakat dan Kebudayaan. Menyelenggarakan diskusi dan pembahasan buku Islam dan masalah kemamasyarakatan. Menyelenggarakan seminar kepustakaaN Islam, Al-Quran ditinjau dari berbagai disiplin Ilmu, dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah Islam. Penelitian masalah Islam dan kemasyarakatan. Ceramah dari tokoh-tokoh terkemuka tentang Islam dan Kemasyarakatan. Menyelenggarakan konsultasi bidang penyuluhan dan pengembangan masyarakat. Menyelenggarakan pameran tentang kegiatan pembangunan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

    Peran Perpustakaan Masjid Istiqlal

    Perpustakaan Masjid istiqlal merupakan sebuah perpustakaan khusus dengan koleksi berupa informasi keislaman. Perpustakaan masjid Istiqlal merupakan pusat studi islam di Indonesia. Dengan bantuan Jaringan Informasi Perpustakaan Islam Indonesia (JIPI) Mereka mengumpulkan koleksi dari semua perpustakaan-perpustakaan Perguruan Tinggi Agama Islam, pondok pesantren dan pusat-pusat lembaga keagamaan dan masyarakat. Kemudian menjadikan perpustakaan masjid istiqlal sebuah perpustakaan dengan koleksi informasi keislaman yang besar.  Dengan mengumpulkan koleksi dari lembaga pengkajian islam tersebut akhirnya menjadikan perpustakaan masjid istiqlal sebagai pusat informasi pengkajian islam di Indonesia. Selain menyimpan informasinya pada Perpustakaan Istiqlal, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII) sebagai organisasi yang menaungi pelayanan informasi islam kepada masyarakat juga menitipkan koleksinya kepada perpustakaan Islam yang ada di DKI Jakarta dan Perpustakaan Islam lainnya yang menjadi jaringan kerjasama melalui JIPI agar informasinya dapat dimanfaatkan oleh semua masyarakat.

    Tujuan dari Perpustakaan yaitu menyediakan fasilitas dan sumber informasi serta menjadi pusat pembelajaran. Secara tidak langsung menciptakan masyarakat yang terdidik, terpelajar, terbiasa membaca dan berbudaya tinggi (Sutarno, 2006). Pendidikan masyarakat merupakan salah satu tugas bagi perpustakaan masjid istiqlal, dengan koleksi utama berupa kajian tentang keislaman, perpustakaan masjid istiqlal juga memiliki perpustakaan yang di peruntuhkan bagi anak-anak. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan masjid istiqlal berupa story telling (mendongeng). Selain kegiatan untuk anak-anak, perpustakaan masjid istiqlal pun sering membuat kegiatan seminar, lomba menulis ataupun pelatihan bagi masyarakat. Dengan adanya perpustakaan di Masjid Istiqlal menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang hendak beribadah, dan meluangkan waktu untuk berkunjung ke perpustakaan.

    Perpustakaan Masjid Istiqlal merupakan kiblat dari perpustakaan Islam di Indonesia. melalui jaringan JIPI, perpustakaan Masjid Istiqlal banyak membina perpustakaan yang berada pada jaringan tersebut. Pedoman-pedoman tentang perpustakaan Islam pun banyak lahir lewat jaringan tersebut. Klasifikasi Islam, tajuk subjek Islam, kemudian thesaurus Islam yang dibuat oleh Perpustakaan Masjid Istiqlal dipakai oleh seluruh perpustakaan Islam yang berada dibawah jaringannya. Salah satunya yaitu klasifikasi 2X yang digunakan oleh UIN Syahid Jakarta yang sampai saat ini masih digunakan.

    Tesaurus Islam ini merupakan buah karya Pusat Dokumentasi dan Informasi Pengkajian Islam-Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PUSDIPI-PPII) pada tahun 1986. Tesaurus ini dibuat untuk menyukseskan Jaringan Informasi Pengkajian Islam (JIPI). Tesaurus ini merupakan bagian dari BISIS (Bibliographic Information System of Islamic Studies) atau Sistem Informasi Bibliografi Pengkajian Islam yang dibuat untuk mempermudah kerja sama antar anggota jaringan.

    Tonggak Perpustakaan Digital di Perpustakaan Islam

    Dengan kemajuan teknologi pada saat itu dan dengan visi “Terwujudnya Perpustakaan Islam Modern dengan koleksi yang berkualitas, sistem pengelolaan yang mutakhir dan sumber daya manusia yang professional”, perpustakaan istiqlal mencoba muncul sebagai tonggak awal munculnya perpustakaan islam dengan koleksi digital di Indonesia. Selain PPII yang bertugas melayani informasi masyarakat, Perpustakaan Masjid Istiqlal pun memiliki organisai yang bertugas untuk mendokumentasi informasi, yaitu Pusat Dokumentasi dan Informasi Islam (PUSDIPI). Koleksi yang dikumpulkan oleh PUSDIPI melalui JIPI dirubah menjadi koleksi elektronik. Dengan memanfaatkan teknologi computer, koleksi informasi yang ada pada perpustakaan Islam yang tergabung pada JIPI dirubah menjadi koleksi elektronik, dengan mengalih media koleksi cetak menjadi koleksi elektronik, perpustakaan dapat dengan mudah mengelola informasinya, sehingga masyarakat yang mencari informasi dapat lebih mudah dalam menemukannya.

    Selain alih media koleksi, PUSDIPI juga membuat sebuah software manajemen perpustakaan dan katalog perpustakaan yang diberi nama Bibliografic Information System for Islamic Studies (BISIS). Perangkat lunak tersebut digunakan dan diintegrasikan oleh perpustakaan Islam dibawah naungan JIPI.

    Konten yang terdapat pada BISIS merupakan koleksi tentang pengkajian Islam berupa buku umum, koleksi refrensi seperti ensiklopedi hingga loka karya lembaga masing-masing perpustakaan dan jurnal. Pertukaran koleksi bukan hanya dari masing-masing perpustakaan yang telah menjalin kerjasama, tetapi lembaga induknya sendiri juga menjadikan BISIS sebagai media untuk menyebarluaskan hasil pengkajiannya, yaitu berupa tajuk subjek islam, klasifikasi islam dan buku-buku pedoman lainnya yang dapat menjadi acuan untuk mengelola perpustakaan Islam.

    Dalam hal pengadaan koleksi, Perpustakaan Masjid Istiqlal pun memiliki peranan dalam pertukaran koleksi. Melalui kegiatan hibah buku, Perpustakaan Masjid Istiqlal mengumpulkan buku dari para donator dan kemudian buku-buku yang terseleksi di pertukarkan dengan perpustakaan jaringannya. Program Hibah Buku menjadi sebuah solusi bagi perpustakaan untuk mengumpulkan bahan informasi.

    Kesimpulan

    Perpustakaan Masjid Istiqlal Berperan aktif dalam pendidikan masyarakat umum, dengan menyediakan informasi-informasi melalui koleksi yang ada di perpustakaan. Kemudian ada kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh perpustakaan untuk masyarakat umum, seperti seminar, pelatihan, dan pendidikan anak. Selain itu Perpustakaan Masjid Istiqlal juga berperan sebagai pusat pengkajian Islam di Indonesia, dengan membuat kerjasama dan mengumpulkan koleksi-koleksi yang ada di Perguruan Tinggi Agama Islam, Pondok Pesantren, dan lembaga dan organisasi masyarakat Islam. Selain itu perpustakaan Islam juga membuat pedoman bagi perpustakaan Islam pada Jaringannya. Kemudian Perpustakaan Masjid Istiqlal berperan sebagai tonggak komputerisasi perpustakaan di Indonesia. Membuat perangkat lunak manajemen perpustakaan yaitu Bibliographics Information System for Islamic Studies, sehingga dapat memudahkan perpustakaan yang menjadi bagian dari jaringan mereka mengelola perpustakaan.

    *Alumnus UIN Jakarta

     

    Daftar Pustaka

    Departemen Agama RI, Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), (Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2005).

    Fatimah Zuhrah. 2008. Perpustakaan Sebagai Pusat Studi Islam: Mengenang Kemajuan Perpustakaan Islam Abad Keemasan Islam. Jurnal Iqra Vol. 02 No. 02 2008.

    Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII), Profil Organisasi dan Kegiatan Organisasi (Jakarta: PPII).

    Pusat Perpustakaan Islam Indonesia (PPII), Profil Organisasi dan Kegiatan Organisasi (Jakarta: PPII)

    Qalyubi, Syihabuddin, dkk (Ed). 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. (Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) .

    Sutarno NS., Perpustakaan dan Masyarakat, (Jakarta: CV. Sagung Seto, 2006).

    Yanto. Sejarah Perpustakaan Bait al-Hikmah pada Masa Keemasan Dinasti Abbasiah. Tammadun Vol. XV, No. 1/ Januari-Juni 2015.

    Yulita Ambarsari, Pemanfaatan Koleksi Buku di Pusat Perpustakaan Islam Indonesia Masjid Istiqlal. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 1996.

    Yulita Ambarsari, Pemanfaatan Koleksi Buku di Pusat Perpustakaan Islam Indonesia Masjid Istiqlal. Fakultas Sastra Universitas Indonesia. 1996,


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan