• Wednesday, 24 April 2019
  • KREATIVITAS MEMOLES CITRA PERPUSTAKAAN MELALUI MEDIA


    KREATIVITAS MEMOLES CITRA PERPUSTAKAAN

    MELALUI MEDIA

    Oleh: Irfan M Nasir, S.IP

     

    Media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk memindahkan pesan dari komunikator kepada penerima pesan.[1] Media massa dan media sosial sukses membangun citra baik seseorang, produk ataupun usaha perorangan hanya dengan memoles kreativitas “prestasi”. Pengaruh media massa sebagai jembatan komunikasi semakin hari semakin terlihat pengaruhnya dikalangan masyarakat. Pengaruh terjadi tidak hanya dalam perbuatan, tetapi perubahan atau perbedaan pengetahuan antara sebelum dan sesudah pesan dikirimkan. Dampak negatif dan positif yang ditimbulkan muncul secara berdampingan berdasarkan sebab dan akibat yang akan diterima masyarakat dalam menjalankannnya.

    Contoh sukses media memoles seorang bisa dilihat disaat begitu meriahnya pemberitaan seorang Lalu Muhamad Zohri seorang Pelari 100 M yang berhasil memenangkan kejuaraan dunia Atletik junior di Tampare Firlandia, padahal olah raga Atletik adalah olah raga yang kurang populer di Indonesia. Tema-tema polesannya sekitar: 1. ketidakadaan bendera merah putih untuk dibawa ke podium, 2. tak punya sepatu untuk latihan, 3. Yatim Piatu, 4. Biaya sendiri. Sehingga hal itu mengundang perhatian publik yang luar biasa.

    Kreativitas bukanlah menemukan hal baru, melainkan memoles hal-hal yang kusam menjadi seperti baru (Bong Chandra). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, memoles berarti memberi polesan supaya lebih indah dan sebagainya. Arti kiasasannya adalah memperbaiki keadaan yang ada, meningkatkan kemampuan mutu dan sebagainya.[2] kreativitas tidak terbatas pada kegiatan yang mengandung unsur seni dan visual tapi juga semua unsur kegiatan harian. 

    Kreativitas bisa kita terjemahkan sebagai sebuah kemampuan atau kemauan untuk membayangkan sesuatu dan merealisasikannya ke dalam kehidupan nyata. Jadi, kreativitas itu bukan terhenti pada ide, tetapi juga sudah diaplikasikan dalam wujud aksi. Jika hanya sebatas ide, maka kreativitas masih terkurung. Kreativitas harus dituangkan, entah itu dalam coretan, sketsa, atau apa saja. Kreativitas memoles akan memberikan umpan balik atau feedback baik negatif atau positif. Umpan balik bisa berdasarkan asal, berdasarkan kecepatan, berdasarkan penerimaan pesan, ataupun berdasarkan relevansitas[3].

    Citra merupakan sesuatu yang bersifat abstrak karena berhubungan dengan keyakinan, ide dan kesan yang di peroleh dari suatu objek tertentu baik dirasakan secara langsung, melalui panca indra maupun mendapatkan informasi dari suatu sumber. Seperti yang dijelaskan oleh Roesady, citra adalah seperangkat keyakinan, ide, dan kesan seseorang terhadap suatu objek tertentu.[4] Citra dapat berupa tanggapan positif yang berbentuk dukungan, ikut serta, peran aktif serta tindakan positif lainnya dan tanggapan negatif yang berbentuk penolakan, permusuhan, kebencian atau bentuk negatif lainnya. Citra sendiri akan melekat pada setiap diri individu maupun instansi, tanggapan positif maupun negatif tergantung pada proses pembentukannnya dan pemaknaan dari objek sasaran pembentukan citra. Serta, semua orang memiliki hak untuk memaknai citra personal maupun instansi.

    Setiap orang mempunyai citra (image) tersendiri. Citra tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya. Misalnya seseorang dapat dikatakan sebagai pemalas, pekerja keras, efesien, ramah, boros, lucu dan sebagainya. Setiap orang dengan citranya akan berpengaruh selama dirinya berkomunikasi. Meskipun citra seseorang umumnya timbul karena kepribadian, sikap atau penampilannya, pada awalnya citra biasanya diketahui dan dibentuk dari penampilan fisik seseorang. Citra dari bentuk fisik ini sering memberi kesan pertama yang sangat berarti. Selanjutnya citra yang sudah melekat pada diri seseorang cenderung sulit untuk diubah. Citra seperti itu pun dapat dimiliki sebuah organisasi seperti perpustakaaan. Bahkan penampilan fisik seperti gedung, eksterior dan interior cukup memberi citra baik positif maupun negatif sebuah perpustakaan.

    Kreativitas memoles citra perpustakaan perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat maupun eksistensi perpustakaan dimata masyarakat. Meskipun produk yang dihasilkan luar biasa, memiliki pegawai yang hebat-hebat, memiliki informasi yang lengkap, kalau citra yang dibangun tidak baik, maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan maksimal. Perpustakaan sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang jasa layanan informasi publik, baik informasi khusus maupun informasi umum sangat perlu untuk membangun citra. Citra perpustakaan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun dan dibentuk, dari mulai layanan, komunikasi dan lain sebagainya. 

    Membangun Citra Perpustakaan

    Untuk saat ini, di Indonesia keberadaan perpustakaan masih di pandang sebelah mata. Ada dan tidak adanya perpustakaan bagi kebanyakan orang tidaklah berpengaruh karena bukan bagian dari kebutuhan. Hal ini tidak hanya dirasakan di masyarakat umum, akan tetapi dikalangan dunia pendidikan seperti perguruan tinggipun, keberadaan perpustakaan kurang mendapatkan respon yang baik. hal ini bisa dilihat dari kunjungan ke perpustakaan. Hal ini dimungkinkan karena kurang memahami peran dan fungsi perpustakaan. Maka dari itu perpustakaan harus membenahi diri, meningkatkan layanan, dan memberi  kesan positif. Citra baik perpustakaan akan dapat mempengaruhi peningkatan frekuensi kunjungan pemustaka. Membangun citra perpustakaan bisa dilakukan melalui berbagai hal diantaranya adalah:

    1. Membuat Framing Media

    Framing secara harfiah adalah pembingkaian. Framing merupakan bagian dari strategi komunikasi media. Framing adalah menyusun dan mengemas informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini atau menggiring persepsi publik terhadap sebuah peristiwa.[5] Framing berita merupakan perpanjangan dari teori agenda setting, yaitu pemilihan fakta dalam sebuah peristiwa yang dinilai penting disajikan dan dipikirkan public. Framing tidak berbohong, tetapi mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, gambar, hingga meniadakan informasi yang mestinya disampaikan. Framing bertujuan untuk membingkai sebuah informasi agar melahirkan citra, kesan, makna tertentu yang diinginkan atau wacana yang akan ditangkap oleh khalayak. Penyebaran informasinya bisa melalui Youtube, FB, Whatapp, Istagram, Koran, Majalah, Brosur, Radio, TV, Pameran dan lain sebagainya.

    2. Membangun Gedung Perpustakaan yang Unik

    Unik menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah tersendiri dalam bentuk dan jenisnya, lain daripada yang lain, atau tidak ada persamaan dengan yang lain.[6] jika mendapatkan awal ke dan akhiran an, maka menjadi keunikan yang berarti istimewa atau khusus. Sesuatu yang unik akan membawa rasa penasaran. Gedung perpustakaan yang unik menjadi daya tarik pertama agar masyarakat mau berkunjung. Setelah mereka berkunjung maka langkah berikutnya adalah dengan memberikan dan menginformasikan layanan yang ada.

    Perpustakaan sedikitnya mempunyai 6 fungsi diantaranya adalah: fungsi penyimpanan, edukatif, penelitian, pelestarian (kultural), informatif dan rekreasi[7]. untuk bisa memenuhi semua fungsi itu diperlukan desain gedung dan sarana prasarana yang bisa menghadirkan fungsi-fungsi tersebut diatas.

    Karena perpustakaan berfungsi sebagai rekreasi, maka gedung dan fasilitas perpustakaan bisa dibangun seperti hotel, mall ataupun seperti konsep vila di tepi pantai yang indah yang dilengkapi dengan kolam renang, fasilitas permainan untuk anak, gym, kafe, bioskop dan lain sebagainya.

    3. Memberikan Pelayanan yang Berbeda

    Untuk pelayanan, kita bisa melihat pelayanan perpustakaan ditempat yang lain yang berbeda dari sebuah kebiasaan perpustakaan pada umumnya. Sebagai contoh kita bisa melihat perpustakaan di Amerika Serikat. Menurut Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpustakaan Nasional RI, Dr. Joko Santoso M.Hum. mengatakan bahwa di Amerika Serikat saat ini ada perpustakaan yang bukan saja mengoleksi buku untuk dipinjamkan, tetapi bahkan menyediakan barang-barang atau perlengkapan rumah tangga yang sering diperlukan masyarakat. Misalnya, menyediakan mesin pemotong rumput, gergaji mesin, gergaji listrik, gerenda, kemah, hingga mixer, dan blender.[8]

    Richard Reyes-Gavilan, direktur pelaksana seluruh perpustakaan umum di kota Washington, D.C, mengatakan bahwa diperpustakaan umum sekarang ada kedai kopi di dalamnya, aturan yang umum tidak berlaku di sini. Makan dan minum diperbolehkan, begitu juga menggunakan ponsel dan bahkan berbicara. Setiap orang yang memiliki kartu perpustakaan punya akses ke printer biasa, printer 3D dan bahkan mesin jahit. Pemerintah kota Washington DC menginginkan perpustakaan seperti ini menjadi pusat komunitas yang melayani kebutuhan warga setempat. Perpustakaan-perpustakaan di sini juga menyediakan berbagai kursus gratis untuk orang dewasa.[9]

    Lain cerita dengan kampus Newcastle University, Inggris, mereka buka 24 jam, 7 hari dalam seminggu, serta peminjaman buku sampai dengan 35 buku, peminjaman bisa sampai 1-2 bulan. Kalau buku tidak ada di perpustakaan itu, maka cukup membayar 1,5 ponds, maka perpustakaan akan meminjam dari tempat yang lain. [10]

     

    *Pustakawan Muda UIN SMH Banten

     

    Catatan Kaki

    1. Nurudin, Ilmu Komuniasi Ilmiah dan Populer, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016,  h. 48

    2 “Arti Kata Poles - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,” accessed February 14, 2019, https://kbbi.web.id/poles.

    3 Ibid, h. 56

    4 Ruslan, Rosady, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, .Jakarta :Rajawali Pers, 2010 h. 80

    5 Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi , ideologi dan Politik Media, Yogyakarta, LKiS, 2002, h. 18

    6 “Arti Kata Unik - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online,” accessed February 14, 2019, https://kbbi.web.id/unik.

    7 “6 Fungsi Perpustakaan Yang Wajib Anda Tahu! - Informasi Lengkap Seputar Dunia Perpustakaan,” accessed February 14, 2019, https://www.duniaperpustakaan.com/2010/08/6-fungsi-perpustakaan-yang-wajib-anda.html.

    8 “Layanan Perpustakaan Harus Luar Biasa - Serambi Indonesia,” accessed February 14, 2019, http://aceh.tribunnews.com/2018/09/28/layanan-perpustakaan-harus-luar-biasa.

    9 “Perpustakaan Baru di DC Jadi Pusat Komunitas,” VOA Indonesia, accessed February 14, 2019, https://www.voaindonesia.com/a/perpustakaan-baru-di-dc-jadi-pusat-komunitas/4287500.html.

    10 “Perpustakaan Kampus Eropa: Mau Self-Service Bisa, Mau Pesan Online Oke Juga,” CAREERNEWS.id, accessed February 14, 2019, http://careernews.id/issues/view/3191-perpustakaan-kampus-eropa-mau-self-service-bisa-mau-pesan-online-oke-juga.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Kasali Rhenald, 2003. Manajemen Public Relations, Pustaka Utama Grafiti, Cet.4.

    Mustofa, Badollahi, 1996. Promosi Jasa Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.

    Sulistyo-Basuki,1991 : Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

    Ruslan, Rosady, 2010, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Jakarta: Rajawali Pers.

    Eriyanto, 2002. Analisis Framing: Konstruksi, ideologi dan Politik Media, Yogyakarta, LKiS.

     

     


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan