• Monday, 21 October 2019
  • MARI MEMBACA


    MARI MEMBACA

    Oleh: Kholid Ma'mun*

     

    Definisi membaca menurut Para Ahli sebagaimana yang tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis baik dengan melisankan apa yang dibaca ataupun hanya sekedar menelaah dalam hati. Membaca dapat dikategorikan dalam dua bagian, pertama membaca intensif (intensif reading) yaitu membaca mata pelajaran bagi seorang pelajar atau diktat bagi mahasiswa. Seorang pelajar atau mahasiswa harus membaca pelajaran atau diktat secara intensif terhadap apa yang diajarkan oleh guru dan dosen. Membaca jenis kedua adalah membaca untuk memperoleh tambahan informasi, baik yang berkaitan dengan subjek yang dikajinya maupun pengetahuan untuk menambah wawasan, seperti membaca koran, majalah, buletin, tabloid dan lain-lain.

    Kemajuan suatu bangsa dapat diukur dengan seberapa banyak masyarakatnya menggandrungi aktifitas baca, hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh Dr. Raghib Assirjani dan Amir Al Madani dalam bukunya Spiritual Reading, mereka mengatakan bahwa membaca merupakan kunci pengetahuan dan syarat penting menuju kemajuan dan kesuksesan.

    Bertolak dari sebuah pendapat yang dilontarkan oleh Dr. Raghib dan Amir Al-Madani diatas mungkin bisa kita lihat realita yang terjadi di Indonesia saat ini, jika standar maju dan tidaknya suatu bangsa diukur dari "minat baca" masyarakatnya mungkin sebuah pendapat yang tidak terlalu berlebihan, hal ini dikarenakan dari kegiatan membaca inilah akan ada informasi yang didapat, sehingga akan membuahkan ilmu pengetahuan baru yang akan menjadikan bertambahnya wawasan seseorang

    Namun, sangat disayangkan budaya membaca masyarakat Indonesia masih lemah sehingga hal ini juga berpengaruh terhadap kualitas daya fikir dan kreatifitas kerja, berbeda dengan negara maju. Sebuah penelitian dalam suatu studi banding dilakukan untuk mengetahui prosentase rata-rata baca manusia di seluruh dunia, hasilnya menyebutkan bahwa prosentase rata-rata bacaan seorang laki-laki biasa yang bekerja di toko dan sebagai pelayanan biasa di Jepang adalah 40 buku dalam setahun, semetara prosentase rata-rata bacaan setiap orang ditengah-tengah masyarakat Eropa adalah 10 buku dalam setahun.

    Berbeda dengan hasil prosentase di dua tempat di atas apa yang terjadi di dunia arab mereka rata-rata membaca sepersepuluh buku dalam setahun. Sedangkan orang Indonesia belum ditahui, karena memang minat dan kualitas membaca orang Indonesia masih sangat rendah dibanding orang-orang di negara maju seperti negara Jepang dan beberapa negara maju lainnya

    Tela'ah kembali Al-Qur'an

    Peradaban Islam adalah peradaban ilmu, sebagaimana kita ketahui, Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. di Mekah, ditengah peradaban jahiliyah dan komunitas yang tidak bisa membaca dan menulis. Namun wahyu teragung yang diturunkan kepada maysarakat ummi (yang tidak bisa baca-tulis) ini justru Al-Qur'an yang berarti "bacaan". Bahkan lebih dari itu, ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah anjuran untuk membaca

    Ketika Nabi Muhammad saw sedang bertahannus di Gua Hira, datanglah Malaikat Jibril as, membawa wahyu dan menyuruh Nabi untuk membacanya dengan perintah: "bacalah!" Dengan terperanjat Nabi menjawab "Aku tidak bisa membaca! Beliau lalu direngkuh beberapa kali oleh Jibril hingga nafasnya  sesak dan terengah-engah, lalu dilepaskan lagi oleh Jibril dan disuruh untuk membaca kembali: "Bacalah! Akan tetapi Nabi tetap menjawab dengan jawaban yang sama: "Aku tidak bisa membaca" dan hal ini terjadi sampai tiga kali, akhirnya Nabi berkata apa yang harus aku baca? Kemudian Jibril menyampaikan firman Allah dalam surat Al-Alaq 1- 5: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'Alaq, Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya

    Iqra yang berarti bacalah, dalam qaidah usuliyah bahwa "al-aslu fil amri lilwujub" asal dari perintah adalah kewajiban untuk melakukannya, berarti membaca adalah sebuah kewajiban dan kebutuhan. Tapi sangat disayangkan, kondisi umat Islam selalu identik dengan umat sebutan umat yang selalu terlambat dalam memperoleh, mengkaji dan menghasilkan informasi, barangkali ini yang menjadi penyebab kemunduran dalam banyak hal

    Belajar dari Tawanan Badar

    Ketika hendak membebaskan tawanan perang Badar Rasulullah memberikan persyaratan kepada mereka yang tertawan agar mengajarkan membaca dan menulis, setiap satu orang tawanan perang harus mengajarkan sebanyak 10 orang muslim. Saat itu banyak yang beranggapan bahwa tindakan yang ambil oleh Rasul sangat tidak masuk akal dan aneh. Betapa tidak aneh, karena dalam situasi perang yang dibutuhkan adalah harta, peralatan dan perlengkapan perang, namun Rasul melihat ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu mengajarkan baca tulis kepada kaum muslimin.

    Rasulullah ingin membangun umat Islam dengan bangunan yang sempurna sehingga para sahabat memiliki kemampuan berbahasa yang unggul dari pada musuh-musuhnya. Hal ini dapat kita lihat pada diri Zaid bin Tsabit yang mengungguli sahabat-sahabat yang lain, sehingga dirinya selalu bersama Rasulullah saw. Bahkan oleh Rasulullah Zaid diangkat menjadi penulis wahyu dan sekretaris pribadi pribadih Rasulullah saw. Selain dari pada itu Zaid juga menjadi penerjemah bahasa Suryani dan Ibrani padahal saat itu usia Zaid baru berumur 13 tahun.

    Budayakan Membaca

    Membaca adalah kunci ilmu pengetahuan, membaca adalah jalan menuju kejayaan dan kemajuan, sikap tidak mau membaca merupakan penolakan teehadap peradaban, umat tidak akan maju tanpa mau membaca.

    Seorang pembaca yang baik tidak akan membaca satu kata atau lebih kemudian berhenti, memikirkannya terlebih dahulu kemudian meneruskan pada kalimat berikutnya, membaca dengan model ini akan kehilangan pengertian yang terkandung didalamnya secara keseluruhan, seharusnya ia terus melanjutkan membaca sampai menemukan kata kunci (key word) dalam bacaan tersebut.

    Diakhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan kisah inspiratif tentang manfaat membaca, ada seorang cendekiawan Mesir yang terlahir dari keluarga miskin sehingga ia harus terhenti pendidikannya di tingkat dasar dan tidak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya, ia adalah Abbas Mahmud Al-Aqqad.

    Syekh Aqqad adalah seorang yang cerdas dan rajin membaca buku (walaupun pendidikannya hanya sampai SD). Ia belajar otodidak, sampai menguasai ilmu humaniora. Ia juga menguasai bahasa asing, Inggris dan Perancis, konon penguasaan dua bahasa internasional ini ia dapatkan dari para turis yang melancong ke negerinya Nabi Musa, selain sering bergaul dengan para sastrawan Mesir

    Dalam satu kisah disebutkan Syekh Aqqad muda pernah bekerja di pabrik kain sutera dan perusahaan kereta api, upah yang didapat untuk membeli buku, kemudian melamar menjadi wartawan dan menulis esai dan cerpen, kemudian ia mendirikan sekolah sastra bersama Ibrahim Al-Mazni dan Abdul Rahman Syukri. Dan sekolah tersebut dinamakan Diwan, pada tahun 1959 ia memperoleh penghargaan untuk kategori sastra dari Pemerintah Mesir.

    Berkat kegandrungannya dalam membaca buku, ia telah menghasilkan 100 buku tentang agama, filsafat dan puisi, diantara buku Syekh Aqqad yang laris di pasaran adalah Abqariyyah Muhammad, Abqariyyah al-Shiddiq, Abqariyyah al-Faruq, Abqariyyah Utsman, Aqbariyyah Imam Ali, Abqariyyah Kholid, Al-Falsafah Al-Qur'aniyyah, Al-Tafkir Faridhah Islamiyah, Al-Insan Fil Qur'an, Al-Islam Da'wah 'Alamiyah dan lain-lain.

    Wallahu 'alam bisshawab

     

    *Pengajar di Ponpes Modern Daar El Istiqomah dan Pengurus ICMI Orwil Banten


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan