• Monday, 21 October 2019
  • Literasi Digittal


    LITERASI DIGITAL

    Oleh : Gun Gun Siswadi

    SAM Bidang Komunikasi dan Media Massa

    Kemkominfo

     

    1.  LATAR BELAKANG

    Masyarakat Indonesia saat ini telah memasuki era informasi, hal ini disebabkan segenap aspek kehidupannya tidak terlepas dari pengelolaan dan pemanfaatan informasi dalam berbagai aktivitas. Informasi saat ini menjadi komoditas yang dapat menghasilkan nilai tambah apabila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pada fase ini terdapat pergeseran pola fikir, pola sikap dan pola tindak masyarakat dalam mengakses dan mendistribusikan informasi.

    Di era keterbukaan informasi  saat ini, masyarakat Indonesia banyak disuguhi berbagai ragam informasi, baik melalui media massa antara lain televisi, radio siaran, surat kabar dan majalah maupun media berbasis internet antara lain media online dan media sosial. Terpaan informasi tersebut sebagai konsekuensi logis dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi, pengetahuan dan hiburan. Bahkan saat ini dan kedepan, masyarakat akan semakin mudah dalam mengakses informasi melalui media massa dan media berbasis internet tersebut dengan adanya perubahan platform yang awalnya berbentuk konvensional menjadi media berbasis teknologi digital yang menawarkan inovasi fitur dari medium komunikasi yang kian interaktif.

    Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) penetrasi pengguna internet di Indonesia pada tahun 2018 telah mencapai 171,17 juta jiwa (64,8%) dari total populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 264,16 juta orang.  Dari survei   terbaru APJII tersebut, ditemukan ternyata alasan utama dalam menggunakan internet adalah untuk berkomunikasi lewat pesan (24,7%), sosial media (18,9), mencari pekerjaan (11,5%). Sedangkan konten internet (media sosial) yang paling sering dikunjungi adalah Facebook (50,7%), Instagram (17,8%) dan Youtube (15,1%) .  Sehingga menurut data  tersebut, masyarakat dapat dengan mudah terkoneksi dengan media sosial.

    Melalui perangkat mobile  (smartphone) yang didalamnya terdapat aplikasi  sosial media seperti Facebook, Twitter, dan aplikasi obrolan seperti Blackberry Messenger, What’s Apps, dan Line, aktivitas sharing dan gathering informasi  semakin hari semakin hiruk pikuk.  Aktivitas media sosial juga telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat, karena setiap hari,  sejak  terbit  matahari hingga  hingga larut malam masyarakat modern  dipertautkan dengan  media sosial.  Informasi,  pesan, komentar dan opini, postingan  video atau photo begitu deras mengalir  tanpa henti, apalagi  yang telah menjadi viral,  tak pernah sepi menghiasi  timeline  media sosial  tersebut.  

    Melalui berbagai fitur atau kanal-kanal dalam media sosial  siapapun,  tidak perlu orang berpendidikan, tidak perlu memiliki latar belakang akademis,  bisa berinteraksi dan merespon opini atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, dengan bahasa dan ungkapan apapun.   Ada kalanya perdebatan tersebut menjadi memanas dan menjadi polemik sehingga menciptakan silang pendapat yang sangat tajam.

    Mencermati apa yang terjadi saat ini di media sosial, muncul keprihatinan  seolah olah telah terjadi pergeseran nilai sebagai bangsa yang  santun  dalam  bertutur dan berperilaku, telah berubah jika melihat dari  komentar-komentar,  opini  dan statement dari masyarakat yang muncul di kanal-kanal media sosial. Sehingga  yang  muncul ke permukan adalah caci-maki, luapan kata-kata vulgar, sinisme, sarkasme, bullying, bahkan terdapat ungkapan-ungkapan yang menyinggung masalah SARA,   yang  bahasa dan ungkapan  yang  tersurat  tidak menunjukkan kematangan  berpikir seseorang  dan hanya berdasarkan emosi semata. Di media sosial saat  ini  kita semakin jarang menemukan bahasa dari  pendapat  dan kritik  yang disampaikan  dengan  bahasa  yang  lugas dan santun.

    Suasana yang cenderung menghangat di media sosial saat ini dapat berdampak signifikan yang berujung pada  konflik  fisik langsung  atau konflik terbuka, oleh karena itu kita perlu mencegahnya.  Dalam kondisi seperti ini,  perlu didiskusikan  dalam sudut pandang lain terkait perkembangan yang menjadi viral saat ini di ruang media sosial, bukan semata-mata soal dampak negatifnya, tetapi kira-kira hal apa yang perlu diwaspadai ke depan.

    Untuk itu yang menjadi persoalan adalah apakah masyarakat telah disiapkan dengan kemampuan untuk memilah dan memilih informasi ?. Bagaimana seharusnya masyarakat menentukan sikap berdasarkan informasi yang mereka baca ?

     

    1. SOLUSI

     

    Seperti kita pahami bersama, seharusnya media sosial digunakan untuk menyampaikan hal-hal positif  dan  harus menjadi sarana  yang  bermanfaat untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa ditengah ke keberagaman bangsa Indonesia.

    Oleh karena itu, salah satu  yang  dapat  digagas  untuk  mengembangkan  iklim yang kondusif di ruang media digital saat ini, adalah dengan mengembangkan budaya  literasi digital. Meski istilah ini terkesan berasal dari budaya atau bahasa lain namun, literasi digital ini menarik dan relevan dalam mengatasi persoalan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat saat ini, khususnya  dalam  pemanfaatan  media sosial,  baik itu ketika  menerima maupun dalam menyampaikan  informasi.

    Literasi digital sendiri mengandung makna pentingnya memeriksa  kebenaran dengan teliti mengenai suatu kabar atau informasi dari media digital atau internet.  Mengandung sebuah pelajaran yang penting agar masyarakat tidak mudah  terpancing  atau mudah menerima  begitu saja informasi yang tidak jelas sumbernya, atau informasi yang jelas sumbernya tetapi sumber itu diketahui  sebagai media penyebar informasi palsu, isu murahan atau informasi yang menebar fitnah. Bersikap hati-hati terlebih dahulu terhadap segala informasi yang diterima untuk kemudian melakukan pengecekan akan kebenaran informasi tersebut sehingga tidak menerima informasi itu begitu saja.

    Dengan mengembangkan budaya literasi digital ini diharapkan menjadi terapi dan solusi bagi  masyarakat Indonesia  dalam  menyikapi arus informasi di media digital khususnya media sosial  yang berpotensi mengganggu  persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

     

    1. STRATEGI

    Penerapan budaya literasi digital dapat  dikembangkan  dalam masyarakat Indonesia melalui beberapa pendekatan atau strategi, dengan tujuan antara lain adalah agar masyarakat bijak dalam menggunakan dan memanfaatkan media digital khususnya media sosial, masyarakat cerdas dalam memilih dan memilah informasi, masyarakat  bertanggung jawab  dalam menyebarkan informasi, masyarakat menginisiasi komunitas informasi dalam upaya mengelola dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kesejahteraannya. Untuk itu, strategi yang dikembangkan antara lain :

    1. Sosialisasi

    Sosialiasi literasi digital ditujukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengetahui, memahami dan meyakini  sebuah informasi dari media digital.

    Sasaran Kegiatan ini adalah Pelajar/Mahasiswa, Kalangan Profesi, Keluarga, Komunitas  Informasi.

    Adapun metode pelaksanaannya berupa Kampanye Melek Informasi melalui berbagai media, aktivitas pendidikan dan transformasi pengetahuan melalui kegiatan belajar dan mengajar di sekolah, pertemanan, pelatihan dan Indoktrinasi melalui penataran, ceramah dan councelling.

    1. Literasi

    Literasi digital ditujukan dalam upaya  agar masyarakat mampu memahami, menganalisis, mendekonstruksi dan menyebarkan informasi melalui berbagai sumber media digital, sehingga mampu  bersikap serta memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah informasi dari media digital yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan potensi koflik. Kemampuan untuk melakukan hal ini menjadi penting,  sehingga masyarakat menjadi sadar  (melek)  tentang cara sebuah pesan atau informasi  dikonstruksi (dibuat) dan diakses, selain itu juga agar masyarakat memahami berbagai ruang lingkup lain  dibalik sebuah informasi (kemungkinan adanya  hidden agenda atau agenda setting).

    Sasaran kegiatan ini adalah Pelajar/Mahasiswa, Kalangan Profesi, Keluarga, Komunitas  Informasi.

    Adapun metode yang dapat digunakan antara lain, Work Shop, Training, Coaching Clinic, Focus Group Discussion (FGD), Seminar dan  Talkshow.

    1. Pemberdayaan  

    Pemberdayaan Komunitas Masyarakat terhadap media digital ditujukan dalam upaya membangun kapasitas sumber daya komunitas informasi agar peduli dan sadar serta memiliki kemampuan dalam mengelola informasi dan pemanfaatan sarana Media Sosial dalam rangka menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.  Meningkatkan atau membangun kapasitas komunitas informasi agar dapat  menjadi agen perubahan di masyarakat dalam membangun paradigma aktivitas media sosial  yang sehat dan bijak.

    Sasaran kegiatan ini adalah Pelajar/Mahasiswa, Kalangan Profesi, Keluarga, Komunitas Informasi.

    Adapun metode yang dapat digunakan antara lain adalah Pengorganisasian Masyarakat, Membangun Komunitas Informasi,  Membangun Training Centre atau Rumah Komunitas (Rumah Cerdas Informasi), Capasity Building, Social Engineering.

     

                                                                                                                             Jakarta,  Agustus  2019


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan