• Monday, 21 October 2019
  • KARENA BAHASA ARAB AKU KE MALAYSIA


    KARENA BAHASA ARAB AKU KE MALAYSIA

    Oleh: Kholid Ma'mun*

     

    Menjadi seorang pengajar adalah tugas kemanusian, atau bagi kita sebagai hamba Allah  yang beriman bisa jadi mengajar adalah sebuah kewajiban. Menurut penulis, hal ini berlaku bagi siapapun yang mendapat titipan amanat ilmu dari Allah Subhanahu Wata'ala, tanpa terkecuali, karena semua apa yang dititipkan Allah kepada kita kelak ada pertanggung jawabannya. Semua pengajar termasuk di dalamnya pengajar bahasa Arab, guru ngaji, ustadz, dosen dan apapun namanya sudah selayaknya bersyukur kepada Allah atas anugerah tersebut, karena Allah telah memilih mereka dari sekian banyak manusia ciptaannya dengan kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia lain, terlebih bagi mereka yang diberi kemampuan untuk membaca, memahami teks bahasa Arab baik secara lisan ataupun tulisan. Dengan bahasa Arab seseorang mampu memahami dua pedoman utama dalam menjalani hidupnya di dunia yaitu Al-Qur'an sebagai firman Allah Subhanahu Wata'ala dan Hadis Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai penjelas apa yang ada di dalam Al-Qur'an

     

    Namun yang sangat disayangkan, sampai saat ini dalam pengamatan penulis masih banyak orang yang menganggap remeh dan memandang sebelah mata terhadap bahasa Arab. Sebagian orang masih lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing yang lain, seperti bahasa Inggris, bahasa Perancis ataupun belajar ilmu-ilmu yang lainnya. Memang betul belajar bahasa Inggris, bahasa Perancis dan bahasa-bahasa lain juga penting, namun seharusnya sebelum mereka belajar bahasa asing yang lain terlebih dahulu hendaknya mereka belajar bahasa Arab. Mengapa demikian? Karena bahasa Arab sangat erat kaitannya terhadap urusan ibadah keseharian seseorang. Semua urusan ibadah dan muamalah dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari bahasa Arab, Karena semua yang  berkaitan dengan dalil akan merujuk dan berdasar kepada Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Pun dalam ibadah inti seperti sholat misalnya, baik yang wajib ataupun sunnah, mau tidak mau seseorang harus membaca dan melafadzkan do'a- do'a dan ayat-ayat Al-Qur'an yang semua tentunya menggunakan bahasa Arab

    Penulis sangat bersyukur sebagai seorang yang dianugerahi pemahaman dan kemampuan dalam bahasa Arab (walaupun tidak banyak) ditambah lagi dalam beberapa hari, terhitung sejak hari Selasa tanggal 11 September sampai dengan hari Senin tanggal 16 September 2019 mendapat kesempatan untuk menghadiri undangan seminar bahasa Arab dari MS Asia, sebuah lembaga yang konsen terhadap pendidikan dan pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya di Negara Asia Pasifik. MS Asia adalah sebuah lembaga yang didirikan pada tahun 2015 oleh Syaikh Sholeh Azzuman seorang berkebangsaan Saudi Arabia dan Dr. Mutawakkil Abdul Lathif Al Fadni seorang yang berkebangsaan Sudan dan berkantor di Kuala Lumpur Malaysia. Banyak pelajaran yang penulis dapatkan selama mengikuti acara "Seminar Bahasa Arab"di Kuala Lumpur yang dihadiri oleh 40 peserta undangan dari 11 negara, yaitu diantaranya Indonesia, Malasyia, Singapura, Thailand, Philipina, Kamboja, Vietnam, Korea, India, Srilangka dan Nepal

     

    Cerita dari teman-teman pengajar bahasa Arab dan pemateri seminar dari berbagai negara dengan berbagai kendala yang dihadapinya dan berbagai solusi yang mereka lakukan sungguh sangat bermanfaat untuk penulis dalam menghadapi kendala-kendala yang ada dalam pembelajaran bahasa Arab di tempat penulis mengabdikan ilmu

     

    Misalnya cerita yang datang dari Kamboja di sana ada seorang pengajar bahasa Arab dari Ghana bernama Dr. Ali Kamara yang sukses mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak Kamboja dengan mengguakan perantara bahasa Arab. Dr. Ali Kamara tidak bisa berbahasa Kamboja dan anak-anak Kamboja tidak bisa berbahasa Arab, sebuah cara yang unik dan menarik yang mungkin bisa penulis dan sahabat sekalian untuk dicontoh dan perlu dicoba, karena dalam pembelajaran bahasa Arab yang Dr. Ali Kamara lakukan bukan menerjemah bahasa Arab ke dalam bahasa Kamboja tapi menjelaskan bahasa Arab ke dalam bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa Kamboja, sungguh luar biasa

     

    Cerita lain datang dari Prof. Abdul Qadir Aligha seorang Profesor di Universitas Madinah Intenasional Malaysia yang menjadi salah satu pemateri seminar dan Dr. Habib seorang asisten dosen di Universitas yang sama dan keduanya berasal dari Nigeria. Yang menarik dari keduanya adalah mereka berdua begitu lancarnya berbicara bahasa Arab layaknya orang Arab. Ternyata itu semua mereka peroleh berkat kecintaan kepada bahasa Arab dan pembiasaan berbahasa Arab yang sudah terlatih sejak berada di bangku sekolah, tepatnya ketika masih duduk di sekolah menengah tingkat pertama yang kebetulan sekolah tersebut menerapkan peraturan kepada siswanya untuk berkomunikasi wajib dengan menggunakan dua pilihan bahasa pertama bahasa Arab dan yang ke dua bahasa Inggris

     

    Ada juga cerita tentang sahabat yang sekamar dengan penulis bernama Laurent Umar dari Philipina yang baru masuk Islam pada usia 15 tahun pada sekitar tahun 2004 (sekarang berusia 30 tahun) dan sekarang menjadi da'i yang menyampaikan dakwah dari satu daerah ke daerah lain di Philipina dan hingga saat ini telah banyak mengislamkan orang. Yang menarik dari saudara Laurent adalah walaupun ia hidup di negara muslim minoritas tapi begitu lincah lisannya berkata-kata bahasa Arab dengan fasih dan lancar, ini semua ia peroleh berkat kegigihan dan kecintaanya terhadap bahasa Arab. Semenjak masuk Islam saudara Laurent masuk ke pondok pesantren dan melanjutkan kuliahnya di Universitas Qasim Saudi Arabia

     

    Cerita yang tak kalah menarik adalah cerita dari pemateri seorang Dekan Fakultas Bahasa Arab Universitas Sulthan Ali Zainal Abidin Trengganu yang sampai usia 13 tahun belum bisa membaca Al-Qur'an (apalagi bahasa Arab), tapi berkat kegigihan orang tuanya dalam mendidik dan mengarahkan pendidikannya akhirnya beliau bisa mengusai bahasa Arab dengan baik yang akhirnya mampu mengantarkannya untuk belajar di Universitas Islam Madinah setelah menamatkan madrasah Aliyah di Trengganu, dan sekarang beliau meraih kehormatan untuk menduduki Dekan Fakultas Bahasa Arab di Universitas Sulthan Ali Zainal Abidin Trengganu

     

    Dari beberapa cerita yang menginspirasi tersebut barangkali ada rahasia di balik keberhasilan orang-orang hebat tersebut, semua ini tak lain adalah karena kecintaannya terhadap bahasa Arab. Seorang pemateri seminar berkebangsaan Sudan Dr. Mahmud Muhammad Ali dari USIM  (Universiti Sains Islam Malaysia) menambahkan dan menyebut salah satu contoh keberhasilan yang gemilang dalam kecintaan kepada bahasa Arab adalah sebagaimana apa yang telah dicapai oleh penduduk Sudan. ungkap beliau, mereka bukanlah orang Arab, bukan juga dari suku Quraisy atau Bani Tamim atau suku-suku Arab lainnya tetapi bahasa Arab di Sudan menjadi bahasa resmi negara. Kenapa demikian? Jawabnya karena mereka mencintai bahasa Arab lahir batin, jika "kecintaan terhadap bahasa Arab" sudah terwujud di hati sanubari seseorang maka saat itulah orang tersebut akan mampu berbahasa Arab. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi dan membangkitkan kita untuk mempelajari bahasa Arab. Semoga

     

    * Pengajar di Ponpes Daar El Istiqomah Kota Serang Banten & Pecinta Bahasa Arab

     

    Pesawat Kuala Lumpur - Jakarta, 16 September 2019


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan