• Monday, 21 October 2019
  • LITERASI MENYALAKAN IMAJINASI


    LITERASI MENYALAKAN IMAJINASI

    Oleh ATIH ARDIANSYAH

     

    Seorang anak berumur sembilan tahun berdiri menandingi tinggi stand mic di hadapannya. Di atas panggung dengan sorot mata om, tante, bapak, ibu dan kakakyang disapanya, dia berkata dengan begitu polosnya:

    “Menurutku, membaca itu menyenangkan. Aku bisa berkeliling dunia, pergi ke mana saja ketika membaca. Aku bisa menjadi apa saja ketika membaca. Aku bisa menjadi detektif, aku bisa menjadi pesilat, aku bisa menjadi pelaut, aku bisa menjadi anak gelandangan, bahkan aku juga bisa menjadi pencuri dan pembohong.Aku suka membaca buku-buku yang membuatku seperti tidak mau melepaskannya. Seakan-akan buku itu magnet yang sangat besar.”

    Perkenalkan, bocah itu bernama Abinaya Ghina Jameela. Penulis Resep Membuat Jagat Raya dan Aku Radio Bagi Mamaku itu bercerita tentang pengalamannya yang begitu murni saat bercumbu dengan buku. Penyabet berbagai penghargaan seperti Tanah Ombak Award 2017, Penulis dan Buku Puisi Terfavorit Anugerah Pembaca Goodreads Indonesia 2018, Kehati Awards kategori Tunas Kehati 2018, dan Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 itu,  tidak menceritakan kisah khas anak-anak seperti pada umumnya. Naya, demikian dia akrab disapa,di acara Buku Jogja #5 “Menelisik Bilik-bilik Indonesia” (2-5/9)di Kampung Buku Yogyakarta itu, bercerita dari sudut pandang yang tidak disangka-sangka. Naya menggunakan titik tilik yang melampaui cara pandang anak-anak seusianya. Naya diterbangkan imajinasinya sehingga banyak orang melabelinya bukan sebagai anak yang lucu, melainkan sebagi anak yang ajaib.

    Naya tidak semestinya menjadi satu-satunya anak yang dilahirkan dari gerakan literasi yang demikian massif dalam hampir satu dekade ini. Karena gerakan literasi hakikatnya adalah melahirkan generasi pencipta. Generasi pencipta tidak mungkin lahir tanpa ekosistem yang terawat sempurna, yaitu sebuah ruang yang memungkinkan lampu imajinasi menyala.

    Imajinasi, menurut aktor kawakan Slamet Rahardjo, adalah pembeda paling hakiki antara manusia dengan makhluk lainnya. Imajinasilah yang  menggerakkan peradaban. Bahkan negara ini adalah buah imajinasi. Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasar negara, adalah buah imajinasi Sukarno. Dengan imajinasi yang tinggi itu, Sang Proklamator mampu menyatukan ribuan bahasa dan suku yang dimiliki negeri ini, ke dalam satu bahasa yaitu Bahasa Indonesia. Melalui peristiwa besar bernama Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, Sukarno bukan hanya menyatukan bahasa, tetapi juga berhasil menghimpun dan menyatukan karsa untuk merdeka sebagai sebuah bangsa.

    Manusia berimajinasi tinggi pulalah yang mampu menelurkan nilai-nilai luhur lewat kalimat ing ngarso sung tolodo(di depan menjadi teladan), ing madyo mangun karso(di tengah-tengah memberi inspirasi), tut wuri handayani (di belakang memberi daya).Negeri ini beruntung memiliki Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswa, yang telah mencetuskan kalimat tersebut.

    Sukarno, Ki Hadjar Dewantara, Hatta, Sjahrir, Haji Agus Salim dan para bapak bangsa ini adalah generasi yang hidup dalam ekosistem literasi. Simak saja kata-kata Hatta saat ia hendak dipenjara: “Kalian boleh memenjarakanku di mana saja. Selama dengan buku aku bebas!” Salah satu cerita yang melegendakan namanya, katanya, setiap akan ditahanBung Hatta selalu membawa serta berpeti-peti buku kesukaannya.

    Nyatanya, negara ini memang ditopang oleh pilar-pilar kokoh yang bersumbu pada imajinasi. Imajinasi tidak akan mungkin tumbuh tanpa habit membaca, menganalisis dan berpikir kritis.Maka seyogianya gerakan literasi yang hari ini saling sambut antara para penggiat dengan pemerintah memerhatikan betul aspek ini.

     

    Hari RayaImajinasi

    Negara harus menaruh perhatian besar pada alas utama yang memungkinkan gerakan literasi ini tetap massif. Untuk konteks Indonesia, mengingat letak geografis yang demikian sulit, maka sebaran dan akses pada buku menjadi hal yang utama. Itulah kenapa, corak gerakan literasi di Indonesia masih berupa old literacy seperti membuka lapak buku di car free day, membawanya ke hutan-hutan dengan noken, membawanya ke kampung-kampung dengan moda sepeda motor, sepeda kumbang, angkot, becak dan lain-lain.

    Ada satu hari dalam sebulan, yaitu setiap tanggal 17, yang menjadi semacam lebaran bagi para penggiat literasi. Itu adalah hari di mana para penggiat pergi ke Kantor Pos dan mengirimkan buku-buku ke berbagai jaringan komunitas literasi di seluruh Indonesia, secara gratis. Itu merupakan kebahagiaan tak terperi karena terasa betul bahwa mereka tidak bekerja seorang diri. Dengan berbagai keterbatasan, mereka saling berbagi, bukan hanya buku, tetapi juga energi.

    Kini, hari raya itu terhenti. Para penggiat literasi tidak lagi bisa saling mengirimkan berbagai amunisi. Layanan kirim buku gratis tiap tanggal 17 saban bulannya tak bisa dilanjutkan. Tidak ada payung hukum yang menaunginya, artinya, tidak ada dukungan penuh dari pemerintah.

    Makanya, pada gelaran Festival Literasi Indonesia dan Hari Aksara Internasional (5-8 September 2019) di Makassar, para penggiat literasi yang tergabung ke dalam Forum Taman Bacaan Masyarakat mengeluarkan rekomendasi. Dari delapan bulir rekomendasi yang dihasilkan, salah satunya adalah: Pemerintah mengeluarkan regulasi yang memiliki kekuatan hukum untuk memfasilitasi pengiriman buku bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di seluruh Indonesia.

    Bahkan tak lama sebelum para penggiat literasi dari seluruh Indonesia berkumpul dan merumuskan rekomendasi literasi di Makassar, seorang penggiat literasi dan relawan kemanusiaan, Wahyudi, melakukan aksi jalan kaki dari Wonogiri ke Jakarta. Tuntutannya satu, sebagaimana yang diimpikan para penggiat literasi di seantero negeri: kembalikan lagi hari raya penggiat literasi setiap tanggal 17 saban bulan.

    Bagaimana mungkin negara ini bisa menghasilkan banyak Naya dalam kurun satu dekade? Bagaimana mungkin negeri ini bisa bermimpi menghasilkan Sukarno, Hatta, Sjahrir, Ki Hadjar kalau ekosistem yang memungkinkan tumbuhnya imajinasi harus dilanda kemarau seperti ini?

    Pemerintah, segera buat regulasi yang menutup kembali ozon geliat literasi yang kini tengah menganga!

     

    *) Pendiri CENDEKIAWAN KAMPUNG, Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat, dosen Fakultas Hukum dan Sosial Universitas Mathla’ul Anwar Banten


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan