• Sunday, 17 November 2019
  • Peran Literasi Digital untuk Kemajuan Bangsa


    Peran Literasi Digital untuk Kemajuan Bangsa

    Oleh Gito Waluyo*

     

    Media sosial telah dimanfaatkan sebagai cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok radikal bahkan teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotannya di jejaring sosial (warganet).

    Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror. Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Dengan memanfaatkan laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal.

    Di era disrupsi informasi seperti sekarang ini, di mana segala hal berubah dengan cepat, warganet harus dibekali dengan kemampuan literasi digital baik dalam rangka melawan hoaks maupun penyebaran paham radikal.

    Karenanya, sejak dini, pendidikan literasi digital harus digalakkan guna membangun pondasi pendidikan karakter yang selaras dengan perkembangan zaman. Mengingat, kehidupan mereka pasti akan senantiasa bersinggungan dengan jagat digital yang serba online. Literasi digital bisa menjadi sarana tepat dalam upaya menangkal budaya konsumsi informasi secara instan yang menyebabkan banyak masyarakat dan warganet masih terjebak dalam berita hoaks. Melalui pendidikan literasi digital, tradisi membaca di dunia maya akan terbangun, sehingga mereka mampu memilih informasi tepat, dan membangun informasi yang bersifat membangun, bukan menyulut kemarahan dan kebencian yang berujung terseret arus radikalisme untuk selanjutnya bertindak kekerasan.

    Maka warganet akan terbiasa menemukan beragam perbedaan pendapat yang mungkin ia temukan dari informasi yang dibaca. Sehingga, terbangunlah pemahaman bahwa toleransi bermanfaat untuk menyuburkan pengetahuan dan perdamaian, sementara intoleransi menumbuhkan kebencian dan permusuhan. Hal ini karena warganet mampu mengkonstruksi hal baik dan buruk dalam pikiran mereka. Model perilaku seperti ini tentu saja sangat dibutuhkan untuk menghindarkan diri dari ideologi radikal yang merusak kedamaian dan ketentraman NKRI.

    Untuk itu mari manfaatkan media sosial guna kepentingan yang bermanfaat melalui penyebaran dan posting konten konten positif yang menumbuhkan optimisme antar anak bangsa.

    Lawan Hoaks dengan Literasi Media

    Membaca merupakan salah satu akses yang mengantarkan kita ke jendela dunia. Dengan membaca kita dapat mengetahui apa yang sebelumnya bahkan tidak pernah kita dengar. Namun, terkadang ketidaktuntasan dalam membaca sebuah informasi dapat menyebabkan kita terjerumus dalam lembah hoaks. Hoaks yang menjamur di berbagai sosial media seolah-olah terus menyuntik setiap khalayak untuk semakin mempercayainya. Lalu apakah penyebab masifnya hoaks?

    Inisiator Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho, menilai, rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor pendorong masifnya peredaran kabar bohong atau hoaks. Budaya baca yang rendah menyebabkan masyarakat menelan informasi secara instan dan utuh. Informasi yang diterima langsung diyakini sebagai kebenaran, lalu berupaya membagi informasi tersebut kepada orang lain.

    Hal ini relevan dengan catatan UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa), menurut UNESCO pada 2012, Indeks membaca bangsa Indonesia hanya 0,001. Artinya, di antara 1.000 orang, hanya satu orang yang membaca dengan serius. Demikian pula catatan survey Most Literated Nation In The World yang dilakukan pada 2015 lalu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Generasi saat ini atau generasi Z dan millennial adalah generasi yang tumbuh besar bersama perangkat teknologi dan internet. Sebagai digital natives (generasi yang lahir di saat era digital sudah berlangsung dan berkembang pesat), generasi millenial menerima media sosial sebagai sesuatu yang taken for granted (sesuatu yang sudah biasa). Ini berbeda dengan generasi orang tua mereka yang masuk dalam kategori digital immigrant (generasi yang lahir sebelum generasi digital berkembang). Fokus literasi media dalam kurikulum pendidikan adalah memastikan setiap orang mampu membaca perkembangan teknologi termasuk konsekuensi pesan di dalamnya secara kritis dan bijak dalam menggunakannya.

    Lemahnya budaya literasi bagi masyarakat menyebabkan daya nalar seseorang dan menyebabkan kesulitan berpikir secara jernih dan kritis dalam menemukan setiap masalah, alhasil yang tercermin adalah emosi dan egoisme. Sehingga, isu-isu provokatif dan hasutan yang dihembuskan oleh berita-berita tipuan dengan mudah disebarkan dan mempengaruhi khalayak. Lemahnya budaya literasi pun menyebabkan meningkatnya plagiarisme, kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang literasi media juga membuat seseorang menelan mentah-mentah berita yang sumber dan kebenarannya masih dipertanyakan.

    Besarnya dampak dan kerugian terhadap isu hoaks yang beredar membuat pemerintah beranjak untuk berkampanye demi memerangi hoaks bersama. Kampanye memerangi hoaks atau berita bohong saat ini semakin gencar dilaksanakan khususnya melalui media sosial. Berita hoaks tidak lagi dipandang sebagai masalah yang sederhana, karena jika penyebarannya dibiarkan terus menerus akan menyebabkan goyahnya kehidupan bangsa.

    Masyarakat pengguna internet perlu lebih cermat dalam menerima dan menyebarluaskan informasi melalui media sosial. Informasi memuat ujaran kebencian yang menyebar dengan cepat dapat mengancam persatuan bangsa. Perkembangan teknologi dan semakin banyaknya pengguna internet di Indonesia, kata Adhyaksa, telah memicu perang informasi. Melalui media sosial, berbagai informasi begitu cepat masuk ke ruang pribadi masyarakat pengguna internet. Informasi itu sangat mudah memengaruhi sikap masyarakat dan membentuk opini publik. Pengguna internet saat ini juga tidak lagi bersikap pasif sebagai penerima informasi semata. Masyarakat telah berubah menjadi jurnalis warga yang memproduksi informasi dan menyebarkannya dengan sangat cepat. Kemajuan teknologi media sosial ibarat dua mata pisau. Di satu sisi, ia memberi kemudahan bagi penggunanya untuk mengakses informasi. Di sisi lain, banyak pihak yang memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan ujaran kebencian.

    Dalam rangka memerangi berita hoaks yang tersebar sangat masif dan sulit dicegah penyebarannya maka perlu adanya literasi media oleh masyarakat. Literasi media merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis dan mendekontruksi apa yang disajikan oleh media. Literasi media merupakan aktifitas yang menekankan aspek edukasi di kalangan masyarakat agar mereka tahu bagaimana mengakses serta memilih informasi yang akurat dan bermanfaat. Melalui literasi media, masyarakat menjadi kritis, peka terhadap informasi, serta mampu meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri dengan aktif mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan referensi yang ada.

    Dalam literasi media, ada tahapan yang bisa digunakan oleh masyarakat dalam menerima, memilih, dan menyeleksi informasi sesuai dengan kebutuhan intelektual yang dibutuhkan, yaitu, Explore, keahlian dalam memilih dan memutuskan informasi yang dibutuhkan dari suatu pesan. Recognize symbol, keahlian untuk mengidentifikasi dan memilah simbol, seperti menafsirkan makna pesan media massa dan menyimpulkan pesan-pesan media massa yang diterima dan yang terakhir yaitu membatasi jumlah jam yang digunakan dalam penggunaan internet secara proposional.

    Tentunya, budaya hoaks tidak bisa dihilangkan begitu saja, tetapi sebagai insan yang selalu berpikir dan berikhtiar, sekiranya literasi media menjadi solusi alternatif di tengah gelombang kabar burung yang kini kian meraja. Semoga kita termasuk ke dalam golongan insan yang selalu berikhtiar dengan meningkatkan budaya literasi agar dapat menghantarkan kita kepada jendela ilmu pengetahuan.***

    *Pegiat Literasi


    Twitter


    perpusda_banten

    Facebook


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan