• Wednesday, 14 November 2018
  • Khazanah Literasi : Riwayat Hidup Kiyai H. Mas Muchammad Arsyad Thawil


    Pengarang : HM. Yoesoef Effendi.

    Judul buku : Bung Karno : “Wahai Putra Putri Banten...,Siapa Dia? : Riwayat Hidup Kiyai H. Mas Muchammad Arsyad Thawil.  

    Penerbit : Serang : Yayasan Pendidikan Al-Chasanah, 1983

    (Koleksi Banten Corner BPAD Provinsi Banten)

    Pada bulan Desember 1945, Bung Karno pada masa awal jabatannya berpidato di alun-alun Serang. Beliau memulai pidatonya “Wahai putera-puteri Banten, tahukah kalian bahwa di Banten pernah ada seorang pahlawan besar, siapa dia? Dia adalah Kiyai Haji Moechammad Arsyad Thawil”. KH. Arsyad Thawil adalah putera dari Imam Asy’ad yang memiliki sebuah pesantren di Tanara Banten. Tahun 1867 ketika KH.M. Arsyad Thawil berumur 16 tahun, ia berangkat ke Bima untuk berguru kepada Syech Abdul Gani, namun baru sampai di Surabaya beliau bertemu dengan calon gurunya itu yang akan melakukan perjalanan haji ke Mekah. Selanjutnya ia bertemu dan mengutarakan maksud dan keinginannya. Kemudian syech Abdul Gani menerimanya sebagai murid dan sekaligus mengajak beliau pergi ke Mekah. Pada akhirnya beliau bermukin di Mekah dan banyak belajar pada Syech Zaini Dahlan dan Kiyai Nawawi Albantani. Pada tanggal 6 Rabiul Awal 1296 H, Arsyad diangkat menjadi Syech (mengurus orang berhaji yang datang dari Indonesia), dan karena ada dua Arsyad dari Indonesia, beliau dijuluki Arsyad Thawil (jangkung) dan satunya Arsyad Qasir (pendek). Ketika mengurus haji itulah ia sering berkunjung ke kantor Konsulat Belanda di Jedah, dan berkenalan dengan Prof. Dr. Snouck Hurgronye (Abdul Ghafar), yang akhirnya menjadi teman dan sahabatnya dalam berdiskusi tentang ajaran Islam. Pada tahun 1886 beliau pulang ke Indonesia. Kebetulan di Banten sedang menyusun kekuatan untuk melawan kompeni Belanda. Dan beliau pun terlibat dalam peristiwa Geger Cilegon. Setelah peristiwa itu ia tertangkap bersama 100 pejuang lainnya. Ia dimasukan bui di Serang, kemudian dipindah ke Betawi dan selanjutnya di buang ke Minahasa Sulawesi. Ketika di bui di Betawi, sempat Prof. Dr. Snouck menemui beliau, namun persahabatan itu sedikitpun tidak berarti merubah status beliau sebagai tahanan. Karena ketinggian ilmu dan pengetahuan Islam, beliau akhirnya mendapat beslit sebagai Penghulu pada tahun 1912 dan sebagai Hoofd Penghuu Landraad di Manado. Sejak itu beliau diakui sebagai Bapak dan Pemimpin yang sangat dihormati dan dicintai baik oleh kawan maupun lawan. Murid-murid KH. M. Arsyad Thawil banyak tersebar di Makasar, Ambon, Ternate, Gorontalo, Toli-toli, Donggal, Kotamobagoe dan Pulau Sangir. Beliau wafat pada 19 Maret 1934 bertepatan dengan tanggal 4 Zulhijah 1352 H pada usia 98 tahun. Bagi masyarakat Minahasa KH. M. MD. Arsyad Thawil Adalah orang Minahasa. Ini adalah sepenggal kisah tentang seorang Ulama Pejuang Banten, yang tentu perlu penggalian lebih dalam lagi dari putera puteri Banten tentang ketokohan beliau atau yang lainnya. Agar generasi-generasi Banten mengetahui tentang kiprah dan perjuangan yang kemudian dijadikan suri tauladan bagi kehidupan selanjutnya.


    Tentang Kami


    Statistik Kunjungan