BUKU, PENGAYAAN BUDAYA


BUKU, PENGAYAAN BUDAYA

Oleh: Herman Fauzi

Buku adalah dunia kecil yang indah. Semakin menjelajahi kedalaman isinya, semakin tergoda untuk tinggal berlama-lama di dalamnya sambil memetik berbagai buah pikiran yang segar. Jadi buku adalah taman pemikiran yang kaya oleh keanekaragman tanaman kembang dan buah pemikiran.

 

Kita patut kagum pada orang-orang yang serius menyisihkan  waktu, tenaga dan pikirannya untuk menyusun buku. Menciptakan karya tulis dalam bentuk buku selain memerlukan kemampuan merajut pemikiran secara sistematis, juga kreatif memilih kata demi kata, sehingga susunan kalimat yang dibangunnya efektif dan enak dibaca. Hanya problem para penulis buku adalah tidak punya dana untuk menerbitkannya sendiri. Maklum biaya cetak, kertas dan tinta sangat mahal. Banyak penulis mempercayakannya pada penerbit. Tetapi penerbit pun melihat pasar dan kelayakan jual, atau ada yang siap membeli, seperti buku-buku pelajaran yang dipesan pemerintah melalui proyek DAK (Dana Alokasi Khusus) atau BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

Hanya saja dari ribuan judul buku yang setiap tahun didistribusikan ke sekolah-sekolah di Banten melalui dua proyek itu agaknya jarang karya orang Banten. Apakah di provinsi ini tidak ada penulis kreatif, atau pemerintah sendiri tidak peka terhadap potensi SDM lokal?

Sejauh ini kita memang tidak mempermasalahkan kebutuhan literasi. Tetapi tidak adanya buku-buku seolah menjelaskan bahwa kebudayaan Banten dalam kondisi tidak bergerak. Pertanyaan yang seharusnya kita hadapi ialah apakah kita akan semakin tergantung kepada kebudayaan luar, termasuk yang dimunculkan media elektronik dan internet, yang memang kehadirannya tak dapat diabaikan? Ketergantungan pada pemikiran-pemikiran impor selain dapat melumpuhkan hasrat mencipta untuk membarui kondisi-kondisi kebudayaan lokal yang memiliki karakter dan kearifan tersendiri, juga tidak mengusik akan tumbuhnya kreativitas lokal. Jika demikian terbayang krisis kebudayaan akan jauh lebih parah dialami generasi muda di masa akan datang. Sementara kita tidak berusaha secara dini memberikan pewarisan intelektual bagi tumbuhnya tradisi literasi yang menumbuhkan hasrat mencipta.

Satu hal yang dibutuhkan untuk aktualisasi kebudayaan adalah meresapi prinsip-prinsip budaya dan sukma yang mengalir dalam nafas kehidupan masyarakat. Berarti perlu keterlibatan langsung memahami, dan menyelami arti yang terkandung pada butiran-butiran informasi yang berada dalam lubuk sejarah, pada kedalaman ruhaniah tradisi besar dan pada keragaman pengalaman masyarakat yang melahirkan aneka peristiwa yang kini sebagian telah terkubur dalam ruang dan waktu. Sementara jenis-jenis kebudayaan lahiriah yang nampak di permukaan relative layu dan kehilangan gairah untuk kompetitif ditengah arus zaman. Fenomena ini terkait dengan masalah miskinnya literasi yang berdampak pada rendahnya minat baca-tulis. Rendahnya minat baca dan mencipta adalah gejala yang terkait dengan rendahnya hasrat pengembangan budaya, sehingga pada gilirannya kita kehilangan kesempatan yang luas untuk melahirkan kebudayaan baru. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menjadikan kita seperti buih yang mudah tenggelam dalam arus global, karena tidak memiliki ketahanan budaya yang tangguh dan diperlukan bagi pembentukan karakter. Dengan demikian bangsa ini akan mudah terjebak pada usaha-usaha yang gampangan, padahal berisiko terhadap keruntuhan moral, seperti korupsi, money politic, suap dan budaya copy paste (nyontek).

Kagum

Betapa kagumnya kita kepada Hoesein Djajadiningrat yang menciptakan karya sastra tentang Sejarah Banten. Analisis kritis terhadap cerita dari bentuk Pupuh dan sumber lain melukiskan gerak kehidupan dan pemikiran masyarakat, walaupun sejauh ini belum ada yang mencoba mengaktualisasikannya dalam karya lain.  Buku Djajadiningrat mendeskripsi sebuah cerita, membangun citra dan menumbuhkan dorongan-dorongan batin, mewujudkan martabat bangsa yang berhadapan dengan berbagai permasalahan yang sedang diatasinya.

Lebih kagum lagi pada Syekh Nawawi Albantani yang telah menciptakan ratusan buku. Pikiran dan keberanian intelektual Nawawi Albantani melampaui zamannya. Hingga sekarang buku-bukunya masih tetap aktual dan dibaca oleh jutaan umat Islam, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Timur Tengah dan di dunia Barat.

Penting mempertanyakan, mengapa hasrat dan kemampuan inteletkual Hoesein Djajadiningrat lebih berkembang di Belanda. Demikian juga Syekh Nawawi Albantani menemukan tempat subur bagi pengembangan intelektualitasnya di Timur Tengah, bukan di tempat kelahirannya di Banten. Mungkin juga kondisi yang sama dirasakan oleh cendekiawan lain pada generasi sesudahnya dimana mereka berkembang di luar Banten. Lalu apa yang terjadi sesungguhnya pada lingkungan dan budaya di Banten, sehingga belum memungkinkan menjadi tempat berkembangnya pemikiran-pemikiran besar, yang dapat mewariskan kebudayaan baru pada generasi kita di zaman ini. Akankah kondisi ini tetap tidak akan mencair untuk tumbuhnya kreativitas intelektual bagi pewarisan budaya pada generasi mendatang.

Perlu dicatat bahwa kebudayaan bukan semata-mata sebuah pewarisan. Ada hak kreasi yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan sehingga persentuhan budaya lama dan yang baru, dari dalam dan dari luar menjelma dalam sebuah mozaik kehidupan dinamis. Kita memahami bahwa sebuah peradaban tidak dibentuk secara simsalabim, melainkan melalui berbagai rangkaian gagasan dan sentuhan pemikiran yang memberikan makna dan nilai padanya. Karena itu kehadiran buku-buku dibutuhkan sebagai unsur penting dalam memperbesar mozaik kehidupan yang lebih indah, kaya informasi dan penuh muatan moral. Kini makin terasa mendesaknya kebutuhan literasi itu untuk membantu pengayaan pemikiran dalam membentuk kebudayaan yang harus selalu hidup, berkembang dan terus bergerak maju dalam mengatasi masa lalu menemukan hari ini dan menjangkau hari esok sesuai tantangannya. Kesadaran eksistensial budaya seperti itu harus tumbuh, dan tidak saling menunggu.

Kekinian

Sebuah buku ingin menyampaikan greget sosial, atau mungkin “mengandung jeritan” kebenaran sukma masyarakat yang tergencet atau ingin menyampaikan kebahagian, serta informsi aktual sebagai sebuah ilustrasi budaya. Kita tak dapat mengabaikan kesan dari setiap peristiwa. Tetapi bagaimana pesan itu harus dibunyikan kembali secara sistematis, akademis dan aktual pada kondisi-kondisi kekinian dan kedisinian, sehingga terasa ada sesuatu yang harus ditengok dan diperhatikan. Disinilah sebuah buku dapat berbicara secara kritis arti peristiwa kehidupan yang obyektif dan mengingatkan akan masalah-masalah yang tidak boleh terulang kembali. Seorang penulis seperti juga seorang seniman adalah sang intelektual yang memiliki kepekaan dan memahami kedalaman informasi akan getaran fenomena kehidupan. Ia tidak bisa berdiam menutup mata dan telinganya dari realitas. Pikiran dan perasaannya terus bergerak melalui buku-buku untuk mengingatkan penguasa, masyarakat dan umat akan masalah yang mengancam otonomi kehidupan dan solusi-solusi dalam konteks kebudayaan baru.

Membaca adalah mengalami pemahaman dan pengetahuan dimana pikiran kita berdialog dan bergerak, sehingga memungkinkan terjadi proses pengembangan dialektika pemikiran. Kegiatan membaca sult tumbuh pada taraf kebudayaan verbal, yang secara tradisional mengutamakan daya dengar dan tontonan saja, dan sulit menerima bentuk-bentuk kebudayaan yang kritis, maju dan terbuka. Pada tingkat verbal masyarakat menjadi mandul dan statis, baik bidang sosial, politik, maupun ekonomi. Gambaran yang sulit ditampik dari kebudayaan kita adalah krisis politik dimana ia tidak lagi menjadi sumber inspirasi yang menarik bagi perubahan sosial yang terkait pada pencerdasan rakyat. Energi politik sering dihamburkan dalam percekcokan, money politic dan cenderung menghindari perdebatan intelektual yang produktif bagi kemajuan intelektual sebuah bangsa.

Apabila kita memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang indah, bermoral dan bernilai tinggi yang mencakup keseluruhan dari pengetahuan, ilmu, kecakapan, tradisi, alat-alat, lembaga-lembaga, pengalaman, perasaan  dan nilai-nilai yang telah menjelma menjadi cara-cara hidup, semestinya ia bersinar dan memberikan warna, termasuk pada hiruk-pikuk kehidupan politik. Pun kebudayaan harus menjadi jiwa dari gerak pembangunan. Karena itu masalah pokok yang sebenarnya dibutuhkan bagi kehidupan bangsa ini adalah pembenahan terhadap masalah kebudayaan. Tetapi bagaimana mungkin kebutuhan tersebut dapat diwujudkan, toh kemampuan untuk menciptakan instrumennya saja berupa buku dipandang asing dari kehidupan yang sebenarnya.

Dari sudut ini, perkembangan kehidupan politik yang melahirkan produk kebijakan dan hukum yang berkeinginan mengangkat nilai-nilai dan kemajuan sebuah bangsa semestinya paling terdepan memperjuangkan kebutuhan literasi-literasi. Pun lembaga-lembaga pendidikan tidak ada alasan untuk tenggelam dalam kemsikinan literasi, karena secara moral merupakan lembaga yang bertanggung jawab bagi pengembangan fitrah kecerdasan masyarakat. Demikian pula sikap kita terhadap pembangunan ekonomi tidak bisa mengenyampingkan faktor kebudayaan yang senantiasa menjaga keseimbangan dan keadilan sosal yang semestinya dari upaya ini mampu mendorong pemenuhan kebutuhan akan karya-karya tentang sosial-ekonomi.

Disinilah letak intisarinya bahwa kita harus memiliki keberanian moral untuk keluar dari kebekuan dan kekerdilan pemikiran dengan kesanggupan menggali, menyelami dan mencipta kembali dari waktu ke waktu akan makna pengetahuan, baik bersumber dari dalam masyarakat sendiri maupun dari luar. Dengan cara demikian kita dapat melahirkan dan menciptakan iklim kehidupan baru yang menyegarkan tumbuhnya kreativitas-kreativitas sosial dalam berbagai lapangan kehidupan yang baru pula secara komparatif dan kompetitif. Kebekekuan dan kekerdilan pemikiran telah menyebabkan masyarakat tersandra oleh kehidupan pragmatis, suatu kondisi yang tidak memungkinkan tumbuhnya kreativitas membaca dan menulis.

Padahal pertama kali ayat-ayat Al-Quran diturunkan oleh Allah ke bumi adalah tentang baca tulis (Iqra!). Kini membuktikan kemajuan peradaban dunia ini dihasilkan melalui membaca dan menulis. Masyarakat yang tidak mengenal budaya baca-tulis adalah masyarakat primitif yang dalam konteks agama disebut jahiliyah.

Kesadaran masyarakat akan kebudyaan modern ditandai dengan adanya baca-tulis. Melalui budaya literasi itu kita belajar kembali membaca cakrawala pemikiran menjelajahi dunia kemungkinan untuk menjadi aktual. Buku selain menggambarkan dunia kemungkinan juga sekligus menjelaskan kehidupan nyata. Membaca tidak lain adalah kegiatan interaksi pemikiran untuk menarik dunia kemungkin kedalam dunia realitas. Orang membaca sekaligus berdialog antara dirinya dengan pemikiran orang lain dalam rangka mengubah realitas, termasuk dirinya sendiri sebagai realitas yang harus berubah. Intinya membaca buku adalah upaya pencerdasan yang dibutuhkan untuk kita bekerja, dan tentang masa depan. Masalahnya sekarang apa yang kita pelajari, karena kemiskinan literasi tidak memungkinkan tumbuhnya semangat dan kesadaran baru yang dapat menggerakkan potensi intelektual dan moral. Toh budaya kita hanya melahirkan rasa puas terhadap kemiskinan yang kita ciptakan sendiri, puas terhadap keadaan politik yang terpisah dari rakyat, puas terhadap carut-marutnya birokrasi yang tidak melahirkan budaya organisasi rasional dan memiliki etos kerja tinggi dan kurang menghargai profesionalisme; dan puas terhadap kemapanan keterbelakangan dan kemiskinan literasi. Tradisi inikah yang akan kita wariskan kepada generai mendatang, sebuah tradisi yang “serba bingung”, karena memang ada sesuatu yang hilang (terputus) dimana kita tidak lagi memiliki akar kehidupan yang menghunjam pada sejarah Banten abad restorasi yang hilang itu…

**Penulis adalah orang Banten yang galau.

 

 

 

 


Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan