MEMBACA, MENYINGKAP TABIR JAHILIYAH


MEMBACA, MENYINGKAP TABIR JAHILIYAH

( OLEH : HMS. SUHARY  AM)

 

“Bacalah ! dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menjadikanmu dari segumpal darah. Bacalah,  dan Tuhanmulah  Yang Maha Mulia, yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam, yang mangajarkan (manusia) apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al ‘Alaq : 1-5)

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis sesuatu kitab dengan tanganmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu”. (QS. Al-Ankabut : 48).

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu ke tingkat derajat tertentu”. (QS. Al-Mujadilah : 11).

            Dari sudut pandang filosofi Islam setidaknya ada empat (4) aspek yang dimaksud dengan kalimat Iqra (bacalah). (1). How to read (bagaimana  membaca), ada metodologi/cara membaca dan menulis. Ketika kita membaca Al Qur’an. Pertama; tentu kita harus mengerti apa isi dari bacaan itu ? Kedua;  membaca Al Qur’an sudah tentu memahami tentang latar belakang ‘asbabun-nuzul’(sebab-sebab turunnya ayat tersebut). Ketiga; memahami dari sudut ilmu tafsirnya, karena ayat dengan ayat lainnya ada yang berhubungan dengan maksud ayat tersebut, setelah itu, bagaimana Nabi dalam hadistnya menafsirkan ayat-ayat/wahyu Al Qur’an. Dan Keempat; bagaimana para ahli Tafsir Al Qur’an berpandangan dengan ayat-ayat tersebut. Karena ayat-ayat Al Qur’an  ada yang bersifat mutasabihat (kurang jelas makna dan maksudnya) dan ada ayat-ayat yang muhkamat (yang jelas maknanya). Jika kita membaca sebuah buku secara ilmiah/akademik, tentu kita akan membaca dari kata pendahuluan (mukaddimah), latar belakang permasalahan, teori yang disuguhkan, pembahasan-pembahasan dan argumentasi yang dikemukakan dan terkahir kesimpulan dan mungkin juga ada rekomendasi dan saran-saran yang diajukan.(2).How to learn(bagaimana belajar/membaca tentang pengetahuan), sudah tentu belajar bisa lewat membaca artinya memehami makna yang terkandung di dalamnya (buku-buku/kitab-kitab). Selain itu, belajar juga bisa lewat guru, diskusi (mudzakarah), dialog interaktif dan belajar dari pengalaman orang lain tentang pengetahuan yang bermanfaat atau learning by doing. (3).How to understand (bagaimna bisa mengerti/memahami), sudah tentu, penghayatan serta pendalaman tentang kitab-kitab/buku-buku secara komprehensif bisa di telaah/dikaji dengan sebaik-baiknya, dan (4) How to open the mind (membuka cakrawala pengetahuan dalam pemikiran) (broad knowledge) berhubungan dengan chritical thinking, analisis serta riset/kajian/penelitian secara ilmiah).

            Menurut Yusuf Al Qardhawi, kata ‘Iqra’, secara etimologis berarti membaca huruf-huruf yang tertulis dalam buku-buku (kitab-kitab). Sedangkan secara terminologi yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya membaca alam semesta (ayat-ayat kauniyah, yakni ayat-ayat tentang alam semesta dan ayat-ayat sainsdan teknologi).

Membangun Peradaban Ilmu

            Sebelum Islam turun ke bumi, maka masyarakat manusia, khususnya bangsa Arab di kawasan jazirah Arabia dalam keadaanjahiliyah, maksudnhya bukan dalam kebodohan, akan tetapi rendahnya peradaban bangsa Arab saat itu. Betapa tidak, peperangan antara suku/kabilah seringkali terjadi, kaum wanita hanya dijadikan pemuas kaum laki-laki, kemudian diperjual belikan seperti barang dagangan, perbudakan yang merajalela, penguburan  bagi anak-anak perempuan, dan lain-lain bentuk perilaku yang tidak beradab.

Ketika, Nabi Muhammad SAW memulai membawa misi ‘Risalah Islam’ (Risalah wahyu Ilahiyah)di Mekkah, pertamakali, Nabi membangun dan meletakan landasan ‘Fondasi Tauhid’ (yakni membangun akidah/keyakinan kepada Allah SWT), tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali AllahSWT dan tidak ada sekutu bagiNya. Bangsa Arab ketika itu, telah menyembah berbagai jenis berhala (sebut saja,  Latta, Uzza, Manata dan Hubal, dan berhala-berhala lainnya). Selama kurang lebih 13 tahun Nabi membangun landasan Tauhidullah. Setelah itu, Nabi hijrah ke Madinah, karena jiwa beliau terancam akan dibunuh oleh kaum kafir Quraisy, kemudian Nabi di Madinah telah membangun dan meletakan fondasi ‘Konstitusi Kenegaraan’ yang dikenal dengan Shahifah Al Madaniyah(Piagam Madinah). Nabi membangun sistem kemasyarakatan dan menjadi Kepala Nehgara di Madinah selama 10 tahunan. Kemudian Risalah Islam berkembang luas ke seluruh penjuru dunia dan dikembangkan oleh generasi berikutnya, para sahabat Nabi dan oleh kepemimpinan Islam lainnya (daulah Islamiyah).

            Dari kalimat Iqra tersebut di atas, telah terbangun peradaban ilmu (sains dan teknologi), pendidikan, sosial-budaya, politik dan kenegaraan. Para ilmuan Islam telah lahir di berbagai mancanegara dan telah memberikan kontribusi keilmuan dan peradaban kepada dunia dan umat manusia. Bagaimanapun, para ilmuan Islam telah terinspirasi dari ‘doktrin ayat-ayat’ Al Qur’an dan Hadist Nabi yang berhubungan dengan alam semesta, sains dan teknologi, tidak kurang dari 800 ayat-ayat kauniyah yang menyingkap berbagai tabir rahasia alam dan ilmu pengetahuan.

            Para tokoh dan imuan-ilmuan Islam terbesar dan terhebat sepanjang sejarah yang muncul di berbagai  mancanegara (Jazirah Arabia, Persia, Turki, Eropa dan lainnya), mereka menarik dari pengaruh filsafat Aristoteles dan Neo-Platonis, termasuk Euclid, Archimedes, Ptolemy dan lain-lain. Kaum muslimin (Para ilmuan Islam) pada saat itu, telah berhasil membuat berbagai penemuan ilmiah di bidang kedokteran, bedah, matematika, fisika, kimia, filsafat, astrologi, astronomi, geometri, sosiologi, sosial-politik, kenegaraan, dan lain-lain.

Kita mengenal filosuf besar Al Farabi (872-950) dimana karyanya adalah tentang ilmu logika, matematika (ulumul hjisab), ilmu alam, teologi, ilmu politik dan kenegaraan, bunga rampai keilmuan (kutub Munawaah).Al Kindi (801-873) seorang filosuf pertama, beliau telah mengurai dalam berbagai kitabnya antara lain tentang filsafat Ketuhanan, filsafat jiwa, filsafat Akal, filsafat ilmu, filsafat alam dan lain-lainnya. Al- Batani (858-929)beliau terkenal sebagai  ahli astronomi dan ahli ilmu hitung (ulumul hisab). Ibnu Sina (980-1037) beliau dikenal sebagai Bapak Kedokteran (ahli di bidang kedokteran), dan beliau telah banyak melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dengan melahirkan 450 kitab (buku-buku) tentang berbagai ilmu kedokteran. Ibnu Batutah (lahir antara 1304/1307) beliau pengembara ilmu hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Islam  (di 44 negara modern). Ibnu Rusyd (1126-1198) yang dikenal di dunia Eropa/Barat sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia), dikenal  juga sebagai Bapak Sosiologi, karyanya adalah kitab Bidayatul Mujtahid, Kulliyah Fit-Tabib (kuliah tentang Kedokteran), Fasal Al Maqal fi Ma Bain Al Hikmat wasyariat. Al Khawarizmi beliau menekuni hampir seluruh pekerjaannya (813-833) di bidang ilmu pengetahuan, ahli matematika, astrologi, geografi, kartografi, al-jabar/ilmu ukur, dixit algorizmi, Rekonstrukri Planetarium, Astronomi, Risalah fi Istikhraj tarikh al yahud, yang menerangkan tentang kalender Yahudi, sirklus interkalasi, hukum yang mengatur  hari, bulan,  dan tahun, hukum tentang bujur matahari dan bulan, manuskrip Arab di Berlin, Istanbul (Turki), Tashkent, Kairo dan Paris, karya lainnya adalah kitab makrifat, astrolab, kitab Arukamat (dial), buku sejarah. Umar Khayyam (1048-1131) ahli matematkika/matimatikawan, astronomi, seorang penulis dan penyair. Tsabit Qurrah (826-901) beliau seorang astronom, matematikawan dan ahli bahasa Latin, Al Jabar, geometri, astronomi, sistem Ptolemaic, mekanikal dan pendiri statika. Al Razi (865-925) ahli di bidang filsafat, kimia, matematika, sastera, kedokteran, dipandang dalam dunia ilmu beliau seorang ilmuan serba bisa memahami dari berbagai ilmu pengetahuan.Abu Musa Al Hayyan (722-804) ahli di bidang kimia, kitab-kitabnya adalah Al Sabeen, Al Rahmah, At Tajmi,  Al Zilaq al Sharqi, Book of the Kingdom,  Book of the Eastern Mercury, Book of Balance, dll. Masih banyak para ilmuan Islam yang jumlahnya ribuan tersebar di berbagai mancanegara telah banyak melahirkan ilmu pengetahuan dan peradaban serta kebudayaan di belahan dunia.

            Kesimpulannya adalah pertama, bahwa ayat-ayat Al Qur’an (kitab suci) dan buku-buku ilmu pengetahuan telah membuka tabir kejahiliyahan dan kebodohan umat manusia, agar menjadi manusia berperadaban, berakhlak mulia, berilmu dan berbudaya.Kedua, bahwa membaca  (Iqra) adalah perintah Allah SWT agar manusia memiliki ilmu pengetahuan serta wawasan berpikir yang luas. Ketiga, Mari kita ‘membumikan Al Qur’an’ dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Penulis Direktur Pusat Stuidi Islam dan Politik Kenegaraan (PSIPK), Ketua Umum Majlis Pendidikan Syarikat Islam (MPSI) dan Dewan Pembina GPMB (Gerakan Pemsayarakatan Minat Baca) Prov. Banten.


Twitter


perpusda_banten

Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan