Literasi Hikayat Perang Sabil Banten

Literasi Hikayat Perang Sabil Banten

Literasi Hikayat Perang Sabil Banten

Oleh. Ratu Nijmah Salamah, S.IP.



“Barangkali kamu tidak mau menjalankan perang sabil jika telah diwajibkan kepada kamu, maka berkata mereka itu, mengapakah kami tidak mau menjalankan perang sabil, padahal kami telah diusir oleh musuh dikeluarkan dari negeri kami dan terpisah dengan anak-anak kami. Oleh karena itu Nabi Syanwil berdoa kepada Tuhan agar didatangkan seorang Raja. Maka didatangkan oleh Tuhan seorang Raja bernama Tholut.” (Penggalan doa perang Sabil )


Hikayat Perang Sabil

Perang Sabil di Banten, mungkin sudah pernah diceritakan turun temurun oleh kakek dan orangtua kita. Kemudian kisah itu menjadi sebuah hikayat. Namun belum banyak literasi yang menceritakan seperti apa hikayat perang sabil di Banten. Oleh karena itu pemahaman tentang literasi hikayat perang sabil sangat diperlukan, terutama di abad millenial ini. Banyak buku –terutama kajian fiqh– yang membahasnya. Selain untuk menambah wawasan atau pengetahuan, juga untuk menghindari salah pengertian yang menyamakan jihad dengan teroris atau perusuh.

Perang dalam jihad adalah perang yang mempunyai panduan jelas dari wahyu Ilahi dan contoh nyata dari prilaku Nabi Muhammad SAW.  Disamping itu juga kita ketahui, bukan hanya Islam saja yang memiliki konsep Perang Sabil atau Perang Suci. Semua agama pada akhirnya mengikuti agama Ibrahim ini. Yakni, Yahudi, Kristen dan Islam mempunyai ajaran dengan definisi konkrit berkaitan dengan perang. Yahudi dengan istilah Yahyeh-War (Perang Tuhan), Kristen dengan Crusades (Perang Salib) atau Holy-War dan Islam dengan istilah Perang Sabil (Perang fi Sabilillah). Selain itu dapat kita tambahkan juga bahwa, agama Hindu pun mempunyai ajaran tentang perang-sucinya sendiri yang tertulis dalam Kitab Mahabrata; Perang Bratayuda; dimana  orang yang membacanya dinilai sebagai kebaktian dalam agama mereka.


Hikayat Perang Sabil Banten

Setidaknya ada tiga peristiwa hikayat perang sabil di Banten yang patut dicatat, antara lain:

1. Perlawanan Sulthan Ageng Tirtayasa

Ketika pemerintahan Islam di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa tengah berkembang pesat. Ia naik tahta kesultanan Banten pada tahun 1651, menggantikan ayahnya Sultan Abul Fath. Sejak kepemimpinannya, Banten telah naik kembali harkat dan martabatnya, sehingga kehidupan ekonomi berjalan sangat baik. Pelabuhan Banten ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dagang dari Philipina, Jepang, Cina, India, Persia dan Arab. Islamisasi berjalan dengan sangat mantap, berkat kehadiran seorang ulama besar dari Makasar yang bernama Syeikh Yusuf. Perannya yang besar, dalam peningkatan Islamisasi di Banten, menyebabkan ia diambil menjadi menantu oleh Sultan. Belanda sangat takut apabila pemerintahan Islam Banten menjadi besar dan kuat. Akhirnya Belanda dan sekutunya mencoba memerangi Sulthan Ageng hingga terjadilah perang yang sangat besar dan pada tanggal 1 Maret 1680, Sultan Ageng Tirtayasa lengser dari kesultanan.

Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808. Kekejaman dan kebiadaban yang pola contohnya telah diberikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.W. Daendels adalah merupakan pola kekuasaan Hukum rimba yang diwarisi turun-menurun oleh penguasa kolonial Belanda sampai mereka angkat kaki dari Indonesia pada tahun 1949 saat penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia. Kekejaman dan kebiadaban yang tak terperikan itu, yang melahirkan perlawanan umat Islam sepanjang masa, dalam periode kekuasaan kolonial Belanda.


2. Perang Sabil Geger Cilegon 1888

Dilatarbelakangi kesewenang-wenangan Belanda yang saat itu merupakan peralihan terhadap kependudukan Belanda di Banten. Kebencian masyarakat makin memuncak saat masyarakat tertekan dengan dua musibah yakni dampak meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda (23 Agustus 1883) yang menimbulkan gelombang laut yang menghancurkan AnyerMerakCaringin, Sirih, Pasauran, Tajur, dan Carita. Selain itu musibah kelaparan, penyakit sampar (pes), penyakit binatang ternak (kuku kerbau) membuat penderitaan rakyat menjadi-jadi.

Perlawanan besar pun dilakukan pada tanggal 9 Juli 1888. Perlawanan ini dipimpin oleh Ki Tubagus Ismail dan KH. Wasyid dan melibatkan sejumlah ulama dan jawara dalam Geger Cilegon membuat rakyat bangkit melawan Belanda.

Ki Wasyid yang selanjutnya pemimpin pemberontakan melakukan perang gerilya hingga ke Ujung Kulon, sedangkan yang lain dihukum buang. Haji Abdurahman dan Haji Akib dibuang ke BandaHaji Haris dibuang ke Bukittinggi, Haji Arsyad Thawil dibuang ke Manado/Minahasa, Haji Arsyad Qashir dibuang ke Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan banyak lagi yang dibuang ke TondanoTernateKupangManadoAmbon, dan Saparua. Semua pimpinan pemberontakan yang dibuang sebanyak 94 orang.


3. Perlawanan Caringin 1926

KH. Tb. Achmad Chatib merupakan salah satu pucuk pimpinan dalam peristiwa yang dikenal dengan perlawanan 1926. Perlawanan ini dianggap sebuah mobilisasi masa yang massif di hampir seluruh wilayah Banten dengan Labuan dan Menes sebagai epicentrum-nya. Pemberontakan meletus pada malam tanggal 11 November 1926 diawali dengan doa perang yang dipimpin oleh Buya Moekri di sebuah lapangan di Bama Labuan di hadapan lebih dari 1300 milisi.

Pemberontakan pun meletus. Eskalasi meluas tidak hanya di Labuan tetapi juga di Menes, Petir, Rangkasbitung, Cadasari, Baros dan Karundang. Setelah dua hari meletus pemberontakan, Pemerintah Kolonial Belanda melakukan aksi penumpasan besar-besaran. Ribuan orang ditahan dan dikumpulkan di alun-alun Pandeglang dan Menes. 5 orang dihukum gantung, lebih dari 100 orang dibuang ke tahanan Boven Digoel Papua (Barat), termasuk Ki Chatib. Ribuan orang dipenjara di Pandeglang, Serang dan Jakarta. Syeikh Asnawi, sebagai tokoh spiritual pemberontakan, yang dianggap berperan penting dalam konsolidasi dan militansi massa, juga turut ditahan dan dibuang ke Cianjur. 

Berikut doa perang sabil yang diberikan Syekh Asnawi kepada Kh. Tb. Achmad Chatib :

Salinan Doa Besar

Bismillahirachmanirrahim, adalah engkau Muhamad tidak mengetahui ihwal perkumpulan dari pada orang Bani Israil setelah meninggalkan Nabi Musa, waktu mereka itu berkata pada Nabi Syanwil: datangkanlah pada kami seorang raja supaya kami bisa menjalankan perang Sabil. maka bersabda Nabi Syanwil:

Barangkali kamu tidak mau menjalankan perang sabil jika telah diwajibkan kepada kamu, maka berkata mereka itu, mengapakah kami tidak mau menjalankan perang sabil, padahal kami telah diusir oleh musuh dikeluarkan dari negeri kami dan terpisah dengan anak-anak kami. Oleh karena itu Nabi Syanwil berdoa kepada Tuhan agar didatangkan seorang Raja. Maka didatangkan oleh Tuhan seorang Raja bernama Tholut.

Maka apabila telah diwajibkan perang sabil pada mereka itu, mangkirlah semuanya, hanya sedikit saja yang masih menepati janji, maka diketahui oleh Tuhan yang tidak menepati janji itulah yang menganiaya dirinya akan mendapatkan murka Tuhan, kuasalah Tuhan akan melanjutkan hal apa yang dikehendakinya.

Sesungguhnya Tuhan telah mendengar perkataan orang-orang yang menyebutkan bahwa Tuhan itu miskin dan kami orang yang kaya. Maka Tuhan berfirman: Nanti aku tulis dalam buku, perkataan mereka itu dan aku tulis dosanya mereka karena telah membunuh sekalian nabi yang tidak dengan haq, dan aku berkata pada mereka itu rasakanlah olehmu siksaku yang amat pedih. Tuhan maha kuasa, tidak berkendak atas segala bantuan.

Adalah engkau Muhamad tidak melihat pada mereka yang diucapkan. Laksanakanlah perang, dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat.

Maka apabila telah diwajibkan perang bagi mereka, maka sebagian dari merekai takut pada manusia, seperti takut pada Tuhan, malah lebih takut. Maka mereka bersembah dan berkata kepada Tuhan: hai Tuhan hamba mengapakah engkau wajibkan perang sabil pada kami apakah tidak lebih baik kalau engkau urungkan sampai waktu dekat. Maka Tuhan berfirman: bahwa perkara dunia itu sedikit, tapi perkara akhirat lebih baik bagi orang yang takut pada Tuhan, dan tidak nanti kamu teraniaya sebab dikurangkan pahalamu.

Bacalah dengan sebenar-benarnya oleh engkau Muhammad pada mereka itu wartanya dua anak dari Nabi Adam “Kabil dan Habil”. Keduanya melakukan kurban pada Tuhan. Maka diterimalah kurbannya Habil dan tidak diterima kurbannya Kabil. Maka berkata Kabil kepada Habil dengan amat murkanya; niscayalah aku bunuh engkau, maka berkata Habil bahwa yang menerima kurban itu Tuhan, bukan kemauanku. Tuhan menerima kepada orang yang takut kepada-Nya, Tuhan itu amat suci menunjukan jalan baik pada orang yang dikehendaki-Nya.

Sabdakan olehmu hai Muhammad, siapakah yang mempunyai langit dan bumi itu? qul man rabbussamawati wal ard, qulillah… ialah Tuhan juga.

Adalah kamu melihat barang yang disembah selainnya Tuhan, maka barang itulah yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat, adakah sama orang yang buta dengan orang yang bisa melihat dan adakah sama gelap dengan terang? Apakah mereka itu bisa menjadikan Tuhan bersekutu dengan lainnya. Apakah mereka itu bisa menjadikan sesuatu hal sebagai yang dijadikan oleh Tuhan sehingga perbuatan Tuhan itu bisa keliru dengan perbuatan lainnya, Tuhan juga yang menjadikan semua hal, Tuhanlah yang haq dan sangat niscaya bisa memberi kekuatan pada orang yang dikehendakinya.


Salinan Doa Kecil

Bismillahi, Tuhan itu yang menjadikan segala mahluk dan amat besar penjagaan dari pada barang yang aku takuti, tidak berkuasa bagi makhluk akan melawan pada kekuasaan Tuhan, kaf ha ya ain sod ha mim sin sin kaf. Segala badan tunduklah pada Tuhan, dan luputkanlah maksudnya orang yang membuat aniaya dan mencukupi bagi kita pertolongan Tuhan dan sebaik-baiknya Tuhan itu yang dipasrahi segala hal.

Hari inilah mereka itu tidak berkata serta tidak diizinkan untuk berkata, maka menjarah mereka itu dan jatuhlah perkataan haq pada mereka itu dan rusak hal yang diperbuat oleh mereka itu serta jatuhlah perkataan siksa pada mereka, sebab mereka telah membuat aniaya, padahal mereka itu tidak bisa berkata ha mim ain sin kaf. Kaf ha ya sin sod, telah cukuplah bagiku.

Aku telah menyimpul akan engkau yang membawa tulisan ini dari pada segala lidah mahluk dan manusia, perempuan dan laki-laki dengan berkatanya beribu-ribu “la haula wala quwwata illa billahil azim” artinya: tiada seorang berdaya upaya dan kuat hanya dengan pertolongan Tuhan yang Maha Agung.

Mudah-mudahan Tuhan memberi Rahmat dan selamat pada junjung kita Nabi Muhamad dan keluarganya serta para sahabatnya.

(Dari berbagai sumber)


*Penulis adalah Ketua dan Perintis Forum Taman Bacaan Masyarakat Kota Serang, 2009-20014. Founder WAG Komunitas Literasi Islam. Founder WAG Dzuriyat Sulthan Banten. Penulis Buku Biografi Perjuangan Tokoh Banten. (WA : 082211689245)


Share :