Pengembangan Potensi Anak Melalui Bercerita
Sumber Gambar :Oleh Siti Mulyani Awalia*
Ada beberapa alasan mengapa kebiasaan membaca ini dimulai dari masa kanak-kanak. Pertama, membaca akan memberi wawasan yang lebih luas keberagamannya. Ada banyak hal yang terdapat dalam bacaan yang berasal dari buku, majalah, surat kabar seperti fakta-fakta sejarah, geografi, politik, dan pngetahuan lainnya. Kedua, kebiasaan membaca akan memberikan berbagai macam perspektif atau sudut pandang kepada seseorang yaitu dengan melihat suatu masalah atau keadaan dari berbagai sudut pandang karena banyak pengetahuan yang dimilikinya. Ketiga, dengan membaca seseorang akan mampu mengembangkan pola pikir kreatif dan menjajdi aktif karena membaca dapat menumbuhkan imajinasi sehingga pikiran seseorang akan lebih berkembang. Keempat, dengan membaca seseorang akan mengenal hal-hal baru, memeroleh keterangan tentang yang dia inginkan dan mencerna ide-ide. Semuanya itu akan mempengaruhi jalan pikiran sekaligus membantu perkembangan mental terutama untuk anak-anak dalam perjalanan masa pendidikannya
Pendidikan merupakan upaya mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan karakter anak didik atau generasi muda. Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistematis yang bertujuan untuk memanusiakan manusia dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan dengan tujuan mengarahkan manusia seutuhnya. Pendidikan pada dasarnya berkenaan dengan segala kegiatan yang berguna untuk menambah pengetahuan orang-orang yang menginginkan pengetahuan itu sendiri. Dan pengetahuan itu membutuhkan media sebagai perantara untuk menyampaikannya.
Media adalah alat, cara, perantara atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi, sedangkan pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran dan pemberian pengetahuan, keterampilan, dan karakter melalui guru kepada murid dengan menggunakan alat agar tujuan yang ingin dicapai dapat terpenuhi. Media atau alat yang digunakan sebagai sarana pembelajaran sangat beraneka ragam tergantung dengan apa yang diajarkannya. Media pembelajaran ini berfungsi sebagai alat untuk mempermudah, mengefektifkan bahkan mengefisienkan penyampaian informasi dalam proses pembelajaran.
Bercerita atau dongeng dapat digunakan sebagai salah satu media pendidikan untuk menyampaikan informasi pengetahuan kepada murid guna mempermudah proses belajar mengajar. Penggunaaan cerita atau dongeng sebagai media pendidikan bisa dimanfaatkan dalam berbagai disiplin ilmu, yyang tentu saja pemilihan cerita yang digunakan harus tepat dengan materi pelajaran.
Jika kita perhatikan, saat ini sudah banyak buku-buku yang diterbitkan tentang suatu pengetahuan atau keterampilan tertentu, yang penyajiannya dengan cerita. Hal ini bertujuan agar pengetahuan tersebut dapat dipahami secara santai dan tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Biasanya buku-buku yang diterbitkan seperti ini disesuaikan dengan tingkat umur anak itu sendiri.
Selain berguna sebagai alat atau cara penyampaian informasi secara lebih mudah untuk dimengerti murid, penggunaan cerita atau dongeng sebagai media pendidikan juga berperan sebagai salah satu langkah dalam melestarikan budaya lokal yang ada. Apalagi saat sekarang ini, banyak generasi muda yang mulai melupakan budayanya sendiri yang merupakan warisan luhur nenek moyang dan merupakan kebanggaan identitasnya.
Muhammad Abdul Latif (2014) dalam buku “Mendongeng mudah & menyenangkan” mengatakan bahwa mendongeng berbeda dengan bercerita yang memiliki pengertian yaitu seni dalam menyampaikan ilmu, pesan, nasihat kepada orag lain baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua yang sebagian besar bahannya berdasarkan fakta dengan bahasa yang datar dan baku, sedangkan mendongeng lebih banyak disisipi khayalan yang dikembangkan dengan menarik. Cerita dan dongeng memiliki tujuan yang sama yaitu menyampaikan pesan-pesan moral tanpa berkesan menggurui atau memaksakan pendapat.
Lebih jauh dikatakan dalam buku tersebut bahwa ada beberapa manfaat bercerita atau dongeng bagi anak, antara lain pertama, merangsang kekuatan berfikir. Artinya cerita memiliki alur yang baik, yang membawa pesan moral berisi tentang harapan, cinta dan cita-cita, sehingga anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Kedua, sebagai media yang efektif. Artinya cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati.
Ketiga, mengasah kepekaan anak terhadap bunyi-bunyian. Saat mendongeng, bakat akrobatik suara sangat berguna. Bagaimana menirukan suara orang tua yang lemah dan gemetar, suara tokoh yang disegani, suara hewan dan lainnya. Kata-kata bisa jadi sangat mengagumkan jika diucapkan dengan intonasi dan ekspresi yang berbeda, hal ini akan mengasah pendengaran anak terhadap nuansa bunyi-bunyian.
Keempat, menumbuhkan minat baca. Cerita atau dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai cerita atau dongeng yang dibawakan, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikan pada buku. Yang diawali dengan membaca buku yang diceritakan, kemudian meluas ke buku-buku lain yang menjadi minat untuk dibacanya.
Kelima, menumbuhkan rasa empati. Orang tua tentunya menginginkan anaknya memiliki banyak pengetahuan yang berguna agar bisa memahami dan mempunyai rasa empati terhadap orang lain. Dengan memahami isi cerita, anak akan memahami dirinya. Dia akan mulai berfikir dan akan mampu membedakan antara orang baik dan orang jahat, orang tua dengan anak-anak, dan dia akan belajar menghormati perbedaan.
Sementara manfaat cerita atau dongeng bagi pencerita, terutama bagi orang tua adalah akan memperkaya pengetahuan tentang berbagai hal yang diceritakan. Karena tentu saja ketika ia akan membawakan cerita itu, pasti akan membaca dan mencari sumber rujukan atau sumber informasi mengenai apa yang akan diceritakan. Selain itu, orang tua akan terasa dekat dengan anak, dan anak akan merasa diperhatikan. Dengan demikian akan terjalin hubungan antara anak dan orang tua yang semakin akrab. Orang tua yang membiasakan diri memberikan cerita atau dongeng kepada anaknya akan merasa mudah dalam memberikan pelajaran. Pada kesempatan tersebut orang tua akan dengan mudah menyisipkan pesan moral atau pendidikan yang baik terhadak anaknya.
Sebenarnya momentum pengembangan potensi anak dalam membaca adalah pada periode emas, sebagaimana digambarkan oleh Aris Ahmad Jaya (2014) dalam buku “HypnoCreativa Teknik Mengelola & Mengatasi Emosi Buah Hati Menjadi Prestasi” dikatakan bahwa periode pertama adalah mulai anak lahir sampai usia 3 tahun. Apa yang didengar, dilihat dan dirasakan merupakan bagian dari kehidupannya. Pada masa ini orang tua harus secara aktif berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Pada masa ini orang tua berbicara dengan penuh bahagia, dengan memasukan harapan-harapan dengan kata-kata positif, bernyanyi lagu bahagia, berdoa di depannya, memutar murrotal al-Qur’an, dan memperkenalkan karakter dasar yang baik seperti tersenyum, menyapa dan ucapan terima kasih.
Periode kedua adalah antara usia 3 sampai 7 tahun. Pada masa kedua ini semua sugesti, informasi ataupun kata-kata dapat masuk secara langsung ke bawah sadar. Masa ini sangatlah penting dalam pembentukan karakter karena anak sudah dapat diajak komunikasi karena sudah mengerti bahasa lisan dan ungkapan bahasa tubuh. Pada masa emas yang kedua ini jangan sampai menyerahkan pendidikannya sepenuhnya pada orang lain atau lembaga pendidikan, sehingga orang tua memiliki target untuk anaknya hal apa saja yang harus dimengerti, dipahami dan dilakukan.
Dan pada periode ketiga saat anak berusia 7 sampai 13 tahun. Saat terbentuknya critical factor, yaitu bagian dari pikiran yang selalu menganalisis segala informasi yang masuk dan menentukan tindakan rasional seseorang. Sehingga informasi yang diberikan pada masa ini harus serba positif agar anak ketika melewati periode ini juga memikirkan hal-hal yang selalu positif dalam tingkah lakunya.
Peran dan aktifitas keluarga untuk mendorong minat dan kebiasaan membaca bagi anak-anaknya sangat besar sekali. Ini merupakan kewajiban. Dan apabila hal ini tidak dilakukan sejak dini, dapat mengakibatkan hal-hal yang akan merugikan anak itu sendiri dimasa datang. Aktifitas dalam keluarga itu juga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, sehingga secara tidak langsung mereka akan meniru kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga itu. Pada saat ini dimana produk-produk elektronik (televisi, radio, komputer, dll) sudah merambah berbagai tempat sehingga akses hiburan dapat dijangkau dengan mudah. Kemudahan mendapatkan hiburan semacam itu bisa berpengaruh sangat besar untuk menjauhkan orang dari bahan bacaan.
Sebagai orang tua, kita harus cermat dalam membagi waktu bagi anak-anaknya. Karena pada usia kanak-kanak, keinginan bermain sangat besar. Maka untuk menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca di rumah, sejak dini mereka harus disediakan lingkungan yang mendukung terhadap penyediaan kesempatan membaca. Dalam lingkungan ini mereka harus mendapat kesempatan merasakan bahwa membaca itu adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Begitu pula ketika anak mengerjakan tugas-tugas sekolah atau menginginkan sesuatu dan menyakannya kepada orang tua, maka tindakan orang tua jangan langsung menjawab, tetapi mereka dituntun unuk mencari sendiri informasi dimaksud. Dengan membiasakan anak-anak mencari informasi sendiri penjelasan yang ingin mereka ketahui dari sumber informasi maka sekaligus pula minat baca mereka akan bertambah.
Untuk mengkondisikan dan menumbuhkan minat dan kebiasaaan membaca anak dalam lingkungannya, maka orang tua memegang peranan yang amat penting sebagai model yang akan ditiru dan diteladani oleh anak-anak dirumah. Salah satu kegiatan yang harus didorong adalah membuat apresiasi atau rangkuman dari apa yang mereka baca, sehingga nantinya ketika ada permasalahan atau keingintahuan terhadap sesuatu, yang dicari pertama kali adalah bahan/sumber informasi, orang tua tinggal mengarahkan sumber informasi apa yang harus didapatkannya, atau mereka diajak mengapresiasi dan mengevaluasi buku yang dibacanya. Mendiskusikan bersama atau menyimpulkan isinya, bisa saja anak memiliki gagasan yang berbeda atau ingin mengkritik tema cerita, ini semua merupakan kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan berbagai ide kreatifnya.
*Pemustaka