LITERASI AL-QUR'AN UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI BANGSA

LITERASI AL-QUR'AN UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI BANGSA

LITERASI AL-QUR'AN UPAYA PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER GENERASI BANGSA

Oleh : Taufik Rahmat*

 

 

Allah SWT telah menurunkan tuntunan akhlak yang lengkap dalam kitab suci yang merupakan sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan, yang  tidak  ada keraguan sedikitpun di dalamnya , yaitu AL QURANUL KARIM. Al-Quran adalah Asy-Syifaa, yang mampu menggetarkan hati siapapun yang membaca dan mendengarkan bacaannya, yang mampu mengetuk dan melembutkan hati siapapun yang mendekat dan mencintainya. Maka menanamkan pendidikan karakter sebaiknya diawali dengan mendekatkan anak-anak didik kita dengan Alquran.

Dalam dunia pendidikan kita hari ini  banyak berbincang tentang penguatan kembali pendidikan karakter, tentang upaya membangun  kembali sikap dan perilaku yang baik, yang sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu menjadi identitas dan ikon bangsa ini. Kenyataan  tentang melunturnya nilai-nilai karakter bangsa kita hari ini adalah tantangan terbesar bagi dunia pendidikan kita.

Bangsa Indonesia telah memiliki karakter yang bernilai luhur dan diwariskan secara turun-temurun. Akan tetapi pewarisan dengan cara yang konservatif saja tidaklah cukup. Perlu dilakukan pewarisan dan pembentukan karakter bangsa yang bisa mencetak generasi penerus berkarakter dan bermartabat dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itulah dilakukan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai pendidikan karakter. Pendidikan karakter menekankan pada suatu nilai moral yang universal yang bisa diterima baik oleh berbagai kalangan di seluruh kelompok sosial. Pendidikan karakter berfokus bukan lagi pada sesuatu yang salah dan benar saja tapi sudah pada tingkat baik dan buruk hal yang diajarkan. Tujuan dari pendidikan karakter ini ialah mencetak Individu yang berkarakter. Individu baru bisa dikatakan berkarakter apabila dirinya sudah mampu melaksanakan segala keputusan yang diambilnya dengan pertimbangan moral.

Raharjo (2010) mengasumsikan pendidikan karakter secara lebih luas lagi yakni suatu proses pendidikan secara holistis yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang berkualitas, mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Atau dapat dikatakan bahwa pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak yang bertujuan untuk membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik dengan kriteria secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya sendiri.

Ciri Individu yang berkarakter ialah : Pertama, Moral Knowing Ialah memahami dan mengetahui hal yang baik dan buruk sesuai dengan kaidah moral. Penerapan dari hal ini ialah memahami bahaya narkoba bagi generasi muda dan mengerti dampak korupsi bagi negara. Individu yang bermoral akan memahami dengan baik konsekuensi dari contoh kedua kasus tadi bagi dirinya, keluarga, dan lingkungannya. Kedua, Moral Feeling, atau disebut juga “loving the good”, yakni menyukai hal-hal yang bersifat baik dan cenderung menarik diri menuju kebaikan. Semisal memiliki keinginan kuat untuk mempelajari cara melestarikan budayalokal ditengah gempuran invasi budaya asing atau semisal memiliki perasaan ingin senantiasa menaati peraturan yang berlaku karena dirinya takut bila peraturan tidak ditaati dengan baik maka akan timbul bahaya akibat jika tidak ada keadilan di masyarakat. Ketiga, Moral Action, Pada tahap ini perasaan dan pikiran yang baik akan mewujudkan perilaku yang baik di dalam diri individu. Ketika menangkap realita yang ada individu akan bergerak dan memberikan respons yang baik terhadap permasalahan yang ada. Ini terjadi semisal pada individu yang tidak hanya menyadari kemajemukan di lingkungan sosialnya tapi juga mengupayakan cara merawat kemajemukan  bangsa indonesia. Integrasi antara pikiran dan perasaan serta perilaku yang diwujudkan ini bahkan tidak hanya berada pada tahap mengupayakan pemecahan masalah.

Pembentukan Karakter Melalui Al-Qur’an

Belajar AL-Qur’an berarti belajar mencintai Al-Qur’an. Diawali dari belajar membaca dan menulis huruf-huruf Al Quran, membiasaan bertadarus dan menghafal ayat-ayat Al Quran, kemudian mendalaminya dengan mengartikan dan memahami isi kandungan yang terdapat dalam ayat-ayat AL-Qur’an tersebut.

Bulan suci Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Wahyu pertama-Nya tentang perintah “IQRA”  adalah sinyal bagi kita betapa pentingnya kemampuan membaca Al Quran. Sehingga digambarkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bahwa jika kita membaca satu huruf saja dari huruf AL-Qur’an, maka pahalanya sama dengan kita melakukan sepuluh kali kebaikan. Bahkan dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang belajar AL-Qur’andan mengajarkannya sebagai umat terbaiknya.

Bukti yang tidak terbantahkan, Allah SWT telah menghebatkan Rasul-Nya dengan Al-Qur’an, mengapa kita masih menunggu untuk menghebatkan Generasi Bangsa kita dengan AlQur’an?

Al-Qur’an telah memberikan konsep-konsep tentang pendidikan karakter. Salah satu ayat yang menerangkan tentang pendidikan karakter adalah Q.S Luqman ayat 12-24, Walaupun terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter, namun Q.S Luqman ayat 12-14 karena ayat ini mewakili pembahasan ayat yang memiliki keterkaitan makna paling dekat dengan konsep pendidikan karakter.

Adapun nilai karakter yang termaktub dalam QS. Luqman ayat 12-14 tadi, yang pertama, dari seorang Luqman, pendidik hendaknya mempunyai karakter hikmah, yakni berpengetahuan dan berilmu. Artinya, selain mempunyai pengetahuan, pendidik juga dituntut untuk mengamalkan pengetahuannya. Kedua, pendidikan karakter yang terdapat dalam QS. Luqman diatas adalah anjuran untuk menjadikan individu-individu yang bersyukur, syukur dalam artian tidak hanya mengucapkan Alhamdulillah, melainkan menikmati segala karunia Allah untuk pemicu dalam meningkatkan prestasi. ketiga nilai karakter yang ada pada ayat ini adalah menjadikan Tauhid atau Aqidah sebagai pondasi awal bagi anak sebelum anak mengenal disiplin ilmu pengetahuan yang lain. Keempat, Luqman memanggil anaknya dengan sebutan Ya Bunayya, padahal bahasa arab yang biasa digunakan adalah Ya Ibnii, Ya Bunayaa adalah bahasa yang sangat halus yang digunakan oleh orang tua kepada anaknya, nilai karakter yang ada pada ayat ini adalah, hendaknya bagi para pendidik untuk bertutur halus kepada anak didiknya. Kelima, pada ayat diatas juga diperintahkan untuk merenungi penderitaan seorang ibu yang mengandung anaknya dalam keadaan wahnan ‘ala wahnin, nilai karakter pada ayat ini adalah nilai bakti seorang anak kepada orang tuanya, khususnya kepada ibu. Keenam, penutup ayat ini Ilayyal Mashiir semua akan kembali kepada Allah, nilai karakter darinya adalah siapapun kita sebagai manusia pasti akan kembali kepada Allah, dan ini melahirkan nilai-nilai ketakwaan, karena hanya taqwa lah yang akan menjadikan manusia berbeda dihadapan Allah ketika kembali keharibaannya.

Motivasi inilah yang sebaiknya menjadi landasan kita dalam mendidik dan membimbing Generasi Bangas untuk belajar Al-Qur’an. Semoga momentum Ramadhan sebagai bulan literasi Al-Quran  menjadi suluh penyemangat bagi para pendidik untuk menguatkan pendidikan karakter  melalui sentuhan ayat-ayat suci Al Qur’an.

* Penulis adalah Ketua Umum INSPIRA Badko Banten danMahasiswa PAI Pascasarjana IAIN Laa Roiba Bogor 

Share :