CENDEKIAWAN BANTEN KURANG BAHAGIA

Sumber Gambar :

CENDEKIAWAN BANTEN KURANG BAHAGIA

Atih Ardiansyah*

 Orang Banten membuka tahun 2022 dengan predikat sebagai “bangsa” yang paling tidak bahagia se-Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Banten menempati posisi paling buncit di bawah Aceh dan Papua, dengan tiga indikator utama yaitu kepuasan hidup, perasaan dan makna hidup. Kepuasan hidup, secara personal maupun sosial, mencakup pendidikan, pekerjaan, kesehatan, kondisi dan fasilitas rumah, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan dan kondisi keamanan. Adapun perasaan meliputi perasaan senang dan perasaan tidak khawatir. Sementara makna hidup mencakup kemandirian, penguasaan lingkungan, pengembangan diri, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup dan penerimaan diri.

Apa yang dialami Banten pada akhir 2021 ini tak berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada ujung 2020 lalu, BPS juga merilis temuan bahwa orang Banten memang merasa kurang bahagia dengan dimensi penilaian yang kurang lebih sama.

Secara spesifik, saya pun menyebut kalangan cendekiawan Banten kurang bahagia dalam menjalani kehidupannya.Tandanya satu saja, kalangan cendekiawan di Banten masih terjebak dalam kenangan masa lalu. Indikatornya ada dua yaitu cenderung menyesalkan situasi hari ini dan suka melakukan glorifikasi masa lalu.

Cendekiawan, termasuk ulama di dalamnya, sepertinya memang tak bahagia di sepanjang 2021 lalu. Dalam berbagai literatur sejarah, ulama (dan jawara) adalah entitas kepemimpinan tradisional yang disegani di Banten. Mereka simbol kelompok yang gigih memperjuangkan kebenaran, terlibat dalam perjuangan kemerdekaan, selanjutnya menjadi pengawal perjalanan Provinsi Banten. Tiba-tiba mereka berada dalam kondisi tak berdaya karena terseret kasus korupsi dana hibah pesantren. Tanpa keterlibatan oknum pesantren dan kiai saja, berbagai kasus korupsi sudah merupakan noktah bagi status kecendekiaan-keulamaan, apalagi terseret dalam pusarannya.

Kalangan cendekiawan Banten kerap menunjukkan ketidakpuasan dengan nuansa hari ini. Keruwetan politik, kemiskinan, pembangunan yang tidak merata, pemerintah yang kurang akomodatif dan segala pernik sosial budaya, membuat mereka kerap misuh-misuh. Mereka menyesalkan keadaan masa kini, sehingga untuk mengobati kegalauan itu mereka berlari pada masa lalu, terutama kejayaan Kesultanan Banten. Atau yang paling dekat, pada heroisme para pendiri Provinsi Banten. Hal ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan para cendekiawan yang tersebar di media atau di WhatsApp di mana mereka berkelompok, temanya masih berpusar pada kerisauan hari ini yang jauh berbeda dengan masa kesultanan Banten atau cita-cita para pendahulu (glorifikasi masa lalu). Termasuk pada buku yang baru-baru ini diterbitkan. Dan tulisan, menurut saya, merupakan cermin paling jernih tentang nuansa kebatinan para cendekiawan.

 Saking Cintanya pada Banten

Pada buku Banten Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Datang (Penerbit ICMI Orwil Banten, 2021), sejumlah 22 tulisan dari kalangan yang tergabung dalam organisasi kecendekiaan, yakni ICMI Orwil Banten, menurut saya, menunjukkan kondisi kalangan intelektual yang tidak baik-baik saja. Akademisi Universitas Serang Raya, Dr. Abdul Malik, yang menjadi editor naskah saat melakukan pengelompokkan tulisan, menyajikan kenyataan bahwa lebih banyak cendekiawan yang menuliskan masa lalu ketimbang masa masa depan. Lalu masa kini? Ah, sedetik saja dari masa kini sudah menjadi masa lalu, bukan? Judul buku pun saya menduga dicetuskan setelah sejumlah tulisan terkumpul dan ditelaah.

Secara ringkas, buku setebal 352 halaman tersebut memuat 10 tulisan tentang masa depan dan 12 tulisan tentang masa lalu, termasuk di dalamnya tulisan saya. Beberapa sumbangan untuk masa depan Banten di antaranya prospek industri halal, pemanfaatan lahan dan konsep hidroponik sebagai usaha ketahanan pangan, infrastruktur dan pengembangan industri pariwisata serta e-tourism. Sedangkan tulisan tentang masa lalu berpusing pada kasus korupsi di Banten, kurang efektifnya peran legislatif di Banten, glorifikasi pendirian Provinsi Banten melalui peran politik kiai dan ajakan melakukan refleksi.

Dalam pengantarnya, Abdul Malik menyertakan frasa “saking cintanya pada Banten”, yang disebut kembali oleh Lili Romli dengan frasa “kecintaan pada Banten”. Itu menurut saya menjadi semacam permakluman bahwa cendekiawan Banten yang kurang bahagia itu adalah akibat dari memikirkan Banten. Atau meskipun sedang tidak bahagia, mereka tetap memberikan perhatian kepada Banten. Yang keduanya memperkuat riset BPS bahwa cendekiawan Banten sebagai bagian dari masyarakat memang sedang tidak baik-baik saja. Atau secara teknis, Abdul Malik mungkin menyoroti buku yang konsepnya gado-gado dan masih dangkalnya ulasan.

Cendekiawan memang harus terus memproduksi keresahan sebagai tanda bahwa mereka memiliki kepekaan. Akan tetapi, semata-mata memeram keresahan tanpa upaya optimal menghadirkan solusi adalah kesia-siaan. Terlebih lagi bila kepala ditengokkan ke masa lalu dan glorifikasi menjadi jalan melarikan diri dari kenyataan hari ini, merupakan kegiatan tak berarti.

Saya rasa, sudah saatnya cendekiawan lebih produktif bertelur gagasan tentang masa depan dibandingkan harus berkeluh kesah tentang masa lalu. Seburam-buramnya kaca mata yang digunakan untuk meneropong masa depan masih lebih bagus daripada sejernih-jernihnya kenangan yang tertinggal jauh di belakang.

Tabik.

* Dosen FISIP Untirta & CEO Cendekiawan Kampung, murid di ICMI Orwil Banten


Share this Post