Festival Literasi Banten 2026 Dorong Penguatan Budaya Baca dan Kecakapan Literasi
Sumber Gambar :Serang - Dinas Perpustakaan Provinsi Banten menggelar Festival Literasi Provinsi Banten Tahun 2026 di Halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kamis (8/10/2026). Dengan tema “Membaca Banten, Menulis Masa Depan” Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat budaya literasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membaca, belajar, dan mengembangkan pengetahuan sepanjang hayat.
Festival Literasi Provinsi Banten Tahun 2026 turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan Polda Banten, perwakilan Kejaksaan Tinggi Banten, perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktur Operasional Bank Banten, para Bunda Literasi dari sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Banten, di antaranya Pandeglang, Lebak, dan Tangerang Selatan, para Kepala OPD dilingkungan Pemerintah Provinsi Banten.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar berbagai aktivitas literasi, termasuk pembacaan puisi oleh Pery Sandi berjudul Balada Cibanten Turun ke Utara.
Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Banten Usman Asshiddiqqi Qohara dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan literasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, perpustakaan, komunitas, dunia usaha, serta seluruh elemen masyarakat perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca.
“Festival Literasi Provinsi Banten Tahun 2026 merupakan salah satu upaya untuk memperkuat budaya literasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca, belajar, serta mengembangkan pengetahuan sepanjang hayat,” ujarnya.
Ia mengatakan, Festival Literasi Provinsi Banten 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 8 hingga 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang berkumpul dan merayakan literasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, mengembangkan kreativitas, serta menumbuhkan semangat berprestasi, khususnya bagi generasi muda.
Sementara itu, Asisten Daerah III Provinsi Banten, Hj. Rina Dewiyanti, mengatakan literasi merupakan salah satu fondasi utama dalam mewujudkan sumber daya manusia Banten yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.
Menurut Rina, pelaksanaan Festival Literasi Provinsi Banten juga diparalelkan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-26 Provinsi Banten yang mengusung semangat “Banten Bergerak, Maju Berdampak”.
“Ini kita bergerak bersama, sumber pembiayaan pusat kita satukan, bergerak dengan seluruh stakeholder di sini. Kemudian ketika kita semua bergerak dan fokus, maka majulah kita, majulah Banten,” kata Rina.
Ia menambahkan, kemajuan Banten dapat dilihat dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, termasuk peningkatan literasi. Karena itu, program-program literasi perlu dikawal agar semakin strategis dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Melalui berbagai literasi, perlombaan, tadi sudah dilaksanakan, pameran dan aktivitas edukatif lainnya, kita dapat menumbuhkan semangat membaca, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda,” ujarnya.
Rina berharap Festival Literasi Provinsi Banten 2026 dapat memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota dalam mengembangkan perpustakaan serta meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun Banten sebagai provinsi dengan masyarakat yang gemar membaca, terbuka terhadap pengetahuan, mampu menghadapi perubahan, serta dapat memanfaatkan literasi untuk meningkatkan kualitas kehidupan.
“Saya yakin dengan semangat kebersamaan dan kerja nyata, Festival Literasi Provinsi Banten tahun 2026 dapat menjadi penggerak bagi tumbuhnya budaya literasi yang semakin kuat di seluruh kabupaten kota se-Provinsi Banten,” harapnya.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dr. Aminudin, dalam sambutannya menegaskan bahwa urusan perpustakaan tidak semata-mata berkaitan dengan pengelolaan buku dan fasilitas membaca. Menurutnya, perpustakaan berkaitan erat dengan pengembangan keilmuan, cara masyarakat melihat perkembangan dunia, pemberdayaan manusia, serta pengembangan kreativitas.
“Urusan perpustakaan itu urusan investasi masa depan,” kata Aminudin.
Ia juga menilai Banten memiliki sejarah dan potensi literasi yang kuat. Menurutnya, berbicara mengenai Banten berarti berbicara tentang sejarah kegemilangan masa lalu yang menjadi tanggung jawab masyarakat saat ini untuk terus dijaga dan dikembangkan.
“Bicara Banten adalah bicara literasi tingkat tinggi. Bicara Banten, bicara tentang sejarah gemilang masa lalu, yang tentu saja kini menjadi tanggung jawab kita semua yang hidup pada masa ini,” tuturnya.
Aminudin menyambut baik berbagai kegiatan literasi yang telah dilaksanakan di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi. Menurutnya, penguatan budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi merupakan tanggung jawab bersama.
“Tidak ada masyarakat, tidak ada komunitas, tidak ada bangsa yang maju kalau literasinya rendah,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat budaya membaca dan meningkatkan kecakapan literasi masyarakat. Dengan demikian, literasi diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam membangun masyarakat dan bangsa yang lebih maju serta bermartabat.
Festival Literasi Provinsi Banten 2026 yang berlangsung hingga 10 Oktober tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, perpustakaan, lembaga pendidikan, komunitas, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat dalam membangun budaya literasi di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Banten.