Guru Penggerak dan Peningkatan Kompetensi Literasi
Sumber Gambar :Guru Penggerak dan Peningkatan Kompetensi Literasi
Oleh: Engkos
Kosasih*
Pada saat ini program
guru penggerak (PGP) merupakan salah satu program yang cukup mendapat perhatian
para guru. Selain mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan,
Riset dan Teknologi, PGP menjadi kawah candradimuka para guru untuk
meningkatkan kompetensinya. Seleksi untuk dapat ikut PGP pun cukup ketat. Para
guru diminta untuk mengisi pemberkasan secara daring untuk lolos administrasi
esai dan dokumen pendukung. Setelah itu ada proses simulasi praktik mengajar
dan wawancara agar guru bisa ikut pendidikan dan pelatihan PGP.
Dikutip dari laman resmi
Kemendikbudristek, Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan
kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini
meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 6
bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas
mengajarnya sebagai guru. Saat ini PGP dalam proses seleksi angkatan ke-8, 9,
dan 10 dan lima angkatan telah menyelesaikan program.
Dalam kerangka desain
PGP, para guru mempelajari topik utama pemimpin pembelajaran selanjutnya
mengikuti pelatihan dengan metode pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan
pendampingan. Dalam pelatihan ini porsi terbesar metode pelatihan para guru
yaitu belajar di tempat kerja dan komunitas praktik meliputi yaitu sebanyak
tujuh puluh persen. Selanjutnya belajar dari rekan dan guru lain sebanyak dua
puluh persen. Sisanya merupakan pelatihan formal.
Dengan
program guru penggerak ini ada harapan yang besar akan terjadinya perubahan
yang signifikan dalam peningkatan mutu pendidikan. Karena guru penggerak
diharapkan menjadi katalis perubahan di daerahnya dengan cara: menggerakkan komunitas belajar untuk
rekan guru di sekolah dan di wilayahnya; menjadi Pengajar Praktik bagi rekan
guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah; mendorong peningkatan
kepemimpinan murid di sekolah; membuka ruang diskusi positif dan ruang
kolaborasi antar guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran; dan menjadi pemimpin pembelajaran yang
mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah.
Lantas apa hubungannya PGP dengan
kompetensi literasi? Kalau kita lihat capaian-capaian ideal yang diharapkan
jelas bahwa guru yang mengikuti PGP harus memiliki kompetensi literasi yang
tinggi. Dengan desain belajar yang disebutkan guru penggerak memiliki
kemandirian belajar yang tinggi. Dengan pelatihan berbasis modul dan daring
rasanya program tak bisa diselesaikan dengan baik jika guru tidak kompeten
berliterasi.
Dengan asumsi yang demikian,
guru-guru yang lolos ikut PGP dan kelak mendapatkan sebutan Guru Penggerak
tentu saja diharapkan dapat menggiatkan kembali program-program literasi di
sekolah semisal Gerakan Literasi Sekolah. Guru penggerak diharapkan terlibat
dan menjadi motor penggerak gerakan literasi sekolah. Kalau misalnya sebelumnya
sudah bergerak dan menjadi motor penggerak literasi tentu itu yang diharapkan
dan adanya PGP akan lebih menyemarakkan lagi gerakan literasi.
Gaung pergerakan untuk meningkatkan
kompetensi literasi harus terus diwacanakan oleh sebab pada saat ini minat dan
kemauan untuk meningkatkan kompetensi literasi kita masih memprihatinkan. Ambil
contoh data mengenai perpustakaan daerah misalnya. Temuan dari hasil jajak
pendapat Litbang Kompas, 9-11 Agustus 2022 menunjukkan masih rendahnya
kebiasaan berkunjung ke perpustakaan daerah. Jajak pendapat tersebut mencatat
sekitar 29,5 responden mengaku pernah berkunjung ke perpustakaan daerah.
Sementara 39,5 persen responden mengaku tidak pernah berkunjung. Lebih
memprihatinkan lagi, ada 31 persen responden yang tidak tahu keberadaan
perpustakaan daerah di wilayahnya.
Masih dari sumber jajak pendapat
Litbang Kompas disebutkan bahwa intensitas mereka yang mengaku pernah
berkunjung ke perpustakaan daerah pun cenderung sangat jarang. Hal ini diakui
separuh dari responden (52,2 persen) yang sangat jarang mengunjungi
perpustakaan daerah, bahkan belum tentu sebulan sekali. Sekitar 31,5 persen
mengaku berkunjung sekitar sebulan sekali. Dan hanya sekitar 16,2 persen
responden mengatakan sering mengunjungi perpustakaan daerah.
Kenyataan praktik kurangnya minat
mengunjungi perpustakaan itu bertolak belakang dengan persepsi masyarakat
dimana 90,1 persen responden menyatakan keberadaan perpustakaan daerah penting
untuk memfasilitasi kebutuhan literasi masyarakat.
Tentunya kenyataan yang masih
memprihatinkan tersebut membutuhkan kepedulian berbagai pihak untuk terus
berupaya meningkatkan kompetensi literasi. Salah satunya adalah harapan pada
guru penggerak. Harapan tersebut sejalan dengan apa yang pernah disampaikan
Mendikbudristek menyikapi hasil Asesmen Nasional 2021 dimana hanya sekitar 43
persen pelajar memenuhi standar minimum untuk kemampuan literasi. Nadiem
Makarim menyatakan bahwa temuan itu menunjukkan bahwa kita harus semakin
mendorong inisiatif-inisiatif yang berfokus pada peningkatan kemampuan
literasi.
Dengan berbagai harapan dari hasil
capaian pembelajaran guru penggerak, inisiatif-inisiatif program untuk gerakan
literasi di sekolah layak mendapat perhatian. Guru penggerak yang telah
mendapatkan pengalaman pembelajaran yang cukup intensif terutama terkait dengan
kepemimpinan pembelajaran rasanya dapat menghadapi tantangan di lapangan.
Apalagi sekarang dengan berlakunya kurikulum merdeka daya dorong untuk
mewujudkan sekolah sebagai ekosistem yang baik bagi peningkatan kompetensi
literasi akan semakin besar.
Memang di sekolah pun terkadang
masih ada hambatan struktural. Meminjam istilah Ken Supriyono, pengambil
kebijakan masih memunggungi buku atau dokumen bahan bacaan lain sebagai sumber
pengetahuan dan kebijakannya. Sehingga program peningkatan literasi masih
terpinggirkan dari berbagai kebijakan di sekolah. Tetapi seyogyianya insan
pendidikan terutama guru tidak putus asa untuk terus berusaha mengadakan
inisiatif-inisiatif program peningkatan literasi terutama untuk guru penggerak
yang diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem
pendidikan di sekolah.
*Guru SMK
Negeri 11 Pandeglang