Literasi di Tengah Bencana: Ketika Relawan Menjadi Pustakawan di Lapangan Darurat

Sumber Gambar :

Oleh : Funky Rhamadani*

 

Di tengah malam yang gelap dan hujan yang tidak kunjung reda, sebuah panggilan darurat masuk. Suara di seberang telepon terdengar terburu-buru, menyampaikan kondisi warga yang terjebak banjir. Tidak ada waktu untuk menunggu. Dalam hitungan menit, koordinasi bergerak, kendaraan disiapkan, dan relawan mulai menyebar menuju lokasi.

Di momen seperti itu, tidak ada ruang yang tenang seperti perpustakaan. Tidak ada suasana membaca buku, tidak ada rak-rak yang tersusun rapi, tidak ada keheningan yang mendukung proses belajar. Namun, justru di tengah kekacauan itulah saya menyadari satu hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya yaitu literasi tetap hidup hanya saja bentuknya berbeda.

Saya  adalah  bagiadari  relawan  yang terlibat  dalam  pendampingan  pasietidamampu, penanggulangan bencana, serta pencarian dan pertolongan korban bencana air. Aktivitas ini membawa saya pada berbagai situasi yang tidak pernah ada dalam buku pelajaran. Dari lorong rumah sakit hingga desa yang terisolasi banjir, dari evakuasi tengah malam hingga pencarian korban di arus deras, semuanya mengajarkan satu hal penting bahwa informasi adalah nyawa kedua setelah keselamatan.

Literasi Tidak Selalu Tentang Buku

Selama ini, literasi sering dipahami secara sederhana sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun, pengalaman di lapangan mengubah cara pandang tersebut. Literasi ternyata jauh lebih luas, ia mencakup kemampuan memahami informasi, mengambil keputusan, memilah kebenaran, dan merespons situasi secara tepat.

Di tengah bencana, literasi tidak lagi berbentuk teks. Ia hadir dalam bentuk laporan warga yang harus diverifikasi, data korban yang harus dicocokkan, jalur evakuasi yang harus dipahami cepat, hingga informasi medis yang menentukan tindakan penyelamatan.

Satu kesalahan dalam membaca informasi bisa berarti keterlambatan bantuan. Dan keterlambatan dalam situasi seperti itu bukan sekadar angka melainkan ia bisa berarti kehilangan nyawa. Di sinilah saya mulai memahami bahwa literasi bukan hanya tentang pengetahuan yang tersimpan, tetapi tentang pengetahuan yang digunakan.

Lapangan Bencana sebagai Ruang Literasi Hidup

Jika perpustakaan adalah ruang tenang untuk menyerap pengetahuan, maka lapangan bencana adalah ruang hidup di mana pengetahuan diuji. Di sana, setiap relawan dipaksa untuk “membaca situasi” dengan cepat. Tidak ada waktu panjang untuk  analisis teori. Yang ada adaladata yang  datang tidautuh,  informasi yang  saling bertabrakan, dan kondisi lapangan yang terus berubah.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan literasi menjadi sangat penting. Memahami laporan dengan cepat, membedakan informasi valid dan tidak valid, menghubungkan satu data dengan data lainnya, dan menerjemahkan informasi menjadi tindakan nyata.

Saya pernah berada dalam situasi di mana sebuah keluarga mencari anggota mereka yang hilang saat Tsunami Selat Sunda 2018. Informasi yang masuk sangat terbatas, nama tidak lengkap, lokasi tidak pasti, dan waktu kronologis kejadian tidak jelas. Di tengah tekanan itu, relawan harus bekerja seperti pengolah informasi, mengumpulkan potongan data, mencocokkannya dengan laporan lain, hingga akhirnya menemukan titik terang. Ketika informasi yang benar ditemukan, yang muncul bukan hanya kelegaan, tetapi juga harapan yang kembali hidup.

Relawan sebagai Pengelola Informasi di Tengah Kekacauan

Dalam dunia perpustakaan, ada sosok pustakawan yang bertugas mengelola informasi agar dapat diakses dengan mudah oleh pengunjung. Mereka menyusun, mengklasifikasi, dan memastikan bahwa pengetahuan tidak hilang dalam tumpukan data. Di lapangan bencana, saya melihat peran yang sangat mirip pada relawan.

Relawan tidak hanya bertugas mengevakuasi atau membantu secara fisik. Lebih dari itu, relawan juga menjadi pengelola informasi darurat. Mereka menerima laporan dari warga, menyaring informasi yang simpang siur, mengonfirmasi data di lapangan, dan menyampaikan informasi yang sudah terverifikasi kepada tim lain.

Dalam situasi darurat, informasi yang tidak terkelola dengan baik bisa menimbulkan kepanikan baru. Karena itu, relawan secara tidak langsung menjalankan fungsi yang sangat mirip dengan pustakawan yaitu menjaga agar informasi tetap teratur di tengah kekacauan.

Perbedaannya hanya pada ruang kerja. Pustakawan bekerja dalam ketenangan perpustakaan, sementara relawan bekerja di tengah hujan, banjir, lumpur, dan waktu yang terus mengejar.

Literasi Kemanusiaan: Membaca Manusia, Bukan Hanya Data

Pengalaman 16 tahun sebagai relawan juga mengajarkan bentuk literasi lain yang tidak kalah penting yaitu ‘literasi kemanusiaan Ini adalah kemampuan untuk memahami manusia di balik angka dan laporan. Di lapangan, setiap data bukan sekadar statistik. Di balik 1 korban terdampakada seorang anak. Di balik keluarga mengungsi ada ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian.

Literasi kemanusiaan membuat relawan tidak hanya membaca informasi, tetapi juga membaca emosi manusia. Memahami kapan harus berbicara, kapan harus menenangkan, dan kapan harus bertindak cepat.

Saya masih mengingat pada Banjir besar melanda Kota Serang pada 1 Maret 2022, gaimana seorang ibu di pengungsian hanya diam sambil memegang pakaian basah anaknya. Tidak banyak kata yang diucapkan, tetapi situasi itu menyampaikan lebih banyak informasi daripada laporan apa pun. Dari situ, saya belajar bahwa literasi juga berarti kemampuan “membaca yang tidak tertulis.

Ketika Perpustakaan Tidak Lagi Berbentuk Gedung

Jika kita memperluas makna perpustakaan, maka perpustakaan tidak lagi harus berbentuk gedung dengan rak buku. Perpustakaan bisa hadir dalam bentuk apa pun yang menyimpan, mengelola, dan menyebarkan pengetahuan. Atau secara definisi perpustakaan memiliki peran yang sangat penting diantaranya : sebagai lembaga pendidikan non formal bagi anggota masyarakat; sebagai institusi untuk mengembangkan minat baca melalui penyediaan bahan bacaan yang sesuai minat, keinginan, dan kebutuhan masyarakat; sebagai sarana yang menghubungkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan pemakainya; berperan aktif sebagai fasilitator, mediator, dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya; sebagai media untuk menjalin, mempererat, dan mengembangkan komunikasi antara semua pemakai serta antara penyelenggara perpustakaan dan masyarakat yang dilayani; berperan aktif sebagai agen perubahan, agen pengembangan, dan agen pembangunan manusia.

Dalam konteks bencana, saya melihat bahwa pengalaman relawan adalah arsip hidup, prosedur evakuasi adalah buku panduan yang bergerak, komunikasi lapangan adalah katalog informasi real-time, dan setiap kejadian adalah halaman yang terus ditulis ulang. Dengan cara pandang ini, lapangan bencana bisa dipahami sebagai perpustakaan hidup, tempat di mana pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi juga diuji dan dipraktikkan secara langsung.

Pustakawan dan Relawan: Dua Peran yang Bertemu di Titik yang Sama

Meskipun berbeda latar belakang dan ruang kerja, pustakawan dan relawan memiliki kesamaan mendasar. Keduanya menjaga agar manusia tetap bisa menemukan jawaban di tengah kebingungan.

Pustakawan menjaga pengetahuan agar dapat diakses dengan teratur. Relawan menjaga informasi agar dapat digunakan dalam kondisi paling genting.

Keduanya bekerja untuk tujuan yang sama yaitu membantu manusia memahami dunia di sekitarnya, meskipun dalam situasi yang berbeda.

Perpustakaan memberikan ketenangan untuk belajar. Lapangan bencana memberikan ketegangan untuk bertahan. Namun di antara keduanya, ada benang merah yang sama yaitu literasi.

Penutup: Literasi yang Hidup di Tengah Kehidupan

Dari semua pengalaman di lapangan, saya belajar bahwa literasi bukan hanya milik ruang kelas atau perpustakaan. Literasi adalah kemampuan manusia untuk bertahan, memahami, dan membantu satu sama lain dalam situasi apa pun.

Di tengah bencana, literasi menjadi sangat nyata. Ia hadir dalam keputusan cepat, dalam informasi yang disampaikan, dalam koordinasi yang dilakukan, dan dalam empati yang diberikan. Karena literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Bisa diartikan pula bahwa literasi informasi adalah kemampuan untuk mengetahui kebutuhan informasi, dengan cara mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi tersebut untuk isu atau masalah yang dihadapi

Dan di titik itu, saya menyadari satu hal sederhana bahwa seorang relawan, tanpa disadari, juga adalah seorang pustakawan. Bukan pustakawan yang bekerja di balik meja, tetapi pustakawan yang bekerja di tengah hujan, di antara sirine, dan di tengah kehidupan yang sedang berjuang untuk pulih.

Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi adalah tentang membaca kehidupan itu sendiri.

*Relawan Fesbuk Banten News


Share this Post