Mengenal kata dari rumah, menumbuhkan kebiasaan membaca bersama perpustakaan desa
Sumber Gambar :Oleh : Chairunnisa*
Satu majalah anak yang sampai saat ini bertahan meski jumlah halamannya makin tipis, Bobo, berisi cerpen, puisi karya anak-anak, profil, pengetahuan, komik, bahkan TTS. Semua kolomnya diisi oleh anak-anak, selain komik tentu saja. Bona dan rong-rong, Putri Nirmala, dan Bobo sendiri. Anak Indonesia bangga bercerita tentang Bona dan rong rong atau tentang betapa baik hatinya Putri Nirmala. Puisi yang diksinya sederhana dan berisi keseharian mereka. Bobo menjadi bacaan yang sedikit banyak menjadi pintu masuk kebiasaan membaca bagi generasi 90-an.
Saya masih ingat bagaimana Ibu membacakan cerita Rongrong dan Bona tiap malam dengan cerita yang sesuai majalan sampai dibuat sendiri, lalu kami akan mulai berlomba berpura-pura membaca dan mengarang-ngarang cerita sendiri. Saya mengenal kebiasaan membaca dari kehangatan dan tawa kecil Ibu di kamarnya. Berpuluh tahun setelahnya, berpura-pura membaca, membolak balik halaman mengikuti gerakan Ibu disebut Teori Literacy Emergen, teori ini menyebutkan bahwa kemampuan membaca dan menulis anak tidak muncul secara mendadak saat anak mulai masuk sekolah formal, melainkan berkembang secara bertahap sejaka usia dini bahkan sejak bayi. Dua dari empat prinsip teori ini adalah perilaku pura-pura dan belajar melalui pengalaman nyata.
Literacy Emergen Teori dikembangkan oleh Marie Clay, peneliti pendidikan asal Selandia Baru. Menurut teori ini terdapat 4 tahapan perkembangan literasi yaitu kesadaran cetak, kesadaran fonologi, pengenalan abjad dan gambar, dan menulis emergen. Kesadaran cetak dilihat dari anak tahu cara memegang buku, membolak balik halaman buku dari depan sampai belakang dan sadar bahwa tulisan yang terdapat dalam lembaran memiliki arti, berikutnya adalah kesadaran fonologi dimana anak-anak dapat membunyikan suara-suara lucu, peka terhadap bunyi bahasa seperti kalimat rima, setelahnya pengenalan abjad dan gambar dengan mengenalkan bentuk huruf dan mulai mengenal logo yang akrab dengan mereka, tahapan literasi berikutnya menulis emergen dimana anak mulai membuat garis, bentuk.
Membacakan buku kepada anak-anak dapat membantu anak melewati tahapan perkembangan literasi dengan menyenangkan. Dibacakan buku orang tua, Ayah dan Ibu. Anak-anak memiliki pengalaman memegang buku cetak, mengenali objek, berkenalan dengan kata baru, memiliki pengetahuan baru. Buku anak didesain untuk menarik bagi anak-anak melalui ilustrasi, warna dan kata-kata berima. Namun sayangnya harga buku anak dengan kualitas baik hari ini setara dengan 1 kg telur atau 2 kg beras. Belanja buku bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah bisa jadi bukan prioritas belanja rumah tangga.
Salah satu cara mengakses buku anak berkualitas adalah dengan meminjam buku di perpustakaan atau TBM terdekat. Sejak tahun 2024 Perpustakaan Nasional memberikan bantuan bacaan anak bermutu kepada 10.000 perpustakaan dan TBM di seluruh Indonesia. Tiap perpustakaan mendapatkan 1000 judul buku anak, bantuan ini ditujukan untuk menstimulus kebiasaan membaca pada anak-anak. Buku yang diberkan memiliki keberagaman jenjang, mulai dari A sampai C, artinya bisa digunaka mulai dari balita hingga kelas 6 SD. Meskipun penjenjangan ini tak selaras dengan jenjang pendidikan tapi merupakan jenjang pemahaman bacaan. Perjenjangan ini membantu orang tua dalam mengenalkan bacaan sesuai kemampuan memahami bacaan anak. Akses terhadap bacaan yang semakin banyak diharapkan dapat menjadi pintu anak-anak mengenal buku dan membangun kebiasaan membaca sedini mungkin. Kemampuan memahami bacaan diharapkan dapat berpengaruh pada kemampuan berpikir kritis di kemudian hari.
Jika buku anak sudah tersedia gratis di perpustakaan dan TBM terdekat, kini waktunya mengajak lebih banyak orang tua memanfaatkan buku-buku anak yang ada disana. Jumlahnya masih jauh dari cukup, terlebih saat ini program ini sudah tak lagi berjalan. Tapi mari berdayakan yang ada, mencipta lebih banyak ruang baca di rumah-rumah melalui buku-buku anak yang dipinjam dari TBM dan perpustakaan. Diantara hangat keluarga dan tawa Ayah Ibu, anak-anak mengenal kata mengkritisi kalimat, mencipta pengetahuan baru.
Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Banten