Literasi Estonia Memesona

Sumber Gambar :

Oleh: Mahbudin*

“If you don’t like to read, you haven’t found the right book.”

(J.K. Rowling, penulis buku serial Harry Potter)

Tahun lalu, penulis memperoleh beasiswa untuk mengikuti Educators Exchange Program yang diselenggarakan oleh Regional English Language Office (RELO) Kedutaan Besar Amerika untuk Indonesia, guna mempelajari Media and Digital Literacy in the English Language Classroom di Georgia State University, Atlanta, Amerika Serikat. Dari Indonesia, penulis berangkat bersama Ibu Fenty Lidya Siregar, dosen dari Universitas Maranatha Bandung. Penulis juga tidak akan pernah lupa pesan Ibu Dian Safitri dari RELO selaku koordinator program kepada kami untuk mengeksplorasi perjalanan akademik ini selama di Amerika. Dan tulisan ini adalah salah satunya.

Program ini diikuti oleh 25 orang guru dan dosen dari 21 negara, salah satunya berasal dari Estonia, sebuah negara kecil di Eropa Utara yang ternyata memiliki capaian mengagumkan dalam bidang literasi dan pendidikan.

Namanya Kai Tammik (kedua dari kanan, berbaju hitam dalam foto), seorang guru Bahasa Inggris di Kose Gymnasium, sebuah sekolah umum yang melayani siswa dari tingkat dasar hingga menengah atas di Harju County, Estonia. Percakapan kami berawal dari rasa ingin tahu tentang kebiasaan makan di negara masing-masing. Penulis terkejut mengetahui bahwa Kai jarang sekali makan nasi, paling banyak hanya sekali dalam sebulan. Sebaliknya, ia juga tak kalah heran ketika penulis bercerita bahwa di Indonesia, penulis biasa makan nasi tiga kali sehari yang sukses membuat dia tergelak.

Dari sanalah kami mulai sering berbincang santai tentang sosial dan budaya di negara kami masing-masing. Kami biasanya mengobrol dengan tiga orang teman lainnya dari Eropa, yaitu Ukraina, Latvia, dan Lithuania. Dari percakapan-percakapan ringan itu, penulis mulai tertarik pada cara orang Estonia memandang pendidikan dan literasi. Ternyata, di balik sikap mereka yang sederhana dan tenang, tersimpan komitmen yang membuat penulis iri terhadap budaya membaca dan belajar mereka.

Rasa ingin tahu membuat penulis mulai mencari berbagai informasi tentang negara Estonia dan program literasi dalam sistem pendidikannya, lalu penulis mengonfirmasikannya langsung kepada Kai. Dari hasil membaca dan percakapan itulah, tulisan ini lahir.

Negara maju dan skor PISA

Negara-negara dengan capaian skor PISA yang tinggi memiliki korelasi positif dengan tingkat kesejahteraan hidup yang baik, dari segi ekonomi maupun sosial. Hasil penelitian terhadap 78 negara pada periode 2012–2018 menunjukkan bahwa kualitas pendidikan yang diukur melalui skor PISA (matematika, sains, dan membaca) berpengaruh positif terhadap inovasi serta pendapatan per kapita (Naveed et al., 2023).

Berdasarkan hasil PISA tahun 2022, Estonia menempati posisi keempat terbaik  dunia setelah Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Sementara itu, menurut data United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2023, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Estonia berada pada kategori Very High dengan skor 0,905.

Angka IPM yang sangat tinggi menunjukkan betapa Estonia telah menata diri menjadi bangsa yang maju dalam ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Dengan pendapatan per kapita mencapai USD 49.670, masyarakatnya hidup dengan standar yang sejahtera dan mapan. Panjangnya harapan dan rata-rata lama sekolah mencerminkan keseriusan mereka menanam investasi pada sumber daya manusia. Sementara itu, usia harapan hidup yang tinggi menjadi menjadi bukti kuatnya kualitas layanan publik di negara ini.

Republik Estonia adalah negara kecil di kawasan Baltik, bagian utara Eropa, yang berbatasan dengan Rusia di sebelah timur dan Laut Baltik di sebelah barat. Dikutip dari Wikipedia, luas wilayah Estonia hanya sekitar 45.335 km², kurang dari separuh luas Provinsi DKI Jakarta, dengan jumlah penduduknya sekitar 1,4 juta jiwa. Lebih dari setengah penduduk Estonia, tepatnya 58%, tidak memeluk agama apa pun. Meskipun kecil dan mayoritas warganya atheis, agnostik, dan sekuler, Estonia termasuk ke dalam kelompok negara maju yang dikenal karena kemajuan teknologi digital, sistem pendidikan berkualitas, dan tingkat literasi masyarakat yang tinggi.

Program Literasi Estonia

Tingginya capaian Indeks Pembangunan Manusia dan skor PISA Estonia sejatinya hanyalah sebuah akibat dari kerja jangka panjang. Yang menarik justru terletak pada penyebabnya, pada fondasi budaya literasi yang telah mereka bangun dengan sungguh-sungguh. Dalam tulisan bagian pertama ini, penulis ingin mengulas tiga budaya literasi Estonia yang layak dijadikan pelajaran berharga bagi kita.

Buku Sebelum Tidur

Membacakan buku kepada anak terbukti menjadi salah satu prediktor terbaik bagi keberhasilan literasi mereka di masa depan. Laporan The European Literacy Policy Network (ELINET, 2016) yang mengutip Tammemäe (2009) yang menyebutkan bahwa dua dari tiga orang tua di Estonia membacakan buku sebelum tidur kepada anak mereka setiap hari.

Kebiasaan sederhana ini membentuk fondasi kuat bagi budaya membaca di Estonia. Anak-anak tumbuh dengan hubungan emosional yang positif terhadap buku dan bahasa. Tradisi membaca bersama keluarga tidak hanya memperkaya kosakata dan imajinasi anak, tetapi juga mempererat ikatan antara orang tua dan anak. Inilah salah satu alasan mengapa literasi di Estonia berkembang bukan karena paksaan sekolah, melainkan karena kebiasaan yang tertanam sejak dini di rumah.

Rumah Kaya Buku

            “If you don’t like to read, you haven’t found the right book.” (jika Anda tidak suka membaca, Anda belum menemukan buku yang tepat). Pernyataan yang diatribusikan kepada penulis fenomenal asal Inggris J.K. Rowling ini sangat tepat untuk menggambarkan budaya bangsa Estonia yang menjungjung tinggi literasi.

Estonia merupakan salah satu negara dengan tingkat literasi berbasis rumah terbaik di dunia. Kebiasaan orang tua membacakan buku kepada anak-anak ini didukung oleh budaya memiliki banyak buku di setiap rumah. Bagi keluarga-keluarga Estonia, buku bukan sekadar benda bacaan, melainkan investasi terbaik untuk masa depan anak-anak mereka. Rak buku yang penuh di ruang keluarga menjadi simbol nilai yang mereka junjung tinggi: ilmu, inovasi, dan cinta belajar.

            Sebuah studi internasional menunjukan bahwa tumbuh di rumah yang banyak buku dapat meningkatkan capaian akademik seseorang secara signifikan (Zou, 2018). Penelitian yang dilakukan oleh the Australian National University dan University of Nevada melibatkan responden dari 31 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa remaja Estonia tumbuh di rumah dengan rata-rata 218 buku, tertinggi di dunia,. Disusul Norwegia (212), Republik Ceko (204), Denmark (192 buku), dan Rusia (154 buku).

            Data penelitian tersebut menunjukan bahwa kehadiran banyak buku membentuk budaya keilmuan di rumah. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan seperti ini akan bertumbuh rasa ingin tahu yang tinggi, cara berpikir sistematis, dan kebiasaan belajar berkelanjutan.

Reading Nest

Masyarakat Estonia percaya bahwa kegemaran membaca tidak bisa tumbuh hanya dengan cara-cara biasa. Diperlukan metode yang kreatif, kolaboratif, menyenangkan dan berkesinambungan untuk menumbuhkan budaya literasi yang kuat sekaligus membangun bangsa yang maju. Salah satu program literasi unggulan Estonia yang lahir dari keyakinan tersebut adalah Reading Nest atau Sarang Membaca atau bisa juga diartikan Pojok Baca, sebuah inisiatif yang telah mendapatkan pengakuan internasional karena keberhasilannya menumbuhkan kecintaan pada membaca sejak usia dini.

Reading Nest adalah sebuah projek nasional yang diinisiasi oleh Asosiasi Membaca Estonia (Estonian Reading Association) berdiri sejak tahun 1992, sebuah organisasi nonpemerintah yang berkomitmen pada pengembangan literasi bangsa. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya membaca melalui pembangunan “sarang membaca”, ruang yang dirancang menjadi tempat membaca yang nyaman dan menarik yang tersebar di berbagai sekolah dan rumah di seluruh Estonia.

Setiap sekolah di Estonia diwajibkan memiliki Reading Nest atau Sarang Membaca, sebuah ruang literasi yang lahir dari kolaborasi antara guru, orang tua, dan siswa. Sarang Membaca tidak sekadar sudut baca, tetapi sebuah ruang kreatif yang dirancang untuk menghadirkan suasana hangat, nyaman, dan penuh daya tarik bagi siapa pun yang memasuki ruang tersebut.

Di dalamnya, siswa dapat membaca, berdiskusi, atau berbagi cerita dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Elemen-elemen desain seperti bantal warna-warni, rak buku tematik, dan pencahayaan lembut membuat kegiatan membaca terasa seperti sebuah petualangan, bukan kewajiban. Melalui Reading Nest, sekolah-sekolah di Estonia menanamkan pesan penting bahwa membaca bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan kebahagiaan bersama.

Koleksi Reading Nest menyediakan beragam jenis bahan bacaan yang dipilih dengan cermat untuk menumbuhkan minat dan kecintaan anak terhadap literasi. Koleksinya mencakup buku fiksi dan nonfiksi, majalah anak, literatur terapan, naskah drama, serta berbagai karya tulis hasil kreasi siswa sendiri. Keberagaman bacaan ini memungkinkan setiap anak menemukan bahan yang sesuai dengan minat, tingkat kemampuan, dan rasa ingin tahunya.

Selain itu, karya buatan siswa, seperti cerita pendek, puisi, atau buku mini --turut dipajang di Reading Nest, memberikan rasa bangga dan kepemilikan terhadap ruang baca mereka. Dengan cara ini, Reading Nest tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang apresiasi dan ekspresi yang menghidupkan semangat literasi di sekolah.

Dari ketiga program literasi Estonia yang dibahas pada bagian pertama ini, kita dapat belajar bahwa budaya membaca tidak terbentuk secara instan. Ia lahir dari perencanaan yang matang, pelaksanaan yang konsisten, serta pembiasaan yang berkelanjutan hingga menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

****Penulis adalah Kepala Perpustakaan MTsN 1 Pandeglang

Referensi:

1. Naveed, A., Zhuparova, A., Ashfaq, M., & Rauf, A. (2023). The effect of average scores in reading, mathematics and science on innovation and income: A quantitative analysis for a group of countries. Heliyon, 9(9), e19213. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e19213

2. OECD (2020), Early Learning and Child Well-being in Estonia, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/15009dbe-en.

3. Zhou, N. (2018, October 11). Novel news: World's biggest bookworms revealed in study. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2018/oct/12/the-more-books-in-a-house-the-brighter-your-childs-future-study-finds


Share this Post