LITERASI UNTUK KEBAHAGIAAN : Perspektif Agama
Sumber Gambar :LITERASI UNTUK KEBAHAGIAAN : Perspektif Agama
Oleh : Irfan M Nasir, S.IP*
Kehidupan yang kita jalani hari ini tentu tidak hanya sekedar menjalani kehidupan, kehadirannya di dunia ini memiliki tujuan. Tujuan hidup yang dijalani manusia satu dengan yang lainnya berbeda, tergantung dari literasinya. Sebagaimana pepatah yang ada bahwa hari esok ditentukan oleh dua hal yaitu, pertama, Buku apa yang dibaca, kedua, Dengan siapa dia bergaul. Kalaupun ada kesamaan pada tujuan hidup, pasti cara menjalaninya berbeda sesuai dengan caranya masing-masing.
Tujuan hidup manusia adalah hal mendasar. Setiap orang harus memiliki tujuan hidup, sekecil apapun itu. Meski begitu, tidak jarang banyak orang yang kebingungan mencari tujuan hidup dan pada akhirnya menjalani hidup hanya ala kadarnya saja. Alhasil, mereka tidak menemukan kebahagiannya sendiri.
Tulisan kali ini ingin mencoba menjelaskan beberapa point penting terkait dengan literasi untuk kebahagiaan diantaranya: Pertama, apakah literasi itu? Kedua Apakah kebahagiaan itu? Ketiga, literasi seperti apakah yang bisa menghadirkan kebahagiaan? Keempat, bagaimana strategi literasi untuk mencapai kebahagiaan?
Belajar dari Manusia Pertama
Nabi Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan, setelah itu diciptakan Hawa untuk menjadi pasangan. Mereka berdua tinggal di surga dalam beberapa waktu. Gambaran kehidupan di surga sudah memenuhi semua ekspektasi manusia tentang semua hal, dari mulai ketercukupan baik lahir maupun batin, kenikmatan dari segi harta, pasangan, perhiasan dan lain sebagainya.
Ada pertanyaan mendasar mengapa nabi Adam dan istrinya dikeluarkan dari surga? Bukan dari sisi pekerjaannya, tapi dari sisi kejiwaannya. Apa yang menjadi masalah pada diri Nabi Adam sehingga dikeluarkan dari surga? Bukankah kehidupan surga itu sudah sangat sempurna? Bukankah kehidupan di surga itu adalah kehidupan yang diinginkan oleh semua orang? Tapi mengapa masih saja tergoda?. Pembahasan kali ini kita tidak membahas tentang takdir. Tapi bicara tentang hukum sebab akibat, yang nantinya ini akan jadi modal besar kita semua untuk bisa belajar agar apa yang menjadi keinginan kita dalam hidup bisa tercapai.
Sudah banyak orang yang mengetahui kenapa nabi Adam dikeluarkan dari surga, tapi itu dari sisi pekerjaannya yaitu memakan atau mendekati buah yang diharamkan. Tapi apa yang mengakibatkan mereka berdua (Adam dan Hawa) sampai dikeluarkan dari surga? Apakah karena takdir? Atau ada sebab dari akibat yang ditimbulkan. Ustaz Lutfi Abdul Jabbar dalam kajiannya menyebut, Alquran banyak menunjukkan keterkaitan sebab dan akibat1. Dari penjelasan ini, kita bisa mencari apa sebenarnya yang membuat nabi Adam dikeluarkan dari surga, padahal disana semuanya ada, tidak kurang sedikitpun.
Sebab nabi Adam dikeluarkan dari surga bisa dilihat pada Al-Qur’an Surat Thaha : 115 “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” Dari ayat ini kita bisa faham kenapa nabi Adam dikeluarkan dari surga, jawabannya adalah 1. Lupa pesan, 2 ditemukan padanya tidak punya keinginan kuat (tekad yang kuat).
Kita sebagai anak cucu keturunan nabi Adam yang mempunyai sifat kemanusiaan yang sama, maka ayat ini menjadi pengingat bagi siapapun manusia yang menginginkan kebahagiaan jangan sering-sering lupa pesan dan harus punya keinginan yang kuat untuk menggapainya. Kalau dari keyakinan saja sudah salah bagaimana kita akan menjalani proses kehidupan ini. Untuk memulai shalat saja mesti diawali oleh Keyakinan (keimanan) (lih. QS. Al-Baqarah: 3), agar setelah praktek shalat, praktek kehidupannya kesehariannya sesuai dengan bacaan shalat.
Seputar Literasi
Literasi adalah kedalaman pengetahuan, parameternya adalah kemampuan seseorang dalam mengumpulkan sumber-sumber informasi, memahami yang tersirat dari yang tersurat, kemampuan mengeluarkan ide, teori kreativitas, dan inovasi baru, serta mampu menciptakan barang atau jasa yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.2
Literasi juga merupakan transfer informasi untuk memberikan pemahaman untuk orang yang memang membutuhkan pemahaman tentang hal-hal yang sedang dipelajari.3 Bagaimana caranya supaya literasi bisa mendatangkan kebahagiaan? Berikut beberapa Jawabannya:
1. Literasi yang selalu meningkatkan rasa syukur dan bisa mengurangi rasa mengeluh (Pelajari. QS. Ibrahim: 7)
2. Literasi yang bisa menghadirkan keberanian untuk bisa mencoba dan mengurangi rasa takut gagal, atau dicemooh (Pelajari QS. Al-Baqarah: 216, 286, At-Thalaq ayat 2-3)
3. Literasi yang bisa meningkatkan rasa asah dan asih, dan mengurangi buruk sangka (Pelajari QS Al-Balad: 17, QS. Alhujurat: 12)
4. Literasi yang bisa mengasah kemampuan untuk bisa berbagi, dan bisa mengurangi rasa benci. (Pelajari QS. Ali Imran: 134)
5. Literasi yang bisa memperbanyak karya, sedikit banyak bicara (Pelajari QS.Yasin: 12, AL Mulk: 2)
Seputar Kebahagiaan
Kebahagiaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu kesenangan dan ketentraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin.4 Mohamad Surya menjelaskan bahwa kebahagiaan itu pada hakikatnya merupakan suatu wujud penghayatan yang dialami manusia dalam menghadapi berbagai hal dalam perjalanan hidupnya.5
Berbicara tentang sesuatu yang dicari manusia, yang pada zaman ini banyak dari manusia mengeluh tidak memilikinya, sesuatu yang semua orang menginginkannya, anak kecil, orang dewasa, laki-laki dan wanita. Sesuatu itu adalah KEBAHAGIAAN, yang banyak manusia di zaman ini mereka berkata “kami tidak merasakan kebahagiaan”. Banyak jalan yang sudah ditempuh untuk mencapai kebahagiaan itu. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan itu ada pada banyaknya harta, banyaknya anak, seringnya jalan-jalan. Sebagian lagi ada yang sudah berputus asa untuk mendapatkan kebahagiaan itu, mereka berkata bahwa kebahagiaan itu hanyalah ilusi indah yang tidak ada realitanya, dan orang-orang bingung ini tidak mengetahui kalau bahagia itu ada. Karena kebahagiaan itu ada pada Hati yang bertakwa dan Amal Sholeh yang murni.6
Indikator Kebahagiaan
Ada banyak indikator tentang kebahagiaan. Berdasarkan penelusuran dalil dan ayat terkait kebahagiaan (alsa’adah), menurut Nanun Sofia beliau menemukan 17 indikator kebahagiaan menurut Alquran dan Hadis, yaitu iman dan takwa (50 ayat), berpegang teguh pada agama (tafaqquh fi al-dien) (2 ayat), berbuat baik (amal saleh) (23 ayat), sabar (al-shabr) (7 ayat), syukur (al-shabr) (7 ayat), penyucian jiwa (tazkiyatun al-nafs) (2 ayat), menyeru pada kebaikan dan melarang kemungkaran/perbuatan buruk (amar ma’ruf nahi munkar) (3 ayat), berjuang di jalan Allah (al-jihad fi sabilillah) (5 ayat), mencari dan mendapat rida Allah (10 ayat), mengingat Allah (al-dzikr) (3 ayat), mendapat karunia/rahmat Allah (28 ayat), memperbaiki diri (al-ishlah) (7 ayat), memberi teladan (uswah hasanah) (2 ayat), mencari perlindungan Allah (2 ayat), berserah diri (3 ayat), menolak kejahatan dengan kebaikan (3 ayat) serta menjaga lisan dan perbuatan (5 ayat).7
Strategi Mencapai Kebahagiaan
Banyak ayat Al-Qur’an tentang cara mencapai kebahagiaan, tetapi dalam tulisan kali ini penulis hanya membatasi pada bahasan secara singkat pada Surat Al-Baqarah ayat 1-5. Dalam surat Al-Baqarah ini ada beberapa pemahaman yang memberikan pengetahuan kepada kita semua strategi atau langkah-langkah supaya kita beruntung sebagaimana yang dibicarakan oleh Ust. Rendy Saputra dalam Qur’anic Manajemen diantaranya:8
1. Ayat pertama menunjukkan KEHAMBAHAAN. Karena ayat pertama adalah ayat mutasyaabihat artinya hanya Allah yang Tahu artinya. Dari sini kita belajar bahwa kita hanya hamba, maka sebagai hamba lakukan saja apa yang menjadi perintah dari Tuhan yang menciptakannya
2. Ayat Kedua menujukkan KEPASTIAN. Artinya bahwa kitab ini (al-Qur’an) merupakan buku bacaan atau kitab yang pasti untuk dijadikan rujukan untuk mencapai kebahagiaan dan keberuntungan
3. Ayat Ketiga berbicara tentang KESELARASAN atau langkah-langkah untuk mencapai kebahagiaan. Langkah-langkahnya harus beraturan. Yang pertama Percaya pada yang gaib, kedua melakukan shalat, ketiga memberikan sebagian rezeki yang sudah diberikan Allah SWT.
4. Ayat Keempat membahas tentang KEBERHARAPAN. Artinya perlu adanya keyakinan di diri bahwa setiap yang dilakukan akan diperoleh hasil di kemudian hari.
5. Ayat ke lima bicara KEBERUNTUNGAN. Keberuntungan itu kalau kita berjalan ada yang menunjukkan jalan sehingga jalannya jadi mudah, dan itulah sebuah keuntungan
*Pustakawan Muda UIN SMH Banten
Catatan kaki
1 Zahratul Oktaviani, Hubungan sebab akibat dalam islam, Republika Online, 6 Okctober 2019
2 Syarif Bando, Berita Satu, 19 Februari 2021
3 Andalan Sinema, Apa itu Literasi, 2 Feb 2019
4 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: Gramedia, 2008), hal. 114
5 Mohamad Surya, Bina Keluarga, (Semarang: Aneka Ilmu, tt ), hal. 346
6 Syaih Sulaiman Ar Ruhaily, Rupayanya disilah letak kebahagiaan, Youtube, 26 Maret 2021
7 Nanum Sofia dan Endah puspita Sari, Indikator Kebahagiaan (Al-Sa’adah) dalam Perspektif Alquran dan Hadis, PSIKOLOGIKA: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Volume 23 Nomor 2, Juli 2018: 91-108 DOI:10.20885/psikologika.vol23.iss2.art2, hlm. 91
8 Ust. Rendy Saputra, Spirit Al-Quran untuk Langkah Gerak Bisnis & Karir, Youtube, Evapora, 1 September 2021