Membangun Budaya Literasi Anak Usia Dini

Sumber Gambar :

Membangun Budaya Literasi Anak Usia Dini

Oleh Gito Waluyo*

 

Apa itu lietarsi, literasi yang dalam bahasa Inggrisnya literacy berasal dari bahasa Latin littera yang artinya huruf,  yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan konvensi-konvensi yang menyertainya. Kendatipun demikian, literasi utamanya berhubungan dengan bahasa dan bagaimana bahasa itu digunakan. Lebih lanjut pengertian literasi merupakan kemampuan yang terkait dengan kemampuan membaca, menulis, menyimak dan berbicara.

Seperti yang disampaikan oleh Whitehead, ia mengemukakan bahwa literasi anak usia dini merupakan kemampuan yang berkaitan dengan membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Dalam pendapat yang lain Cristianti, secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis, atau melek aksara. Dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang sangat luas. Literasi dapat berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Bahkan pengamat pendidikan Subiyantoro, mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Lebih jauh, seorang baru dapat dikatakan literat jika ia sudah dapat memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.

Dalam sebuah artikel yang ditulis Justice, L.M, mengatakan bahwa periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Pada periode tersebut anak-anak usia dini memperoleh pengetahuan tentang membaca dan menulis tidak melalui pengajaran, tetapi melalui perilaku yang sederhana dengan mengamati dan berpartisipasi pada aktivitas yang berkaitan dengan literasi.

Sedangkan Nutbrown dan Claugh, mengemukakan bahwa pengenalan literasi bagi anak anak usia dini (AUD) mulai dikembangakan  di Inggris sejak tahun 1980-an karena para guru dan peneliti melihat jika pentingnya mengenalkan atau membelajarkan literasi membaca dan menulis bagi anak usia dini (AUD).

Pengenalan budaya literasi anak pada dasarnya ia akan menginternalisasikan sistem kaidah yang berhubungan dengan bunyi dan makna secara khusus dan anak memperoleh kemampuan literasi dengan cara yang sangat menakjubkan.

Pada artikel lain yang ditulis Morrison, mengemukakan bahwa, penguasaan bahasa adalah pembawaan lahir pada semua anak usia dini tanpa memandang budaya dan agamnya. Artinya bahwa sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun anak usia dini sudah mempunyai kemampuan dalam literasi, meskipun tidak belajar secara khusus tetapi anak belajar bahasa melalui interaksi dengan lingkungan dimana anak tinggal.

Dalam pandangan Whitehead,  anak usia dini memiliki pengalaman literasi sebelum mereka sekolah dan apa yang mereka ketahui tentang keaksaraan sangat penting bagi perkembangan mereka. Anak belajar aksaraan pertama kali didapat dari rumah mereka masing-masing melalui interaksi dengan orang tua dan dengan cara yang menyenangkan tanpa adanya intimidasi.

Gambaran lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah yang kondusif menstimulasi kemampuan literasi anak mengenai kemampuan mambaca dan menulis. Kemampuan literasi awal anak adalah suatu proses kemampuan yang dimulai pada saat lahir dan terus berkembangn selama masa hidup. Anak-anak mempelajari literasi dengan cara yang sangat menakjubkan.

Morrison mengemukakan bahwa, penguasaan bahasa adalah pembawaan lahir pada semua anak tanpa memandang budaya dan agamnya.

Seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pendidikan adalah untuk mencerdasakan bangsa. Hal tersebut juga diamanatkan dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Khususnya pendidikan anak usia dini (PAUD) ialah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembagan anak secara menyeluruh untuk mengembangkan ragam potensi yang dimiliki anak.

Hal ini pentingnya membangun budaya awal kemampuan literasi anak usia dini akan memberikan informasi terkait kesulitan membaca dan menulis. Pada sisi lain diungkapkan, bahwa pengalaman anak berinteraksi dengan literasi sejak dini akan menyiapkan anak secara matang untuk mengikuti pembelajaran di sekolah formal.

Pengenalan literasi anak usia dini adalah suatu proses aktivitas yang memperkenalkan kemampuan membaca, menulis pada anak usia dini; tanpa adanya unsur intimidasi bagi anak untuk mengetahui secara sempurna seperti orang dewasa, tetapi membelajarkan lietrasi tersebut sesuai dengan usia dini atau fase-fase perkembangan anak.

Oleh karena itu membangun budaya literasi merupakan salah satu tugas lembaga pendidikan usia dini dan lembaga terkait yang harus diprogramkan dan dilaksanakan sebagai upaya optimalisasi perkembangan bahasa anak. Karena literasi merupakan salah satu dasar kemampuan yang dibawa anak sejak lahir dan harus dikembangkan. Pengembangan budaya literasi anak sejak dini mempunyai dampak yang besar dalam kehidupan selanjutnya, mendorong anak mampu bersaing secara global.

Orang tua perlu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mendapatkan pendidikan di sekolah yaitu melalui pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai dasar untuk pendidikan selanjutnya. Mengingat PAUD merupakan fondasi dari pendidikan nasional yang diselengarakan secara sistematis dan saling mempengaruhi terhadap pendidikan selanjutnya, dengan demikian anak-anak mempunyai kewajiban dan hak untuk mendapatkan dan merasakan suasana pendidikan yang ada di PAUD.

Anak usia dini sering disebut sebagai usia kritis atau usia sensitif, karena banyak potensi- potensi anak yang sedang berkembang dan jika tidak distimulasi dengan baik akan menimbulkan masalah yang cukup fatal dalam kehidupan anak selanjutnya. Anak usia dini  juga disebut sebagai usia emas karena banyak potensi yang dapat dikembangan dan masih bergantung dengan orang tua dalam mengembangkannya.

Hasil penelitian mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak pada usia 0-4 tahun sudah mencapai 50 %, pada usia 8 tahun sudah berkembang 80% dan pada usia 18 tahun perkembangan intelektual sudah 100 %. Data tersebut mengindikasikan bahwa tahun-tahun pertama anak usia dini merupakan periode yang cukup baik dan strategis dalam mengembangkan segala potensi yang ada dalam dirinya sehingga dengan demikian periode tersebut sering disebut sebagai usia emas.

Anak Usia Dini (AUD) dapat dipandang sebagai individu yang baru mengenal dunia. Anak perlu dibimbing agar mampu memahami berbagai hal tentang dunia dan isinya. Ia juga perlu dibimbing agar memahami berbagai fenomena alam dan dapat melakukan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di masyarakat.

Namun harus dingat juga, segala usaha yang dilakukan oleh orang tua harus disesuaikan dengan perkembangan anak sesuai kodratnya, sebab pendidikan pada hakekatnya adalah suatu usaha pemberian pertolongan agar anak dapat menolong dirinya sendiri dan sejak dini mampu mengembangkan kemampuan literasi pada tahap awal. Dengan mendeteksi awal kemampuan literasi anak usia dini akan memberikan informasi terkait kesulitan membaca dan menulis.

Dalam penelitian yang dilakukan Reese pada tahun 2000 ditemukan bahwa pengalaman anak berinteraksi dengan literasi sejak dini akan menyiapkan anak secara matang untuk mengikuti pembelajaran di sekolah formal. Dalam penelitian lanjutan tahun 2014 Reese mengemukakan tindakan intervensi awal perkembangan literasi terhadap kemampuan bahasa anak terutama berkaitan dengan kemampuan penamaan gambar, bersajak atau puisi dan kosa kata. Intervensi awal yang dilakukan oleh guru maupun orang tua dengan baik akan membantu anak dalam mengembangkan kemampuan literasi dan bahkan sebagai media untuk mendiagnosis kesulitan anak terkait kemampuan literasinya.

Peneliti lain Kern, memberikan gambaran bahwa kemampuan membaca yang baik akan meningkatkan konsep diri anak, yang pada akhirnya akan memotivasi mereka untuk belajar. Selanjutnya, ditemukan kebiasaan membaca yang baik dan ada kontinyuitas keterlibatan dengan aktivitas membaca akan menentukan keberhasilan anak mendapatkan pengetahuan.

Bahwa anak usia dini perlu belajar membangun budaya literasi atau bahasa secara alamiah. Dengan demikian periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Pada periode tersebut anak-anak memperoleh pengetahuan tentang membaca dan menulis tidak melalui pengajaran, tetapi melalui perilaku yang sederhana dengan mengamati dan berpartisipasi pada aktivitas yang berkaitan dengan literasi.

Dengan mengamati orang dewasa yang melakukan aktivitas literasi dan berpartisipasi dengan aktivitas tersebut maka anak akan memperoleh kemampuan yang merupakan prasyarat penting untuk mengembangkan membaca secara konvensional.

Departemen Pendidikan Nasional RI, pada tahun 2004 menegaskan bahwa membaca nyaring memiliki pengaruh positif lain, seperti mempererat hubungan kasihsayang orang tua dan anak, mengenalkan anak pada bahasa lisan dan tulis, meningkatkan kemampuan berbahasa anak, membuat anak menikmati dunia belajar sebagai hiburan, dan sekaligus memperluas wawasan dan pengetahuan mereka.

Anak usia dini memiliki pengalaman literasi sebelum mereka sekolah dan apa yang mereka ketahui tentang keaksaraan sangat penting bagi perkembangan mereka. Bahwa pada dasarnya anak sejak lahir sudah mulai belajar literasi melalui membaca cerita oleh orang tuanya, bercakap-cakap walaupun dalam kandungan ia tidak memberikan respon.

Ketika anak memasuki dunia pendidikan (PAUD) sekitar usia 2-3 tahun mereka sudah sedikit banyak mempunyai perbendaharaan kata lebih dari 200 kata. Dalam hal membaca anak-anak yang belum bersekolah mulai mengerti bahasa tulisan. Mulai dari melihat huruf, anak-anak mulai mengira-ngira bagaimana bunyinya.

Mencermati uraian dan pendapat para ahli di atas dapat dikatakan bahwa literasi anak usia dini adalah kemampuan yang dimiliki oleh anak terkait dengan kemampuan membaca dan menulis. Pengenalan literasi anak usia dini adalah suatu proses aktivitas yang memperkenalkan kemampuan membaca, menulis pada anak usia dini. Tanpa adanya unsur paksaan bagi anak untuk mengetahui secara sempurna seperti orang dewasa, tetapi membelajarkan literasi sesuai dengan usia atau fase-fase perkembangannya. Pengenalan literasi awal pada anak usia dini dilakukan dengan cara yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa jenuh, untuk membelajarkan sesuatu hal yang bermakna bagi anak.

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia dari semua makhluk hidup yang ada di dunia ini, karena pada dasarnya hanya manusia dapat membaca. Membaca merupakan sebagai proses membunyikan lambang tertulis.

Mambaca juga dapat dikatakan sebagai memberikan reaksi karena dalam membaca seseorang terlebih dahulu melaksanankan pengematan terhadap huruf sebagai representasi bunyi, ujaran ataupun tanda bunyi lainnya. Riset lebih lanjut mengatakan bahwa anak yang terbiasa membaca, atau dibacakan buku sejak kecil, cenderung memiliki kemampuan matematika lebih baik.

Selain itu membaca juga merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar disarankan untuk membaca. Anak-anak mulai dapat membaca satu kata ketika ia berusai 1 tahun, membaca kalaimat ketika berusia 2 tahun, dan sebuah buku selama 3 tahun ke atas dan mereka sudah mulai menyukai buku.

Pada anak usia 2 sampai 5 tahun setiap anak memiliki perkembangan yang cukup rawan. Tiga tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan sebagai periode yang paling sensitif yang akan berpengaruh di kehidupan anak dimasa yang akan datang.

Mengenalkan dan membelajarkan membaca bagi anak usia dini dapat dilakukan dengan melaui aktivitas bermain. Untuk menstimulai perkembangan membaca anak, orang tua dapat membuat kartu huruf dan dapat dilanjutkan dengan suku kata dan kata. Belajar membaca pada anak usia dini akan membawa dampak positif bagi perkembangan mereka. Pengenalan kartu huruf, kartu kata sejak usia dini menjadikan otak mereka lebih terasah, karena pada usia mereka otak akan lebih mudah untuk menyerapkan sesuatu.

Hasil riset menjelaskan, bahwa membaca nyaring memiliki pengaruh positif lain, seperti mempererat hubungan kasih-sayang orang tua dan anak, mengenalkan anak pada bahasa lisan dan tulis, meningkatkan kemampuan berbahasa anak, membuat anak menikmati dunia belajar sebagai hiburan, dan sekaligus memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Selain itu sarana yang terbaik untuk memprediksikan kecakapan membaca anak usia dini adalah pengukuran melalui kemampuan anak dalam pengetahuan membaca dan menulis di sekolah.

Tidak dapat dipungkiri saat ini banyak ahli PAUD yang memandang pentingnya pengenalan literasi (membaca dan menulis) pada anak usia dini. Dalam penelitian juga diungkapkan bahwa kemampuan litreasi dapat diperkenalkan atau diajarkan kepada anak usia dini sejak anak berada dalam kandungan.

Anak usia 0-1 tahun, sejak dalam kandungan bisa distimulasi atau diperkenalkan dengan berbagai aktivitas yang mendorong anak untuk mengembangkan kemampuan literasi.

Anak usia 2 - 3 tahun, pada dasarnya sangat gemar dengan buku. Jika stimulasi berhasil anak-anak akan mempunyai kecenderungan untuk menyukai buku. Beberapa penelitian menunjukan bahwa anak yang sejak dini akrab dengan dunia buku kelak dimasa dewasa ia akan mempunyai minat baca yang tinggi. Umumnya pada masa ini anak-anak mulai membaca, gemar memberikan nama pada objek-objek yang ada dalam buku tersebut. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kosa kata atau tanda yang dikenali, mulailah memperkenalkan anak untuk membaca tetapi bukan untuk menghafal.

Anak usia 3 - 6 tahun, pada tahap kesenangan anak terhadap buku cerita mulai meningkat tajam. Walaupun demikian pada tahap ini anak masih menyukai buku-buku cerita yang masih banyak ilustrasi gambar-gambar, dan warnah-warna cerah. Dalam penelitian diungkapkan bahwa periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan usia enam tahun. Dengan demikian pemberian literasi yang paling bagik bagi anak pada tahap ini adalah membacakan cerita, kisah, atau dongeng.

Anak pada masa usia emas akan sangat baik untuk diajarkan dan terus dipupuk dalam dunia literasi karena pesatnya perkembangan otak mereka. Oleh sebab itu dibutuhkan peran orangtua untuk selalu membimbing tanpa memaksa agar kelak mereka bisa menjadi generasi yang cerdas.

*Jurnalis dan konten creator


Share this Post