Mendapatkan sparks (lagi) sebagai pustakawan

Sumber Gambar : DPK Provinsi Banten

Oleh : Chairunnisa

Menjalani profesi pustakawan meski dinikmati kadang tetap kehilangan sparks, hingga ada masa, “mungkin ini waktunya switch karir”, menjalani hidup sekedar bangun, ke kantor lalu pulang lagi. Sesekali hampa menikmati waktu untuk sekedar hidup saja tak apa, mungkn memang butuh itu. Tapi seperti kata Tulus, ada beberapa ide yang bisa dicoba untuk mendapatkan  sparks lag. Tulus bilang “mungkin kita perlu jalan ke alam, mencoba hal baru yang menantang, dan keluar dari benteng”

Apakah itu?

Pustakawan tampaknya bisa melakukan hal yang sama, mencoba pergi ke alam, grounding kalo kata gen z, kembali ke pengguna perpustakaan, siapa sebenarnya pengguna perpustakaan kita, apa yang sebenarnya mereka butuhkan dari perpustakaan? Koleksinya? Ruangannya? Atau sekedar internetnya? Atau justru public space to meet others, berkumpul dengan kelompoknya. Kadang pustakawan terlalu asik dengan apa yang dia kelola hingga lupa untuk siapa itu semua.

Pernahkah kita mengevaluasi sistem yang kita terapkan? Teknologi yang kita gunakan? Apakah sesuai dengan target? Apakah tepat guna? Atau ternyata ini hanya ajang unjuk diri.

Apakah mereka membutuhkan semua yang kita lakukan sedemikian hingga itu, canggih dengan segala teknologi tapi tidak digunakan oleh siapa pun. Pustakawan mudah silau dengan teknologi yang mudah baginya tapi tidak ramah bagi masyarakatnya. Memahami kondisi masyarakat melahirkan cara baru perpustakaan menerabas keterbatasan. Salah satu hasil grounding salah satu rekan pustakawan adalah Layanan Pinjam Pakai Koleksi, diinisiasi menjawab keterbatasan keragaman koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah. Perpustakaan Provinsi menyediakan buku yang dapat dipinjam  oleh perpustakaan sekolah, perpustakaan sekolah dibolehkan memilih sendiri buku yang mereka butuhka, mereka dapat meminjam 100 eksemplar buku dengan kurun waktu minimal 3 bulan setelah itu mereka dpat mengembalikan dan meminjam buku yang lain.

Hal kedua yang disarankan Tulus adalah  mencoba hal baru yang menantang. Pustakawan terlalu asik dengan hal yang itu-itu saja. “tampaknya ilmu ini memang tidak beranjak kemana-mana” kata saya dalam hati pada satu masa.  “ apalagi sih yang bisa berkembang dari mengelola koleksi, standar yang ini-ini saja”. Nyatanya, ilmunya berkembang dulu saya kenal AACR sebagai kitab pengolahan koleksi hari ini berubah menjadi RDA, Resources Description Access.  Awal berkenalan dengan RDA rasanya aneh karena RDA meminta pustakawan memasukkan seluruh pihak yang terlibat dalam satu karya. RDA menjawab tantangan pengolahan koleksi perpustakaan yang makin beragam. Koleksi yang dikelola secara baik dapat memudahkan pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.

Jika semua aktifitas terasa hampa, mungkin ini waktunya belajar hal yang benar-benar baru. 

Media Sosial Spesialis bisa menjadi hal baru yang dipelajari oleh pustakawan, mempelajari engagement dengan netizen, melihat seberapa banyak informasi yang dihidangkan dalam akun perpustakaan disukai oleh masyarakat. Jenis konten seperti apa yang akan lebih sering muncul dalam explore media sosial. Hal lain yang bisa dipelajari oleh pustakawan dan masih beririsan dengan kepustakawanan, membacakan nyaring dan dongeng. Selain itu, tentu masih banyak hal lain yang bisa dicoba.

Hal ketiga, keluar dari benteng.

Sparks yang hilang mungkin karena kurang warna, memasukkan warna lain dari luar tak mengapa. Bergabung dengan komunitas, atau mungkin membuat komunitas ? Mencoba sesuatu yang baru ternyata bisa membuka sudut pandang baru kita tentang profesi ini. Berjejaring baik dengan pofesi lain, mungkin.

The last but not least, menjadi pustakawan di negara yang jumlah pustakawannya tak sebanding dengan perpustakaan ini memang penuh tantangan.

Jadi, ayo jalani profesi ini dengan sparks (lagi), agar hambatan jadi tantangan.

Lets falling in love again.

*Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Banten


Share this Post