Menghidupkan Kata Puisi

Sumber Gambar :

Menghidupkan Kata Puisi

Oleh: Rully Ferdiansyah

Sepanjang siang itu, 8 Oktober 2026, di Gedung Negara Provinsi Banten, saya mengikuti diskusi serius mengenai puisi yang diadakan Dinas Perpustakaan Provinsi Banten pada kegiatan Festival Literasi Banten 2026 dalam rangka menumbuhkan kecintaan masyarakat pada literasi. Narasumber utama untuk pembahasan puisi ini melibatkan penyair muda yang sudah melanglang buana di dunia perpuisian, Peri Sandi Huizche (39 tahun), yang kerap diundang dalam even puisi tingkat nasional maupun  internasional.

Materi puisi yang dibawakan Peri siang itu, ternyata membawa saya kepada sesuatu yang baru dan berharga. Yaitu, bagaimana membuat “puisi menjadi bernyawa”, dengan “menghidupkan kata” melalui suara dan ekspresi.

“Saya sering mengikuti lomba puisi. Saya memperoleh banyak insight, dari lomba puisi dengan aturan-ketentuan dan selera masing-masing juri. Dan yang paling menentukan dalam memberikan performa terbaik, adalah saat kau terhubung dengan audiens,” cerita Peri sambil tertawa lepas. “Sejak itu kemampuan ilmu puisi saya terus meningkat…”

Yang ditekuninya memang pada akhirnya membuat lingkup jejaringnya menjadi meluas hingga kemudian ia kerap diminta tampil di lembaga BI (Bank Indonesia), sampai kementrian. Peri menyebut tekhnik pembacaan puisinya punya “dasar konseptual”, yang membuatnya memiliki ciri khas. Sebagai salah seorang penyair terkemuka dewasa ini, dengan sendirinya, Peri menyajikan pengamatan yang tajam, dan tinjauan yang mendalam, atas apa yang telah dipahaminya, mengenai pembacaan puisi.

Mendramatisir Puisi

Sangat menarik dilihat, bagaimana ia menerangkan perbedaan pembacaan puisi antara di Indonesia dengan di negara lain. Seperti contoh di Amerika Serikat yang memahami istilah “Poetry Reading” sebagai pembacaan biasa saja, macam pembacaan buku pelajaran. Ada juga istilah “Slank Poetry”, yang bersumber dari Afrika dan terdengar seperti orang membawakan lagu rap, kalau di Indonesia, puisi demikian disebut “puisi mantra”.

Sayangnya, kesemua tekhnik itu tidak demikian popular di Indonesia. Pembacaan puisi yang menanamkan keyakinan akan semangat, merupakan jenis pembacaan yang diminati di Indonesia. Tentu saja gaya demikian selalu menjadi penilaian utama dalam perlombaan puisi, di mana yang dipilih menjadi pemenang pasti yang cenderung dramatik.

Hal ini merujuk pada peristiwa perang kemerdekaan, saat Indonesia terancam oleh agresi militer dari Belanda, ketika puisi kerap dijadikan alat untuk mengobarkan semangat membela tanah air. Puisi karya Chairil Anwar, adalah contoh puisi tersebut. Peri menyebut, bahwa dia pernah melihat lukisan Afandi, yang mengutip teks puisi Chairil Anwar, berbunyi, “Bung, ayo Bung!”.

Puisi yang memiliki spirit pembebasan akan selalu menjadi favorit. Berbeda halnya puisi liris, seperti puisi berjudul “Hikayat Pulau Kelapa, atau “Sabda Alam”, jarang ada yang membawakan di dalam perlombaan. Dan memahami Juknis (petunjuk teknis) perlombaan merupakan syarat mutlak memenangkan lomba baca puisi. Apalagi saat lomba tersebut diadakan secara online. Pengaturan vokal mesti diaplikasikan secara maksimal. Agar tak ada suara berdengung atau suara bising dari kendaraan lewat ketika pembacaan dimulai.

Elemen penilaian, yang membuat penampilan pembacaan puisi dianggap layak memang dalam perlombaan, meliputi beberapa faktor. Beberapa di antaranya : penghayatan dengan nilai 35 % di sisi para juri, vokal dengan nilai 20 %, dan lainnya. Semua kembali pada modal si pembacanya dalam memberikan yang terbaik. Sehingga ketika diintegrasikan dari kesemua poin penilaian, memiliki “bobot yang berkualitas”!

Permainan ekspresi dalam pembacaan puisi misalnya. Kalau punya sorot mata yang tajam, sebaiknya manfaatkan itu sebaik mungkin, dengan bermain mata di depan sorot kamera, atau di hadapan audiens. Oleh karena itu, sebelum membaca puisi, mesti memahami terlebih dahulu tafsir puisinya seperti apa. Mendudukkannya dahulu, baik tafsir secara konotatif atau denotatif-nya. Apa yang diungkapkannya, mencakup puisi berjudul “Jembatan” karya Sutardji Chalzoum Bahri, yang menurutnya puisi dengan gaya ironi, sedangkan peserta lomba yang akan membawakannya, mesti bisa mendramisir puisi itu dengan gaya ironi tentunya

Dalam puisi, semuanya kembali ke makna, dan kemampuan mendesain penampilan baca puisi inilah menjadi penting. Kalau dilihat begini, memang patut para juri sudah bisa mengetahui siapa yang juara, sebelum nama pemenang diumumkan, berdasarkan pengamatan mereka. Penampilan yang unik dan berbeda, menjadi suatu keutamaan; agar bisa terbaca oleh para juri!

Ia lalu menjadi bersemangat dengan kemajuan perpuisian di Banten, yang sudah berhasil mengirimkan perwakilannya di lomba baca puisi tingkat nasional, untuk anak sekolah tingkat SMU. Namun, inti dari masalah yang dirisaukan Peri adalah masih awamnya para guru pembimbing di sekolah, dalam mendampingi anak muridnya, untuk merancang penampilan yang terbaik di depan para juri.

Baginya, kunci keberhasilan adalah dalam bentuk ketekunan mempelajari arsip pemenang lomba sepanjang 4-5 tahun terakhir. Bahwa mempelajari riwayat para juri pun, kata Peri, tidak ketinggalan penting untuk dicermati. Hal ini penting dilakukan, agar bisa mengetahui standar performa terbaik, dari selera masing-masing juri. Tidak perlu banyak gerakan dalam membawakan puisi di tengah kompetisi. Bagi juri, terlalu banyak gerak dianggap sebagai virus yang merusak pemaknaan puisi, sehingga jiwa dalam puisi tidak tersampaikan. Gerakan-gerakan, dalam penampilan, seharusnya diminimalkan. Penghayatan serta permainan mata yang intens untuk selalu terhubung dengan audiens, mesti selalu dijadikan keutamaan.

Begitulah, kira-kira, bayangan tentang cara menghidupkan kata dalam puisi memberinya ruh. Tidak heranlah jika kemudian Peri meminta salah seorang siswi asal Pandeglang, yang menjadi peserta lomba FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional), untuk menampilkan kemampuannya dalam membaca puisi di atas panggung.

Sang siswi dengan penuh penjiwaan, menatap galak pada para audiens, namun tak mencoba untuk membuat musuh, sementara puisi yang dibawakannya berjudul “jembatan”. Upaya memahami puisi karya Sutardji berhasil ditafsirkan dengan baik oleh pementasan siswi itu. Dan semua uraian Peri termanifestasikan oleh pembacaan puisi sang siswi.

Distribusi Puisi

Dalam upaya mengisi kebudayaan literasi Indonesia baru, terutama untuk puisi, keberadaan acara pagelaran lomba baca puisi seperti FLS2N, merupakan hal yang demikian penting, demi regenerasi penyair muda sedari bangku sekolah. Itulah sebabnya mengapa Peri berpendapat, bahwa pemberian apresiasi yang setinggi-tingginya kepada penyair berprestasi, yang telah mengharumkan nama daerah di kancah nasional maupun internasional, menjadi keharusan. Tentu mengasyikkan, melihat kemajuan budaya peradaban bangsa, dengan daya kritis yang tinggi, dalam menghadapi tantangan perubahan zaman, lantaran semua pujangga dan para budayawannya bersemangat dalam membangun peradaban. Dalam dunia pengembangan ekosistem sastra dan literasi kita, Peri melihat pihak otoritas mesti bisa mendistribusikan bakat-bakat muda yang berprestasi ke setiap lini strategis, sebagai bentuk perhatian dan penghargaan.

Yang demikian ini, bisa disamakan, seperti halnya atlet angkat besi, yang berhasil memenangkan medali emas, kemudian diganjar penghargaan, dengan diangkat sebagai PNS (pegawai negeri sipil). Tentu yang demikian itu akan terasa agung dan asyik, karena akan memberi inspirasi bagi pencerahan kehidupan dan meningkatkan martabat kemanusiaan.

Sebuah gerakan kebudayaan memang tidak hanya diunggulkan sekedar dengan debat, pemikiran atau polemik, tetapi juga dan terutama harus dibuktikan dengan keberpihakan dari kebijakan pihak otoritas. Di sinilah saya kira maksud Peri sesungguhnya. Akan halnya pemikiran tentang pembacaan puisi secara professional, selalu berbanding sejajar dan konsisten dengan kompetensi para guru, yang melatih anak didiknya.

Para generasi muda dapat bekal ilmu puisi yang baik melihat para guru ahli dengan segala kemudahan akses literasi. Ruang kemungkinan mesti diolah. Jaringan komunitas organik dirajut. Dalam waktu dekat, para peserta lomba dengan sendirinya, bisa memenuhi semua ketentuan juknis dari para juri.

“Kriteria penilaian seperti interpretasi, pembangunan suasana, gerak tubuh dan kontak mata, akan menjadi hal yang biasa dalam keilmuan puisi di Banten,” kata Peri yang merasa beruntung bisa berbagi pengalaman lintas generasi yang lebih muda darinya.

 


Share this Post