Pendidikan, sebercanda itukah?

Sumber Gambar :

Pendidikan, sebercanda itukah?

 Oleh Muhammad Furqon Hadiwijaya*

 

Tiba-tiba saya ingin menulis judul ini karena dirasa cukup menarik dan menggemaskan dengan banyak pembahasan menarik perhatian saya akhir-akhir ini, kurang lebih dua tahun belakangan ini pendidikan menjadi kata yang cukup ramai dibicarakan diberbagai tempat dan saya senang karenanya, walaupun pembahasannya bukan tentang prestasi tapi tentang mau dibawa kemana kata pendidikan hari ini?

Saya merasa bahwa pendidikan itu penting tapi lebih penting adalah siapa yang memberikan bukan dimana mendapatkan, tapi semakin kesini nampaknya dunia pendidikan menjadi semakin aneh dan ajaib, tapi itu menurut saya dan sangat mungkin saya salah.

Dunia pendidikan seperti formalitas yang sengaja dibuat dengan kesan sangat baik dan dipoles dengan berbagai cara bahwa dunia pendidikan sangat mulia dan sangat baik walaupun tidak semuanya seperti itu, masih banyak yang memanfaatkan dunia pendidikan sebagai lahan untuk mencari keuntungan semata.

Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi penghasil manusia berkualitas dalam bidang ilmu pengetahuan kini bagai arena perlombaan dangan berbagai macam kecurangan yang terjadi didalam banyak prosesnya. Yang seharusnya menjadi tempat yang serius membahas ilmu dan pengetahuan kini sudah mulai bercanda dengan melihat apa yang sering dipertontonkan dengan berbagai macam ulah oknum yang terlibat didalamnya.

Ditambah lagi sistem yang diberlakukan tidak jelas bahkan nyaris seperti bercanda, atau lebih tepatnya sedan bereksperimen dengan berbagai metode yang seperti kurang pertimbangan yang matang sehingga terkesan bercanda dan jauh darikata serius dengan mengorbankan para pelajar yang kian direpotkan dengan berbagai hal. Tentu saja bukan hanya pelajar yang direpotkan tali tenaga pengajar juga sudah pasti amat kerepotan karenanya.

Bagaimana tidak jenuh dan membosankan seolah dipermainkan oleh pandemi yang tak kunjung usai, belum hilang di ingatan tentang sekolah yang memberlakukan pembelajaran jarak jauh dengan media online, tugas yang menumpuk setiap hari tanpa mengerti apa esensi dan maknanya yang penting selesai demi nilai yang memuaskan, rebahan dirumah jadi solusi terbaik daripada harus kesana kemari walaupun ada hal yang harus dilakukan untuk sekedar menyambung hidup.

Kemudian ada angin segar bahwa pembelajaran mulai bisa dilaksanakan tatap muka walaupun tidak 100 persen dengan syarat harus vaksin, lalu semua berbondong-bondong untuk melakukan vaksin dibanyak tempat yang sudah disediakan bahkan tidak sedikit yang melakukan vaksin di sekolah dengan bekerjasama pihak terkait.

Belum selesai pembelajaran tatap muka dirasakan semua pelajar kini sekolah kembali harus jarak jauh karena adanya varian baru omicron yang entah sampai kapan akan terus berlanjut dan bagaimana sebetulnya pendidikan harus berperan?

           Uraian diatas adalah sebuah pengantar untuk sedikit menjelaskan tentang poin yang akan saya sampaikan agar ada sedikit gambaran yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda, paling tidak ada dua pertanyaan yang ingin saya sampaikan dengan penjelasan menurut pandangan saya secara pribadi tanpa niat untuk menyudutkan pihak manapun.

Pertama yang menjadi pandangan saya adalah jika pendidikan hadir tapi tidak mampu menanamkan nilai-nilai ilmu dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari namun hanya menjadi rutinitas  dan aktivitas yang dianggap seremonial semata tanpa ada esensi dan makna yang bisa dibawa pulang, lalu bagaimana pendidikan akan melahirkan generasi penerus yang mampu memenuhi kebutuhan dan tantangan jaman dikemudian hari?

Yang kedua adalah tentang pergaulan, gaya hidup, bahasa, etika, sopan santun, ilmu pengetahuan dan banyak lagi yang yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari nampaknya cukup memprihatinkan, apakah itu semua adalah buah yang mereka petik dari lembaga pendidikan?

Dua hal diatas adalah catatan kecil dari apa yang setiap hari saya temukan dibanyak tempat, tentu banyak faktor yang mempengaruhi kenapa itu bisa terjadi, saya juga sadar bahwa saya hanya bisa berpendapat tanpa bisa memberika solusi kongkrit tentang bagaimana seharusnya pendidikan bisa membawa manfaat dan dampak positif untuk kehidupan sehari-hari.

Semakin saya mengamati maka saya selalu berpikir ini semua seperti disengaja dan kejadiannya selalu berulang serta solusinya nyaris sama, yang membedakan adalah tidak ada yang mampu melaksanakan solusi yang sudah banyak itu.

Lalu munculnya pikiran imajinasi saya bahwa sepertinya kita semua sengaja dibuat untuk tetap membudayakan kebodohan dan ketertinggalan karena pencapaiannya bukan tentang bagaimana ilmu dan pengetahuan bisa berkembang pesat tapi akan selalu dibenturkan dengan persoalan administratif dan aturan yang sudah baku sehingga yang tidak tertulis tidak akan pernah bisa dilaksanakan.

Akhirnya saya sadar bahwa kebutuhan akan pendidikan sudah dikalahkan oleh kebutuhan akan kekuasaan, eksistensi dan popularitas semata, yang penting adalah bagaimana kebutuhan hidup harus terus tetap terpenuhi biarlah pendidikan menjadi formalitas semata.

Seolah yang penting bagaimana cara menghasilkan uang yang banyak untuk hidup menjadi lebih bermartabat, bukan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang pesat karena itu akan merugikan sebagian pihak. Apakah pendidikan sebercanda itu?

 

*Direktur TBM Hahalaeun


Share this Post