POTENSI ANAK DALAM MEMBACA

Sumber Gambar :

POTENSI ANAK DALAM MEMBACA

Oleh Ai Bida Adidah*

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa membaca banyak manfaatnya  diantaranya adalah menumbuhkan wawasan yang sangat luas dan akan menumbuhkan potensi-potensi yang terpendam dalam diri seseorang. Dengan membaca juga akan melahirkan perspektif baru dalam pemikirannya, kreatif imajinatif serta mampu mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.

Membaca bagi anak merupakan proses yang panjang, dimulai sejak dalam buaian orang tuanya (konsepsi Islam) hingga ia mampu mengucapkan kata-kata secara sadar dan sistematis dan dimengerti secara logika. Peran orang tua dalam mengarahkan dan membiasakan anak-anaknya sangatlah dibutuhkan agar membentuk manusia yang berkarakter kuat dan berprestasi baik secara akademik dan non akademik. Manfaat membaca akan mengarah kepada pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui giat belajar membaca. Oleh karena itu, apa yang dia baca, akan merubah aspek hidupnya. Kaitannya antara orang tua pada pembentukan karakter anak-anaknya yang berprestasi akan menumbuhkan karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas dalam bersikap dan melakukan perbuatan dengan berpikir sebab dan akibatnya.

Untuk meningkatkan membaca, hendaklah orang tua juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk meningkatkan tradisi tulis menulis. Apa yang dia dapat dari membaca, mencoba untuk menuangkannya kembali dalam sebuah tulisan. Dengan demikian, membaca bukan hanya sekedar membaca kata-kata, tetapi bagaimana memahami apa yang kita baca dan mengingatnya kembali untuk dituangkan dalam sebuah narasi tulisan.

Beberapa alasan yang bisa dikemukakan kenapa kebiasaan membaca harus dilakukan sejak awal perkembangan anak adalah karena membaca akan memberikan wawasan yang lebih luas dan beragam, memberikan perspektif yang lebih luas, mampu mengembangkan pola berfikir kreatif dan imajinatif, serta membaca akan mengenalkan hal-hal yang dianggap baru dan melahirkan ide-ide baru dari sumber bacaannya.

Dengan demikian bagaimana peran orang tua dalam memberikan pelajaran pertamanya akan terus diingat oleh anak, yang baik akan melahirkan ide-ide positif dan sebaliknya jika tidak diarahkan pada hal-hal demikian (buruk) maka akan berakibat fatal bagi perkembangan jiwa dan emosianal anak itu sendiri. Berkembangnya potensi yang dimiliki anak akan muncul apabila ada arahan yang positif dari orang-orang disekitarnya. Potensi dimaksud adalah perkembangan fisik-motorik, bahasa, kognitif, agama, moral, seni, dan sosial emosi.

Meity (2014) dalam buku “Menumbuhkan Minat Membaca pada Anak Usia Dini” mengatakan bahwa potensi tersebut bila dikembangkan secara tepat akan menghasilkan anak-anak yang berkarakter. Anak cerdas berkarakter bukan hanya unggul dari segi potensi perkembangan kognitifnya, tetapi juga unggul dari segi afektifnya dan segi keterampilannya. Namun faktanya adalah orang yang berkeahlian tinggi dan sangat cerdas akan tereleminasi oleh lingkungan sosialnya jika orang tersebut  tidak mampu menunjukan perilaku sosial yang positif.

Dengan demikian bahwa perilaku sosial ini juga harus dipupuk dan diarahkan sejak dini oleh orang tuanya kepada hal-hal yang positif, sehingga anak akan mampu mengarahkan potensi pada dirinya pada hal yang positif juga pada masa kehidupannya ketika beranjak dewasa.

Sebenarnya momentum pengembangan potensi anak dalam membaca adalah pada periode emas, sebagaimana digambarkan oleh Aris Ahmad Jaya (2014) dalam buku “HypnoCreativa Teknik Mengelola & Mengatasi Emosi Buah Hati Menjadi Prestasi” dikatakan bahwa periode pertama adalah mulai anak lahir sampai usia 3 tahun. Apa yang didengar, dilihat dan dirasakan merupakan bagian dari kehidupannya. Pada masa ini orang tua harus secara aktif berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Pada masa ini orang tua berbicara dengan penuh bahagia, dengan memasukan harapan-harapan dengan kata-kata positif, bernyanyi lagu bahagia, berdoa di depannya, memutar murrotal al-Qur’an, dan memperkenalkan karakter dasar yang baik seperti tersenyum, menyapa dan ucapan terima kasih.

Periode kedua adalah antara usia 3 sampai 7 tahun. Pada masa kedua ini semua sugesti, informasi ataupun kata-kata dapat masuk secara langsung ke bawah sadar. Masa ini sangatlah penting dalam pembentukan karakter karena anak sudah dapat diajak komunikasi karena sudah mengerti bahasa lisan dan ungkapan bahasa tubuh. Pada masa emas yang kedua ini jangan sampai menyerahkan pendidikannya sepenuhnya pada orang lain atau lembaga pendidikan, sehingga orang tua memiliki target untuk anaknya hal apa saja yang harus dimengerti, dipahami dan dilakukan.

Dan pada periode ketiga saat anak berusia 7 sampai 13 tahun. Saat terbentuknya critical factor, yaitu bagian dari pikiran yang selalu menganalisis segala informasi yang masuk dan menentukan tindakan rasional seseorang. Sehingga informasi yang diberikan pada masa ini harus serba positif agar anak ketika melewati periode ini juga memikirkan hal-hal yang selalu positif dalam tingkah lakunya.

Dengan demikian jika kita dapat memahami potensi yang dimiliki anak sebagaimana yang dibangun pada tiga masa periode emas tersebut, tentunya sebagai orang tua kita selalu memberikan perilaku dan contoh positif. Dalam hal pengembangan potensi membacanya tentu dimulai dari tahapan-tahapan sederhana misalnya mengajari membaca mulai dari mengenalkan huruf, merangkai kata dan kalimat dan memberikan pemahaman apa yang dibacanya. Selain itu anak diarahkan pada bacaan yang positif disesuaikan dengan tingkat umurnya, sehingga pada waktunya nanti mereka mampu memahami apa yang diucapkan dan diterapkan dalam tingkah lakunya.

*Peminat Masalah Sosial


Share this Post