RAMADHAN MOMEN TERBAIK MEMBACA BUKU
Sumber Gambar :RAMADHAN
MOMEN TERBAIK MEMBACA BUKU
Atih
Ardiansyah*
Sebagai bulan
yang mulia, bulan puasa mencelup hampir seluruh aktivitas keseharian sebagai
ibadah. Tengoklah saban Ramadhan tiba, dalam perbincangan di media sosial
misalnya, yang paling sering dibagikan (share) adalah ungkapan “Tidurnya
orang berpuasa adalah ibadah”.
Tentu saja
latar belakang ungkapan tersebut untuk menggambarkan betapa mulianya Ramadan,
meskipun dalam konteks percakapan di media sosial, kebanyakan kita menggunakan
ungkapan itu sebagai dinding sembunyi atas kemalasan atau lemasnya tubuh akibat
berpuasa.
Benarkah puasa membikin
tubuh lemas?
Sayangnya
Ramadan memang telanjur kita identikan dengan badan yang lemas akibat berpuasa.
Sampai-sampai jam kerja atau jam sekolah di bulan puasa dipangkas dibandingkan
durasi kerja atau sekolah di bulan-bulan lainnya. Padahal kalau kita menengok
jauh ke belakang, Perang Badar yang dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat
justru dilakukan dan dimenangkan pada bulan Ramadan.
Secara mekanistis,
berpuasa mengurangi asupan makan dan minum alias tidak makan pada siang hari.
Sehingga kebanyakan kita menganggap logis kalau kondisi demikian diidentikan
dengan berkurangnya tenaga. Akan tetapi menyaksamai gambaran di atas, silogisme
tersebut menjadi dipertanyakan kembali. Apalagi bila kita tidak memiliki
jawaban selain “Ya” atas pertanyaan di bawah (Pratama, 2014) :
·
Pernahkah kamu
merasa lemas saat bangun setelah tidur lama sekali?
·
Pernahkah kamu
merasa lemas —sampai susah bangun— lantaran kekenyangan makan?
·
Pernahkah kamu
merasa lemas setelah minum hingga perut kembung?
Apa Kabar Sistem Pencernaan?
Membedah puasa, baiknya kita lihat
bagaimana sistem pencernaan kita bekerja. Setelah dikunyah, makanan akan masuk
ke lambung yang letaknya di sebelah kiri atas perut kita. Makanan di dalam
lambung akan diproses sampai hancur. Pada proses itu, lambung, mengeluarkan
asam HCl yang membantu memudahkan usus halus untuk melakukan penyerapan
makanan.
Sekarang mari kita
lihat susunan otot pada lambung. Ada tiga lapis otot yaitu oblique, circular, dan longitudinal.
Ketiga lapis otot itu tentu akan bekerja sangat keras ketika makanan yang masuk
terlalu banyak. Makan juga bukan tidak hanya melibatkan lambung dan asam HCl.
Otak juga turut bekerja. Ada syaraf Vagus yang turut mempersyarafi semua
sistem pencernaan selain ke organ yang lain seperti jantung, paru-paru. Otak
“melihat dan memastikan” makanan mulai saat kita melihat di atas piring,
dikunyah dalam mulut, masuk kerongkongan sampai ke usus besar.
Dari
gambaran di atas kita bisa tahu betapa sibuk dan melelahkan kerja sistem
pencernaan kita. Maka tak logis bila puasa, artinya memberi kesempatan sistem
pencernaan tidak terlalu lelah bekerja, direspons dengan badan lemas sehingga
seluruh aktivitas berkehidupan menjadi dipangkas waktunya.
Dari Mana Rasa Lapar
Datang?
Makanan yang
sudah dihancurkan dengan tambahan asam HCl pada lambung, dibawa ke usus halus
dan diserap sebagai sari-sari makanan dan ditransfer ke seluruh tubuh oleh
darah kita. Sari-sari makanan itu lalu dicerna kembali dan menjadikannya
energi. Inilah yang disebut sebagai proses pencernaan intraseluler.
Dalam proses
pencernaan intraseluler, ada
serpihan-serpihan yang tidak tercerna dan akan dibuang dari dalam sel. Zat-zat
yang dibuang ini ada yang benar-benar dibuang dalam bentuk feses dan air
kencing, ada juga yang diolah kembali. Proses perombakan kembali zat ‘buangan’
itu penting dalam regenerasi sel. Dalam proses peremajaan sel inilah kita
mengalami rasa lapar (Pratama, 2014).
Pada saat
berpuasa, wajar kita merasakan sedikit lapar karena di dalam tubuh kita sedang
terjadi peremajaan sel. Itu kejadian luar biasa saat zat-zat terbuang yang
belum terserap dalam pencernaan intraseluler sedang dipecah dan diubah menjadi
energi. Maka puasa adalah momen di mana kita menjadi lebih segar, bertenaga dan
tampak awet muda. Adapun sedikit lapar yang dibesar-besarkan terlebih sampai
dilampirkan dalam bentuk kebijakan pengurangan jam kerja atau sekolah adalah
ketakutan yang diciptakan sendiri oleh imajinasi kita.
Setelah menyaksamai kejadian detail
dalam tubuh saat kita berpuasa, maka pada momen inilah proses belajar dan
membaca mestinya kita tambah porsinya. Karena ini merupakan momen terbaik untuk
memahami ilmu dan informasi yang terkandung dalam buku dan perangkat
pembelajaran lainnya. []
*Mengajar di
Untirta dan mendirikan Cendekiawan Kampung