BUKU DAN LUNTURNYA MINAT BACA

BUKU DAN LUNTURNYA MINAT BACA

BUKU DAN LUNTURNYA MINAT BACA

Oleh : Agus Humaidi, SHI, MH

 

 

Sering kita mendengar istilah membaca adalah jendela dunia, dengan membaca kita bisa seakan-akan "berkeliling dunia". Berkeliling dunia dalam tanda kutip, karena memang raga kita tidak sungguh-sungguh pergi berjalan-jalan keliling dunia, melainkan jiwa, pikiran, dan imajinasi kita yang melalang buana keliling dunia.

Untuk meningkatkan budaya literasi di kalangan generasi muda, pastinya kita tidak lepas dari pembahasan tentang sebuah buku. Diantaranya ada cerpen, novel, ensiklopedi, buku ajar, komik, biografi dan masih banyak lagi. Tidak salah kita mengenal lebih dalam asal mula buku itu dan apa manfaatnya. Setiap buku memiliki isi dan gaya bahasa yang berbeda-beda. Kata demi kata di dalam buku memiliki arti untuk mendeskripsikan suatu situasi yang dapat kita proyeksikan dalam imajinasi atau pikiran kita. Maka, lewat membaca kita juga bisa merasakan banyak perasaan, baik itu rasa cinta, kesedihan, amarah, motivasi, buku kegembiraan dan yang paling penting adalah kita juga bisa menimba ilmu seluas-luasnya

Buku, Kata ini mengingatkan kita kepada sebuah benda yang sangat membosankan. Bahkan, kira-kira semasa sekolah dasar (SD) dulu, paling malas kalau guru menyuruh kita untuk membaca, apalagi merangkum. Wah,,, bisa-bisa dapat jatah pulang paling akhir. Karena waktu itu, siapa yang berhasil merangkum satu bab saja dan dikumpulkan, baru boleh pulang. Tidak mengherankan, dewasa ini banyak sekali komunitas pembaca buku yang bertebaran di seluruh dunia. Dengan membawa misi untuk membudayakan literasi. Bahkan di Indonesia sendiri, melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti, menganjurkan siswa untuk membaca buku terlebih dahulu selama 15 menit sebelum pelajaran sekolah.

Hal ini merupakan salah satu langkah yang diambil Pemerintah dalam rangka menumbuhkan minat baca di negara kita. Karena sesuai data yang dihasilkan oleh UNESCO yang melakukan survey di tahun 2012 terkait minat baca di 61 negara, Indonesia hanya 0,001 persen atau menempati peringkat kedua terendah dari total negara yang disurvei, Hal ini tentu menjadi sangat memprihatinkan. Di jaman globalisasi ini buku memang dapat kita baca dengan fisiknya atau juga bisa dengan digital. Maka kita bisa membaca buku kapanpun dan dimanapun.

 

Ketersisihan Budaya Baca

 

Data di atas semakin membuat kita semakin percaya bahwa dewasa ini kita sedang menghadapi suatu proses ketersisihan budaya baca dalam jumlah yang terbilang besar. Hal ini sedikit banyaknya dipengaruhi oleh menjamurnya budaya pragmatis di masyarakat kita yang lebih suka berselancar di dunia maya daripada membawa buku-buku yang berat dan berbobot. Masyarakat kita dewasa ini memandang bahwa budaya membaca cenderung monoton dan lebih susah dicerna oleh masyarakat kita, apalagi pada tataran sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang lebih suka menggunakan handphone daripada menghabiskan waktu selama 2 jam untuk mengunyah satu buku.

Alhasil yang terjadi bukanlah kecerdasan cendekia yang didapatkan, tetapi akan lahirlah manusia yang pragmatis yang menggunakan segala macam skema ketika tugas datang yang menggunakan filosofi copas (copy paste) bulat-bulat dari internet tanpa mau membumbuinya dengan pemikiran

kita. Apalagi pada tataran mahasiswa, budaya membaca ini tampaknya juga semakin tersisih mengingat semakin menjamurnya budaya copas yang melahirkan mahasiswa kaliber abal-abal. Alih-alih ingin melahirkan generasi yang cerdas, yang ada setelah tamat kuliah, mahasiswa-mahasiswa ini tidak tahu mau berbuat apa, melakukan apa dan yang lebih parah tidak tahu apa-apa.

 

Kurangnya Minat Baca

 

Rendahnya minat baca Indonesia, memberikan kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah. Kekhawatiran itu diiringi dengan perkembangan hoaks, yang kian hari sering tersebar di media sosial. Sebenarnya apakah yang menjadi penyebab dari kurangnya minat baca di Indonesia? Berikut, 5 penyebab yang mungkin bisa kita renungkan dari rendahnya minat baca di Indonesia saat ini :

 

1.   Lingkungan

Lingkungan di sekitar kita merupakan faktor penting dalam kehidupan, karena secara tidak langsung akan membentuk kebiasaan kita. Lingkungan keluarga misalnya adalah yang paling dekat dengan kita. Jika keluarga kita saja sudah tidak membudayakan kebiasaan membaca, atau bahkan membeli bukupun tidak diperbolehkan dari mana benih-benih minat membaca dapat tumbuh. Ditambah lagi jika lingkungan pertemanan kita juga tidak gemar membaca. Setelah keluar rumah ternyata teman sepergaulan adalah teman yang suka pergi hang out ke mall ketimbang membaca. Sudah pasti kita akan cenderung lebih mengikuti teman kita dibanding pergi sendiri ke perpustakaan untuk membaca bukan?

 

2.   Generasi serba instan

Dari generasi baby boomers hingga generasi Z sekarang ini, kita dapat melihat perbedaan yang mendasar dari generasi dulu hingga sekarang. Semakin lama generasi kita ini menginginkan segala sesuatunya serba cepat atau instant dan mulai tidak menghargai proses. Padahal membaca sebuah buku baik dari yang tipis sampai yang tebal, semuanya pasti membutuhkan proses membaca. Tiap halaman per halaman dan bab per bab harus kita lalui dan nikmati. Namun bagian membaca inilah yang sulit untuk dilalui dan dinikmati para generasi Z jaman sekarang ini. Mereka malas melakukan proses membaca untuk mengetahui suatu cerita. Sehingga akibatnya, mereka lebih cenderung hanya melihat sinopsis, review singkat di blog ataupun media sosial, lalu selebihnya mereka hanya akan menerka-nerka cerita tersebut. Singkatnya jika mereka tidak membaca buku secara mendalam dan berproses, maka hasil yang akan mereka pahami juga pasti hanya akan asal tahu saja.

 

3.   Gawai

Kembali lagi membicarakan generasi milenial, Sekarang ini anak bayi saja sudah mengenal gawai. Perilaku manusia dari anak bayi sampai orang dewasa jika sedang makan telah berubah karena tidak bisa terlepas dari gawai, contohnya anak bayi yang tidak bisa makan kalau tayangan kartun kesukaannya tidak diputar dihadapannya dengan gawai, dan sebenarnya tidak hanya anak bayi, anak remaja dan dewasapun banyak juga yang melakukan kegiatan makan sambil main gawai sekarang ini. Gadget jaman sekarang ini memang multifungsi, bisa untuk menonton televisi, bisa untuk foto-foto, dan yang pastinya bisa untuk bermain games sebagai sarana hiburan. Hanya dengan satu gawai kita bisa melakukan banyak hal, sekaligus melupakan banyak hal.

 

4.   Game Online dan media sosial

Game online ataupun aplikasi di dalam gawai sekarang ini seperti Instagram, facebook, atau aplikasi hiburan seperti dubsmash, musically, hingga tiktok, sekarang ini memang sedang marak di dunia maya. Baik anak kecil sampai orang dewasa bermain game dan menggunakan aplikasi tersebut hampir disetiap waktu luang yang mereka miliki, dan lebih parahnya banyak dari mereka menjadi kecanduan. Kalau sudah di tahap kecanduan yang tidak baik, kedua tangan mereka setiap harinya sibuk untuk bermain, jadi jangankan untuk menyentuh buku untuk membaca, untuk makan ataupun bersosialisasi dengan sesamapun terkadang mereka hampir lupa. Memang game online dan aplikasi hiburan tersebut dapat berfungsi sebagai media untuk melepaskan penat dan stress setelah beraktivitas kita biasanya. Tetapi, terkadang kita lupa bahwa buku juga dapat menjadi media lain yang bisa membantu meredakan stress tanpa harus takut akan radiasi yang dikeluarkan gawai anda.

 

5.      Diri sendiri

Selain lingkungan dan teknologi canggih yang semakin menjauhkan kebiasaan kita dari membaca. Ada faktor lain yang sebenarnya paling kuat dan menentukan tindakan kita yaitu, niat dalam diri kita sendiri. Diri kita sendiri adalah faktor terpenting dalam melakukan sesuatu hal. Jika di dalam diri sendiri saja kita tidak memiliki ketertarikan dalam membaca maka jangankan membaca buku, menyentuh atau mendengar judul buku saja mungkin rasanya sudah malas dan mengantuk. Maka dari itu, bibit-bibit minat baca sudah seharusnya ditanamkan sedari kita kecil. Seringkali di sekolah kita seperti dipaksa untuk membaca buku-buku text book demi mendapatkan nilai yang baik. Padahal, kalau kita sudah menanamkan dalam diri kita bahwa membaca adalah kegiatan yang menarik dan menyenangkan, pasti kita akan lebih mudah membaca buku-buku. baik itu buku novel ataupun buku pelajaran. Karena sesungguhnya semuanya akan kembali lagi kepada diri sendiri, apakah kita memiliki niat untuk membaca atau tidak. Karena jika sudah tidak memiliki niat, pasti juga sudah tidak berminat.

 

Menumbuhkan Minat Baca

 

1.      Menumbuhkan Minat Baca

Pemerintah harus bisa mengatasi ini semua, dan lebih peduli dalam menumbuhkan minat baca masyarakat demi mencerdaskan anak-anak bangsa. Upaya-upaya yang bisa dilakukan antara lain, meningkatkan ketersediaan buku di perpustakaan dan memperbanyak taman bacaan masyarakat, meningkatkan promosi dan sosialisasi gemar membaca serta menyediakan buku-buku bacaan yang murah dan berkualitas melalui pameran buku. Selain itu juga bisa dilakukan dengan memulai dari diri sendiri dan kemudian memotivasi setiap anggota keluarga untuk gemar membaca, juga para guru perlu memberikan teladan pada siswanya untuk juga gemar membaca.

2.      Mengalokasikan Waktu

Memulai untuk membaca setiap hari, 10-15 menit saja secara konsisten kemudian setiap bulannya pasti akan betambah sedikit demi sedikit dan lama kelamaan akan  terbiasa membaca buku hingga satu atau dua jam setiap harinya.

3.      Membaca Saat Istirahat atau Sebelum Tidur

Hal ini bisa dilakukan jika ternyata selama waktu anda sangat sibuk dan penuh dengan aktivitas. Gunakan waktu istirahat Anda dengan membaca, atau rutinkan membaca buku walaupun sedikit sebelum anda tidur.

4.      Membuat Target Membaca

Rencana membaca adalah target atau daftar buku apa yang harus ditamatkan untuk dibaca pada minggu atau bulan ini. Saya punya target bahwa setiap bulannya menamatkan sekitar 3-5 buku di luar buku kuliah yang kemudian di resume atau dibuat ringkasannya.

 

Manfaat membaca buku

 

1.      Wawasan luas

Persis apa yang sudah dibuktikan oleh para ilmuwan, motivator atau seseorang yang berwawasan luas. Selain pengalalaman yang mumpuni, pasti mereka berangkat dari membaca buku. Dengan membuka cakrawala keilmuan kita dengan tidak memilah ilmu apa yang masuk ke otak, itu membuat 'tabungan' wawasan kita semakin berkembang. Saat diperlukan, misal memberikan ceramah atau sedang berdiskusi, pasti secara tidak sadar hal yang pernah kita baca tadi muncul ke permukaan begitu saja, dan siap untuk kita utarakan ke lawan bicara.

2.      Masuk ke ruang imajinatif

Kadang, saat tidak ada kerjaan, mager alias malas gerak, cobalah membaca buku. Entah itu novel, majalah, buku pelajaran atau apapun. Dan sadar atau tidak, otak kita terdoring masuk ke dunia lain, seakan kita mengalami apa yang diuraikan dalam buku tersebut. Dan, hasilnya kalau tidak senyum-senyum sendiri, minimal menganggukkan kepala, tanda setuju.

3.      Panjang umur

Ini yang saya sukai. "Bisa panjang umur". Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang suka membaca buku minimal 30 menit setiap harinya dapat memiliki peluang hidup yang lebih lama sekitar 2 tahun.  Penemuan luar biasa ini disampaikan oleh tim peneliti dari Yale University School of Public Health. Dan faktanya, dari 3.635 orang yang berusia lebih dari 50 tahun, yang gemar membaca buku, rata-rata dapat bertahan hidup 2 tahun lebih lama daripada mereka yang tidak suka membaca.

4.      Percaya diri

Sudah pasti. Jika wawasan sudah 'top', tampil awet muda, dan lugas saat berbicara.. apalagi kalau 'output' nya kalau tidak sebuah rasa percaya diri.

5.      Hubungan sosial

Potensi yang sudah kita bangun dengan gemar membaca buku merupakan senjata paling ampuh untuk bersosialisasi, karena setiap orang pasti nyaman untuk bicara dengan personal yang berwawasan luas apalagi bisa menunjukkan referensi buku apa yang sepantasnya untuk di beli.

 

Hemat Penulis menumbuhkan minat baca harus diawali dengan mengetahui minat diri terlebih dahulu. Jadi, soal bagaimana menumbuhkan minat baca, maka hal pertama yang harus dijawab adalah bagaimana caranya menumbuhkan minat, mengalokasikan waktu baca, dan ada target setiap hari buku yang dibaca. Semoga bermanfaat.

 

*Penulis adalah Dosen dan Tenaga Ahli DPR RI

    Email: gushum83@gmail.com

    Hp. 081390368322

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Anusapati.2003.Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Minat Baca.Buletin Media Informasi.Yogyakarta.UPT Perpustakaan Universitas Gajah Mada

2.      https://www.kompasiana.com/dewiambarwati4713/5b3fb74d16835f75a5686a12/buku-dan-budaya-literasi

3.      Perpustakaan Digital.http://ms.wikipedia.org

Share :