Literasi Scrolling Politik: Panduan untuk Menghindari Konflik Fisik Akibat

Sumber Gambar :

Nasywa Azarine Maheswari*

Esai tentang Seni Bertahan Hidup di Era Digital yang Penuh Jebakan

Selamat Datang di Zaman "Gulir dan Marah"

Pernahkah Anda merasa seperti menonton film laga sambil makan berondong jagung, tapi ternyata yang ditonton berita politik di media sosial? Selamat—Anda sudah resmi menjadi korban "sindrom gulir dan marah." Zaman sekarang, cukup sekali geser jari, kita bisa langsung naik pitam gara-gara berita yang entah benar atau tidak.

Ironisnya, di era yang katanya paling "terhubung" ini, kita malah jadi paling mudah "terputus" dari realitas. Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) mencatat bahwa "hoaks politik meningkat dua kali lipat pada 2023 dibandingkan Pemilu 2019, dengan 1.292 hoaks politik dari total 2.330 hoaks yang ditemukan" (Nugroho, 2024, hlm. 1). Yang lebih mengkhawatirkan, "YouTube menjadi tempat ditemukan hoaks terbanyak sebesar 44.6%, diikuti oleh Facebook (34.4%), TikTok (9.3%), Twitter atau X (8%), WhatsApp (1.5%)" (Nugroho, 2024, hlm. 2).

Tapi jangan langsung pesimis. Esai ini bukan untuk membuat Anda curiga atau berhenti menggunakan media sosial. Ini panduan bertahan hidup untuk zaman pasca-kebenaran—buku manual jadi netizen bijak tanpa kehilangan selera humor.

Ketika Hoaks Bukan Lagi Sekadar Candaan : Demo 25 Agustus, Studi Kasus yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Kalau mau bicara contoh nyata bagaimana hoaks politik bikin kacau, tengok peristiwa demo "Bubarkan DPR" pada 25 Agustus 2025. Tanda pagar #BubarkanDPR mendadak viral, lengkap dengan poster digital seolah mengatur teknis demonstrasi. Bahkan ada pesan berantai menyarankan massa membawa plastik untuk melindungi diri dari gas air mata.

Yang absurd, tidak ada organisasi resmi yang mengaku sebagai penggagas. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menegaskan tidak terlibat. "Ketua Umum Mohammad Jumhur Hidayat bahkan melarang anggotanya ikut dalam aksi yang tidak jelas arahnya" (Tempo, 2025, hlm. 2).

Setelah demo terjadi, bermunculanlah hoaks baru! Beredar video mengeklaim Presiden Prabowo Subianto menemui mahasiswa demonstran. Namun, "setelah ditelusuri narasi itu tidak benar atau hoaks. Faktanya, saat demo berlangsung, Prabowo lagi sibuk memberikan tanda kehormatan di Istana Negara" (Kompas.com, 2025, hlm. 1).

Lebih parah lagi, Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan perangkat Hive Moderation dan hasilnya, "video anggota DPR RI menemui massa aksi memiliki probabilitas 99,7 persen dihasilkan oleh kecerdasan buatan" (Kompas.com, 2025, hlm. 2). Kita sudah hidup di era robot bisa bikin hoaks lebih meyakinkan daripada berita asli!

Ketika Maya Menjadi Brutal

Data Pusat Informasi Kriminal (Pusiknas) Bareskrim Polri menunjukkan "pada Agustus 2024 terdapat 3 perkara hoaks dalam 27 hari, sama dengan jumlah kasus berita hoaks yang ditangani dalam 31 hari di Juli 2024" (Pusiknas Bareskrim Polri, 2024, hlm. 1). Intensitas hoaks politik tidak menurun bahkan setelah Pemilu 2024 selesai.

Project Multatuli menemukan "setidaknya 227 hoaks yang digunakan untuk memperkeruh perdebatan publik, dengan fokus pada hoaks yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal atau memperparah sentimen negatif atas kelompok-kelompok tertentu" (Garnesia, 2024, hlm. 3). Yang dimulai sebagai bagian WhatsApp tak berdosa bisa berakhir sebagai konflik fisik serius.

Melihat betapa mudahnya hoaks memicu potensi konflik, pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa kita begitu rentan terhadapnya? Jawabannya terletak pada cara kerja otak kita.

Psikologi Hoaks—Kenapa Kita Gampang Tertipu? : Otak Manusia vs Algoritma: Pertarungan yang Tidak Adil

Daniel Kahneman menjelaskan bahwa "otak manusia punya dua sistem: Sistem 1 (cepat, intuitif, emosional) dan System 2 (lambat, analitis, rasional)" (Kahneman, 2011, hlm. 234). Menggulir media sosial hampir selalu mengaktifkan System 1—kita bereaksi berdasarkan perasaan, bukan pemikiran.

Ditambah bias konfirmasi—kecenderungan mencari informasi yang mengkonfirmasi keyakinan kita. Algoritma media sosial memperkuat bias ini. "Mereka dirancang untuk memberikan konten yang menarik perhatian, dan sayangnya, konten kontroversial (termasuk hoaks) cenderung lebih menarik perhatian daripada berita biasa-biasa saja" (Tufekci, 2018, hlm. 897).

Ruang Gema dan Bukti Sosial: Jebakan Digital

Ruang gema membuat kita hanya terpapar pendapat sejalan dengan keyakinan kita. "Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terjebak dalam ruang gema cenderung punya pandangan yang lebih ekstrem dan lebih sulit menerima informasi yang berbeda" (Sunstein, 2017, hlm. 67).

Ada juga fenomena "bukti sosial"—menganggap informasi benar jika banyak yang mempercayainya. Di era digital, ini diwujudkan dalam suka, bagikan, dan komentar. "Padahal, suka dan bagikan bisa dibeli, komentar bisa dari robot, dan viral tidak selalu berarti valid" (Cialdini, 2006, hlm. 116).

Literasi Menggulir, Seni Bela Diri di Era Digital : Stop, Lihat, Dengar, Pikir: Kerangka Simpel Untuk Otak Yang Rumit

STOP: Jangan langsung bereaksi. Konten viral dirancang memicu respons emosional langsung. Kalau langsung merasa marah atau excited berlebihan, jeda dulu. LIHAT: Periksa sumber, tanggal publikasi, kualitas visual. Hoaks sering punya "tanda mencolok"—sumber tidak jelas, tanggal tidak masuk akal, foto pecah atau diedit asal-asalan. DENGAR: Cari perspektif lain. Periksa silang ke media kredibel, lihat reaksi ahli. Kalau semua media mainstream diam, tapi cuma beberapa akun media sosial yang heboh, itu bendera merah. PIKIR: Sebelum membagikan, tanya: "Ini beneran perlu saya bagikan? Bakal ada efek negatifnya tidak? Saya sudah memverifikasi belum?"

Perangkat Verifikasi: Senjata Digital Melawan Hoaks

Perangkat pencarian Gambar Terbalik: Google Images, TinEye, Yandex untuk mengecek foto/video. perangkat situs pemeriksa fakta: Cek Fakta Tempo, Liputan6 Cek Fakta, Kompas.com Cek Fakta. Perangkat pencarian WHOIS: Mengecek pemilik situs web penerbit berita. Dan perangkat verifikasi media sosial: Cek kapan akun dibuat, pola posting, perbandingan pengikut

Yang paling penting, perangkat ini cuma alat bantu. Yang krusial adalah pemikiran kritis dan skeptisisme sehat.

Pertahanan Pribadi: Membangun Sistem Kekebalan Digital

Pertama, Akui bias diri sendiri: Latihan baca artikel dari media yang tidak sejalan dengan pandangan politik Anda. Kedua, Beragamkan sumber informasi: Campurkan media mainstream, jurnalisme independen, sumber akademik, perspektif internasional.  Ketiga, Praktikkan kerendahan hati intelektual: Mengakui kita tidak tahu semuanya dan bisa salah. Keempat, Perlambat konsumsi informasi: Daripada menggulir tanpa berpikir berjam-jam, lebih baik baca beberapa artikel berkualitas dengan fokus penuh

Tanggung Jawab Sosial Jadi Bagian Solusi : Setiap Warga adalah Media Massa

Di era digital, setiap orang dengan ponsel pintar adalah penyiar potensial dengan audiens ratusan atau ribuan orang. Konsep "kekebalan kelompok" juga berlaku untuk hoaks. "Kalau dalam satu komunitas ada cukup banyak orang yang melek literasi digital, hoaks akan sulit menyebar" (Ross et al., 2019, hlm. 445).

Pikir sebelum berbagi: Setiap mau membagikan konten politik, tanya: "Ini menambah nilai atau cuma kebisingan?"

Tegur misinformasi dengan benar: Kalau ketemu hoaks, jangan cuma bilang "itu hoaks" tanpa penjelasan. Berikan alternatif sumber kredibel dengan cara yang tidak bikin orang defensif.

Jadi contoh perilaku baik: Tunjukkan cara diskusi politik sehat—berbeda pendapat tanpa saling membenci, kritik ide bukan orangnya.

Tantangan dan Realitas : Keterbatasan Pendekatan Individual

Mengharapkan setiap orang punya literasi digital mumpuni tidak realistis. Beban kognitif untuk memverifikasi setiap informasi sangat berat. Ada faktor sosial-ekonomi yang mempengaruhi akses terhadap pendidikan literasi digital. "Orang yang struggling untuk kebutuhan sehari-hari mana sempat memikirkan algoritma verifikasi" (DiMaggio et al., 2004, hlm. 355).

Masalah Struktural Butuh Solusi Sistemik

Platform media sosial punya konflik kepentingan fundamental: "mereka mendapat keuntungan dari keterlibatan, dan konten kontroversial (termasuk hoaks) menghasilkan keterlibatan yang lebih tinggi" (Tufekci, 2018, hlm. 897). Selama model bisnis ini tidak berubah, platform akan terus punya insentif memperkuat konten pemecah belah.

Indonesia punya tantangan unik: keberagaman budaya dan bahasa, budaya paternalistik, dan kepekaan agama tinggi. "Hoaks yang menggunakan unsur agama sering lebih sulit dilawan karena kritik bisa dianggap sebagai serangan terhadap keyakinan" (Mietzner, 2020, hlm. 178).

Pandangan Masa Depan : Kecerdasan Buatan, Kawan atau Lawan?

Kecerdasan Buatan bisa jadi pengubah permainan, tapi juga membuat masalah makin kompleks. Bisa mendeteksi pola hoaks lebih cepat, tapi juga digunakan menciptakan hoaks lebih canggih. Seperti kasus demo 25 Agustus, "video dengan probabilitas 99,7 persen dihasilkan oleh kecerdasan buatan sudah bisa menipu banyak orang" (Kompas.com, 2025, hlm. 2).

Pendidikan: Perlu Revolusi

"Di era digital, kita butuh pendidikan yang fokus pada pemikiran kritis, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi" (Robinson, 2006, hlm. 67). Literasi digital harus terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan berlangsung seumur hidup.

Seruan Bertindak yang Realistis

Roadmap Personal: Dari Hari Ini Hingga Setahun ke Depan. Hari Ini: Sebelum membagikan konten politik, jeda 5 detik. Tanya: "Saya sudah yakin ini akurat belum?" Minggu Ini: Pasang aplikasi pemeriksa fakta atau tandai situs web pemeriksa fakta yang Anda percaya. Bulan Ini: Beragamkan sumber berita. Tambah minimal dua media dari perspektif berbeda. Tahun Ini: Bagikan pengetahuan literasi digital ke keluarga dan teman.

Pesan Inti. Yang paling penting, ingat bahwa di balik setiap hoaks ada orang nyata dengan konsekuensi nyata. Politik bukan hanya permainan—keputusan politik mempengaruhi hidup jutaan orang. Setiap kali berinteraksi dengan konten politik, ingat bahwa Anda punya kekuatan dan tanggung jawab. Pilihan Anda: Di era informasi adalah kekuatan, literasi digital adalah kunci memastikan kekuatan itu tidak disalahgunakan. Anda punya pilihan: jadi korban misinformasi, atau jadi penjaga kebenaran. Demokrasi Digital: Demokrasi di era digital bukan hanya tentang siapa yang Anda pilih di kotak suara, tapi juga bagaimana Anda berinteraksi dengan informasi setiap hari. Jadikan itu bermakna. Sikap Dewasa: Kalau suatu saat ketahuan membagikan hoaks, jangan malu mengakui dan mengoreksi. Yang penting kita belajar dari kesalahan. Di zaman kelebihan informasi ini, mengakui "saya salah" mungkin justru tindakan paling revolusioner dari semuanya.


"Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang. Hal yang sama berlaku untuk literasi digital—lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, tapi tentu lebih baik segera daripada nanti."


*Mahasiswi UIN SMH Banten, 231390017.nasywaazarine@uinbanten.ac.id  

Daftar Pustaka

Cialdini, R. B. (2006). Influence: The psychology of persuasion. Harper Business.

DiMaggio, P., Hargittai, E., Celeste, C., & Shafer, S. (2004). Digital inequality: From unequal access to differentiated use. Social Inequality, 355-400. Russell Sage Foundation.

Garnesia, I. (2024). Bagaimana hoaks menjadi paten dalam citra politik Indonesia. BaKTINews.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Kompas.com. (2025, 27 Agustus). [HOAKS] Prabowo temui mahasiswa yang berdemonstrasi pada 25 Agustus 2025. Kompas.com Cek Fakta.

Kompas.com. (2025, 1 September). [HOAKS] Anggota DPR menemui mahasiswa saat demo Agustus 2025. Kompas.com Cek Fakta.

Mietzner, M. (2020). Rival populisms and the democratic crisis in Indonesia: Chauvinists, Islamists and technocrats. Australian Journal of International Affairs, 74(4), 365-386.

Nugroho, S. E. (2024, 2 Februari). Siaran pers Mafindo: Hoaks politik meningkat tajam jelang pemilu 2024, ganggu demokrasi Indonesia. Masyarakat Antifitnah Indonesia.

Pusiknas Bareskrim Polri. (2024, 27 Agustus). INGAT! Jangan percaya berita hoaks jelang pilkada 2024. Pusat Informasi Kriminal Bareskrim Polri.

Robinson, K. (2006). Do schools kill creativity? TED Talks.

Ross, B., Pilz, L., Cabrera, B., Brachten, F., Neubaum, G., & Stieglitz, S. (2019). Are social bots a real threat? An agent-based model of the spiral of silence to analyse the impact of manipulative actors in social networks. European Journal of Information Systems, 28(4), 394-412.

Sunstein, C. R. (2017). #Republic: Divided democracy in the age of social media. Princeton University Press.

Tempo. (2025, 23 Agustus). Beragam respons soal ajakan demo 25 Agustus di gedung DPR. Tempo.co.

Tufekci, Z. (2018). YouTube, the great radicalizer. The New York Times.


Share this Post