MEMBANGUN KECAKAPAN LITERASI ANAK MELALUI BUKU CERITA

MEMBANGUN KECAKAPAN LITERASI ANAK MELALUI BUKU CERITA

MEMBANGUN KECAKAPAN LITERASI ANAK MELALUI BUKU CERITA


Oleh : Siti Mulyani Awalia*



"Masa yang paling penting dalam hidup seseorang bukan masa kuliah, melainkan masa awal kehidupannya dari usia 0 hingga 6 tahun."(Maria Montessori)


Prolog


Pada lima tahun pertama, seorang anak tumbuh dengan sangat pesat. Pada masa ini, otaknya yang berkembang sejak di dalam rahim tumbuh dengan cepat. Pada usia 2 tahun, otak seorang anak beratnya mencapai 80% otak orang dewasa. Sinaps pada otak, yaitu sambungan antarneuron, terbentuk dengan aktif sehingga sinyal/pesan yang diteruskan ke neuron (sel otak) pun sangat banyak. Pembentukan sinaps ini bergantung kepada stimulasi yang didapatkan oleh seorang anak pada masa awal kehidupannya.

Stimulasi otak anak dapat dilakukan dengan cara sederhana, misalnya memberinya pelukan hangat, bahkan sekadar senyuman. Stimulasi sederhana yang lain bisa diberikan, misalnya sapaan yang ramah, sentuhan, nyanyian, membacakan buku atau cerita, menggambar dan memecahkan masalah, juga merangkai benda-benda. Semua ini adalah kegiatan literasi yang dapat dilakukan di rumah bersama anak.

Salah satu kegiatan penumbuhan budaya literasi terhadap anak adalah membiasakan membacakan buku di rumah. Agar kegiatan ini menyenangkan dan terus diingat oleh anak hingga dewasa, kita perlu memilih buku cerita yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya, serta menghidupkan buku melalui kegiatan mendongeng dan bercerita. Kegiatan bercerita, baik tanpa buku maupun melalui buku, dapat memancing rasa ingin tahu anak dan membantunya memusatkan perhatian.


 Literasi anak

Menurut Clay (2001) literasi anak adalah kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

Kegiatan literasi anak umumnya berfokus pada upaya untuk memperkenalkan anak kepada aksara dan angka, sebagai simbol bahasa tulis, melalui aktivitas bermain sesuai dengan tahapan perkembangannya. Kegiatan literasi anak tidak dapat dipisahkan dari budaya kelisanan dan interaksi keluarga di rumah. Kegiatan ini perlu berlangsung secara menyenangkan sehingga menumbuhkan minat anak untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Literasi anak menyiapkan minat dan kemampuan anak untuk belajar membaca, dan kemudian, membaca untuk belajar. Sebelum itu, tentunya mereka perlu terpajan (terpapar) dengan kegiatan berbicara, mengenal cerita (dalam bentuk lisan dan tulis), mengeksplorasi buku, serta materi cetak lainnya.


 Kecakapan Literasi Anak

Secara spesifik, Stewart et.al. (2014) menjelaskan bahwa kecakapan literasi Anak mencakup:


1.      Kesadaran fonologis, yaitu kecakapan untuk mengenali bahwa alfabet mewakili bunyi, melalui kegiatan menyimak dan bermain. Kecakapan mengenali satuan bunyi ini penting pada saat anak belajar merangkainya menjadi kata saat mereka belajar membaca.

2.        Minat terhadap materi cetak, mencakup minat terhadap buku di sekitarnya.

3.     Kesadaran terhadap materi cetak, yaitu kesadaran anak bahwa materi cetak memiliki makna dan menyampaikan pesan tentang sesuatu; kesadaran bahwa materi cetak dapat memuat cerita yang menarik, berisi materi/aksara yang mewakili bunyi, dapat dieksplorasi, dipegang, serta memiliki sampul dan isi dalam halaman-halaman yang berurutan. Kesadaran akan materi cetak dapat Anda bangun dengan membacakan cerita kepada siswa dan anak sambil menunjukkan huruf pada buku ketika membacakan dan mendiskusikannya. Materi cetak lain seperti papan nama, label, dan merek juga dapat menjadi media kegiatan literasi di sekolah dan di rumah.

4.      Pengetahuan tentang huruf, men-cakup kecakapan anak untuk mengenali huruf dengan nama, bentuk, dan bunyi yang berbeda. Kecakapan ini dapat dibangun dengan memberikan gambar huruf-huruf abjad dalam permainan.

5.      Perbendaharaan kata, yaitu pemahaman anak tentang nama-nama benda dan nama yang mewakili konsep sederhana di sekitar mereka (pagi, sedih, senang, mau, dan lain-lain). Apabila siswa dan anak telah mengenal berbagai ragam kosakata, semakin mudah ia mengenali kata tersebut dalam format tulis. Kosakata dapat dikembangkan dengan mengajak anak berbicara, juga membantu anak membuat koneksi antara nama benda yang didengar dan dilihat.

6.    Pengetahuan latar yang akan membantu anak untuk memahami dunia di sekitarnya dan menyajikan pemahamannya tersebut secara lisan. Anak yang sering diajak berbicara, berdiskusi, dan dilibatkan dalam kegiatan tanya jawab di sekolah maupun di rumah, akan memiliki pengetahuan latar yang baik.

7.     Kemampuan bercerita, mencakup kecakapan menceritakan kembali apa yang didengarnya dengan runtut dan mengungkapkan perasaan dan pemikirannya dengan bahasanya sendiri. Kecakapan literasi dini tersebut merupakan fondasi penting bagi kemampuan anak untuk belajar dan berkomunikasi saat ia beranjak dewasa. Kemampuan akademik seorang anak juga beriringan dengan perkembangan kognisi dan keterampilan memecahkan masalah yang diperoleh saat anak mengakrabi kegiatan literasi dini. Oleh karena itu, kegiatan literasi dini merupakan stimulasi penting yang perlu Anda berikan sejak siswa dan anak telah dapat merespons dan mencoba berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal.


 Membacakan buku cerita untuk anak

Buku cerita merupakan salah satu format buku yang tersedia untuk anak. Format buku cerita yang dikenal masyarakat dan yang tersedia di toko buku, perpustakaan, dan sekolah banyak ragamnya. Dengan beragam buku cerita yang tersedia di toko buku dan perpustakaan, bagaimana kita menentukan buku yang tepat dan diminati oleh anak? Ketika memilih buku cerita, kita dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut :


a.       Buku cerita dengan tokoh binatang kesukaan anak, atau tokoh anak yang bersikap, berpikir, dan berbicara sebagaimana lazimnya anak usia dini. Tokoh binatang atau manusia pada buku juga perlu memiliki sifat yang menyenangkan dan menggambarkan anak usia dini.

b.       Buku cerita dengan alur cerita sederhana sehingga mudah dipahami oleh anak usia dini. Buku-buku dengan cerita rakyat seperti legenda, mitos, dan asal-usul terjadinya suatu tempat (biasa disebut folklore) umumnya memiliki alur yang kompleks sehingga kurang sesuai untuk anak usia dini. Namun demikian, cerita rakyat bergenre fabel biasanya cukup menarik dan dapat dinikmati oleh anak usia dini.

c.       Pilihlah buku dengan nilai moral yang disampaikan dengan cara yang tidak menggurui. Orang tua perlu mengingat bahwa tujuan memilihkan dan membacakan buku kepada anak usia dini adalah untuk menumbuhkan minatnya kepada buku, bukan menggurui atau menjejalkan nilai moral kepada mereka.


Kesimpulan

Kegiatan membacakan buku (read aloud) adalah aktivitas menumbuhkan budaya literasi yang penting dilakukan. Apabila orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lain di rumah membacakan buku di rumah, anak dapat menangkap kasih sayang dan perhatian. Hasilnya, ikatan emosional pun terjalin dan anak akan merasa nyaman. Suasana menyenangkan yang tercipta saat kita membacakan cerita akan tertanam dalam benak anak. Saat membacakan buku, hindari mengomel, memerintah, atau melarang. Nada dan intonasi yang menyenangkan akan membuat anak nyaman. Anak yang tumbuh menyenangi membaca akan tumbuh menjadi seorang pemelajar sepanjang hayat. kunci keberhasilan seorang anak adalah terciptanya kehangatan dan terjalinnya ikatan emosional antara orang tua dengan anak. Karenanya, penting bahwa orang tua dan anak menikmati kegiatan literasi yang dilakukan bersama.


*Pemustaka


 Daftar Pustaka :


Clay, M. M. 2001. Change Over Time in Children’s Literacy Development. Portsmouth, NH: Heinemann.


Dewayani. S., & Setiawan, R. 2018. Saatnya Bercerita: Mengenalkan Literasi Sejak Dini. Yogyakarta: Kanisius


Share :