Genetik Dan Geneologis Jawara Banten

Sumber Gambar :

Oleh : Adung Abdul Haris

Prolog

Hingga saat ini penulis sudah menulis naskah buku berjudul, "Babad Alas Banten Dan Sejarah Berdirinya Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten". Naskah buku tersebut hingga saat ini sudah masuk ke percetakan (sedang proses cetak). Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak buku tersebut bisa segera terbit. Buku tersebut kurang lebih sekitar 300 halaman, yang terdiri dari enam bagian atau enam Bab.

Sedangkan riset yang dilakukan penulis untuk pengkayaan isi buku tersebut, sudah mulai sejak tahun 2022 yang lalu. Sementara hasil penelitian dan sekaligus temuan penulis di lapangan dapat disimpulkan, bahwa akar (genetik dan geneologis) tentang adanya penyebutan Jawara di Banten, Pendekar Banten, dan Pesilat Banten, ternyata sudah dimulai sejak akhir abad ke 15 M dan di awal abad ke 16 M, terutama setelah diciptakannya salah satu aliran silat yang asli Banten, yang nota bene hingga saat ini aliran silat disebut disebut aliran pencak silat Terumbu Banten.

Sementara dalam fakta sejarahnya, bahwa aliran silat yang asli Banten tersebut, yang nota bene saat ini sudah terlembagakan, menjadi sebuah Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten (PPSTB) dan aliran silat Terumbu Banten ini, diciptakan oleh salah seorang ulama dan sekaligus Waliyullah yang datang dari Bagdad (Irak), yang bernama Syaikh Datu Khofi Al-Khofiyah Bin Yunus, alias Syaikh Terumbu. Awal beliau datang Banten, yaitu melalui Pelabuhan Karangantu-Banten, dan akhirnya menetap di wilayah Banten, yang hingga saat ini disebut Kampung Babadan, atau Kampung Terumbu, yamg berada di wilayah Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.

Sementara misi utama kedatangan dari Syaikh Terumbu ke wilayah Banten adalah untuk kegiatan dakwah bil-hal. Mengingat saat itu (akhir abad 15 dan awal abad ke 16 M) wilayah Banten masih dibawah kekuasaan Prabu Puncuk Umun Banten (yang berkeyakinannya masih Sunda Wiwitan), namun dalam konteks seni budaya, maupun keterampilan seni bela diri masyarakat Banten, terutama yang ada di wilayah Pantura, ketika itu juga sudah menggandrungi ilmu silat dan ilmu kanoragan. Maka sejak saat itulah, Syaikh Datul Khofi Al-Khifiyah Bin Yunus, alias Syaikh Terumbu, akhirnya ia menciptakan salah aliran silat tersendiri, yang hingga saat ini disebut aliran silat Terumbu Banten. Bahkan, sejak saat itulah secara genetik dan geneologis soal penyebutan Jawara Banten (Pendekar Banten) sudah mulai muncul. Mengingat, salah seorang murid kesayangan dari Syaikh Datul Khofi Al-Khofiyah Bin Yunus, alias Syaikh Terumbu, yaitu bernama Syaikh Beji, alias Ki Buyut Beji, alias Syaikh Abdul Fatah, ia kemudian diangkat meniadi Panglima Perang di internal Kesultanan Banten oleh Sultan Maulana Hasanuddin.

Sementara silsilah keturunan maupun silsilah keguruan dari aliran pencak silat Terumbu Banten, yaitu mulai dari sang pencita aliran silat Terumbu itu sendiri, yakni mulai dari Syaikh Datul Khofi Al-Khofiyah Bin Yunus, alias Syaikh Terumbu, ia kemudian menurunkan kepada anak laki-lakinya, yaitu bernama Syaikh Jamaluddin, kemudian Syaikh Jamaludin, ia punya anak laki-laki bernana Ki Juned atau Ki Junedil Kubro, kemudian Ki Junedil Kubro, ia punya anak bernama Ki Pangsi, kemudian Ki Pangsi punya anak Ki Derham, kemudian Ki Derham punya anak laki-laki bernama Ki Sahlan, kemudian Ki Sahlan punya anak bernama Ki Murid, atau Ki Jaro Murid, kemudian Ki Jaro Murid, punya anak bernama Ki Madrais, dan terus turun-temurun sampai ke anak-cucu Ki Madrais itu, yang akhirnya sampailah aliran silat Terumbu Banten tersebut kepada para Guru Besar maupun para Dewan Guru dan para pelatih di internal Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten hingga saat ini. Sementara Syaikh Beji atau Ki Buyut Beji, alias Syaikh Abdul Fatah Banten, ia merupakan murid kesayangan dan sekaligus menantu dari Syaikh Datul Khofi Al-Khofiyah Bin Yunus, alias Syaikh Terumbu, dan kelak dikemudian hari ia diangkat menjadi Panlima Perang di Kesultanan Banten oleh Sultan Maulana Hasanuddin, yakni setelah Sultan Maulana Hasanuddin secara de fakto dan de jure dinobatkan menjadi Sultan Banten yang pertama.

Sementara jurus yang diwariskan oleh Syaikh Datul Khofi Al-Khofiyah Bin Yunus, alias Syaikh Terumbu, konon awalnya kurang lebih sekitar 183 jurus, kemudian diperas menjadi 24 jurus, kemudian diperas menjadi 12 jurus, dan kemudian diperas menjadi 9 jurus, yang hingga saat ini disebut "Jurus Baku Sembilan" di internal aliran silat Terumbu Banten. Sedangkan metapor di aliran silat Terumbu Banten, ada juga yang disebut jurus aluf satu, jurus alif dua, dan jurus alif tiga. Sedangkan jurus aluf satu, hal itu merupakan metapor berbakti kepada Ibu, sedangkan jurus alif dua, merupakan metapor berbakti kepada Bapak, dan jurus alif tiga, merupakan metafor berbakti kepada Guru. Bahkan, di internal keluarga pesilat Terumbu Banten, ada istilah "Ia shalat.. Ia Silat". Karena sang pencipta dari aliran pencak silat tersebut adalah salah seorang ulama dan sekaligus Waliyullah yang datang dari Bagdad (Irak).

Dengan kata lain, secara genrtik dan geneologis sebutan kata ”Jawara Banten” sejak zaman dulu, ia adalah sosok penjaga keamanan, pelindung ulama, dan sekaligus pilar pertahanan Kesultanan Kesultanan Banten yang disegani, yang seringkali juga dikaitkan dengan kesaktian (jimat) dan keahlian bela diri. Kerapkali juga mereka berbusana serba hitam, membawa golok, dan berakar dari perpaduan nilai silat dan keislaman (shalat).

Berikut ini adalah karakteristik dan peran penting Jawara Banten zaman dulu : (1). Pelindung Ulama Dan Daerah. Jawara bertugas sebagai "khadam" (pelayan) ulama dan penjaga keamanan Desa dari ancaman, baik dari perampok maupun penjajah. (2). Identitas Dan Penampilan. Khas dengan pakaian hitam, membawa golok, dan memiliki penampilan sangar. (3). Kesaktian Dan Supranatural. Umumnya memiliki kemampuan kanuragan atau ilmu bela diri yang dibantu dengan kekuatan magis/jimat. (4). Sikap Terhadap Penjajah. Sempat distigmatisasi negatif oleh kaum penjajah Belanda, bahkan dituduh sebagai perampok dan lain-lain, karena keberanian mereka melawan kolonial Belanda, namun pada dasarnya jawara berperan sebagai pejuang lokal. (5). Kaitan Dengan Pesantren. Jawara sering kali menjadi pengawal pesantren dan menjadi perantara antara kekuasaan tradisional (Sultan/Kiai) dan masyarakat. Bahkan, jawara masa lalu bergeser dari sekadar ahli bela diri fisik menjadi pemimpin tradisional yang dihormati di lingkungan masyarakatnya.

Terminologi Jawara Menurut Perspektif Rektor Untirta, Prof. Dr. Fatah Sulaiman

Sekitar tiga tahun yang lalu, terutama ketika diacara Silakda (Silaturrahmi Daerah) ICMI Orwil Banten, yang bertemat di Gedung Negara, saat itu penulis juga hadir diacara tersebut, sekaligus mencermati betul sambutan dari Rektor Untirta saat itu (Prof. Dr. Fatah Sulaiman). Bahkan, diacara Silakda ICMI yang digelar satu hari penuh itu, sang Rektor yang energik itu, ia ketika mengungkapkan soal erminologi dari kata "JAWARA", dimana sang Rektor Untirta saat itu, ia malah mempertegas, bahwa akronim dari nilai-nilai utama yang harus dimiliki masyarakat Banten, yaitu Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius, dan Akuntabel. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan karakter untuk membangun masyarakat Banten sebagai sumber pengetahuan dan kebajikan.

Berikut ini adalah penjabaran konsep JAWARA : (1). Jujur : Bertindak lurus, tidak curang, dan sesuai dengan kebenaran. (2). Adil. Memberikan hak kepada yang berhak dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. (3). Wibawa. Memiliki karisma, keteladanan, dan disegani karena integritasnya. (4). Amanah. Dapat dipercaya dan bertanggung jawab penuh atas tugas yang diberikan. (5). Religius. Menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dalam perilaku sehari-hari. (6). Akuntabel. Setiap tindakan dan keputusan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun moral.

Bahkan, secara internal terutama di lingkungan sivitas akademi Untirta, Prof. Fatah Sulaiman kerapkali juga menekankan bahwa lulusan dari Untirta harus membuktikan diri sebagai "Jawara" yang inspiratif dan berkontribusi nyata, khususnya dalam upaya untuk mengabdi kepada negeri tercinta ini. Menurut beliau : Buktikan Bahwa Kalian Adalah Jawara Untirta. Yakni, para lulusan Untirta harus terus meneladani kisah inspiratif para pendiri Kesultanan Banten, dan termasuk meneladani dari sosok Sultan Ageng Tirtayasa yang membawa Kesultanan Banten pada masa superioritasnya (abad 16 – 17 M).

Jawara Banten, Antara Ke-Ilmuan Dan Kekinian

Jawara Banten hingga saat ini telah mengalami evolusi signifikan dari sosok yang identik dengan kekerasan dan mistisisme menjadi aktor sosial-politik yang lebih terorganisir dan modern. Sementara dalam konteks keilmuan dan kekinian, jawara Banten, kini malah dipandang sebagai elite lokal, penjaga budaya, dan pelaku ekonomi yang bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Berikut ini adalah analisis Jawara Banten dalam konteks keilmuan dan kekinian:

Konteks Keilmuan (Kajian Sosial Dan Historis)

(1). Definisi Historis. Secara tradisional, Jawara didefinisikan sebagai murid kyai yang menguasai ilmu shalat, ilmu silat dan ilmu kanuragan (kesaktian). Sementara menurut Sartono Kartodirjo menilainya sebagai "social bandit" (bandit sosial), namun pandangan lain melihat mereka sebagai elite lokal yang disegani karena kemampuan supranatural dan perlawanan terhadap kolonial. (2). Peran Ganda. Keilmuan sosial menunjukkan jawara tidak terlepas dari dikotomi antara kekerasan (kanuragan) dan religiusitas (pesantren dan akhlaq kesantrian), hal itu menciptakan sosok "kyai-jawara". (3). Struktur Sosial. Jawara beroperasi dalam jaringan sosial berbasis kekeluargaan, keturunan, dan padepokan silat.

Konteks Kekinian (Transformasi Dan Modernisasi)

(1). Transformasi Peran. Jawara saat ini tidak lagi sekadar mengandalkan kekerasan, melainkan telah bertransformasi menjadi aktor dalam pembangunan infrastruktur dan pelaku bisnis. (2). Jawara Dalam Politik. Karena jawara memiliki pengaruh besar dalam memobilisasi massa dan sering terlibat dalam kontestasi politik lokal (Pilkada) di Banten. (3). Restrukturisasi Identitas. Konsep kejawaraan kini telah disesuaikan dengan nilai-nilai modernisasi. Namun, nilai kejawaraan masih melekat, sekalipun manivestasinya berubah menjadi kegiatan pemberdayaan masyarakat, pendidikan karakter, dan pelestarian budaya. (4). Identitas Budaya. Dalam era modern saat ini, jawara sering dikaitkan dengan seni tradisional seperti debus dan tari jawara sebagai warisan budaya.

Evolusi Makna

Penelitian menunjukkan pergeseran dari "Bandit Sosial" sebagaimana diungkapkan Sartono Kartodirjo, akhirnya menjadi "Aktor Pembangunan" yang terorganisir. Meskipun demikian, akar sejarah jawara sebagai pendekar yang berani melawan ketidakadilan hingga saat ini masih tetap menjadi landasan identitas masyarakat Banten.

Persepsi Dan Transformasi Jawara Banten

Banten merupakan masyarakat yang dikenal teguh dalam memegang nilai-nilai keagamaan serta adat istiadat. Unsur-unsur keagamaan dan budaya begitu melekat dalam lingkungan sosial masyarakat Banten. Bahkan, para ulama dan Kokolot (tokoh adat) diletakan pada posisi penting dalam struktur masyarakat di Banten. Ulama memegang peran sentral sebagai subjek penyampai risalah keagamaan, dan dalam beberapa hal posisi ulama dapat lebih tinggi dari kedududukan sosial kelompok lain. Di luar kedua unsur diatas, terdapat satu unsur yang dianggap mempunyai ikatan tradisi dan sejarah yang kuat di Banten.

Unsur itu ialah segmen yang di identifikasi sebagai kelompok jawara. Saking melekatnya, kerapkali juga nama Banten hingga saat ini disebut sebagai "Tanah Jawara". Tetapi apa itu jawara dan bagaimana kiprahnya sehingga sedemikian melekat dalam identitas Banten? Untuk menjawabnya kita perlu terlebih dahulu mendudukan Jawara dalam sudut pandang definisi, perjalanan sejarah, serta persepsi publik terhadap jawara sebagai salah satu unsur penting yang mengisi ruang sosial dan kebudayaan masyarakat.

Jawara

Nina Lubis, dalam bukunya berjudul "Banten Dalam Pergumulan Sejarah, Sultan Ulama Jawara" menuliskan bahwa jawara merupakan kata yang sudah sedemikian melekat bagi orang Banten. Menurutnya, dalam lingkungan sosial di Banten, jawara tidak bisa dilepaskan sama sekali. Jawara memiliki peran yang cukup dominan dalam masyarakat dan bahkan menyandang status tersendiri sejak masa pemerintahan kolonial. Jawara biasanya memiliki asesoris yang khas; seperti berbusana serba hitam, bernada bicara tinggi, dan membawa senjata tajam berupa golok (biasanya di pinggang). Kelompok ini juga kerap disebut sebagai pendekar yang tergabung dalam organisasi maupun dalam hubungan kekeluargaan yang kuat.

Bahkan, dalam berbagai literatur sejarah disebutkan bahwa kelompok ini dikenal sering membuat "onar" terutama ketika di zaman pemerintah kolonial maupun terhadap para pejabat lokal yang menjadi pembantunya. Beberapa diantara tindakan kelompok jawara tersebut menghadirkan keresahan massif di kalangan pejabat pemerintah kolonial. Tidak sedikit dari kelompok ini yang kemudian diasosiasikan sebagai bandit sosial oleh pemerintah kolonial. 

Peta Persebaran Dan Persepsi

Tidak ada indikator yang pasti menyangkut peta persebaran daerah yang diidentifikasi sebagai basis jawara di Banten. Tetapi untuk sekadar menyebutkan, terdapat beberapa wilayah seperti Cisimeut-Cibuah (Kabupaten Lebak), Ciomas, Walantaka, Anyer, Pamarayan (Serang) serta beberapa daerah lain yang terkenal dan melekat dengan keberadaan tokoh yang menyandang predikat jawara/pendekar. Pembagian ini tentu bukan berdasarkan kajian ilmiah menyeluruh tetapi bukan juga sebagai pendapat semata. Cibuah dan Warunggunung misalnya, pernah terekam sebagai supplier tokoh yang melawan pihak penjajah bersama dengan salah satu daerah yakni Pamarayan (Serang). Hal itu sebagaimana tercatat dalam buku Pemberontakan Petani Banten karya Sartono Kartodirjo. 

Sementara dari sudut pandang persepsi, kata jawara sangat lekat dengan beberapa pemaknaan. Pertama, jawara merupakan seorang atau sekelompok orang yang identik dengan perilaku kekerasan dan tindakan kriminal. Kedua, jawara adalah individu atau kelompok masyarakat yang dicitrakan dengan sifat perkasa, berani, dan memiliki kapasitas untuk melawan penindasan. Adanya citra kekerasan yang melekat dalam identitas jawara besar kemungkinan akibat rekam jejaknya dalam menentang penjajahan sehingga membuatnya di identifikasi sebagai kelompok yang asosiatif dengan nilai-nilai kekerasan. Konstruksi berfikir semacam itu pada gilirannya terekam sebagai realitas bahwa jawara adalah simbol kekerasan yang membahayakan. Labeliasi semacam itu tidaklah berdiri sendiri. Karena kolonial Belanda sebagai pihak yang merasa terancam dengan keberadaan kaum jawara sengaja mengonstruksinya untuk kepentingan stabilitas kekuasaan.

Di lain sisi, banyak pakar sejarah mengatakan bahwa jawara juga dianggap memiliki sinergi peran yang besar bersama ulama. Itu semua karena keduanya (jawara-ulama) dianggap bersinergi sangat terpatri, baik dalam kombinasi pengetahuan keagamaan dan bela diri sebagaimana diungkapkan oleh (alm) Prof. Tihami (1992) dalam tesisnya berjudul "Kiyai dan Jawara di Banten". Dalam hubungan yang lebih spesifik, sejumlah sejarawan menyebut posisi jawara yang tidak lain adalah murid sekaligus pelayan (khodim) dari kiai itu sendiri. (Gabriel Facal, 2016). Para jawara bersama ulama, merupakan motor utama yang menggerakan perlawanan terhadap penindasan dan kolonialisme. Karenanya, kalangan ulama dan jawara sudah mengambil peran kesejarahan yang mengakar di wilayah Banten, sehingga memiliki kelas tersendiri dalam stratifikasi masyarakat Banten. Itu sebabnya saat  membicarakan tokoh yang dianggap memiliki jasa, karisma dan layak dijadikan pemimpin, tidak akan jauh dari nomenklatur unsur kejawaraan dan ulama.


Share this Post