Memimpikan Perpustakaan Daerah Banten Menjadi Perpustakaan Riset

Sumber Gambar :

Oleh Rohman*

Musim dingin menyelimuti kota tua Leiden. Salju turun perlahan, menutup jalanan berbatu dan kanal-kanal tua yang menjadi ciri khas kota ini. Pepohonan meranggas berdiri seperti siluet, sementara cahaya matahari musim dingin hanya muncul sebentar, redup dan sangat dingin. Udara dari kutub Utara yang menusuk, tidak sekadar terasa menembus kulit, tetapi merembes hingga ke tulang sum-sum. Namun, di tengah lanskap yang tampak membeku dan memutih itu, denyut kehidupan intelektual justru terasa hangat dan hidup. Di Leiden University Library (Perpustakaan Universitas Leiden), para mahasiswa dan peneliti datang tanpa henti. Mereka berjalan cepat melintasi jalanan bersalju, memasuki gedung perpustakaan dengan wajah memerah karena dingin, lalu segera tenggelam dalam dunia mereka masing-masing.

Di dalam ruang-ruang baca, suasana hening bukanlah tanda ketiadaan aktivitas, melainkan konsentrasi yang mendalam. Rak-rak penuh buku tua dan baru berdiri sebagai saksi perjalanan panjang ilmu pengetahuan. Para mahasiswa duduk berjam-jam, membuka manuskrip, membaca jurnal, atau menatap layar laptop dan komputer yang tersedia dengan serius. Sesekali, pustakawan membantu mereka menemukan referensi yang sulit dijangkau. Tidak ada keluhan tentang cuaca dingin yang ekstrem di luar. Justru, perpustakaan menjadi ruang perlindungan yang hangat secara fisik dan intelektual. Di tempat ini, pengetahuan bukan sekadar disimpan, tetapi terus dihidupkan dan diproduksi.

Pengalaman yang tak kalah berkesan saya rasakan di Melbourne, Australia. Meski berada di belahan bumi selatan, sisa musim dingin masih terasa cukup tajam di pertengahan Mei 2015. Angin dingin berhembus di sudut-sudut kota, dan langit seringkali kelabu. Namun, suasana itu tidak menghalangi aktivitas di State Library Victoria (Perpustakaan Negara Bagian Victoria) yang terletak di Melbourne. Perpustakaan ini bukan hanya institusi tua dengan hampir 170 tahun sejarah, tetapi juga ruang publik yang sangat hidup. Begitu memasuki gedungnya, suasana berubah drastis. Cahaya hangat menerangi ruang baca yang luas, dengan arsitektur klasik dan modern yang memancarkan keagungan pengetahuan.

Di sana, mahasiswa tidak pernah sendiri. Mereka berbagi ruang dengan masyarakat umum baik penulis, peneliti independen, pekerja lepas, hingga wisatawan yang datang sekadar untuk menikmati atmosfer intelektual. Beberapa duduk dalam keheningan membaca buku-buku sejarah, sementara yang lain berdiskusi dalam kelompok kecil. Ada pula yang bekerja dengan laptop, memanfaatkan fasilitas digital yang tersedia. Sebagian sangat serius mencari jalur genealogi keluarga mereka hingga beberapa generasi sebelumnya. Perpustakaan ini benar-benar inklusif: siapa pun bisa datang, belajar, bekerja, atau sekadar menikmati suasana perpustakaan. Ia bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang sosial-intelektual yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu tujuan: mengakses dan memproduksi pengetahuan.

Dua pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perpustakaan, dalam bentuk idealnya, adalah ruang yang hidup dan dinamis. Ia bukan sekadar bangunan yang menyimpan buku, tetapi sebuah ekosistem yang menghidupkan aktivitas intelektual. Di dalamnya terjadi interaksi antara manusia, teks, dan gagasan. Interaksi ini melahirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan namun ia melahirkan cara berpikir, paradigma, bahkan peradaban. Dari sinilah lahir pemahaman bahwa perpustakaan yang kuat adalah perpustakaan yang mampu menjadi pusat riset, sebuah tempat di mana pengetahuan tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diproduksi, diuji, dan disebarluaskan.

Dalam konteks global saat ini, transformasi menuju knowledge-based economy bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Negara dan daerah tidak lagi dapat bertumpu pada sumber daya alam semata, tetapi harus beralih pada produksi pengetahuan sebagai sumber daya utama. Dalam ekonomi semacam ini, nilai tidak lagi dihasilkan dari komoditas fisik, melainkan dari ide, inovasi, dan riset. Di sinilah perpustakaan memainkan peran strategis sebagai infrastruktur epistemik di mana perpustakaan menjadi fondasi yang memungkinkan produksi dan distribusi pengetahuan berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan.

Perpustakaan Riset

Gagasan menjadikan perpustakaan daerah (Perpusda) sebagai perpustakaan riset bukanlah sesuatu yang berlebihan. Dalam konteks perkembangan global, hal ini menjadi kebutuhan yang mendesak. Transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan menuntut daerah tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga produsen pengetahuan. Dalam situasi ini, perpustakaan daerah memiliki posisi strategis sebagai simpul yang menghubungkan masyarakat dengan ekosistem ilmiah yang lebih luas.

Secara konseptual, perpustakaan riset (research library) dapat didefinisikan sebagai perpustakaan yang dirancang untuk mendukung kegiatan penelitian secara mendalam dan sistematis. Koleksinya tidak hanya luas, tetapi juga dalam yang meliputi buku akademik, jurnal ilmiah, arsip, manuskrip, data statistik, hingga sumber digital mutakhir. Selain itu, perpustakaan riset menyediakan layanan seperti reference service (sumber referensi ilmiah), research consultation (konsultasi riset), bantuan manajemen sitasi, hingga dukungan publikasi ilmiah. Dengan kata lain, perpustakaan riset bukan sekadar ruang penyimpanan, melainkan mitra aktif dalam produksi dan dinamika ilmu.

Lebih dari itu, perpustakaan riset juga merupakan arena politik pengetahuan. Ia menentukan apa yang layak disimpan, apa yang dianggap penting untuk diteliti, dan siapa yang memiliki akses terhadap informasi tersebut. Dalam perspektif ini, perpustakaan tidak netral. Ia adalah institusi yang memiliki kekuasaan simbolik dalam membentuk narasi, sejarah, dan bahkan identitas suatu masyarakat.

Jika ditarik ke konteks lokal, kondisi Perpustakaan Daerah Banten masih jauh dari ideal tersebut. Perpusda Banten masih berfungsi sebagai perpustakaan publik yang konvensional. Layanannya didominasi oleh peminjaman buku dan program literasi dasar. Ini jelas penting, tetapi belum cukup untuk menopang aktivitas riset yang serius.

Masalah utama terletak pada keterbatasan koleksi dan akses. Jurnal internasional, database ilmiah, dan arsip digital masih sangat terbatas. Padahal, Banten memiliki potensi besar sebagai objek riset: sejarah Kesultanan Banten, kebudayaan Banten, jaringan perdagangan global, tradisi keislaman, hingga dinamika Islamisme dan post-Islamisme. Tanpa pengelolaan yang serius, kekayaan ini akan tetap menjadi potensi yang tidak tergarap, bahkan berisiko hilang dalam arus globalisasi yang serba cepat.

Lebih jauh lagi, lemahnya dokumentasi dan digitalisasi manuskrip lokal membuat pengetahuan tentang Banten sering kali justru lebih mudah diakses di luar negeri dibandingkan di daerah asalnya sendiri. Ini adalah ironi epistemologis yang tidak bisa dibiarkan. Dalam banyak kasus, arsip tentang Indonesia, termasuk Banten, justru lebih lengkap di perpustakaan Leiden dibanding di Indonesia sendiri.

Selain itu, integrasi dengan ekosistem akademik juga masih lemah. Perpusda belum menjadi simpul dalam jaringan riset yang melibatkan perguruan tinggi seperti UIN SMH Banten, Untirta, UNSERA, UNIBA, UNPAM, UT, UMT, UMB, dll. Padahal, perpustakaan riset yang kuat selalu terhubung dengan komunitas ilmiah. Ia menjadi ruang pertemuan antara peneliti, mahasiswa, dan masyarakat. Kerjasama dengan lembaga vertical seperti Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Banten dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga penting untuk diinisiasi.

Tantangan terbesar sebenarnya bukan hanya pada infrastruktur, melainkan pada budaya riset. Masyarakat, termasuk mahasiswa dan bahkan sebagian akademisi, belum sepenuhnya menjadikan perpustakaan sebagai pusat aktivitas intelektual. Budaya membaca masih rendah, apalagi budaya meneliti. Tanpa perubahan budaya ini, transformasi perpustakaan berisiko menjadi proyek fisik tanpa dampak intelektual.

Di sinilah pentingnya pendekatan berbasis pengguna (user-centred approach). Perpusda Banten harus memahami siapa penggunanya: mahasiswa, dosen, peneliti, ASN, hingga masyarakat umum. Setiap kelompok ini memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Perpustakaan riset yang berhasil adalah yang mampu menjembatani kebutuhan ini sekaligus mendorong pengguna untuk naik kelas, dari pembaca menjadi peneliti.

Dari sisi kebijakan, pemerintah daerah perlu merumuskan strategi pembiayaan yang berkelanjutan. Pendanaan Perpusda Banten tidak cukup hanya mengandalkan APBD. Perlu dibuka peluang kerja sama dengan sektor swasta, lembaga donor, dan institusi internasional. Selain itu, perlu dipikirkan skema insentif bagi peneliti yang memanfaatkan koleksi Perpusda, sehingga perpustakaan menjadi ruang yang produktif, bukan hanya pasif.

Pengembangan teknologi juga harus diarahkan pada penciptaan ekosistem digital yang terintegrasi. Perpusda Banten perlu mengembangkan repositori digital terbuka yang dapat diakses secara global. Dengan demikian, pengetahuan tentang Banten tidak hanya tersimpan, tetapi juga berkontribusi dalam percakapan ilmiah internasional. Sehingga, menjadikan Perpusda Banten sebagai perpustakaan riset adalah proyek besar yang membutuhkan visi jangka panjang. Ia bukan sekadar pembangunan gedung atau penambahan koleksi, tetapi transformasi ekosistem pengetahuan. Ia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Jika berhasil, Perpusda Banten tidak hanya akan menjadi pusat informasi, tetapi juga pusat produksi pengetahuan. Ia dapat melahirkan riset-riset penting tentang Banten, memperkuat identitas daerah, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan secara lebih luas. Dalam konteks inilah, perpustakaan tidak lagi sekadar tempat membaca, tetapi menjadi jantung peradaban.

Transformasi Perpustakaan

Dalam kerangka yang lebih luas, transformasi perpustakaan menjadi pusat riset tidak dapat dilepaskan dari perubahan paradigma dalam melihat pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang statis, yang tersimpan rapi dalam buku-buku dan menunggu untuk dibaca. Sebaliknya, pengetahuan adalah sesuatu yang dinamis, terus berkembang, dan selalu berada dalam proses produksi. Perpustakaan, dalam konteks ini, harus bertransformasi dari sekadar “penyimpan pengetahuan” menjadi “mesin produksi pengetahuan”.

Perubahan paradigma ini membawa implikasi yang sangat besar. Perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan buku atau ruang baca, tetapi juga harus menyediakan ekosistem yang mendukung proses berpikir kritis, eksplorasi ide, dan kolaborasi intelektual. Ruang-ruang diskusi, laboratorium digital, akses terhadap data, hingga pendampingan riset menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari fungsi perpustakaan modern. Dalam konteks ini, perpustakaan menjadi semacam “kampus kedua” yang terbuka bagi siapa saja.

Jika kita melihat praktik di negara-negara maju, transformasi ini sudah berlangsung cukup lama. Perpustakaan tidak lagi diposisikan sebagai institusi pelengkap, tetapi sebagai pusat strategis dalam pembangunan pengetahuan. Di Finlandia, misalnya, perpustakaan publik tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga fasilitas produksi konten digital, ruang kerja kolaboratif, bahkan studio kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan telah bertransformasi menjadi ruang inovasi, bukan sekadar ruang konsumsi informasi.

Dalam konteks Indonesia, gagasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Perpustakaan Nasional RI telah memulai berbagai inisiatif digitalisasi dan pengembangan layanan berbasis teknologi. Namun, tantangan terbesar terletak pada level daerah. Banyak perpustakaan daerah masih tertinggal dalam hal infrastruktur, sumber daya manusia, dan visi kelembagaan. Perpusda Banten adalah salah satu contoh yang menunjukkan potensi besar, tetapi belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Salah satu persoalan mendasar adalah bagaimana memposisikan perpustakaan dalam struktur pembangunan daerah. Selama ini, perpustakaan sering dianggap sebagai sektor “tambahan”, bukan prioritas utama. Padahal, jika kita serius ingin membangun sumber daya manusia yang unggul, perpustakaan seharusnya menjadi salah satu pilar utama. Tanpa akses terhadap pengetahuan yang berkualitas, sulit membayangkan lahirnya generasi yang mampu bersaing di tingkat global.

Lebih jauh lagi, transformasi perpustakaan juga berkaitan dengan upaya dekolonisasi pengetahuan. Selama ini, banyak narasi tentang sejarah dan budaya lokal justru ditulis dari perspektif luar. Banten, misalnya, sering kali dipahami melalui arsip-arsip kolonial yang tersimpan di luar negeri. Jika Perpusda Banten mampu mengumpulkan, mengelola, dan memproduksi pengetahuan secara mandiri, maka ia dapat menjadi alat penting dalam merebut kembali narasi tentang dirinya sendiri.

Dekolonisasi pengetahuan ini tidak hanya penting secara akademik, tetapi juga secara politis dan kultural. Ia berkaitan dengan bagaimana suatu masyarakat memahami dirinya, membangun identitasnya, dan menentukan arah masa depannya. Dalam konteks ini, perpustakaan memiliki peran strategis sebagai ruang di mana berbagai narasi dapat dipertemukan, diperdebatkan, dan diuji secara ilmiah.

Namun, perlu disadari bahwa transformasi ini tidak dapat dilakukan secara instan. Ia membutuhkan proses yang panjang, konsisten, dan berkelanjutan. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah melakukan audit terhadap kondisi perpustakaan saat ini. Apa saja koleksi yang dimiliki? Seberapa relevan koleksi tersebut dengan kebutuhan pengguna? Bagaimana tingkat pemanfaatannya? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk merumuskan strategi pengembangan yang tepat.

Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci utama. Pustakawan tidak lagi cukup hanya memiliki kemampuan teknis dalam mengelola buku, tetapi juga harus memiliki kompetensi dalam bidang riset, teknologi informasi, dan komunikasi ilmiah. Mereka harus mampu menjadi fasilitator pengetahuan, bukan sekadar pengelola koleksi. Dalam konteks ini, pelatihan dan pengembangan profesional bagi pustakawan menjadi sangat penting.

Tidak kalah penting adalah membangun kemitraan strategis. Perpusda Banten tidak bisa berjalan sendiri. Ia perlu menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, komunitas, bahkan sektor swasta di kawasaan industri baik di Cikande, Cilegon, Bojonegara, Tangerang, dll. Kerjasama juga bisa dilakukan dengan BUMN yang ada di Banten seperti Angkasa Pura, PT KS, PT PGN, dll. Kolaborasi ini dapat membuka akses terhadap sumber daya yang lebih luas, baik dalam bentuk koleksi, teknologi, maupun jaringan. Dalam dunia yang semakin terhubung, kerja sama menjadi kunci untuk memperkuat posisi institusi.

Selain aspek kelembagaan dan kebijakan, pendekatan kultural juga sangat penting. Perpustakaan harus mampu menjadi ruang yang ramah dan menarik bagi masyarakat. Ia tidak boleh terkesan kaku dan eksklusif. Sebaliknya, ia harus menjadi ruang yang hidup, inklusif, dan terbuka. Program-program seperti diskusi publik, bedah buku, pelatihan menulis, hingga kegiatan kreatif dapat menjadi cara untuk menarik minat masyarakat.

Dalam konteks ini, penting juga untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai jembatan antara perpustakaan dan generasi muda. Platform digital, media sosial, dan aplikasi mobile dapat digunakan untuk memperluas jangkauan layanan perpustakaan. Namun, penggunaan teknologi ini harus diiringi dengan strategi yang jelas, agar tidak hanya menjadi gimmick, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah.

Menariknya, jika kita melihat lebih dalam, transformasi perpustakaan sebenarnya memiliki dampak yang jauh melampaui sektor pendidikan. Ia dapat berkontribusi pada berbagai aspek pembangunan, mulai dari ekonomi, sosial, hingga politik. Dalam ekonomi, perpustakaan dapat mendukung inovasi dan kewirausahaan berbasis pengetahuan. Dalam sosial, ia dapat memperkuat kohesi masyarakat melalui ruang interaksi yang inklusif. Dalam politik, ia dapat menjadi ruang demokratisasi informasi yang mendorong partisipasi publik yang lebih kritis.

Dalam konteks Banten, potensi ini sangat besar. Sebagai daerah dengan sejarah panjang dan dinamika sosial yang kompleks, Banten memiliki banyak hal yang dapat diteliti dan dikembangkan. Perpustakaan dapat menjadi pusat yang menghubungkan berbagai potensi tersebut. Ia dapat menjadi tempat di mana sejarah, budaya, dan dinamika kontemporer bertemu dan menghasilkan pemahaman baru.

Namun, semua potensi ini hanya akan menjadi wacana jika tidak diikuti dengan komitmen yang nyata. Diperlukan keberanian untuk melakukan perubahan, termasuk perubahan dalam cara berpikir. Perpustakaan harus dilihat bukan sebagai beban anggaran, tetapi sebagai investasi jangka panjang. Investasi dalam pengetahuan mungkin tidak memberikan hasil instan, tetapi dalam jangka panjang, ia akan menentukan arah perkembangan suatu daerah.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan kemudian bukan lagi apakah Perpusda Banten bisa menjadi perpustakaan riset, tetapi apakah kita memiliki keberanian dan komitmen untuk mewujudkannya. Transformasi ini membutuhkan visi yang jelas, strategi yang matang, dan kerja sama yang kuat. Ia bukan proyek satu atau dua tahun, tetapi proyek jangka panjang yang membutuhkan konsistensi.

Jika kita mampu menjawab tantangan ini, maka Perpusda Banten dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Ia dapat menunjukkan bahwa perpustakaan daerah tidak harus tertinggal, tetapi justru dapat menjadi motor penggerak pembangunan pengetahuan. Dalam dunia yang semakin kompetitif, kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan menjadi kunci utama. Dan di sinilah perpustakaan menemukan kembali relevansinya.

Lebih jauh lagi, keberhasilan transformasi ini akan membawa dampak simbolik yang kuat. Ia akan menunjukkan bahwa daerah tidak harus bergantung sepenuhnya pada pusat dalam hal produksi pengetahuan. Daerah dapat berdiri sendiri, membangun kapasitasnya, dan berkontribusi dalam percakapan global. Ini adalah langkah penting menuju kemandirian intelektual.

Dalam perspektif yang lebih reflektif, perpustakaan sesungguhnya adalah cerminan dari peradaban. Bagaimana suatu masyarakat memperlakukan perpustakaannya menunjukkan bagaimana ia memandang pengetahuan. Apakah pengetahuan dianggap penting? Apakah ia dijaga dan dikembangkan? Atau justru diabaikan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan masa depan.

Karena itu, menjadikan Perpusda Banten sebagai perpustakaan riset bukan sekadar proyek teknis, tetapi juga proyek peradaban. Ia berkaitan dengan bagaimana kita membangun masa depan melalui pengetahuan. Ia adalah investasi dalam hal yang paling fundamental: cara kita berpikir, memahami, dan menciptakan dunia. Wallahu’alam

*(Direktur Bantenologi


Share this Post