MENULIS DENGAN SMARTPHONE, MENGAPA TIDAK?

MENULIS DENGAN SMARTPHONE, MENGAPA TIDAK?

MENULIS DENGAN SMARTPHONE, MENGAPA TIDAK?


Oleh: Atih Ardiansyah*



Pada 21 September 2021, media online yang berbasis di Banten, yakni www.bantennews.co.id, merilis berita berjudul Keren, Bermodal HP Pelajar Asal Pandeglang ini Terbitkan 4 Novel. Berita mengangkat sosok Nurul Aini yang memiliki nama pena Aini Rahmat, pelajar kelas 3 Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Mathla’ul Anwar Pasirdurung, yang berhasil membuat dan menerbitkan 4 buah novel selama masa pandemi Covid-19.

Aini menuturkan bahwa dia menulis naskah-naskahnya melalui smartphone yang dibelikan oleh ayahnya. Selain empat novel yang telah terbit, Aini tetap menjaga produktivitasnya dengan menyiapkan tiga novel selanjutnya. Dia bahkan mengatakan bahwa tiga naskahnya akan diterbitkan beberapa penerbit.

Saya cukup menikmati kisah Aini yang tekun menulis. Menerbitkan empat novel dan tengah menyiapkan tiga naskah lainnya merupakan bukti bahwa Aini telah berhasil menerapkan disiplin tingkat tinggi dalam aktivitas menulisnya. Pengetahuan Aini tentang penerbit, proses menerbitkan (meskipun nama-nama penerbitnya saya baru kali ini mendengar atau membacanya), juga proses memasarkan menjadi nilai tambah bahwa Aini memang seorang penulis yang memiliki bekal cukup untuk menjadi matang di kemudian hari.

Akan tetapi, saya sedikit terganggu dengan pembingkaian (framing) yang dilakukan redaksi www.bantennews.co.id. Hal yang mengganjal hati saya tersebut mislanya pada paragraph berikut:

Selama menggarap seluruh karyanya menggunakan smartphone, Aini mengaku mendapatkan banyak kesulitan. Kendati demikian ia tidak bisa berbuat banyak lantaran terkendala masalah ekonomi.

Menurut saya, redaksi melakukan pembingkaian berita mengenai ketekunan dan produktivitas Aini dengan masalah ekonomi. Apabila mengikuti “logika” jurnalistik, yakni jarang sekali anak setingkat SMA dari keluarga kurang mampu berhasil menulis novel, sehingga harus diglorifikasi mungkin sedikit bisa dicerna akal saya. Akan tetapi hubungan antara kesulitan ekonomi lalu dikaitkan dengan proses kreatif menulis Aini menggunakan smartphone seolah-olah medium tersebut menyulitkan, menurut saya merupakan  framing yang sembrono --kecuali berita ini dimaksudkan untuk sekalian menggalang simpati agar ada pihak tertentu yang membelikan perangkat aktivitas menulis, mungkin bisa saya maklumi.

Di tengah laju teknologi yang kecepatannya tak terbayangkan, membangun logika berita bahwa seolah-olah menulis harus selalu menggunakan laptop adalah cara berpikir yang usang (obsolete). Apalagi bila menyandingkan aktivitas menulis dengan menggunakan smartphone sebagai sesuatu yang (ini, menurut saya, oleh media dititipkan pada ujaran Aini) “susah”, “huruf kekecilan”, “kurang leluasa”, “membuat pusing”, “susah koreksi”, perlu perenungan lebih dalam.

Dewasa ini, banyak sekali penulis yang telah beralih menggunakan perangkat smartphone dalam proses kreatif menulisnya. Benny Arnas, penulis produktif asal Lubuklinggau, sejak 2010 bahkan sudah menggunakan smartphone dalam proses menulisnya. Menurutnya, menulis melalui smartphone membuat produktivitasnya tak terbendung karena smartphone mudah dan memang dibawa ke mana saja. Dengan teknologi penyimpanan cloud membuat naskah menjadi lebih aman disimpan. Aktivitas menulis lewat smartphone tersebut membuat Benny Arnas menghasilkan 9 novel, 70-an esai dan 30-an cerpen.

Kang Maman (Maman Suherman) juga tidak menulis di laptop. Dia menuliskan naskah-naskahnya pada tablet. Melalui perangkat yang lebih kecil dari laptop tersebut, aktivitas menulis bisa dilakukan di mana saja, bahkan dalam perjalanan sekalipun. Biasanya Kang Maman baru menggunakan laptop bila hendak mengedit naskahnya.


Menulis di Era Digital

Produktivitas Aini dalam menulis dan menerbitkan naskahnya, bahkan dia fasih menyebut nama-nama penerbit (kemungkinan self publishing) membuka mata kita bahwa menulis di era kini banyak sekali fasilitas yang mendukung. Itu kenapa, menulis dengan menggunakan smartphone sebaiknya tidak dijadikan bahan framing sebagai penyebab mandulnya produktivitas. Buktinya Aini produktif sekali. Belum tentu dia akan seproduktif itu dengan menggunakan laptop, meskipun memberikan hadiah laptop sebagai apresiasi juga layak dilakukan. Bahkan beberapa tahun yang lalu, Qizink La Aziva sebagai salah satu pentolan www.bantennews.co.id berbagi pengalaman dengan saya bahwa dia menggunakan smartphone dalam proses menulis berita sekaligus mengunggahnya ke website. Itulah kenapa media ini mengusung tema “sajian berita cepat”.

Di era digital yang telah mendisrupsi hampir seluruh aspek cara berkehidupan ini, smartphone tidak lagi berfungsi sebagai alat berkomunikasi semata. Dia adalah alat multiguna, termasuk sebagai alat menulis. Apalagi saat ini ada banyak sekali aplikasi yang bisa menunjang aktivitas menulis melalui smartphone. Beberapa aplikasi tersebut adalah sebagai berikut:

Character Story Planner 2. Ini aplikasi yang biasa digunakan bermain game papan RGP, namun fitur-fiturnya bisa digunakan untuk mengembangkan karakter tokoh dalam cerita, bahkan memiliki fitur untuk menulis skenario cerita. Aplikasi ini akan membantu proses prapenulisan dalam proses kreatif.

Gramerly Keyboard. Aplikasi ini akan membantu siapa saja, terutama mereka yang berprofesi sebagai reporter atau juru warta yang kadang tidak bisa sekali duduk dalam menyelesaikan penulisan karena mengejar narasumber atau momen peristiwa. Kehadiran aplikasi dengan fitur pembenaran kata ini justru makin menguatkan bahwa menulis di era kini memang tak selamanya harus dengan laptop. Dalam kasus ini, terutama untuk wartawan di lapangan, menulis dengan laptop merupakan ide yang sudah usang.

Novelist. Ini aplikasi menulis novel. Aplikasi gratis ini mempunyai fitur-fitur yang sangat spesifik untuk menulis plot dan mengeksplorasinya. Aplikasi ini akan membantu aktivitas menulis, terutama yang sedang mengejar tenggat proyek penulisan yang mepet.

Writer Tools. Aplikasi ini akan membantu penulis yang kesulitan memenuhi tenggat karena memiliki fitur yang mampu mencatat dan mengatur jadwal menulis. Tapi aplikasi ini tidak akan banyak membantu kalau si penulis suka mendistraksi fokusnya, misalnya menulis sambil bermain media sosial.

Itu beberapa saja dari aplikasi yang disediakan pengembang aplikasi. Masih banyak, tinggal dicari saja. Saat ini, menulis bisa menggunakan perangkat apa saja, termasuk smartphone. Bahkan cara menerbitkannya pun sudah banyak pilihan, salah satunya seperti yang dilakukan Aini. Memilih menerbitkan naskah di penerbit mainstream dengan kurasi ketat juga silakan.

Intinya, hanya penulis yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zamanlah yang akan bertahan. Dan kemampuan beradaptasi itu dimulai dari cara berpikir.


*) Penulis adalah dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta dan Pendiri Cendekiawan Kampung


Share :