Perspektif Membaca : Mentransformasi Karakter
Sumber Gambar :Oleh : Ai Bida Adidah *
Sejak kapan proses pembangunan karakter dan pembangunan bangsa menjadi kajian tau setidaknya disadari sebagai suatu proses yang dapat dilihat dan dinilai perkembangannya? Tentunya, sejak orang mulai melihat bagaimana sebuah perjalanan sejarah dan hubungan-hubungan antar manusia di dalamnya berjalan dan bagaimana dampak-dampaknya bagi kehidupan masyarakatnya. Selain itu, sejak manusia merasa bahwa bangsa bisa dikendalikan dan dibentuk kearah tertentu yang berarti bahwa manusia bisa membentuk kehidupannya. Maka, pembangunan karakter bangsa dirasa perlu.
Secara prinsip, pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, berorientasi pada ilmu pengetahuan yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara operasional bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia.(Fatchul Muin:2016)
Dari hasil proses pendidikan ini, tentu saja seseorang berpengetahuan melalui proses membaca dan belajar melalui berbagai fasilitas, baik secara formal maupun non formal. Kemampuan seseorang menelaah dan memiliki pengetahuan melalui membaca akan beragam, tergantung sejauh mana ia memiliki kemampuan menyerap dari sumber bacaan atau sumber pengetahuan atau fasilitas yang ia miliki pada lingkungannya.
Membaca adalah proses yang sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor. Misalnya, melibatkan faktor internal dan faktor eksternal si pembaca itu sendiri. Faktor internal terdiri dari minat, intelegensi, bakat, tujuan membaca dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal pembaca dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi, sarana membaca dan tradisi membaca. Dari dua faktor tersebut saja jika kita gabungkan, akan menjadi poin yang sifatnya sangat kompleks dan tidak bisa berdiri sendiri tentunya
Kemampuan baca-tulis yang dimiiki seseorang, meniscayakan perubahan dimana pemikiran terus berdialog dengan obyek yang dibaca dan diteliti berupa fakta-fakta atau dengan ajaran tekstual. Proses transformasi menghasilkan konsep dan makna. Dialog pikiran yang juga melibatkan perasaan menghasilkan kognisi yang makin dalam tertuang dalam wujud literasi. Sebab orang cerdas secara intektual tidak puas berwacana dan berbicara saja, tetapi merumuskannya dalam bentuk tulisan atau buku. Gagasan yang dihasilkan melalui perenungan dan dialog atau penelitian disistematisasi sehingga kemudian menciptakan budaya literasi berupa buku-buku. Oleh karena itu buku merupakan wadah ilmu pengetahuan yang dihasilkan melalui membaca. Ilmu pengetahuan modern membutuhkan referensi, karena dunia kehidupan manusia modern bukan dongeng melankan kenyataan yang bisa diukur, diuji, ditransformasi dan dikembangkan menjadi peradaban yang makin canggih.
Rasionalitas manusia di zaman ini telah menghasilkan Iptek yang menjadikan membaca sebagai prasyarat budaya. Dalam dunia yang kian canggih kesadaran membaca telah menunjukkan betapa pentingnya buku sebagai referensi dan dukungan informasi yang obyektif dan akuntable. Oleh karena itu literasi buku telah menjadi sesuatu yang berpengaruh terhadap penguasaan informasi dan profesionalitas. Artinya, seorang professional ditentukan oleh sejauhmana ia menguasai keahliannya yang bersumber pada buku-buku yang dibaca dan dipelajarinya. Sebab hampir mustahil seorang menjadi professional jika tidak didukung oleh referensi-referensi informasi pendukung, berupa buku-buku dan dokumen tertulis, baik bersifat teoritis maupun praktis.
Belajar dan Karakter
Bila inti pendidikan adalah belajar, sedangkan inti belajar adalah berfikir (Achmad Sanusi:2017). Dan dapat ditambahkan pula bahwa inti berfikir adalah membaca. Dengan demikian kemampuan berfikir menjadi penting, kemalasan berfikir membuat kita sulit menjadi manusi yang unggul. Kemalasan berfikir juga akan membuat kita menyesali apa yang suadah terjadi.
Pengetahuan yang diperoleh dari hasil membaca, akan membangkitkan kesadaran dan dorongan yang akan bertindak memperbaiki keadaan, tentu membutuhkan segenap potensi kecerdasan. Dimana kecerdasan merupakan buah dari belajar dari sungguh-sungguh. Potensi kecerdasan kognitif, emosional dan spiritual merupakn potensi manusia yang dikembangkan dan berkembang dengan cara belajar menuju kebermutuan sebagai manusia (berkarakter).
Selanjutnya (Achmad Sanusi:2017), mengatakan bahwa ada 6 “modal” yang penting untuk mencapai kebermutuan dengan menggunakan tingkatan keterampilan tersebut adalah: Pertama, memiliki rasa percaya diri. Kemampuan dan potensi yang dimiliki bisa dipergunakan untuk menghadapi tantangan dan hambatan, disamping mendengarkan saran dan masukan pihak lain untuk memperkuat diri.
Kedua, Menjaga kesadaran diri. Dengan ini kita bisa menyadari asal-usul dan tujuan hidup serta bertindak berdasarkanpengetahuan. Artinya dengan kesadaran diri, kita akan memahami dari mana kita berasal, hendak kemana kita melakukan aktifitas, menghasilkan kreatifitas tertentu dan seterusnya.
Ketiga, Kemampuan untuk mandiri. Yaitu tidak bergantung pada orang lain, dan memiliki kreativitas yang membangun kesadaran berinivasi sehingga melahirkan konsep-konsep membangun yang ditularkan kepada orang lain.
Keempat, Memiliki semangat maju terus dalam berjuang menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapai. Sikap ini yang mendorong seseorang untuk tidak mudah menyerah dan terus berupaya dengan kemampuan yang dimiliki untuk memberdayakan diri.
Kelima, Membangun dan menjaga integritas. Melalui sikap ini kita bisa membangun relasi dan interaksi yang sehat dengan orang lain, integritas diri menjadi modal untuk membangun ajringan dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam membanguan tujuan yang sama.
Keenam, ikhtiar dan menyandarkan segala urusan kepada Tuhan, setelah kita beupaya semaksimal mungkin, apa yang kita upayakan akan memberikan warna yang positif, sehingga kita bisa berguna dalam ,emgarusngi kehidupan di dunia ini.
Dengan demikian, belajar merupakan proses mempersiapkan diri dengan jalan membangun fisik, jiwa dan akal fikirandan menginternalisasikan nilai-nilai budaya dan agama. Dengan cara ini dihrapakan dapat melahirkan manusia yang terdidik dan beradab yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat tanpa mengalami kegoncangan. Sementara karakter merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam memfasilitasi dan membantu pembelajar untuk mengetahui hal-hal yang baik dan luhur yang memeiliki kompetensi intelektual dibarengi dengan pengetahuan keagamaan.
Dunia Buku
Dalam amanat konstitusi Negara (UUD 1945) disebutkan bahwa negara bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar. Apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.
Demikian pentingnya membaca buku sebagai sumber informasi. Membaca buku bukan hanya merupakan proses dekoding atau memahami kode-kode dan symbol-simbol bahasa berupa lambang-lambang verbal. Membaca adalah suatu proses merekonstruksi makna sebuah teks, yaitu suatu usaha untuk menelusuri makna yang ada dalam sebuah tulisan. Pada dasarnya keterampilan membaca diperoleh melalui latihan bukan pembawaan sejak lahkan. Kini membaca buku merupakan keniscayaan bagi seseorang yang ingin maju dalam berbagai bidang. Semakin banyak buku yang dibaca, peluang untuk berubah dan berpikir lebih maju akan semakin besar.
Selama ini buku dikesankan sekedar pelengkap dalam dunia pendidikan, juga dalam kehidupan masyarakat. Buku belum merupakan sesuatu yang wajib atau menjadi syarat dalam pembelajaran mandiri atau dalam kehidupan masyarakat. Padahal buku memiliki peranan penting baik dalam proses pembelajaran maupun dalam pendalaman pemahaman akan konsep dan ilmu pengetahuan. Sebagai media dan sumber pembelajaran, buku mampu mentransformasikan pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang berkaitan dengan kompetensi dan profesionalitas diri. Mencintai buku adalah mencintai kemajuan dan kemanusiaan.
Memang disadari bahwa buku seharusnya dijadikan sumber media, khususnya dalam proses pembelajaran. Buku harus menjadi pendamping kita baik di sekolah maupun di masyarakat. Bahkan dalam kehidupan sendiri sekalipun buku seharusnya mejadi teman dialog dalam rangka menemukan pengertian dan pemahaman suatu konsep atau fakta baru. Bukankah otak manusia selalu ingin tahu akan segala sesuatu. Melalui buku keingin tahuan itu dapat terpenuhi.
Masalahnya adalah kebudayaan kita belum membentuk kesadaran membaca buku. Kebudayaan kita masih tergolong verbalistik, dank arena itu kurang menghargai obyektivitas dan analisis permasalahan yang sistematis. Kebudayaan kita dalam hal membaca buku tergolong miskin, yaitu miskin referensi dan hampa akan nilai-nilai akademis. Tentu disayangkan bahwa kemampuan potesian berpikir dan berkarya secara intelektual dan kognisi masih sangat lemah. Hal ini berpengaruh pada lemahnya hasrat membaca dan meneliti. Dalam situasi kebudayaan seperti ini buku dipandang sesuatu yang asing, menjenuhkan dan hampir dianggap tidak berguna. Dengan demikian membeli buku seolah hanya membuang-buang uang karena dianggap kurang berguna.
Di era teknologi digital seperti sekarang ini, kecenderungan orang lebih pragmatis. Mereka lebih suka membaca kalimat-kalimat pendek yang tertulis dalam medsos. Internet memang banyak menolong, tetapi tidak selalu informasi yang dibutuhkan, memiliki kualitas dan kesesuaian dengan yang kita harapkan. Memang internet dan terutama medsos menampilkan informasi begitu cepat dan mudah diakses oleh siapa saja. Tetapi banyak waktu digunakan hanya untuk memahami dan mengerti hal-hal yang praktis-pragmatis. Era teknologi yang semakin canggih, membuat masyarakat lebih memilih memainkan gadget dan berseluncur di medsos daripada membaca buku.
Bahan Bacaan :
1. Achmad Sanusi. 2017. Pendidikan Untuk Kearifan. Bandung : Nuansa.
2. Fathul Muin. 2016. Pendidikan Karakter : Konstruksi toritik & praktik. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.