PLATFORM MENULIS DIGITAL DAN TANTANGAN PERPUSTAKAAN

PLATFORM MENULIS DIGITAL DAN TANTANGAN PERPUSTAKAAN

PLATFORM MENULIS DIGITAL DAN TANTANGAN PERPUSTAKAAN


Oleh: Atih Ardiansyah, M.I.Kom.


 Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, pertumbuhan platform digital berbasis aplikasi untuk menulis dan membaca buku, khususnya novel, terus menunjukkan lonjakan yang signifikan. Beberapa aplikasi lokal seperti Storial, KBM Apps, Rakata, Comaku dan Cabaca atau dari luar negeri seperti Noveltoon, Good Novel, Webtoon, Innovel, Novelme, Wattpad kini semakin akrab di telinga masyarakat (digital) Indonesia. Storial.co misalnya, pada kwartal pertama 2020, mengalami pertumbuhan 350 persen pengguna dengan durasi baca rata-rata 60 bab saban pekannya (travelmaker.id). KBM Apps, secara berkala juga mempublikasikan perolehan pendapatan penulisnya (royalti) yang mampu tembus tujuh sampai delapan digit saban bulan, yang menunjukkan prospek pendapatan finansial yang menjanjikan dari menulis di platform digital.

Melejitnya platform digital berbanding terbalik dengan merosotnya penjualan buku cetak dan industri perbukuan. Pada tahun 2020, menurut www.liputan6.com,  penjualan buku cetak melorot hingga 80 persen yang berakibat tutupnya banyak sekali toko buku dan tumbangnya berbagai industri penerbitan. Tutupnya berbagai toko buku yang berimbas pada bangkrutnya penerbitan lantaran dibatasinya pergerakan orang-orang akibat pandemi Covid-19.

Biaya cetak dan harga buku fisik yang masih mahal di tengah gratisnya naskah-naskah dalam platform digital, atau bisa dibeli per bab, membuat industri yang sekian lama eksis ini terancam kolaps. Di luar motif lainnya, surat terbuka Haidar Bagir (pendiri Mizan Group) kepada Presiden Joko Widodo, menurut saya, merupakan ikhtiar menegakkan benang basah di tengah gempuran badai disrupsi yang menghantam industri penerbitan konvensional.


Tantangan

Dunia digital menjanjikan segala hal yang bersifat segera dan serbaada. Itulah yang membuat siapa saja bisa menjadi apa pun yang mereka suka. Dulu orang harus kuliah jurnalistik atau terlatih di bidang tersebut dahulu agar menjadi wartawan, kini siapa pun bisa menjadi juru warta. Untuk mencapai status selebritas, pemengaruh (influencer), dahulu harus masuk TV dulu, kini siapapun bisa mencapai itu semua dengan kreativitas konten dan konsistensi menayangkannya di media sosial. Bahkan bisa memiliki TV sendiri melalui akun Youtube dan sejenisnya.

Kemudahan menjadi siapa dan apa saja di tengah keserbaadaan itulah yang justru mengundang kecemasan. Penulis dan pegiat literasi, Riawani Elyta, sekurang-kurangnya mengkhawatirkan dua hal yaitu budaya instan yang mereduksi kualitas karya dan ketiadaan kontrol pada konten yang melahirkan kemerosotan moral (Tanjungpinang Pos, 12 Juni 2021).

Pertama, Elyta mencemaskan kualitas karya pada platform digital. Menurutnya, karya dalam platform digital tidak melalui proses kurasi yang ketat. Tak ada seleksi dan penyuntingan semestinya sehingga siapa saja bisa mengunggah karya dan seketika menjadi penulis. Ketiadaan sensor dan kurasi, tambah Elyta, bisa menyebabkan karya tidak memiliki kualitas yang distandarkan. Dalam hal ini, standar tersebut adalah kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kedua, ketiadaan kontrol menyebabkan berbagai karya yang bertebaran memuat unsur-unsur pornografi yang mengancam moralitas. Anehnya, menurut Elyta, karya semacam itulah yang paling banyak dibaca dan berimplikasi pada jumlah perolehan royalti.

Kualitas sebuah karya, dalam platform digital, akhirnya ditentukan oleh yang paling banyak, sering, dan lama dibaca. Layaknya hukum pasar, supply and demand, akhirnya menjadi mantra ajaib. Sayangnya, tulisan-tulisan yang paling banyak dibaca pembaca adalah yang berbau sensual. Bahkan ada pengembang aplikasi menulis digital yang secara sengaja, menurut Elyta, menuntun penulis memproduksi karya-karya demikian demi mendulang jumlah pembaca.

Indeks pornografi kita, terutama di kalangan siswa, sangat mengkhawatirkan. Kemenkes (2017) melakukan survey bahwa sebanyak 94 persen siswa pernah mengakses konten pornografi. Sebanyak 43 persen mengakses porno melalui komik, melalui internet sebanyak 57 persen, melalui game sebanyak 4 persen, melalui TV/film sebanyak 17 persen.


 Peran Perpustakaan

Berbagai lembaga survey menyebut bahwa pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan yang tidak terbayangkan. Sekitar 202,6 juta jiwa (73,7 persen) menjadi pengguna aktif, dengan durasi yang ditelan per hari rata-rata 8 jam 52 menit.

Dengan angka tersebut, tidak mengherankan bila platform menulis dan membaca buku digital tumbuh pesat. Dan memberi kontribusi dalam menyiapkan akses bacaan digital secara luas. Meskipun dengan berbagai residu seperti yang dicemaskah Riawani Elyta dan patut pula menjadi perhatian bersama.

Hingga tulisan ini dibuat, aplikasi Storial telah mengoleksi lima puluh ribu lebih judul buku dan menumbuhkan penulis-penulis baru sampai enam belas ribu banyaknya (gizmologi.id dalam Elyta, 2021). Aplikasi Good Novel telah diunduh oleh lebih dari sejuta user, kemudian aplikasi Noveltoon diunduh lebih dari 10 juta pengguna. Melihat pertumbuhan buku dan penulis dalam ekosistem digital yang eksponensial ini, bagaimana perpustakaan konvensional sebaiknya memberikan respons?

Pertama, perpustakaan tentu mesti bersyukur karena platform aplikasi tersebut telah berdiri di barisan yang sama dalam meningkatkan minat membaca masyarakat. Bila perlu, Dinas Perpustakaan Provinsi Banten, menjalin kolaborasi dengan pengembang aplikasi ini untuk mendapatkan angka kunjung eksponensial. Atau, layanan iBanten  yang telah mengalami perkembangan bagus ditingkatkan promosinya atau sekaligus jadi platform menulis dan mempublikasikan sekaligus.

Kedua, perpustakaan memiliki keunggulan sebagai ruang terapi selain sebagai tempat membaca semata-mata. Duduk di sudut ruangan dekat jendela dengan buku kesayangan, di sekitar tampak deretan buku yang mengeluarkan bau khas, merupakan pengalaman yang tidak bisa disediakan oleh platform aplikasi. Jadi, para pustakawan atau Dinas Perpustakaan barangkali mulai memotret hal ini sebagai sesuatu yang ditawarkan.

Ketiga, perpustakaan menambah perannya selain sebagai learning center, juga sebagai co-working space. Perpustakaan hendaknya tidak menjadi ruang hening namun lokus yang riuh dengan aneka gagasan. Akan menggembirakan jika beberapa pengunjung setelah keluar dari perpustakaan, mulai mengeksekusi secara kolaboratif.

Berbagai alternatif dalam layanan perpustakaan yang saya tawarkan bukan hendak mengurangi jumlah orang yang hijrah ke platform digital, tetapi sebagai upaya melengkapi, jalur kolaborasi. Tentu saja sambil tak melupakan peran untuk mengikis pengaruh buruk pornografi  yang masih ada dalam konten-konten platform digital.


Pandeglang, 11 November 2021.


 *Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Untirta/Founder Cendekiawan Kampung


Share :