Ketika Lingkungan Keluarga Menjadi Lahan Literasi

Sumber Gambar :

Oleh Ai Bida Adidah*

Pendahuluan

Literasi merupakan fondasi utama dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Kemampuan membaca, menulis dan memahami informasi menjadi dasar untuk mengembangkan pengetahuan serta keterampilan. Tanpa literasi yang baik kita akan kesulitan mengikuti proses pembelajaran dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Keluarga merupakan lingkungan pertama untuk mengenal literasi, sejak kecil seorang anak mengenal dan belajar bahasa melalui interaksi dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Kebiasaan berbicara, mendengarkan cerita, atau melihat orang tua membaca menjadi pengalaman awal yang membentuk kemampuan literasi anak.

Pada lingkungan masyarakat yang sudah maju pemikirannya, membaca merupakan suatu kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan. Semakin rutin ia membaca maka akan semakin mendorong rasa ingin tahu dalam dirinya, sehingga tidak ada waktu luang yang terbuang dalam kehidupannya. Kebiasaan seperti ini hanya terjadi pada masyarakat yang sudah tinggi tingkat literasinya, membaca sudah merupakan bagian dari kehidupan mereka.

Budaya literasi yang ditanamkan, lebih-lebih sejak dini, akan membentuk sikap positif terhadap proses pembelajaran. Ketika membaca dianggap sebagai aktivitas menyenangkan, kita akan akan lebih termotivasi untuk terus belajar. Hal ini menjadikan literasi bukan sekedar keterampilan, tetapi juga kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Keluarga Sebagai Agen Literasi

Keluarga berperan sebagai agen literasi karena menjadi lingkungan pertama tempat anak mengenal bahasa, membaca dan menulis. Sejak kecil, anak belajar berkomunikasi melalui interaksi dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya. Lingkungan keluarga dapat menanamkan kebiasaan membaca sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Aktivitas sederhana seperti membacakan buku sebelum tidur atau menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama akan menumbuhkan minat baca anak. Dengan cara ini keluarga tidak hanya menanamkam literasi, tetapi juga membangun sikap positif terhadap kegiatan membaca.

Kebiasaan bukan sesuatu yang datang dengan tiba-tiba, demikian pula dengan membaca. Kebiasaan membaca juga tidak bisa ditumbuhkan secara sekejap, karena kebiasaan membaca menyangkut perilaku seseorang. Dalam teori prilaku, kebiasaan dapat ditumbuhkan kalau dilakukan secara terus menerus tetapi juga diperlukan pemaksaan, dalam artian hal ini diperlukan penekanan pada seseorang agar melakukan kegiatan membaca, sehingga terbentuk kebiasaan membaca.

Kebiasaan membaca tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakatnya. Artinya, untuk menumbuhkan budaya membaca juga tidak lepas dari aspek yang menyangkut budaya. seperti telah kita ketahui bersama bahwa masyarakat Indonesia cenderung memiliki budaya lisan dibanding dengan budaya menulis. Tradisi orang tua dulu yang mempunyai kebiasaan mendongeng sebelum tidur, walaupun cerita yang disampaikan hanya berkisar pengulangan belaka. Lonjakan perubahan budaya masyarakat yang seharusnya dari lisan kemudian ke tulisan lalu membaca, diperparah dengan keadaan perkembangan teknologi komunikasi yang dahsyat. Masyarakat cenderung mengambil alih teknologi terlebih dahulu ketimbang membaca. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan minat membaca apalagi menumbuhkan budaya membaca, selain membutuhkan waktu yang panjang juga dibutuhkan sentuhan yang bernuansa budaya dalam artian yang lebih luas.

Secara teoritis, merubah perilaku bukan persoalan mudah, apalagi yang menyangkut persoalan sistem nilai. Budaya membaca lebih terkait pada pembiasaan. Merubah perilaku yang tidak terkait dengan nilai, memiliki kemungkinan untuk diubah dibanding dengan budaya yang menyangkut nilai. Untuk menumbuhkan budaya membaca perlu merubah pola pikir masyarakat. Artinya masyarakat perlu ditanamkan secara terus menerus arti penting dan keuntungan membaca.

Dapat ditarik suatu pengertian bahwa secara kultural pada masyarakat adalah masyarakat yang lebih cenderung  memiliki budaya melihat dan bicara dibanding budaya atau kebiasaan membaca. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat pada umumnya memiliki minat yang tinggi untuk melihat sesuatu.

Tantangan Teknologi Informasi

Distraksi atau segala hal yang mengalihkan perhatian, pikiran, atau fokus seseorang dari apa yang sedang dikerjakan akan menjadi tantangan besar dalam membangun budaya literasi. Pengaruh kehidupan moderen, arus informasi maupun semakin membudayanya nilai sosial mempengaruhi tingkat perkembangan, perilaku, dan permasalahan yang  dihadapi anak. Kehadiran televisi, gawai atau aktivitas lainnya merupakan biang keladi yang paling handal untuk mempengaruhi perilaku anak. Fenomena tersebut merupakan trend yang berdampak pada sikap dan perilaku anak. Tidak sedikit dari mereka yang sudah menggunakan teknologi informasi baik berupa handphone, facebook, twiter maupun internet. Tidak jarang kondisi ini menimbulkan efek negatif bagi mereka.       

Kehadiran teknologi informasi semestinya disikapi secara proporsional. Sikap gagap teknologi adalah suatu yang tidak boleh terjadi, tetapi sikap kaget akan memalukan dan merugikan. Kecenderungan yang terjadi pada generasi muda pada umumnya saat ini adalah hanya mampu menggunakan teknologi komunikasi bukan memanfaatkannya. Istilah menggunakan lebih memberikan kesan netral yang belum tentu memiliki nilai positif, tetapi istilah memanfaatkan lebih memiliki nuansa positif.

Yang Perlu Disikapi

Pertama, perubahan budaya. Apabila faktor budaya menjadi penghalang bagi pengembangan minat dan budaya baca, maka harus diupayakan juga dengan melakukan perubahan budaya. Hal ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah upaya penyesuaian terhadap nilai-nilai yang baru bukan hal yang sederhana, akan tetapi hal ini bukan sesuatu yang tidak dapat diupayakan. Diperlukan waktu dan ketekunan untuk mencapainya. Demikian halnya dengan perubahan budaya yang telah berakar di masyarakat. Merubah budaya dari mendengar kemudian melihat ke budaya membaca menjadi suatu hal yang teramat sulit, diperparah pula dengan semakin maraknya fasilitas untuk memanjakan mata melalui layar televisi dan internet, hal yang paling memungkinkan adalah melalui pendidikan. Sudah seharusnya sejak mereka mengenyam pendidikan dasar (SD/TK) anak harus dikenalkan dan dibiasakan dengan budaya membaca. Dengan demikian ketika mereka menginjak tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi tidak merasa kaget dan kesulitan untuk mencari bahan informasi dengan membaca.

Kedua, lingkungan kondusif, Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui lembaga pembina di bidang perpustakaan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Bantuan buku, lomba di bidang perpustakaan, layanan perpustakaan keliling, sampai bimbingan teknis pengelolaan perpustakaan adalah bentuk dari upaya menumbuhkan minat baca. Akan tetapi secara hakiki hal tersebut lebih cenderung sebagai aspek penunjang. Pembiasaan untuk membaca merupakan langkah yang lebih mendasar.

Menumbuhkan kebiasaan membaca pada masyarakat bukan menyangkut perkara yang mudah, diperlukan perangkat dan strategi yang tepat untuk melakukannya. Apalagi bagi masyarakat yang telah memiliki budaya mapan yang tidak seiring dengan budaya membaca.

Oleh karena itu upaya menumbuhkan minat baca, atau bahkan budaya baca, lebih tepat diarahkan pada anak-anak, namun hal ini juga tergantung pada lingkungannya. Dimana mereka tinggal, strata sosial masyarakat seperti apa, dan yang paling menentukan adalah partisipasi orang tua mengkondisikan kegiatan membaca di rumah. Orang tua jangan hanya memberikan arahan atau omongan. Dia memerintahkan pada anaknya untuk membaca sementara dia asik pada kegiatan lainnya. Maka perlu ditanamkan pada anak-anak seberapa besar manfaat dan keuntungan dari membaca untuk kehidupan mereka dimasa datang.

Ketiga, pembinaan minat baca, Pembinaan untuk menumbuhkan budaya baca bagi masyarakat, terutama usia dini perlu dilakukan secara integral. Lembaga yang berwenang dibidang ini adalah perpustakaan, sekolah dan lingkungan keluarga harus memiliki visi yang sama dalam menumbuhkan budaya membaca. Secara formal lembaga perpustakaan harus merumuskan program untuk menggalakan budaya membaca. Disamping itu sekolah juga harus merespon dan secara proaktif menciptakan kondisi yang memungkinkan siswanya untuk menikmati buku di sekolah. Selain itu, dorongan orang tua, baik secara moral, material dan penciptaan kondisi di rumah menjadi sisi penting yang tidak dapat diabaikan. Disisi lain pihak yang terkait juga harus memperbanyak buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Keempat, pemenuhan fasilitas. Komponen terpenting dalam menumbuhkan minat baca adalah buku atau bahan pustaka lainnya. Oleh karena itu ketersediaannya harus mempertimbangkan usia dan kehidupan sosial masyarakat yang dilayani perpustakaan. Selain bahan pustaka, fasilitas perpustakaan juga harus memenuhi standar minimal. Ketika orang datang mengunjungi perpustakaan, kesan pertama yang dia rasakan adalah kenyamanan, kemudian ketika menelusur bahan informasi, pengunjung akan mendapatkannya secara cepat dan tepat. Apalagi, perkembangan teknologi pada saat ini sudah memungkinkan perpustakaan memiki fasilitas-fasilitas yang menggunakan teknologi. Dengan demikian harus ada kebijakan dari pimpinan lembaga, mau dibawa kemanakah perpustakaan ini, apakah masih menganut konsep konvensional ataukah menggunakan teknologi yang ada.

Penutup

Ketika kita menciptakan lingkungan keluarga sebagai lahan literasi diharapkan akan mampu membentuk karakter anak. Melalui kebiassaan membaca, akan akan belajar disiplin, tanggung jawab dan menghargai ilmu pengetahuan. Nilai-nilai ini akan melekat dalam diri mereka dan menjadi bekal penting untk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Keluarga dan rumah merupakan lahan utama bagi tumbuhnya literasi. Anak pertama kali mengenal bahasa, cerita, dan kebiasaan membaca dari lingkungan terdekanya. Ketika rumah menjadi ruang yang kaya akan literasi, anak akan memiliki fondasi kuat untuk berkembang dalam kemampuan membaca, menulis dan berfikir kritis.

Menumbuhkan minat baca bukan sekedar persoalan teknis tetapi lebih merupakan persoalan budaya yang terkait dengan  perilaku masyarakat. Upaya menumbuhkan minat dan budaya baca harus ditumbuhkan sejak usia dini. Faktor lingkungan, khusunya keluarga, menjadi salah satu penentu keberhasilan upaya ini. Oleh karena itu, keluarga mesti menciptakan suasana agar anak-anak mereka yang masih usia dini dibiasakan dengan budaya membaca. Hal ini tidak bisa dilakukan secara instans tetapi harus dilakukan secara terus menerus dan memerlukan waktu relatif panjang.

Membudayakan literasi secara berkelanjutan akan menumbuhkan kreativitas dan daya pikir kiritis. Anak yang terbiasa membaca akan lebih mudah menghubungkan ide, mengembangkan imajinasi, and menghasilkan gagasan baru. Hal ini menjadikan mereka lebih siap menghadapi tantangan akademik maupun sosial. Terhadap perkembangan teknologi informasi, harus dilakukan upaya yang lebih maksimal untuk merubah penggunaan menjadi pemanfaatan. Upaya ini dapat ditempuh dengan pengenalan secara dini teknologi informasi dengan segala aspeknya secara kontekstual.

Harapan dari lingkungan keluarga menjadi lahan literasi adalah menjadikannya sebagai akar kehidupan, bukan sebagai aktivitas sesaat, anak akan tumbuh menjadi individu yang literat, kritis, komunikatif, dan berkarakter kuat. Dengan demikian keluarga berperan sebagai fondasi utama dalam mencetak generasi yang siap menghadapi masa depan dengan pengetahuan dan kepercayaan diri.

*Peminat masalah sosial

 

 

 


Share this Post