Literasi sebagai Perintah Tuhan: Jalan Menuju Peradaban yang Berilmu
Sumber Gambar :Oleh : Usman Asshiddiqi Qohara, S.Sos, M.Si
(Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten)
Dalam perspektif agama, literasi bukan hanya kebutuhan sosial dan pendidikan, tetapi juga merupakan bagian dari perintah Tuhan. Sejak awal penciptaan manusia, Tuhan memberikan akal sebagai anugerah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dalam Islam, pentingnya literasi dapat dilihat dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau berada di Gua Hira, Malaikat Jibril datang membawa perintah pertama dari Allah SWT, yaitu "Iqra'" yang berarti "Bacalah". Perintah ini menjadi penanda bahwa agama Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan. Menariknya, wahyu pertama yang turun bukanlah perintah untuk beribadah dalam bentuk ritual tertentu, melainkan perintah untuk membaca dan belajar. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tercantum dalam Surah Al-'Alaq ayat 1–5:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Pertama, Allah memerintahkan manusia untuk membaca. Kedua, Allah mengingatkan bahwa sumber segala ilmu adalah Tuhan. Ketiga, Allah menyebutkan pena sebagai alat pembelajaran dan penyebaran ilmu pengetahuan.
Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan peradaban selalu diawali oleh berkembangnya budaya literasi. Bangsa-bangsa yang maju umumnya memiliki tradisi membaca, menulis, dan belajar yang kuat. Peradaban Islam pada masa keemasan menjadi salah satu contoh nyata. Pada masa itu, berbagai perpustakaan besar didirikan. Para ilmuwan menerjemahkan, menulis, dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan di bidang kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, dan teknologi.
Kemajuan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Semua berawal dari semangat membaca dan belajar yang tinggi. Masyarakat menghargai ilmu pengetahuan dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Perpustakaan menjadi pusat pengembangan ilmu. Buku-buku ditulis, disalin, dan disebarluaskan. Para ilmuwan berdiskusi, melakukan penelitian, dan menghasilkan berbagai penemuan yang bermanfaat bagi umat manusia. Hal yang sama juga terjadi pada berbagai peradaban besar lainnya. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan budaya selalu didukung oleh tingginya tingkat literasi masyarakat.
Sebaliknya, rendahnya literasi dapat menghambat kemajuan suatu bangsa. Masyarakat yang kurang gemar membaca cenderung memiliki akses terbatas terhadap pengetahuan. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan daya saing menjadi lebih rendah.
Oleh karena itu, membangun budaya literasi bukan hanya tugas dunia pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya membangun peradaban yang lebih maju. Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara manusia memperoleh dan menyebarkan informasi. Jika dahulu informasi banyak diperoleh melalui buku dan media cetak, saat ini informasi dapat diakses melalui internet dalam hitungan detik. Kemudahan tersebut memberikan banyak manfaat. Masyarakat dapat belajar dari berbagai sumber, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara. Namun, era digital juga menghadirkan tantangan baru. Tidak semua informasi yang beredar di internet benar dan dapat dipercaya.
Hoaks, ujaran kebencian, serta informasi yang menyesatkan dapat menyebar dengan sangat cepat. Dalam kondisi seperti ini, literasi menjadi semakin penting. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai referensi, dan menilai kebenaran suatu informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya.
Perpustakaan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga pusat pembelajaran, informasi, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui koleksi buku, layanan informasi, kegiatan literasi, dan program edukasi, perpustakaan membantu masyarakat memperoleh akses terhadap ilmu pengetahuan. Saat ini, perpustakaan juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Banyak perpustakaan menyediakan layanan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses informasi kapan saja dan di mana saja. Selain menyediakan bahan bacaan, perpustakaan juga berperan dalam membangun budaya belajar sepanjang hayat. Berbagai kegiatan seperti bedah buku, pelatihan keterampilan, kelas literasi digital, dan program membaca bersama menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
Di lingkungan masyarakat, berbagai kegiatan literasi dapat dilakukan melalui taman bacaan, perpustakaan, komunitas membaca, maupun kegiatan sosial lainnya. Budaya literasi juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membaca beberapa halaman buku setiap hari, menulis catatan harian, atau berdiskusi mengenai informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.
Ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, literasi akan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjalankan salah satu perintah Tuhan untuk terus belajar, berpikir, dan memahami kehidupan. Melalui literasi, lahirlah generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu membangun peradaban yang lebih baik bagi masa depan.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bukan sekadar ruang penyimpanan buku dan dokumen. Keduanya adalah jantung peradaban, tempat ingatan kolektif disimpan, dirawat, dan dihidupkan kembali untuk menjawab kebutuhan zaman. Di tengah derasnya arus informasi digital, peran perpustakaan dan kearsipan justru semakin strategis sebagai penyangga pengetahuan yang terpercaya dan berkelanjutan.
Perpustakaan berfokus pada pengumpulan, pengelolaan, dan penyediaan informasi dalam berbagai bentuk, mulai dari buku, majalah, jurnal ilmiah, hingga sumber daya digital. Perpustakaan hadir dalam beragam wujud, seperti perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan khusus, yang semuanya bertujuan membuka akses ilmu pengetahuan seluas-luasnya bagi masyarakat.
Sementara itu, kearsipan menitikberatkan pada pengelolaan dan pelestarian dokumen serta arsip yang memiliki nilai historis, administratif, maupun hukum. Arsip negara, arsip perusahaan, hingga arsip pribadi merupakan bukti autentik perjalanan waktu yang menjadi fondasi akuntabilitas, identitas, dan sejarah suatu bangsa.
Tujuan utama kehadiran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan adalah menyediakan akses informasi dan dokumen yang dibutuhkan masyarakat. Akses ini bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga tentang kemudahan, keterbukaan, dan keberlanjutan dalam memperoleh informasi yang berkualitas. Lebih dari itu, perpustakaan dan kearsipan memiliki peran penting dalam melestarikan pengetahuan dan budaya. Apa yang dikumpulkan hari ini adalah warisan intelektual untuk generasi mendatang. Tanpa pengelolaan yang baik, pengetahuan bisa hilang, sejarah bisa kabur, dan identitas bisa tergerus oleh waktu.
Dalam dunia pendidikan, perpustakaan dan kearsipan menjadi mitra strategis yang tak tergantikan. Keduanya menyediakan sumber belajar yang mendukung siswa, mahasiswa, guru, peneliti, dan masyarakat luas dalam proses pembelajaran, riset, serta pengembangan ilmu pengetahuan secara kritis dan bertanggung jawab. Kearsipan juga berperan besar dalam meningkatkan kesadaran sejarah dan budaya masyarakat. Melalui arsip, masyarakat dapat memahami perjalanan kebijakan, dinamika sosial, serta nilai-nilai yang membentuk kehidupan hari ini. Arsip bukan benda mati, melainkan saksi hidup perjalanan bangsa.
Dengan demikian, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan memainkan peran vital dalam menyediakan akses informasi, melestarikan pengetahuan, mendukung pendidikan, serta menumbuhkan kesadaran sejarah. Di tangan pengelolaan yang visioner, perpustakaan dan kearsipan bukan hanya penjaga masa lalu, tetapi juga penuntun masa depan.