TRANSISI KEGIATAN LITERASI : dari buku fisik menuju e-book

TRANSISI KEGIATAN LITERASI : dari  buku fisik menuju e-book

TRANSISI KEGIATAN LITERASI : dari  buku fisik menuju e-book

Oleh Novita Heryana*

Prolog

            Perkembangan teknologi selalu mengalami peningkatan dalam segala aspek dan kecanggihannya guna merespons perubahan gaya hidup manusia. Saat ini dunia telah memasuki fase baru, yaitu biasa disebut dengan era revolusi industri 4.0 yang sudah diterapkan dalam berbagai sektor kehidupan. Menurut Encyclopedia Britannica (2015) bahwa revolusi industri 4.0 ini menandakan terjadinya serangkaian perubahan sosial, politik, budaya, ekonomi serta semua sektor lainnya. Era tersebut akan berlangsung selama abad ke-21 dan akan mengamplifikasi teknologi digital secara sistemik kepada berbagai sektor kehidupan. Pengoptimalisasi digital akan didorong untuk menghubungkan komputer dan internet dengan manusia. termasuk merubah pola hidup manusia secara konvensional menjadi serba berbasis komputer.

            Perlu adanya kesiapan secara menyeluruh untuk menyambut era revolusi industri 4.0 yang akan merubah secara signifikan pergeseran aktifitas manusia. Semua sektor dipaksakan untuk mampu dalam menghadapi segala kebaruan tersebut, termasuk kegiatan manusia dalam memperoleh informasi dan pengetahuan. Kita mengetahui bahwa aktifitas literasi manusia pada umumnya masih menggunakan cara-cara konvensional seperti menggunakan media buku fisik, koran, majalah serta media-media berbentuk fisik lainnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, sudah seberapa siap kita dalam melakukan transisi kegiatan literasi dari yang bersifat konvensional menuju digital ditengah budaya literasi yang sangat rendah. Lalu apakah akan efektif perubahan literasi yang berbasis digital tersebut dalam menunjang perolehan informasi dan pengetahuan yang biasa kita dapatkan melalui media berbentuk fisik.

Buku fisik masih menjadi pilihan utama

            Menurut data dari Ikatan Penerbit Indonesia atau (IKAPI) penjualan e-Book di Indonesia masih sangat rendah, begitupun yang terjadi di berbagai negara termasuk di Amerika Serikat. Buku secara digital belum menjadi tren dalam menjadi media untuk memperoleh literatur karena kebiasaan membaca buku secara fisik dinilai masih yang paling efektif digunakan. Hal tersebut dibuktikan dalam beberapa riset psikologi yang meneliti tentang penggunaan buku secara fisik dengan e-Book terdapat perbedaan perihal jumlah asupan informasi melalui otak. Salah satunya dari University of Leicester di Inggris yang menyebutkan bahwa orang-orang yang membaca melalui buku secara fisik lebih cepat merasa tahu atas informasi yang dibacanya. Kemudian jika dibandingkan dengan membaca melalui media digital diperlukan waktu 3 kali lebih lama untuk menangkap informasi serta harus dibaca secara berulang-ulang.

            Generasi saat ini memang cenderung tidak bisa lepas dari penggunaan media digital dan internet sebagai alat penunjang aktifitasnya. Namun dalam urusan buku, hal tersebut belum berlaku. Menurut Ingenta yang merilis hasil survei atas 2000 orang berusia 18 hingga 34 tahun di negara Amerika Serikat dan Inggris. Sebanyak 71 persen atau sekitar 3 dari 4 orang yang membaca buku secara fisik dibandingkan e-Book. Dan hanya terdapat 37 persen yang membaca buku digital sejak tahun 2014. Data tersebut menunjukkan secara umum penggunaan buku secara elektronik belum menjadi pilihan yang menarik jika dibandingkan dengan membaca secara fisik.

            Meskipun demikian ada beberapa pola literasi yang telah bergeser menjadi lebih banyak penggunanya seperti mendapatkan berita. Kebanyakan orang telah meninggalkan koran sebagai media utama dalam memperoleh informasi dan telah beralih menggunakan platform media online sebagai sumber utama informasi aktual. Namun hal tersebut tidak berlaku dengan penggunaan buku, orang cenderung lebih memilih menggunakan buku secara fisik dalam memperoleh pengetahuan dan bacaan mendalam dibandingkan beralih menggunakan buku elektronik. Terdapat sensas tersendiri dari buku fisik yang tidak bisa didapatkan melalui buku secara digital. Misalnya sentuhan tangan untuk membalikkan lembar halaman buku, aroma buku serta interaksi mata yang berbeda antara buku dengan alat elektonik. Ditambah masih adanya pengakuan dari beberapa orang yang memandang orang membawa buku secara fisik dianggap mempunyai pengetahuan lebih. Hal-hal demikian yang masih menjadi alasan mengapa buku secara fisik masih menjadi opsi utama dalam kegiatan literasi.

e-Book sebagai media alternatif

            Buku secara fisik pada realitanya masih menjadi pilihan utama. Namun guna menyikapi perkembangan di era serba teknologi seperti sekarang, perlu adanya solusi sebagai upaya membudayakan literasi ditengah modernitas. Buku elektonik atau e-Book hadir sebagai bentuk penyediaan akses pengetahuan mendalam melalui media digital dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena Penggunaan internet yang semakin massif oleh manusia menimbulkan paradoks peradaban peradaban di era digital ini. dampak dari era teknologi bukan hanya menimbulkan sisi positif dalam kemudahan penggunaannya, namun juga memliki potensi besar dalam melahirkan kejahatan-kejahatan dalam bentuk digital seperti hoax dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Maka penyediaan akses informasi dan pengetahuan dalam wadah digital harus juga mempunyai sifat yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. e-Book hadir dalam konteks tersebut, karena e-Book merupakan evolusi dari buku secara fisik. Bedanya hanya pada bentuk dalam penyampaian, e-Book  merupakan abstraksi buku secara fisik dalam bentuk digital. Sehingga isi yang kemudian diterima oleh pembacanya dapat dipertanggungjawabkan secara scientific.

            e-Book juga harus kita maknai sebagai media alternatif dalam memperoleh sumber bacaan mendalam melalui media digital. Terdapat juga kelebihan yang ditawarkan oleh e-Book jika dibandingkan dengan buku fisik. Berikut adalah keunggulan yang terdapat di e-Book :

1.      Sifatnya praktis dan mudah diakses

         Penggunaan e-Book sangat mudah dan praktis, dengan bermodalkan perangkat elektornik seperti handphone saja kita dapat mengaksesnya dimanapun dan kapanpun selama kita membawa perangkat tersebut. e-Book pun dapat digunakan di sela-sela penggunaan dan aktifitas kita melalui smartphone, karena tidak membutuhkan wadah fisik seperti rak buku. Disamping itu dalam satu smartphone saja, kita dapat menyimpan dan memiliki jumlah buku yang tidak terbatas karena semua tergantung keinginan kita.

2.      e-Book lebih murah

            Harga yang harus dibayar untuk memperoleh e-Book lebih murah dibandingkan dengan harga buku dalam versi cetakan. Kemudian juga banyak kanal yang menyediakan buku secara gratis dan bisa diunduh oleh penggunanya. Seperti yang disediakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten yang menyediakan wadah perpustakaan bergerak secara digital atau dinamai dengan i-Banten. Publik dapat dengan mudah mengakses e-Book dengan judul buku yang banyak dan variatif.

3.      Ramah lingkungan

                Tentu kita mengetahui bahwa bahan utama pembuatan buku secara fisik adalah pohon. Semakin banyak produksi buku yang dicetak, maka semakin banyak pula penggunaan dan penebangan pohon yang terjadi di alam. Berbeda dengan e-book yang tidak memerlukan bahan tersebut, karena jika ingin memperbanyak kuantitas jumlah  judul e-Book, sudah banyak terdapat fitur yang menunjang hal tersebut seperti “copy” “unduh” “paste”.

Kesimpulan

            Kegiatan dalam upaya meningkatkan budaya literasi dapat ditempuh dengan berbagai macam cara dan media. Buku secara fisik masih menjadi pilihan utama dalam memperoleh bahan bacaan secara ilmiah ditengah era modernitas yang serba digital. Begitupun dengan adanya e-Book yang merupakan sarana literatur yang dikemas secara digital. Keduanya sama-sama mempunyai dampak positif dalam rangka penyebaran minat literasi. Karena hanya mempunyai perbedaan bentuk saja.

            Untuk merespons kemudahan akses teknologi yang serba mudah, mau tidak mau akan ada perubahan budaya dan aktifitas manusia termasuk dalam kegiatan literasi. Transisi dalam berliterasi di era digital ini seyogyanya dapat kita lakukan tanpa menegasikan serta meninggalkan buku fisik dengan dalih penggunaan e-Book. Buku harus kita maknai secara partikular. Jika kita mempunyai kesempatan dan mampu dalam mengakses buku secara fisik, maka penggunaan buku secara fisik adalah pilihan terbaik. Namun jika tidak ada kesempatan bahkan tidak mampu memperoleh buku fisik, maka e-Book merupakan solusi alternatif yang dapat digunakan. Semua hanya tergantung pada porsi dan kebutuhan masing-masing individu sesuai konteks yang dialami.

“buku; berbentuk fisik maupun online sejatinya bukan soal. Terpenting adalah semangat membaca tiap pesan dari lembar-lembarnya serta implementasi positif yang ditimbulkannya.”

*Alumni FKIP UNTIRTA, Jurusan Pendidikan Non Formal

Share :