Asesmen Nasional : Momentum Meningkatkan Kegemaran Membaca

Asesmen Nasional : Momentum Meningkatkan Kegemaran Membaca

Asesmen Nasional : Momentum Meningkatkan Kegemaran Membaca

Oleh: Mahbudin, S.Pd.I, M.Pd*

 

Tuan dan Puan pembaca yang budiman, mengawali artikel ini, penulis ingin menyampaikan kabar gembira, setidaknya untuk para pustakawan dan pegiat literasi bahwa mulai bulan September hingga November 2021 pemerintah telah menyelenggarakan Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional untuk pertama kalinya. Mengapa Asesmen Nasional menjadi angin segar untuk para pegiat literasi? Karena untuk pertama kalinya pemerintah menyelenggarakan program evaluasi sistem pendidikan nasional tidak berbasis mata pelajaran tapi lintas mata pelajaran, dan menjadikan literasi membaca menjadi salah satu materi yang diujikan dalam Asesmen Nasional.

Tulisan ini akan mengulas beberapa isu yang berkembang di masyarakat terkait Asesmen Nasional dan kaitannya dengan pendidikan literasi: Mengapa Standar Nasional Pendidikan kita diubah?, Mengapa Ujian Nasional diganti dengan Asesmen Nasional? Mengapa literasi membaca masuk dalam materi Asesmen Nasional? Mengapa teks sastra/fiksi dipilih dalam uji kompetensi literasi membaca? Dan mengapa Asesmen Nasional adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kegemaran membaca?

Perubahan Standar Nasional Pendidikan

Pendidikan abad 21 harus dapat membekali peserta didik dengan keterampilan belajar dan berinovasi. Keterampilan menggunakan dan memanfaatkan teknologi dan media informasi, serta kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat. Keterampilan-keterampilan inilah yang dinamakan dengan konsep kecakapan hidup abad 21.

Di abad 21 ini, dunia dihadapkan dengan berbagai perubahan signifikan sebagai konsekuensi dari revolusi industri 4.0 yang tengah dialami dunia saat ini. Era revolusi industri 4.0 ini hadir dengan peluang sekaligus tantangan yang menuntut orang menguasai skill tertentu untuk dapat hidup produktif di dalamnya.

Revolusi industri 4.0 berdampak langsung pada disrupsi dunia kerja. Pekerjaan yang bersifat manual dan rutin dengan cepat diotomasi oleh teknologi. Pada September 2019 lalu, konsultan manajemen McKinsey & Company merilis sebuah laporan berjudul: Automation and the future of work in Indonesia: Jobs lost, jobs gained, jobs changed yang memprediksi 16% (enam belas persen) lapangan kerja di Indonesia saat ini dapat diotomasi pada tahun 2030, menggantikan 23 juta pekerja. Daftar pekerjaan yang diambil alih otomasi antara lain: operator mesin, petugas pembayaran, data entry, serta pekerjaan dengan aktifitas fisik juga pekerjaan yang terprediksi. 

Namun pada saat yang sama, Laporan McKinsey & Company memprediksi justru akan lebih banyak lapangan pekerjaan baru tercipta daripada yang hilang karena otomasi ini. Pekerjaan yang bersifat tak terprediksi dan pekerjaan yang berhubungan dengan interaksi sosial akan sulit untuk diotomasi. Lapangan pekerjaan yang ditawarkan di era revolusi industri 4.0 ini mensyaratkan Soft Skill abad 21 yang mumpuni. Para ahli menyebutnya: The Four Cs, yaitu: Collaboration, Communication, Critical Thinking, and Creativity. Kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kritis dan berkreativitas adalah keterampilan-keterampilan hidup yang dibutuhkan untuk dapat hidup produktif di abad 21.

Untuk dapat menjawab tantangan era revolusi industri 4.0 ini, pemerintah menyadari saat ini pendidikan di Indonesia memerlukan standar nasional pendidikan yang relevan dengan dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kehidupan masyarakat. Standar Nasional Pendidikan dalam PP Nomor 13 Tahun 2015 tidak lagi dapat secara maksimal menjawab tantangan kehidupan abad 21 sehingga perlu diganti.

Asesmen Nasional dan Kemampuan Literasi

Salah satu prasyarat untuk mewujudkan kecakapan hidup abad 21 adalah kemampuan literasi. Dan salah satu upaya untuk mendorong kemampuan literasi peserta didik, pemerintah menetapkan Asesmen Nasional (AN) sebagai sistem evaluasi pendidikan nasional. 

Perubahan mendasar pada sistem evaluasi ini adalah bahwa Asesmen Nasional tidak mengevaluasi capaian peserta didik secara individu seperti yang terjadi pada Ujian Nasional, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil. Asesmen Nasional dirancang untuk menghasilkan potret komprehensif yang berguna bagi sekolah/madrasah dan pemerintah untuk melakukan evaluasi diri dan perencanaan perbaikan mutu pendidikan.

Landasan penyelenggaraan Asesmen Nasional adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Melalui PP ini, pemerintah ingin memastikan tingkat kemampuan literasi siswa Indonesia tergambar dengan baik sehingga pemerintah memiliki road map yang terukur untuk mengeluarkan berbagai kebijakan terkait pendidikan literasi. 

Asesmen Nasional diberlakukan sebagai instrumen untuk mengukur kompetensi kognitif dan nonkognitif peserta didik, kualitas pembelajaran, kualitas pengelolaan Satuan Pendidikan dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas pembelajaran dan kualitas pengelolaan Satuan Pendidikan.  (Pasal 46 Ayat 4).

Asesmen Nasional ini serentak dilaksanakan di seluruh Satuan Pendidikan di Indonesia dan di sekolah Indonesia luar negeri dimulai dari tingkat SMA/MA/SMK/yang sederajat Kelas XII, SMP/MTs/yang sederajat Kelas VIII dan SD/MI/yang sederajat Kelas 5.

Dalam Asesmen Nasional, pemerintah mengukur dua kompetensi kognitif minimum, alias kemampuan kognitif paling dasar yang harus dimiliki siswa Indonesia, yaitu literasi membaca dan literasi numerasi. Pengukuran terhadap dua kompetensi ini disebut Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).

Dalam Prosedur Operasional Standar (POS) AN  2021, asesmen literasi membaca bertujuan untuk mengukur kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan, berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.

Sedangkan asesmen numerasi dilaksanakan untuk mengukur kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika, untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan warga dunia.

Mengapa teks fiksi dipilih dalam uji kompetensi literasi membaca?

Yang menarik dari Asesmen Nasional (AN) adalah masuknya teks sastra/fiksi kedalam butir soal uji kognitif AN. Ini di luar kebiasaan dan tidak pernah dilakukan sebelumnya. Keterampilan membaca adalah salah satu aspek kecakapan hidup fundamental untuk membantu seseorang dapat berpartisi aktif baik dalam masyarakat maupun dunia kerja. Pemerintah menyadari penumbuhan budaya membaca lebih efektif dilakukan melalui sumber bacaan non-pelajaran.

Banyak riset telah menunjukan dampak positif membaca karya fiksi terhadap kemampuan akademik seseorang. Jerrim dan Moss (2018) dalam penelitiannya yang berjudul The link between fiction and teenagers’ reading skills. International evidence from the OECD PISA study, menemukan bahwa remaja yang sering membaca fiksi memiliki kemampuan membaca yang lebih baik. Selain itu, riset ini juga menemukan bahwa teks fiksi memberi dampak lebih besar terhadap kemampuan membaca seseorang dibandingkan dengan 4 jenis teks lainnya, yaitu teks non-fiksi, majalah, koran, dan komik.

Dalam tulisan terdahulu di website ini, penulis telah menyebutkan setidaknya ada 2 faktor esensial yang membuat teks fiksi berperan lebih dominan dalam membangun kemampuan membaca.

Pertama, aktifitas membaca teks fiksi adalah deep reading (membaca mendalam). Waktu yang dibutuhkan untuk membaca fiksi lebih lama dibandingkan dengan membaca jenis teks lainnya. Ketika membaca karya fiksi, seseorang biasanya akan membaca keseluruhan isi buku tanpa ingin melewatkan kata per katanya, karena “kenikmatan” membaca karya fiksi terletak pada rangkaian setiap peristiwa dan untaian kalimat-kalimatnya. Pembaca karya fiksi seperti tenggelam bersama yang dibacanya, memaknai setiap rangkaian peristiwa yang dituturkan, lalu bereksplorasi bersama imajinasinya. Inilah yang dimaksudkan dengan deep reading. Ini berbeda jika seseorang membaca koran misalnya, yang biasanya hanya membaca headline dan sejumlah informasi yang dianggap penting saja. 

Dan satu lagi, hal terpenting dari faktor membaca karya fiksi dalam meningkatkan kemampuan membaca seseorang terletak pada proses menikmati bacaan yang dibaca. Karena jika seseorang menikmati yang dibacanya, ia akan menjadikan aktifitas membaca itu menjadi bagian dari kesehariannya, dan dari sanalah kemampuan membacanya tumbuh dan berkembang. Hal ini diperkuat dengan temuan PISA (2011)  bahwa menikmati bacaan adalah prasyarat penting untuk menjadi pembaca yang efektif.

Momentum Peningkatan Kegemaran membaca.

Melalui Asesmen Nasional, pemerintah telah mendorong siswa Indonesia untuk membaca berbagai sumber bacaan non-pelajaran, terutama teks fiksi. Inilah momentum paling tepat untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca. Seseorang yang terdorong membaca karya fiksi akan “ketagihan” untuk terus membaca. Dan pada akhirnya, dari sanalah literasi membaca seseorang terlatih.

 *Kepala Perpustakaan MTsN 1 Pandeglang


Share :