Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Banten : Menjaga Relevansi Profesi Di Tengah Budaya Instan Generasi Alfa
Sumber Gambar :Dr. Jamridafrizal*
Emotional Labor, Kearifan Sunda Banten, dan Masa Depan Pustakawan
"Silih asah, silih asih, silih asuh" — saling mengasah, saling mengasihi, saling menjaga.
Sebuah Catatan Reflektif tentang Layanan Anak dan Kerja Emosional Pustakawan di Era Digital
“Mesin dapat memberi informasi, tapi hanya manusia yang dapat memberi kehangatan.”
Jam Delapan Pagi di Ruang Layanan Anak
Bayangkan seorang pustakawan di salah satu ruang layanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, dan ia baru saja menyelesaikan tumpukan laporan administratif yang melelahkan.
Belum sempat menarik napas panjang, serombongan anak-anak sekolah — para Generasi Alfa — sudah ceria memasuki ruangan. Secara otomatis, senyum terlebar harus langsung dipasang.
Tidak ada jeda. Tidak ada waktu untuk mengumpulkan sisa energi. Yang ada hanyalah ekspektasi bahwa seorang pustakawan harus selalu tampil hangat, sabar, dan antusias — kapan pun, dan dalam kondisi apa pun. Adegan sederhana ini terjadi berulang-ulang, nyaris setiap hari, di puluhan titik layanan DPK Banten — dari ruang anak di kota besar hingga perpustakaan keliling yang menyusuri jalan berdebu menuju desa-desa di pesisir selatan.
Tantangan di Balik Senyuman: Emotional Labor
Di dalam dunia profesional, kondisi ini dikenal sebagai emotional labor atau kerja emosional. Istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Arlie Hochschild dalam bukunya The Managed Heart (1983) ini menggambarkan kerja keras seseorang dalam mengelola dan menampilkan emosi tertentu demi tuntutan pekerjaan.
Seorang pustakawan dituntut untuk selalu tampil prima di depan pemustaka, meskipun kondisi batinnya mungkin sedang lelah atau tidak sejalan dengan wajah yang ditampilkan. Relevansi teori ini terasa sangat nyata di ruang-ruang perpustakaan Banten hari ini.
Warisan Filosofi Sunda Banten: Bersiap Sebelum Melangkah
Menariknya, jauh sebelum istilah psikologi modern itu lahir, para leluhur kita di Sunda Banten sebenarnya sudah memahami betul kondisi psikologis seperti ini. Mereka mewariskan sebuah pepatah bijak yang sangat tepat untuk dijadikan pegangan sebelum kita memulai tugas: "Kudu seubeuh méméh dahar, kudu nepi méméh indit."
Secara harfiah, pepatah ini berarti harus sudah kenyang sebelum makan, dan sudah sampai sebelum berangkat. Secara mendalam, filosofi tersebut merupakan sebuah pengingat bagi pustakawan dalam melakukan manajemen emosi; kita dituntut memikirkan konsekuensi sebelum bertindak serta menyiapkan diri secara matang sebelum melangkah. Oleh karena itu, sebelum kaki melangkah masuk ke ruang layanan publik, hati dan pikiran harus disiapkan terlebih dahulu.
Ritual Pagi sebagai Wujud Nyata
Bagaimana cara menerapkannya di perpustakaan? Wujud nyata dari filosofi ini adalah ritual pagi yang kita lakukan sebelum pelayanan dimulai. Mengambil waktu sejenak untuk berdoa, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran, atau meninjau kembali rencana kerja harian adalah bentuk konkret dari pepatah kudu seubeuh méméh dahar yang telah dibahas sebelumnya. Dengan mempersiapkan energi dalam terlebih dahulu, seorang pustakawan tidak akan mudah lelah secara mental dan akan selalu siap menyapa masyarakat Banten dengan ketulusan yang sesungguhnya.
Bagi masyarakat Banten, ritual pagi semacam ini sesungguhnya tidak berdiri sendiri dari akar keislaman yang telah lama menyatu dengan kearifan Sunda di tanah ini. Sejak Sultan Maulana Hasanuddin memimpin penyebaran Islam di Banten pada abad ke-16, terjadi dialog kultural yang khas antara adat Sunda dan ajaran Islam, sehingga keduanya tidak saling meniadakan melainkan saling memperkaya (Tihami, dalam Fakhruddin, 2012). Warisan itulah yang menjadikan Banten dikenal sebagai bumi seribu kiai sejuta santri, tempat nilai-nilai keislaman hidup wajar dalam keseharian, termasuk dalam etos kerja seorang pelayan publik.
Ritual sesederhana ini, jika dibiasakan bersama secara kolektif di setiap unit layanan, lambat laun dapat tumbuh menjadi budaya kerja — bukan sekadar kebiasaan personal yang bergantung pada mood masing-masing individu, melainkan standar bersama yang menjaga mutu layanan tetap stabil, siapa pun pustakawan yang sedang bertugas di meja layanan hari itu.
Generasi Serba Klik, Layanan Harus Serba Sigap
Generasi Alfa — anak-anak yang lahir antara 2010 dan 2024 — tumbuh besar di tengah layar sentuh, video pendek, dan algoritma yang menyajikan apa pun secara instan (McCrindle & Fell, 2020). Mereka tidak kenal sabar. Rak buku yang harus ditelusuri satu per satu terasa lambat dan membosankan. Mau tahu tentang dinosaurus? Tinggal tanya YouTube. Mau cerita seru? Ada ratusan konten yang bisa di-swipe.
Riset menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan: anak-anak generasi ini lebih akrab dengan gadget ketimbang buku fisik, dan kebiasaan membaca mereka sangat bergantung pada seberapa dekat orang tua mereka dengan dunia literasi (Arsiwie, Latifah, & Muflikhati, 2024). Di Banten, tantangan ini menjadi ruang akselerasi bersama, terutama dalam menyelaraskan jangkauan infrastruktur literasi digital antara wilayah perkotaan seperti Tangerang Selatan dan Cilegon dengan wilayah penunjang seperti Pandeglang dan Lebak — pemetaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (2022) mencatat indeks literasi digital masyarakat Banten berada di angka 3,41 dari skala 5, sedikit di bawah rata-rata nasional 3,54, dengan kesenjangan yang lebih terasa di wilayah pedesaan dan pesisir.
Ketika anak-anak digital ini datang ke Layanan Anak atau Perpustakaan Keliling DPK Banten, yang mereka cari bukan sekadar buku — mereka ingin pengalaman yang seru, cepat, dan interaktif. Di sinilah pustakawan dipaksa jadi “penghibur” dadakan. Harus tetap hangat dan antusias, walau di baliknya ada kelelahan administratif yang menumpuk sejak pagi.
Yang membedakan situasi ini dari sekadar kelelahan kerja biasa adalah kecepatan pergantian perannya. Dalam hitungan menit, seorang pustakawan bisa berpindah dari mengoperasikan sistem peminjaman digital, menjawab pertanyaan orang tua soal jadwal kunjungan, hingga membacakan cerita dengan suara riang di depan sekelompok anak yang tidak sabar menunggu gilirannya. Transisi cepat semacam ini, jika tidak dikelola dengan baik, adalah salah satu pemicu utama kelelahan emosional yang sering luput dari perhatian.
Lentur Seperti Joran, Bukan Berarti Lemah
Dalam bahasa Sunda Banten, ada papatah yang pas untuk kondisi penuh dinamika — seperti ketika menghadapi anak yang rewel, menerima masukan dari orang tua, dan mengondisikan sistem digital yang sedang dalam pemeliharaan jaringan pada waktu yang bersamaan: sing leuleus jeujeur liat tali.
Pepatah ini mengajarkan cara menjaga diri agar tidak mudah terbawa emosi, tanpa kehilangan kelembutan sosial kita — jadilah bijaksana dan lentur seperti joran yang kuat namun tidak kaku, jangan mudah emosi (Rosidi, 2005). Ketika anak Generasi Alfa rewel, orang tua komplain, atau sistem digital error di hari yang sama — pepeling ini yang jadi nafas panjang yang harus diambil. Lentur bukan berarti lemah. Lentur artinya bisa menyesuaikan diri tanpa patah.
Situasi ini semakin kompleks mengingat bonus demografi yang sedang dialami Banten. Menurut data Badan Pusat Statistik (2023), Banten adalah salah satu provinsi dengan pertumbuhan penduduk usia muda tertinggi di Indonesia, yang berarti jumlah pengguna perpustakaan usia anak dan remaja diprediksi terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan. Ini peluang sekaligus tekanan besar bagi para pustakawan.
Dua Wajah, Satu Hati
Psikolog organisasi Alicia Grandey membagi emotional labor menjadi dua bentuk yang berbeda: surface acting (sekadar memasang senyum di permukaan, walau hati sedang tidak ikut senyum) dan deep acting (benar-benar berusaha mengubah perasaan dari dalam agar selaras dengan apa yang ditampilkan ke pengguna) (Grandey, 2000).
Banyak pustakawan, sadar atau tidak, melakukan deep acting setiap hari. Mereka menekan rasa lelah, menelan rasa frustrasi, lalu sungguh-sungguh menghadirkan semangat — demi anak-anak yang butuh stimulasi dan kehangatan. Ini bukan akting murahan. Ini kerja keras yang nyata, tapi sering kali tidak kelihatan.
Dalam tatakrama Sunda Banten, kerja keras dan etika sosial seperti ini — silih ajar, silih deukeutan, silih raksa — didasarkan pada landasan falsafah hidup kebersamaan untuk menciptakan keselarasan hubungan antarmanusia (Suryalaga, 2010). Kebersamaan yang erat ini mewujud nyata dalam tindakan harian pustakawan, yang setiap hari menghidupkan semangat silih asah, silih asih, silih asuh — saling mengasih ilmu, saling mengasihi, dan saling menjaga satu sama lain (Dewi & Maftuh, 2020).
Pepeling utama masyarakat Sunda Banten ini adalah jantung dari profesi pustakawan. Setiap hari, pustakawan menjalankan ketiganya sekaligus: membantu mengasah wawasan membaca anak (silih asah), merangkul pengguna dengan kehangatan empati (silih asih), dan memastikan lingkungan perpustakaan aman serta nyaman (silih asuh).
Riset terhadap pustakawan di Amerika Serikat menunjukkan pola serupa : emotional labor punya sisi baik dan buruk sekaligus bagi kepuasan kerja maupun risiko kelelahan, tergantung strategi mana yang lebih sering dipakai (Matteson & Miller, 2013). Kajian terhadap layanan publik yang melibatkan kontak langsung dengan pengguna turut mengaitkan pola surface dan deep acting dengan kualitas layanan yang dirasakan masyarakat (Kim & Shin, 2021). Artinya, ini bukan drama lokal khas Banten — ini fenomena global yang melekat pada profesi yang penuh interaksi manusia.
Kondisi makin pelik karena kesenjangan fasilitas yang masih ada. Pustakawan di Serang atau Cilegon dituntut melek teknologi dan aktif di media sosial, sementara rekan-rekan di daerah penunjang harus berjuang dengan optimalisasi infrastruktur dasar. Ketika ekspektasi anak-anak digital tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan, pustakawanlah yang paling dulu harus menampung kekecewaan itu — sambil tetap harus tersenyum.
Jadi, Masih Perlukah Pustakawan?
Pertanyaan ini wajar muncul: kalau semua informasi sudah ada di Google, TikTok, atau ChatGPT, untuk apa lagi pustakawan? Jawabannya sederhana — karena mesin tidak bisa memberi kehangatan, dan kehangatan itulah yang paling dibutuhkan anak-anak yang sedang belajar menjadi manusia.
Di tengah banjir informasi dan tsunami hoaks, pustakawan berperan sebagai penyaring manusiawi yang membantu masyarakat memilah mana informasi yang bisa dipercaya (Bawden & Robinson, 2009). Kerangka new librarianship menegaskan bahwa pustakawan semakin dibutuhkan justru di era post-truth ini, di mana kemampuan literasi kritis menjadi kompetensi hidup yang paling penting (Lankes, 2016). Peran ini pun bukan sekadar wacana profesional semata: Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan secara tegas menempatkan pustakawan sebagai tenaga profesional yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pelayanan perpustakaan kepada masyarakat, sehingga kehangatan yang diberikan pustakawan bukan hanya soal kebaikan hati, melainkan bagian dari mandat profesi itu sendiri.
Tapi menjaga relevansi ini ada harganya. Pustakawan kini dituntut merangkap banyak peran sekaligus sebagai :
- Kreator konten : mengedit video Reels, mendesain feed Instagram perpustakaan, bikin konten edukatif yang menarik bagi Gen Alfa.
- Konselor literasi : menjembatani anak dan orang tua yang sama-sama terjebak dalam perangkap screen time berlebihan.
- Pendongeng digital : membawakan storytelling yang dinamis, interaktif, dan relevan dengan dunia visual anak-anak masa kini.
- Kurator sumber daya : menyaring dan merekomendasikan sumber belajar yang kredibel di tengah lautan konten digital.
Tanpa dukungan yang memadai, tumpukan peran ini mudah sekali berujung pada burnout — kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan kerja berkepanjangan yang tidak terkelola (Maslach & Jackson, 1981). Penulis dan pustakawan Fobazi Ettarh bahkan memiliki istilah khusus untuk ini: vocational awe — kecenderungan memandang profesi pustakawan sebagai panggilan suci sehingga kelelahan pribadi jadi tabu untuk diakui, apalagi dikeluhkan (Ettarh, 2018).
Tetesan yang Membekas Perlahan
Di sinilah ada papatah karuhun yang bisa jadi pegangan kalau kita ingin mengukur hasil kerja dengan cara yang lebih panjang dan lebih dalam, bukan hanya lewat statistik harian: cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok. Ibarat tetesan air yang jatuh terus-menerus di atas batu, yang lama-kelamaan akan meninggalkan bekas (Suryalaga, 2010), dampak seorang pustakawan pun tidak selalu terasa hari ini. Satu cerita yang dibacakan, satu buku yang direkomendasikan, bisa mengubah arah hidup seorang anak meski terasa tidak signifikan saat ini. Jangan ukur keberhasilan hanya dari statistik harian.
Justru karena dampaknya lambat dan tidak selalu terlihat dalam laporan bulanan, kerja pustakawan rentan dipandang sebelah mata oleh sistem penilaian yang lebih menghargai apa yang mudah dihitung ketimbang apa yang sungguh-sungguh bermakna. Di sinilah pentingnya kesabaran kolektif: baik dari pustakawan yang menjalankan tugasnya, maupun dari pengambil kebijakan yang menilai hasil kerjanya.
Di balik senyum ramah di meja layanan DPK Banten, bisa jadi ada kecemasan tentang masa depan profesi ini di tengah bayang-bayang otomatisasi dan digitalisasi yang terus bergerak cepat (Prentice, 2013). Penguatan pengakuan profesional dan penyediaan fasilitas pengembangan diri menjadi aspek krusial yang terus perlu dioptimalkan guna meningkatkan kepuasan kerja pustakawan di daerah (Wuryastuti, 2023).
Teknologi sebagai Mitra, Bukan Pengganti
Penting untuk diluruskan: menjaga relevansi pustakawan bukan berarti menolak teknologi. Justru sebaliknya. Kepemimpinan digital yang matang di lingkungan perpustakaan dan lembaga kearsipan justru menjadikan teknologi sebagai perpanjangan tangan dari kerja kemanusiaan yang selama ini dijalankan pustakawan, bukan sebagai ancaman yang menggantikannya (Prentice, 2013). Chatbot dapat menjawab pertanyaan sederhana soal ketersediaan buku, sistem otomasi dapat mempercepat sirkulasi, dan media sosial dapat memperluas jangkauan promosi literasi. Namun keputusan untuk duduk bersila di lantai bersama anak yang enggan membaca, atau menenangkan orang tua yang kecewa karena buku pesanannya belum tersedia, tetap membutuhkan kehadiran manusia yang utuh.
DPK Banten dapat memosisikan diri sebagai pelopor dalam menyeimbangkan dua sisi ini. Alih-alih memandang AI dan otomasi sebagai ancaman terhadap eksistensi profesi, pustakawan dapat dilatih untuk menempatkan teknologi sebagai alat yang membebaskan waktu dan energi mereka dari pekerjaan administratif berulang, sehingga energi emosional yang tersisa dapat sepenuhnya dicurahkan untuk interaksi bermakna dengan pemustaka. Pendekatan ini sejalan dengan semangat new librarianship, yang menempatkan pustakawan bukan sebagai penjaga rak buku, melainkan sebagai fasilitator pembelajaran dan pembangun komunitas (Lankes, 2016).
Payung hukum untuk arah ini pun sudah tersedia. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengamanatkan pengembangan kompetensi pustakawan secara berkelanjutan sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan perpustakaan. Ini berarti pelatihan teknologi bagi pustakawan Banten bukan sekadar respons reaktif terhadap tren digital, melainkan kewajiban yang sudah termandatkan secara kelembagaan. Dengan kerangka ini, investasi pada pelatihan digital dan investasi pada regulasi emosi bukan dua agenda yang bersaing memperebutkan anggaran yang sama, melainkan dua sisi mata uang yang sama-sama menopang relevansi profesi pustakawan di masa depan.
Kabar baik ini layak menjadi penguat semangat, bukan sekadar catatan statistik. Survei Global Pulse of the Library 2025 yang menjangkau lebih dari dua ribu pustakawan dari 109 negara justru meneguhkan apa yang selama ini dirasakan pustakawan Banten di lapangan: sebagian besar perpustakaan dunia masih memperlakukan AI sebagai alat bantu yang harus diuji dengan hati-hati, bukan pengganti tenaga profesional (Clarivate, 2025). Studi lanjutan terhadap pustakawan akademik Amerika Utara, yang membandingkan persepsi mereka pada 2019 dan 2025, memperkuat gambaran ini: meski penggunaan AI meningkat dalam keseharian, kurang dari separuh responden meyakini AI benar-benar mampu menggantikan sebagian tanggung jawab pekerjaan mereka (Hervieux & Wheatley, 2025). Artinya, kekhawatiran akan tergusur oleh teknologi, yang mungkin pernah terbersit di benak seorang pustakawan sehabis membacakan cerita untuk anak-anak yang riuh, tidak sepenuhnya berpijak pada kenyataan.
Data dari survei ketujuh Ithaka S+R (Carroll dkk., 2026) atas para pemimpin perpustakaan akademik di Amerika Serikat menegaskan arah yang sama meyakinkannya: di tengah keterbatasan anggaran dan staf, prioritas pertumbuhan justru diarahkan pada peran literasi informasi dan pendampingan keberhasilan pembelajar — persis wilayah kerja yang selama ini digeluti pustakawan Layanan Anak DPK Banten dengan penuh ketulusan.
Maka biarlah data ini menjadi pengingat: setiap kali seorang pustakawan memilih duduk sejajar dengan anak yang enggan membaca, ia sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa direbut oleh algoritma secanggih apa pun. Yang berubah bukanlah nilai kehadirannya, melainkan bentuk perannya — dari sekadar penjaga rak menjadi kurator, fasilitator, dan sahabat literasi. Kesungguhan ini pantas dirayakan, dan sudah selayaknya terus mendapat ruang untuk tumbuh, sebagaimana pepatah karuhun mengajarkan bahwa hasil baik selalu butuh waktu untuk terlihat: cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.
Langkah Strategis yang Dapat Diakselerasi
Membangun gedung perpustakaan baru atau merilis aplikasi digital seperti iBanten dan Batu Pusaka memang penting dan patut diapresiasi. Guna menyelaraskan pencapaian infrastruktur tersebut, investasi pada peningkatan kapasitas manusianya — para pustakawan yang setiap hari berdiri di garis terdepan pelayanan — dapat dioptimalkan melalui langkah nyata berikut:
- 1. Pelatihan Regulasi Emosi dan Psikologi Anak. Menyelenggarakan program yang praktikal supaya pustakawan punya kompetensi untuk mengelola ekspektasi layanan tanpa harus menguras energi pribadi secara berlebihan (Brotheridge & Grandey, 2002). DPK Banten bisa menggandeng instansi pendidikan atau lembaga psikologi lokal untuk program ini.
- 2. Optimalisasi Manajemen Waktu dan Rotasi Kerja. Mengatur waktu dan ruang khusus di mana pustakawan bisa menyegarkan diri dari rutinitas pelayanan publik langsung. Rotasi antara tugas layanan tatap muka (front office) dan tugas teknis di belakang layar (back office) dijadwalkan secara transparan dan berkeadilan.
- 3. Pengayaan Indikator Apresiasi Kinerja. DPK Banten dapat memelopori pengayaan indikator penilaian kinerja pustakawan agar tidak hanya berpusat pada angka administratif (Sulistyo-Basuki, 1991). Kualitas keterlibatan emosional dengan pengguna, dampak nyata literasi di komunitas, serta kontribusi pada inklusi sosial dapat masuk sebagai indikator yang diapresiasi.
Kerendahan Hati sebagai Fondasi
Dalam bingkai keislaman, kerja melayani seperti ini dikenal sebagai khidmah — sebuah istilah yang akar maknanya dapat ditelusuri pada Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 60-64, mengisahkan Yusya' bin Nun yang setia berkhidmah membawakan bekal bagi Nabi Musa dalam pengembaraan mencari ilmu, dan surat Ali Imran ayat 37 tentang pengasuhan penuh bakti kepada Maryam (Samsudin & Kuncoro, 2022). Khidmah dijalankan dengan ikhlas tanpa pamrih, sebab ia dipahami bukan sekadar kewajiban profesional, melainkan juga panggilan agama sekaligus tanggung jawab sosial. Semangat ini bertaut erat dengan konsep amanah — bahwa setiap profesi adalah titipan yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab (Hermawan, 2020) — dan dengan prinsip pelayanan publik dalam perspektif Islam, yang menempatkan keadilan, amanah, dan kesejahteraan sebagai fondasi budaya kerja yang manusiawi, di mana melayani sesama dipandang sebagai bagian dari ibadah (Wahidillah dkk., 2025). Ketika pustakawan Banten membungkukkan hati untuk mendengarkan pertanyaan sederhana seorang anak, sesungguhnya ia sedang menunaikan khidmah itu — sebuah bentuk ibadah yang tidak selalu tertulis dalam laporan kinerja, namun tercatat dalam neraca yang lebih abadi.
Semua langkah penguatan ini akan berjalan beriringan dengan nilai kerendahan hati dalam menjalankannya. Sebab, sebaik apa pun program disiapkan, jika dibarengi dengan akhlak mulia dan sikap bersahabat dari pustakawan, kepercayaan masyarakat akan mengalir dengan kuat: hirup sing dépé-dépé handap asor.
Pepatah ini mengajarkan agar kita hidup dengan rendah hati, sebab ilmu dan kedudukan tinggi tidak ada artinya tanpa akhlak yang baik (Rosidi, 2005). Kerendahan hati dalam melayani --mendengarkan kebutuhan pemustaka dengan sungguh-sungguh dan tidak meremehkan pertanyaan sederhana-- adalah investasi kepercayaan yang jauh lebih berharga (Wuryastuti, 2023).
Dalam konteks yang lebih luas, kemitraan strategis dengan institusi pendidikan tinggi di Banten, seperti Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang memiliki fokus kajian terkait, dapat terus diperkuat. Kolaborasi ini menjadi jembatan positif untuk riset berkelanjutan dan pengembangan kompetensi pustakawan yang adaptif.
Penutup
Menjaga relevansi pustakawan di hadapan Generasi Alfa bukan semata-mata soal WiFi kencang atau aplikasi kekinian yang terus diperbarui. Ini soal kemanusiaan yang paling dasar, yaitu kemampuan kita sebagai masyarakat untuk menghargai pekerjaan yang tidak terlihat tapi sangat menentukan.
Emotional labor yang dijalani pustakawan Banten setiap hari adalah jangkar tak kasat mata yang membuat perpustakaan tetap terasa hangat di tengah dinginnya budaya serba instan. Mereka adalah penghubung antara dunia buku dan dunia digital, antara generasi lama dan generasi baru, antara informasi dan kebijaksanaan.
Dan mungkin, warisan karuhun Banten sudah merumuskannya dengan sederhana tapi lebih dalam daripada teori akademik mana pun, lewat tiga kata yang terus terngiang sejak awal catatan ini: silih asah, silih asih, silih asuh --saling mengasah, saling mengasihi, saling menjaga (Suryalaga, 2010). Itulah yang pustakawan lakukan setiap hari-- dan itulah yang layak mendapat dukungan dan penghargaan yang setara.
Pada akhirnya, menjaga relevansi profesi ini bukan tugas pustakawan seorang diri. Ia membutuhkan kesediaan seluruh pemangku kepentingan --pemerintah, akademisi, orang tua, dan masyarakat luas-- untuk melihat perpustakaan bukan sekadar gudang buku, melainkan ruang tumbuh bersama tempat kehangatan manusia masih punya tempat di tengah dunia yang serba cepat.
Pemerintah Provinsi Banten melalui DPK dan seluruh pemangku kebijakan terkait berkomitmen memberikan perhatian dan dukungan yang optimal. Langkah ini memastikan senyum yang diberikan pustakawan kepada anak-anak kita bukan sekadar topeng lelah yang dipaksakan, melainkan ketulusan sejati yang mencerahkan generasi masa depan bangsa.
*Akademisi Fakultas Adab dan Humaniora UIN SMH Banten
Daftar Pustaka
Arsiwie, S. R., Latifah, M., & Muflikhati, I. (2024). Reading habit in Alpha Generation students: The role of mother attachment and family literacy environment. International Journal of Research and Innovation in Social Science, 8(6), 1272–1280.
Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. (2023). Proyeksi Penduduk Provinsi Banten 2020–2030. BPS Provinsi Banten.
Bawden, D., & Robinson, L. (2009). The dark side of information: Overload, anxiety and other paradoxes and pathologies. Journal of Information Science, 35(2), 180–191.
Brotheridge, C. M., & Grandey, A. A. (2002). Emotional labor and burnout: Comparing two perspectives of “injury”. Journal of Vocational Behavior, 60(1), 17–39.
Carroll, E., Bergstrom, T., & Hulbert, I. G. (2026). Findings from the 2025 US library survey. Ithaka S+R.
Clarivate. (2025). Pulse of the Library 2025: Reflecting the voices of librarians worldwide. Clarivate.
Ettarh, F. (2018). Vocational awe and librarianship: The lies we tell ourselves. In the Library with the Lead Pipe.
Fakhruddin, M. (2012). Tiga pilar penyebaran Islam di Kesultanan Banten. Republika Online.
Grandey, A. A. (2000). Emotion regulation in the workplace: A new way to conceptualize emotional labor. Journal of Occupational Health Psychology, 5(1), 95–110.
Hermawan, I. (2020). Konsep amanah dalam perspektif pendidikan Islam. Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, 12(2). https://doi.org/10.37680/qalamuna.v12i2.389
Hervieux, S., & Wheatley, A. (2025). Revisiting perceptions of and experience using artificial intelligence among North American librarians. The Journal of Academic Librarianship, 52(1), 103198.
Hochschild, A. R. (1983). The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling. University of California Press.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2022). Status Literasi Digital Indonesia 2022. Dikutip dalam Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Transformasi Peran Pustakawan Perpustakaan Umum di Era Artificial Intelligence dalam Khazanah Budaya Banten.
Kim, J., & Shin, Y. (2021). Emotional labor and service quality: The role of deep and surface acting in public libraries. Library & Information Science Research, 43(2), 101–113.
Lankes, R. D. (2016). The New Librarianship Field Guide. MIT Press.
Maslach, C., & Jackson, S. E. (1981). The measurement of experienced burnout. Journal of Occupational Behaviour, 2(2), 99–113.
Matteson, M. L., & Miller, S. S. (2013). A study of emotional labor in librarianship. Library & Information Science Research, 35(1), 54–62.
McCrindle, M., & Fell, A. (2020). Understanding Generation Alpha. McCrindle Research.
Prentice, A. E. (2013). Digital Leadership for Libraries and Archives. Routledge.
Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 129.
Rosidi, A. (2005). Babasan & Paribasa: Kabeungharan Basa Sunda (Jilid 1). Kiblat Buku Utama.
Samsudin, & Kuncoro, A. T. (2022). Tradisi khidmah dalam perspektif pendidikan Islam. Jurnal Progress, 10(1). https://doi.org/10.31942/pgrs.v10i1.6383
Sulistyo-Basuki. (1991). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Gramedia Pustaka Utama.
Suryalaga, H. R. H. (2010). Kasundaan Rawayan Jati. Yayasan Nur Hidayah.
Wahidillah, N., Apriyani, S. R., Meilani, V. R., & Ashari, Z. M. (2025). Pelayanan publik dalam perspektif Islam: Landasan, prinsip, dan implementasi di era kontemporer. Kajian Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi, 2(3), 1–16.
Wuryastuti, S. (2023). Pengembangan bahan ajar berbasis kearifan budaya lokal Banten untuk sekolah dasar. Didaktika, 3(1), 77–88.