iBanten Sebagai Platform Media Sosial Mengakses Perpustakaan Digital Provinsi Banten

Sumber Gambar :

iBanten Sebagai Platform Media Sosial

Mengakses Perpustakaan Digital Provinsi Banten

 

Oleh: Ken Supriyono*

 

Aksesibilitas masyarakat dalam memperoleh informasi sangat penting. Upaya untuk selalu meningkatkan budaya membaca berbasis teknologi informasi bagi masyarakat Banten menjadi tuntutan dan pemikiran bagi pengelola perpustakaan. Terlebih, data Badan Pusat Statistik Banten pada 2017 menyebut, 70,60 persen warga Banten atau sekira 8.615.422 jiwa telah memiliki telepon seluler.

Sementara pada 2019, Asosiasi Penyelenggara jasa internet Indonesia (APJII) dan Polling Indonesia merilis Banten menjadi penyumbang penetrasi terbesar ketiga pengggunaan internet se-Indonesia sebanyak 35 persen, setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Ini berarti dari total penduduk Banten sebanyak 12.203.148, ada sekira 4,5 juta pengguna aktif internet dan 94,46 persen darinya mengakses internet dari smartphone. (biem.co:2019).

Seiring dengan pesatnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), maka perpustakaan digital memiliki peran yang sangat esensial untuk mencerdaskan masyarakat dan sebagai salah satu penunjang serta pendukung dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2030. Salah satu parameter pengetahuan yang diukur dengan kemampuan membaca dan menulis adalah sangat terkait dengan peran perpustakaan digital.

Perkembangan tersebut menjadikan perpustakaan harus selalu berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan yang ada. Sebab perpustakaan sebagai pusat informasi selayaknya memanfaatkan perkembangan tersebut sebagai upaya memenuhi kebutuhan informasi para pemustaka melalui perpustakaan digital.

Perkembangan perpustakaan digital bagi pengelola perpustakaan dapat membantu pekerjaan di perpustakaan melalui fungsi otomasi perpustakaan, sehingga proses pengelolaan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Fungsi otomasi perpustakaan menitikberatkan pada bagaimana mengontrol sistem administrasi layanan secara otomatis atau terkomputerisasi.

Sedangkan bagi pemustaka dapat membantu mencari sumber informasi yang diinginkan dengan menggunakan catalog on-line yang dapat diakses melalui intranet maupun internet, sehingga pencarian informasi dapat dilakukan kapan dan dimana pun ia berada.

Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam mengelola atau menjadikan operasional perpustakaan dapat meningkatkan layanannya, yakni dari segi kecepatan dan kualitas informasi yang diberikan. Perkembangan dan penerapan teknologi informasi dapat diukur dengan telah digunakan sebagai sistem informasi manajemen perpustakaan dan perpustakaan digital. (Dana, dkk: 2008).

Saat ini Dinas Perpustkaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten telah memiliki perpustakaan digital berbasis aplikasi iBanten sejak 2016. Penerapan iBanten sebagai penerapan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. (Arif: 2003).

Perpustakaan Berbasis Digital

Pada dasarnya, perpustakaan digital sama saja dengan perpustakaan biasa, hanya saja memakai prosedur kerja berbasis komputer dan sumberdaya digital (Widyawan, 2005: Rahman: 2013). Perpustakaan digital atau digital library menawarkan kemudahan bagi para pengguna untuk mengakses sumber-sumber elektronik dengan alat yang menyenangkan pada waktu dan kesempatan yang terbatas. Pemustaka bisa menggunakan sumber-sumber informasi tersebut tanpa harus terikat kepada jam operasional perpustakaan seperti jam kerja atau jam buka perpustakaan.

Perputakaan digital merupakan sebuah sistem perpustakaan yang menggunakan elektronik dalam menyampaikan informasi dari sumber yang dimiliki dan menggabungkan koleksi-koleksi, layanan dan sumber daya manusia untuk mendukung penuh siklus penciptaan, diseminasi, pemanfaatan dan penyimpanan data informasi, serta pengetahuan dalam format digital yang telah dievaluasi, diatur, diarsip dan disimpan, melalui komputer stand alone, intranet, atau internet. (Edy: 2010). Perpustakaan digital mempunyai koleksi bahan pustaka sebagian besar dalam bentuk format digital yang disimpan dalam arsitektur komputerisasi dan bisa diakses melalui komputer dan perangkat gawai.

Penerapan sistem perpustakaan digital ini akan sangat membantu pustakawan dan para pemustaka perpustakaan. Bagi pustakawan, sistem ini akan sangat membantu pekerjaan mereka melalui fungsi-fungsi otomasi yang tersedia, sehingga proses pengelolaan perpustakaan akan menjadi efektif dan efisien. Sistem ini juga sangat membantu  pemustaka dalam mengakses semua informasi yang tersedia pada database perpustakaan.

Manfaat Perpustakaan Digital sebagaimana yang diharapkan pada gagasan awal, perpustakaan digital bertujuan untuk membuka akses seluas-luasnya terhadap informasi yang sudah dipublikasikan. Tujuan perpustakaan digital menurut Association of Research Libraries (ARL,1995) sebagaimana dikutip oleh Winy Purtini (dalam Rahman:2013) yang dimuat dalam IDLN adalah sebagai berikut: a) Untuk melancarkan pengembangan yang sistematis tentang cara mengumpulkan, menyimpan, dan mengorganisasi informasi dan pengetahuan dalam format digital. b) Untuk mengembangkan pengiriman informasi yang hemat dan efisien di semua sektor. c) Untuk mendorong upaya kerjasama yang sangat mempengaruhi investasi pada sumber-sumber penelitian dan jaringan komunikasi. d) Untuk memperkuat komunikasi dan kerjasama dalam penelitian, perdagangan, pemerintah, dan lingkungan pendidikan. e) Untuk mengadakan peran kepemimpinan internasional pada generasi berikutnya dan penyebaran pengetahuan ke dalam wilayah strategis yang penting. e) Untuk memperbesar kesempatan belajar sepanjang hayat.

iBanten sebagai Inovasi Perpustakaan Digital

Reading Socially iBanten adalah sebuah platform media sosial untuk mengakses e-Bookstore & e-Pustaka, membangun jaringan/komunitas sesama pembaca, dan juga tentunya sebagai e-Reader untuk membaca eBook. iBanten dapat diakses di berbagai medium perangkat mulai dari desktop dan PC berbasis situs (web-based), netbook dan tabbased hybrid (tab-base application), dan mobile (smartphone-based application).

Mudahnya, iBanten adalah layanan perpustakaan digital dalam genggaman masyarakat Provinsi Banten. Melalui iBanten, masyarakat dapat mengakses koleksi buku digital koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten oleh semua masyarakat kapan pun dan di mana pun.

Agar iBanten dapat berjalan dengan baik maka diperlukan spesifikasi yang sesuai. Spesifikasi minimal adalah: 4.0 and up, 1 GB of RAM dan 4-inch display size. Kemudian, spesifikasi minimal untuk iPhone/iPod adalah required iOS 7.0 or later, optimized for iPhone 5, compatible for iPhone and iPod touch.

Aplikasi iBanten dapat tersambung dengan melakukan registrasi awal melalui akun Facebook pengguna. Dalam hal ini adalah email yang terdaftar dalam Facebook untuk digunakan mendaftar di aplikasi iBanten menggunakan akun Facebook tersebut. Selain itu, masuk ke dalam aplikasi iBanten juga dapat menggunakan alamat Email.

Setelah melakukan registrasi, maka langkah selanjutnya setelah menekan tombol connect with facebook  dan connect with email, maka setelah itu masuk form registrasi. Kemudian, pengguna dapat mengakses fitur informasi yang terdapat dalam aplikasi iBanten, baik untuk mengakses e-catalog, e-buku, dan jejaring pertemanan sesama pengguna iBanten. Dashboard di dalam iBanten terdiri dari beberapa fitur di dalamnya antara lain, profile, notification, balance, status badges, book to finish, list follower, list following.

Aplikasi iBanten ini selain dipergunakan dalam kondisi terkoneksi dengan akses internet atau online, juga bisa digunakan dalam keadaan tanpa koneksi internet atau offline. Akan tetapi ada batasan akses saat iBanten tidak mendapatkan akses internet. iBanten hanya bisa digunakan hanya sebatas membaca buku.

Dari hasil wawancara dengan pihak pengelola, iBanten memiliki koleksi buku sebanyak 2.315 judul e-book kategori umum yang masing-masing buku berjumlah 5 eksemplar. Kemudian, buku kategori siswa SD sebanyak 350 judul, buku kategori SMP sebanyak 227 judul, dan buku kategori SMA/sederajat sebanyak 111 judul. Semua buku dapat diakses oleh pemustaka dengan batas maksimal 10 hari.

iBanten sebagai Media Komunikasi Pembangunan

iBanten adalah layanan perpustakaan digital dalam genggaman masyarakat Provinsi Banten. Dengan kemudahan fitur yang tersedia pada aplikasi iBanten dapat menjadi sarana proses komunikasi penyampaian pesan yang berisi gagasan-gagasan dari sumber kepada penerima. Tujuannya mengubah perilaku dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah yang secara merata. (Efendi dalam Muldi:2020) iBanten dapat juga menjadi proses mengajak masyarakat untuk berani dan mau meninggalkan sesuatu yang lama untuk menggantikannya dengan yang baru, yakni dari membaca buku melalui perpustkaan konvensional menjadi perpustakaan digital. Maka melalui iBanten, proses penyebaran pesan atau informasi kepada seseorang atau kelompok kepada khalayak guna merubah pendapat, sikap dan perilaku masyarakat mengakses sumber informasi pengetahuan melalui buku-buku yang tersedia dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah yang secara merata.

Menyebarkan informasi menggunakan iBanten diharapkan menjadi bentuk stimulus baru kepada khalayak yang dituju. Kemudian, merumuskan kemudahan aksesibilitas masyarakat terhadap buku atau sumber pengetahuan secara persuasif sehingga dapat mencapai umpan balik dalam membentuk masyarakat yang melek baca atau pengetahuan. Dengan harapan masyarakat mendapatkan respon berupa perubahan perilaku masyarakat yang menunjang kesuksesan pembangunan.

Inovasi aplikasi iBanten menjadi rumusan alternatif strategi komunikasi forum media komunikasi pembangunan yang berorientasi kepada efek perilaku yang menjadi tujuan pembangunan. Sebab masyarakat atau pemustaka iBanten tidak hanya dapat mengakses informasi buku kapan saja dan di mana saja, melainkan dapat juga terhubung dengan sesama atau menjalin pertemanan sesama penguna sekaligus melakukan komunikasi langsung melalui fitur yang disediakan dalam iBanten.

iBanten Mempermudah Akses Bacaan

Perpustakaan digital iBanten dirancang untuk mempermudah masyarakat mengakses informasi bacaan dan pencarian katalog elektronik sehingga masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan. Dengan sistem ini jika masyarakat akan mengakses buku di mana saja dan kapan saja sesuai kebutuhan.

Masyarakat juga pengguna iBanten juga dapat tersambung secara berjejaring sehingga dapat terkoneksi secara individua atau komunitas buku. Bahkan jika memiliki karya buku dapat menyimpannya melalui pengelola. Jika memungkinkan, iBanten dapat dikoneksikan dengan perpustakaan digital antar kabupaten/kota se-Banten atau iPusnas dalam memudahkan akses masyarakat terhadap informasi buku melalui aplikasi berbasis web atau mobile aplikasi,

iBanten Offline: iBanten ini selain dipergunakan dalam kondisi terkoneksi dengan akses internet atau Online, iBanten ini bisa digunakan dalam keadaan tanpa koneksi internet atau offline akan tetapi ada batasan akses saat iBanten tidak mendapatkan akses internet, adapun iBanten bisa digunakan hanya sebatas membaca buku dengan ketentuan sebagai berikut: sudah masuk ke iBanten ketika masih menggunakan iBanten, dan sudah mendownload atau mengunduh buku.

Pihak DPK Provinsi Banten dapat mengembangkan atau menambah koleksi ketersediaan jumlah buku agar semua kebutuhan masyarakat terhadap informasi buku dapat dipenuhi. Selain itu, iBanten dapat dikembangkan sebagai perpustakaan berjejaring dengan kabupaten/kota se-Provinsi Banten dan Perpustakaan Nasional, sehingga masyarakat dapat mengakses koleksi buku pada iPusnas.

Referensi

1.  Arif Ikhwan. Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan Oleh, Makalah Seminar dan Workshop Sehari Membangun Jaringan Perpustakaan Digital dan Otomasi Perpustakaan menuju Masyarakat Berbasis Pengetahuan. UMM pada 4 Oktober 2003

2.    Muldi Ail. Bahan Ajar Pengantar Komunikasi Perubahan Sosial Contoh Kasus Strategi Komunikasi Media Dalam Desiminasi Inovasi Pertanian. Untirta. Kota Serang

3.    Rahman Shaleh Abdul. 2013. Pengembangan Perpustakaan Digital. Rumah Q-ta Produktion. Bogor

4.    Respati Wira. Transformasi Media Massa Menuju Era Masyarakat Informasi di Indonesia. Binus University. Jakarta

5.    Rodliyah Umi. 2012. Perpustakaan Digital, dan Prospeknya Menuju Raesource Sharing. Visi Pustaka. Vol.4, No.1


Share this Post