Kesiapan Perpustakaan Menjembatani Kebutuhan Informasi

Sumber Gambar :

Oleh Siti Mulyani Awalia*

Pendahuluan

Ketika seorang anak memasuki jenjang pendidikan formal, kemapuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki adalah membaca, menulis dan berhitung. Dimana membaca merupakan kegiatan mengenal huruf vokal dan konsonan, merangkai suku kata, hingga memahami makna kalimat sederhana. Menulis adalah kegiatan yang berhubungan dengan memegang alat tulis dengan benar, meniru bentuk huruf atau angka, dan merangkai kata di atas kertas. Sementara berhitung adalah kegiatan mengenal angka, memahami konsep jumlah dasar, serta melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana.

Pada dasarnya kemampuan membaca dilandasi oleh kemampuan memusatkan perhatian pada kata-kata yang membentuk kalimat serta mengandung makna. Kemampuan dasar ini akan menuntun anak pada kemampuan lainnya seperti menulis, berhitung dan dan kemampuan lain yang berhubugan dengan proses pembelajaran di sekolah.

Ketika seorang anak berada dilingkungan keluarga, tugas orangtua bukan menumbuhkan anak yang cerdas matematika, olah raga, seni. atau menumbuhkan anak-anak dengan kemampuan seragam. Tetapi tugas orang tua adalah membantu anak menemukan potensinya. Dimana menumbumbuhkan potensi itu menjadi kekuatan nyata yang bisa mereka pakai untuk hidup dimasa datang. Peran kita sebagai orang tua bukan mencetak anak sesuai impian kita tetapi mendampingi anak-anak dalam mewujudkan impian mereka. Bagaimana kita membimbing dan mengarahkan mereka kearah potensi yang dimilikinya.

Kebutuhan Informasi Pemustaka

Kebutuhan informasi merupakan kebutuhan seseorang terhadap informasi tertentu untuk memenuhi tujuan, seperti belajar, mengerjakan tugas, melakukan penelitian, bekerja, atau menambah pengetahuan. Sederhananya, kebutuhan informasi pemustaka adalah informasi yang sedang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan.

Kebutuhan tersebut sangat beragam sesuai dengan tingkat pendidikan masyarakat yang mencarinya. Adapun faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi setiap pemustaka dapat berbeda, tergantung pada tujuan mencari informasi, tingkat pendidikan dan pengetahuan, pekerjaan yang ditekuni, minat dan topic yang sedang dipelajari, dan tentu saja ketersediaan dan kemudahan akses informasi. Jadi, dalam konteks perpustakaan, memahami kebutuhan informasi pemustaka penting agar perpustakaan dapat menyediakan koleksi, layanan, dan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustakanya.

Penyampaian Gagasan

Manusia dapat menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan, dan keinginannya melalui berbagai cara, hal yang disampaikan itu bisa dilakukan dengan verbal atau nonverbal. Apabila gagasan itu disampaikan secara verbal maka ia menggunakan bahasa. Apabila ia mengungkapnya secara nonverbal, maka hal itu dapat disampaikan menggunakan tanda ikonis, misalnya gambar, foto, patung, musik, bentuk, dan warna. Manusia dalam perspektif ruang memberikan makna dengan dua hal, yakni kontak pandang dan jarak antara diri manusia dengan manusia yang lain. Kontak pandang diberi arti yang berbeda berdasarkan kebiasaan yang menjadi konvensi di masyarakat tertentu. Sedangkan jarak diri manusia dengan manusia lain adalah penggolongan yakni, sosial, personal, intim, dan publik.

Identitas manusia untuk memperlihatkan jati dirinya adalah dengan memberikan legitimasi yang konkret dari apa yang sudah dimilikinya. Seperti hal di atas, cara manusia menyampaikan gagasan contohnya, tentu sangat beragam cara penyampaiannya.  Setiap orang punya cara yang berbeda-beda tergantung dari apa yang sudah dipahami dari dirinya. Kebanyakan dari kita hanya menyampaikan pesan melalui kegiatan verbal yang tidak ada fungsinya. Hal ini dikatakan karena kemampuan untuk menyampaikan sesuatu sama sekali tidak berlandaskan keilmuan yang mumpumi. Kurangnya pengetahuan akibat minat baca yang lemah hanya akan mengkerdilkan seseorang itu untuk berspekulasi. Kemampuan verbal seseorang tidak hanya bisa diukur dengan melihat kemampuan berbicaranya melainkan diukur oleh intelektualistas yang terwujud dalam implementasi yang nyata.

Perpustakaan merupakan salah satu dimensi dalam sistem pendidikan yang yang perlu mendapat perhatian lebih di pemangku kepentingan. Mengingat peranannya yang cukup strategis dalam menunjang upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.  Walaupun terkadang perpustakaan dalam posisi marginal dibanding aspek pendidikan lainnya. Perpustakaan kadang dikelola secara kurang profesional dengan SDM, sarana prasarana, bahan pustaka, bahkan dana yang terbatas. Hal ini tentu tidak akan membawa pada terwujudnya visi dan misi penyelenggaraan perpustakaan. Salah satu tugas yang diembannya adalah membentuk karakter melek informasi masyarakat yang secara jangka panjang diharapkan dapat mendorong terwujudnya budaya baca pada masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut maka kondisi “serba kurang” pada perpustakaan ini perlu segera diatasi kalau tidak ingin peran perpustakaan menjadi semakin “terpinggirkan” dan tidak mendapat perhatian dari masyarakat.

Pada situasi sekrang ini, kebutuhan pembangunan yang menjadi salah satu prioritas dan perlu mendapat perhatian adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia,  yang akan mewujudkan manusia yang mampu secara aktif menjadi subyek pembangunan yang handal. Upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut kiranya tidaklah mudah dan sederhana mengingat begitu pesat dan cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus selalu diikuti kalau tidak ingin tertinggal oleh kemajuan zaman dan menjadi manusia yang tidak berguna. Disamping itu dari segi kondisi sumber daya manusia yang ada sekarang ini, secara umum masih belum menggembirakan memang  diperlukan upaya yang ekstra kuat dengan strategi yang mantap dan konsisten.

Mengembangkan pendidikan sebagai sarana melek informasi, merupakan salah satu cara yang dirasa mampu untuk memenuhi harapan dan kebutuhan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun pendidikan itu sendiri demikian peliknya dalam penangannya sehingga secara efektif dapat menghasilkan sumber daya yang berkualitas. Dan kita memang tidak bisa menangani pendidikan itu hanya secara parsial namun harus secara komprehensif dan terpadu dalam suatu sistem yang handal. Dari segi sasaran yang ditangani pendidikan itu harus mencakup kepada seluruh insan dari sejak sebelum lahir sampai yang bersangkutan tiada lagi. Dari segi penangannya pendidikan dapat diselenggarakan secara formal, nonformal maupun informal. Pendek kata banyak segi yang harus diperhatikan secara cermat dalam rangka mewujudkan sistem pendidikan yang handal dan efektif.

Orang melek informasi harus memenuhi kualifikasi sejumlah keterampilan. Hal utama adalah mereka mengetahui (mengenal) kapan informasi itu dibutuhkan, ketempat mana saja informasi itu dicari, dan strategi apa yang diterapkan untuk menggunakannya. Orang yang melek infomasi memiliki kemampuan untuk mengenali informasi ketika ditemukan, kemudian menentukan tingkat keunggulannya, ketepatannya, dan ketersediaan informasi masa kini. Apakah berbagai lembaga pendidikan menyatakan secara tegas atau tidak, kompetensi ini telah dikembangkan pada lulusannya dan yakin telah melakukan itu semua.Program melek informasi ini adalah program yang harus diemban oleh lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Namun lagi-lagi kita dihadapkan pada apakah rancang bangun kurikulum pada lembaga pendidikan tersebut menanamkan kompetensi seperti ini.

Kesiapan Perpustakaan

Kesiapan perpustakaan dalam menghadapi masa depan kini berfokus pada perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan buku fisik yang sunyi, melainkan telah berkembang menjadi ekosistem pengetahuan yang hidup, interaktif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan konsep metaverse.

Aspek utama kesiapan perpustakaan dalam mempersiapkan masa depan adalah, pertama,  Transformasi digital dan layanan informasi inklusif, dimana perpustakaan masa depan tidak lagi dibatasi oleh dinding gedung fisik. Aksesibilitas digital menjadi kunci utama melalui penyediaan e-book, jurnal elektronik, hingga platform digital yang bisa diakses langsung melalui gawai pengguna. Selain itu, integrasi teknologi informasi dalam tata kelola pemerintahan digital menuntut perpustakaan untuk memperkuat layanan informasi yang inklusif dan berdampak luas bagi masyarakat.

Kedua, Redesain ruang: Dari tempat sunyi menjadi ruang kolaboratif. Dimana akan terjadi pergeseran paradigma mengenai fungsi fisik perpustakaan, dari yang semula identik dengan ruang kaku satu arah, kini diubah menjadi lingkungan interaktif. Disamping itu terdapat ruang kolaboratif, dimana ruang ini dirancang untuk memfasilitasi diskusi, kerja kelompok, proyek bersama, dan pertukaran ide. Selain itu ada zona interaktif yang menyediakan fasilitas modern, mulai dari ruang pameran literasi hingga area khusus seperti lounge game online untuk menarik generasi muda.

Ketiga, Peningkatan dan pemetaan kompetensi pustakawan. Pustakawan memegang posisi strategis sebagai penghubung informasi tepercaya dan fasilitator literasi digital. Pustakawan masa depan dituntut menguasai keterampilan baru yang meliputi kompetensi manajemen data digital dan pemanfaatan teknologi informasi, kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan komunikasi kolaboratif. Peran baru sebagai mentor dan fasilitator pembelajaran yang membantu pemustaka memilah informasi di era banjir informasi. Dan penguatan manajemen koleksi, kesiapan masa depan mengharuskan perpustakaan melakukan seleksi bahan pustaka yang ketat, fleksibilitas jam layanan, serta penyesuaian kurikulum ilmu perpustakaan agar relevan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Kesiapan perpustakaan dalam menghadapi pemustakanya yang melek informasi ini tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi ini suatu keniscayaan yang tak dapat dipungkiri, dimana memungkinkan pekerjaan-pekerjaan perpustakaan dilakukan tanpa atau dengan sedikit sekali campur tangan manusia. Teknologi informasi juga mempermudah dan mempercepat perekaman, pengorganisasian, editing, penelusuran, penyebaran dan pertukaran informasi atau pengetahuan serta sumber-sumbernya tanpa memandang bidang ilmu dan kegiatan. Hal ini memacu masyarakat melek informasi. Siapa saja bisa mempunyai akses ke sumber-sumber informasi dan pengetahuan dan bisa dengan mudah mempublikasikan karyanya. Siapapun tanpa memandang status sosial ekonominya bisa berpartisipasi dalam suatu milis. Orang pun bisa semakin mudah untuk melakukan multi-tasking (beberapa tugas dalam waktu yang sama hanya melalui satu komputer), sehingga keadaan ini berdampak pada penuangan informasi dalam jumlah yang tak terhitung atau sering disebut sebagai ledakan informasi. Akibat dari keadaan ini telah merubah titik pandang masyarakat terhadap informasi dan pengetahuan. Informasi telah menjadi bagian dari roda ekonomi dunia.

Untuk menjembatani situasi ini (kebutuhan informasi masyarakat dan ketersediaan informasi perpustakaan) telah dikembangkan konsep dan model baru perpustakaan yang dapat mengakomodasi kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi masyarakat. Model-model yang dikembangkan tersebut yaitu perpustakaan elektronik, perpustakaan digital dan kombinasi antara perpustakaan tradisional dan perpustakaan digital.

*Pemustaka


Share this Post