Ketika Abu Krakatau Menyentuh Laut: Membangun Literasi Lingkungan Berbasis Ekoteologi

Sumber Gambar :

Oleh: Eni Nuraeni*

Selat Sunda bukan sekadar hamparan laut yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra. Di balik perairannya, tersimpan kehidupan yang begitu kompleks. Terumbu karang, padang lamun, mangrove, pantai berpasir, kawasan wisata, hingga wilayah penangkapan ikan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di tengah dinamika alam tersebut berdiri Gunung Anak Krakatau (GAK), gunung api aktif yang tumbuh di dalam kawasan kaldera Krakatau. Kehadirannya sekaligus menjadi pengingat bahwa masyarakat pesisir hidup berdampingan dengan alam yang tidak pernah benar-benar diam.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian pada 2026. Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas erupsi yang berlanjut pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Pada 27 Agustus sampai dengan 2 September 2026, kolom abu dan gas teramati mencapai sekitar 100–400 meter di atas puncak, dengan sebaran terutama ke arah barat, barat laut, utara, dan timur laut. Pada periode tersebut, tingkat aktivitas berada pada Level III dan masyarakat diminta menjauhi radius 3 kilometer dari kawah. Situasi ini menunjukkan satu hal penting: Gunung Anak Krakatau bukan sekadar cerita masa lalu. Ia merupakan bagian dari dinamika lingkungan yang perlu terus dipahami.

Ketika hujan abu terjadi, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada hal-hal yang paling mudah terlihat. Atap rumah harus dibersihkan. Kendaraan dipenuhi abu. Halaman menjadi kotor. Aktivitas sehari-hari terganggu. Namun, ada proses lain yang berlangsung secara perlahan dan sering luput dari perhatian. Abu dan material vulkanik dapat berinteraksi dengan lingkungan daratan, kemudian terbawa oleh air hujan dan limpasan permukaan menuju laut.

Pengalaman erupsi Gunung Anak Krakatau pada 2018 memberikan gambaran mengenai proses tersebut. Material vulkanik yang dihasilkan terdiri atas abu vulkanik, lapili, skoria, bom, blok, dan batu apung. Endapan yang relatif lepas dapat mengalami erosi ketika terkena air hujan. Material tersebut kemudian terbawa melalui alur-alur erosi menuju laut dan berkontribusi terhadap perubahan karakter perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Artinya, abu vulkanik tidak berhenti ketika jatuh ke tanah, tetapi dapat menjadi bagian dari sebuah rantai ekologis: erupsi → abu dan material vulkanik → deposisi di daratan dan laut → limpasan saat hujan → perubahan sedimen dan kualitas perairan → respons organisme pesisir → perubahan fungsi ekosistem.

Inilah alasan mengapa bencana vulkanik perlu dilihat tidak hanya sebagai persoalan kebencanaan, tetapi juga sebagai persoalan ekologis. Pesisir menghadapi tekanan yang berlapis Persoalan menjadi semakin kompleks karena ekosistem pesisir tidak hanya menghadapi ancaman dari aktivitas gunung api.

Bahan pencemar dapat masuk ke wilayah pesisir. Mineral, logam berat, dan bahan pencemar organik, hingga sampah plastik, hal ini tekanan yang banyak ditemukan pada ekosistem pesisir Indonesia. Terumbu karang, mangrove, dan padang lamun memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap berbagai tekanan tersebut,  terumbu karang termasuk salah satu ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan antropogenik.

Material vulkanik yang jatuh di daratan dapat kembali bergerak ketika hujan turun. Limpasan membawa material tersebut ke sungai, pesisir, dan laut. Di laut, material kemudian berinteraksi dengan gelombang, arus, sedimen, dan organisme. Dengan demikian, tekanan terhadap ekosistem pesisir tidak selalu datang satu per satu. Tekanan alam dan tekanan akibat aktivitas manusia dapat bertemu dan saling memperkuat.

Menjaga pesisir tidak cukup hanya dengan menanam mangrove atau membersihkan sampah. Kita juga perlu memahami bagaimana berbagai tekanan lingkungan saling berhubungan.

Belajar dari Krakatau: alam mampu pulih, tetapi membutuhkan waktu

Krakatau juga memberikan pelajaran menarik tentang kemampuan alam untuk memulihkan dirinya. Penelitian mengenai pemulihan vegetasi pasca erupsi Krakatau 1883 menunjukkan bahwa suksesi ekologis berlangsung secara bertahap. Kawasan yang awalnya didominasi batuan dan abu vulkanik perlahan mulai dihuni oleh spesies pionir. Selanjutnya berkembang menjadi komunitas padang rumput dan pakis, kemudian hutan pantai, hingga pada tahap berikutnya berkembang menjadi komunitas hutan tropis yang semakin kompleks. Pelajaran ini sederhana, tetapi penting:

Alam memiliki kemampuan untuk pulih, tetapi alam membutuhkan waktu. Karena itu, manusia tidak selalu harus terburu-buru "memperbaiki" alam setelah bencana. Pada kawasan tertentu, tindakan terbaik justru memberikan ruang agar proses suksesi alami berlangsung. Pada lokasi lain, rehabilitasi aktif mungkin diperlukan.

Konservasi dengan demikian bukan sekadar menanam kembali apa yang hilang, tetapi memahami kapan alam perlu dibantu dan kapan alam perlu diberi kesempatan untuk bekerja sendiri. Masyarakat sebagai penonton menjadi penjaga lingkungan, mitigasi bencana selama ini sering dipahami sebagai urusan pemerintah, BPBD, PVMBG, BMKG, dan para ahli. Padahal, masyarakat adalah pihak yang tinggal paling dekat dengan lingkungan. Mereka yang pertama melihat perubahan warna air. Mereka yang mengetahui perubahan perilaku alam di sekitar tempat tinggalnya. Nelayan mengetahui perubahan kondisi laut. Petani mengetahui perubahan tanah. Masyarakat pesisir mengetahui jalur yang aman maupun lokasi yang berisiko. Pengetahuan tersebut merupakan modal penting.

Masyarakat tidak seharusnya hanya menjadi penerima informasi ketika bencana terjadi. Mereka perlu menjadi bagian dari sistem mitigasi. Teknologi peringatan dini memang penting. Namun, teknologi tidak akan banyak membantu jika masyarakat tidak memahami arti peringatan tersebut, tidak mengetahui harus berbuat apa, atau justru lebih percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya. Dengan demikian, mitigasi membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar: literasi lingkungan. Literasi lingkungan bukan sekadar tahu bahwa Krakatau itu aktif, literasi lingkungan sering kali dipahami sebatas pengetahuan. Seseorang dianggap memiliki literasi lingkungan ketika mengetahui bahwa Gunung Anak Krakatau adalah gunung api aktif. Padahal, literasi lingkungan jauh lebih luas.

Masyarakat perlu mampu memahami hubungan antara aktivitas vulkanik dan perubahan lingkungan, mengenali risiko, membaca informasi peringatan dini, membedakan informasi resmi dari hoaks, mengetahui jalur evakuasi, memahami dampak aktivitas manusia terhadap pesisir, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya. Dengan kata lain, literasi lingkungan merupakan perpaduan antara: pengetahuan, kesadaran, keterampilan, sikap, dan tindakan. Masyarakat yang berliterasi lingkungan bukan hanya tahu bahwa bencana dapat terjadi. Mereka tahu mengapa bencana terjadi, apa dampaknya, bagaimana mengurangi risikonya, dan apa yang harus dilakukan ketika tanda bahaya muncul. Ketika ilmu bertemu nilai agama, disinilah ekoteologi menjadi menarik. Konservasi lingkungan sering disampaikan dalam bahasa ilmiah. Ekoteologi membuka ruang untuk menyampaikannya melalui bahasa nilai, moral, dan spiritual yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, misalnya, manusia dipahami sebagai khalifah yang memiliki amanah dalam mengelola bumi. Kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana manusia memperlakukan ciptaan Tuhan. Pesan konservasi kemudian dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memahami peringatan dini bukan hanya persoalan mengikuti aturan pemerintah, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga kehidupan.

Membuang sampah pada tempatnya bukan hanya persoalan kebersihan, Ia merupakan bentuk tanggung jawab terhadap ciptaan. Menjaga mangrove bukan sekadar program penghijauan. Ia merupakan bagian dari amanah untuk mempertahankan kehidupan pesisir.

Dengan cara pandang tersebut, lingkungan tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang berada di luar kehidupan manusia. Manusia merupakan bagian dari ekosistem dan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya.

Bagaimana jika sekolah memiliki “Kurikulum Mini Krakatau”?

Lampung dan Banten merupakan salah satu daerah pesisir pulau jawa dengan mayoritas Islam. Dua daerah ini sangat dekat dengan Krakatau. Bayangkan jika anak-anak yang tinggal di wilayah pesisir, baik yang bersekolah di sekolah umum maupun pesantren, belajar tentang Krakatau bukan hanya dari buku teks. Mereka bisa diajak membaca peta kawasan rawan bencana, mengenali material vulkanik, mengamati perubahan kualitas air, mempelajari fungsi mangrove, memantau sampah pantai, membuat biopori, hingga mengikuti simulasi evakuasi. Inilah gagasan "Kurikulum Mini Krakatau".

Pembelajaran dapat dibuat kontekstual dengan lingkungan tempat siswa hidup. Mereka tidak hanya menghafal definisi gunung api atau ekosistem pesisir, tetapi belajar membaca lingkungan secara langsung. Sekolah dapat menjadi laboratorium kehidupan. Anak-anak belajar bahwa mangrove bukan hanya nama tumbuhan. Mangrove adalah bagian dari sistem pesisir. Mereka belajar bahwa abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori rumah. Mereka belajar bahwa perubahan lingkungan perlu diamati dan dipahami, dan  yang paling penting, mereka belajar bahwa kesiapsiagaan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pesantren dan masjid sebagai ruang literasi ekologis. Gagasan yang sama dapat dikembangkan di pesantren. Pesantren Ekologi Pesisir dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kajian keislaman dengan praktik konservasi. Santri dapat belajar tentang mangrove, pengurangan plastik, penghematan air, pengelolaan sampah, perlindungan terumbu karang, hingga kesiapsiagaan bencana. Masjid pun dapat mengambil peran.

Pesan-pesan tentang menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menghemat air, menjaga pesisir, dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana dapat hadir melalui khutbah, pengajian, maupun kegiatan sosial. Dengan demikian, pesan lingkungan tidak hanya disampaikan oleh ilmuwan atau pemerintah. Ia dapat disampaikan oleh guru, ustadz, tokoh masyarakat, nelayan, pemuda, perempuan, pengelola wisata, dan berbagai kelompok masyarakat. Konservasi akhirnya menjadi bagian dari budaya. Mitigasi bukan hanya ketika sirene berbunyi. Bencana sering membuat kita sadar bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas alam. Namun, kesadaran tersebut seharusnya tidak muncul hanya setelah bencana terjadi.

Masyarakat pesisir perlu membangun kebiasaan untuk membaca lingkungan sebelum keadaan menjadi darurat. Memahami informasi resmi. Menjaga ekosistem. Mengurangi sampah. Mengetahui jalur evakuasi. Mengikuti simulasi. Mengajarkan anak-anak tentang risiko. Menguatkan jejaring antarwarga. Semua itu merupakan bagian dari mitigasi. Pada akhirnya, membangun masyarakat yang tangguh bukan hanya persoalan menyediakan teknologi peringatan dini. Ketangguhan lahir ketika pengetahuan ilmiah bertemu dengan pengalaman lokal, pendidikan bertemu dengan praktik, dan nilai agama bertemu dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Gunung Anak Krakatau akan terus menjadi bagian dari dinamika Selat Sunda. Erupsi, abu, material vulkanik, gelombang, arus, dan proses ekologis akan terus berlangsung sebagai bagian dari sistem alam. Pertanyaannya bukan apakah kita mampu menghentikan alam. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa baik kita memahami alam, seberapa bijak kita memperlakukannya, dan seberapa siap kita hidup berdampingan dengan dinamikanya?. Di situlah literasi lingkungan berbasis ekoteologi menemukan maknanya. Menjaga pesisir bukan hanya tentang menyelamatkan terumbu karang, mangrove, lamun, dan pantai, menjaga lingkungan pada akhirnya adalah upaya menjaga kehidupan. Mitigasi bencana seharusnya tidak dimulai ketika sirene berbunyi, mitigasi harus menjadi budaya kehidupan sehari-hari.

*Mahasiswa S3 PSL IPB 2026

Dosen Prodi Biologi FSainstek UIN SMH Banten


Share this Post