Mengenal Jejak KH Mas Abdurrahman Sang Ulama Banten Abad ke-20
Sumber Gambar :Oleh: Aceng Murtado*
Pendahuluan
Sejarah Banten bukan hanya sejarah kesultanan, perang, dan kolonialisme. Di balik narasi besar tersebut terdapat sejarah panjang tentang ulama, pesantren, madrasah, dan masyarakat yang mempertahankan sekaligus mengembangkan tradisi keislaman. Salah satu fase penting dalam sejarah tersebut berlangsung pada akhir abad ke-19 dan memasuki awal abad ke-20, ketika masyarakat Banten menghadapi perubahan sosial dan politik yang semakin kompleks akibat kolonialisme Belanda serta masuknya gagasan-gagasan pembaruan pendidikan Islam.
Pada masa tersebut, pendidikan menjadi salah satu medan penting dalam pertarungan gagasan. Pemerintah kolonial membangun sistem pendidikan yang memiliki kepentingan tersendiri, sementara masyarakat Muslim berhadapan dengan persoalan keterbatasan akses pendidikan. Dalam situasi demikian, ulama tentunya tidak hanya berfungsi sebagai guru agama. Ulama pada saat itu, juga menjadi penggerak perubahan sosial. Mereka mendirikan pesantren, madrasah, majelis taklim, dan berbagai bentuk kelembagaan untuk menjawab persoalan masyarakat.
Banten sendiri memiliki posisi penting dalam dinamika tersebut. Tradisi keulamaan Banten telah berkembang jauh sebelum abad ke-20. Namun, perubahan zaman menuntut bentuk baru dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Pendidikan Islam tidak lagi cukup hanya mengandalkan pola pengajian tradisional, pendidikan islam membutuhkan sistem yang lebih terstruktur, termasuk kurikulum, bahan ajar, dan pengelolaan kelembagaan.
Dalam konteks inilah nama KH Mas Abdurrahman menjadi penting. KH Mas Abdurrahman dikenal sebagai salah satu ulama yang memprakarsai dan memimpin perkembangan Mathla'ul Anwar di Menes, Pandeglang. Penelitian Agus Kusman menyebut KH Mas Abdurrahman sebagai tokoh yang memprakarsai berdirinya madrasah Mathla'ul Anwar dan mengembangkan pembaruan pendidikan melalui sistem kelas, kurikulum, serta pengembangan bahan ajar.
Mathla'ul Anwar sendiri lahir di Menes pada 1916 M. Sumber kelembagaan Mathla'ul Anwar mencatat bahwa organisasi tersebut didirikan oleh KH Mas Abdurrahman bersama sejumlah ulama Banten, di antaranya KH Tb. Moh. Sholeh dan KH Tb. Yasin. Gerakan tersebut sejak awal diarahkan pada pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial.
Namun, terdapat persoalan yang menarik. Meskipun jejak kelembagaan yang dibangun KH Mas Abdurrahman masih dapat ditemukan hingga sekarang, namanya belum memperoleh tempat yang sebanding dalam ingatan publik dengan beberapa tokoh pembaru Islam lain pada periode yang sama.
Banten dan Pergulatan Islam pada Awal Abad ke-20
Untuk memahami KH Mas Abdurrahman, kita tidak dapat melepaskannya dari kondisi masyarakat Banten pada zamannya. Banten memiliki tradisi Islam yang kuat. Pesantren dan ulama telah menjadi bagian penting dalam struktur sosial masyarakat. Islam hadir sebagai pembentuk pola hubungan sosial, pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan masyarakat.
Memasuki abad ke-20, situasi tersebut mengalami perubahan. Kolonialisme Belanda membawa sistem administrasi dan pendidikan baru. Pada saat yang sama, gagasan pembaruan Islam berkembang di berbagai wilayah dunia Muslim dan kemudian ikut memengaruhi masyarakat Muslim Indonesia. Perubahan tersebut melahirkan tantangan sekaligus peluang.
Di satu sisi, umat Islam harus menghadapi keterbatasan pendidikan dan tekanan kolonial. Di sisi lain, muncul kesadaran di kalangan ulama bahwa pendidikan harus diperkuat agar masyarakat tidak tertinggal. Karena itu, pembaruan pendidikan Islam menjadi salah satu bentuk respons terhadap perubahan zaman.
Penelitian mengenai pemikiran KH Mas Abdurrahman menunjukkan bahwa pembaruan pendidikan yang dikembangkannya berkaitan dengan kebutuhan untuk memperkenalkan sistem pendidikan Islam yang lebih modern dan terstruktur di Banten. Sistem tersebut kemudian diwujudkan melalui madrasah dengan sistem klasikal dan kurikulum yang lebih terarah.
Sementara itu, Data mengenai kehidupan awal KH Mas Abdurrahman masih membutuhkan penelitian historiografis yang lebih mendalam. Salah satu penelitian akademik menyebut beliau lahir pada 1875 di Kampung Janaka, Pandeglang, Banten, dan wafat pada 1943 dalam usia sekitar 68 tahun yang dimakamkan di Komplek Perguruan Mathla’ul Anwar Cikaliung Pandeglang..
Sementara itu, terdapat sumber lain yang menyebut tahun kelahiran 1868. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penulisan sejarah KH Mas Abdurrahman masih membutuhkan verifikasi terhadap sumber primer dan kesaksian sejarah yang lebih luas.
Perbedaan tahun tersebut tentunya sama sekali tidak mengurangi arti penting tokohnya. Justru, persoalan itulah yang memperlihatkan bahwa sejarah ulama lokal masih membutuhkan kerja dokumentasi yang serius. KH Mas Abdurrahman dikenal memiliki hubungan dengan tradisi pendidikan Islam yang kuat dan pernah belajar di Makkah. Setelah kembali ke Banten, ia kemudian terlibat dalam upaya pembaruan pendidikan Islam di Menes.
Kembalinya seorang ulama yang memperoleh pengalaman keilmuan di tanah suci ke tengah masyarakat Banten menjadi momentum penting. Pengetahuan yang diperolehnya diterjemahkan menjadi gerakan pendidikan. Di sinilah karakter penting KH Mas Abdurrahman dapat dilihat.
Ia tidak memilih untuk menjadikan ilmu hanya sebagai simbol kehormatan pribadi. Ilmu diterjemahkan menjadi kerja sosial. Salah satu kontribusi terbesar KH Mas Abdurrahman terletak pada bidang pendidikan.
Pendidikan bagi KH Mas Abdurrahman tidak sekadar kegiatan transfer pengetahuan agama. Pendidikan merupakan jalan untuk membangun masyarakat.
Penelitian tentang pemikiran pendidikan KH Mas Abdurrahman menunjukkan bahwa pembaruan yang dikembangkannya mencakup pengelolaan madrasah, sistem klasikal, kurikulum, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan bahan ajar. Perubahan tersebut memiliki arti besar jika ditempatkan dalam konteks zamannya.
Sistem pendidikan klasikal membuat proses pembelajaran lebih terorganisasi. Peserta didik tidak hanya mengikuti pengajian berdasarkan kedatangan dan kesempatan, tetapi memperoleh pembelajaran dalam struktur yang lebih jelas.
Oleh sebabnya, madrasah menjadi ruang untuk mengubah ilmu agama menjadi sistem pendidikan. Di titik inilah pembaruan KH Mas Abdurrahman memiliki karakter yang menarik. Ia tidak serta-merta meninggalkan tradisi keislaman yang telah berkembang di Banten. Sebaliknya, ia berusaha mengembangkan pendidikan Islam agar mampu merespons kebutuhan masyarakat yang berubah.
Mathla'ul Anwar dan Lahirnya Sebuah Gerakan
Gagasan pendidikan tersebut kemudian memperoleh bentuk kelembagaan melalui Mathla'ul Anwar. Mathla'ul Anwar didirikan di Menes pada 1916. Sumber sejarah kelembagaan Mathla'ul Anwar menyebut tanggal 10 Syawal 1334 H atau 9 Agustus 1916 sebagai waktu berdirinya perguruan tersebut. Sementara beberapa sumber kelembagaan lain menuliskan 10 Juli 1916. Perbedaan penanggalan ini perlu diperiksa lebih lanjut berdasarkan dokumen historis asli. Namun, berdasarkan website resmi UNMA Banten Mathla’ul Anwar lahir pada tanggal 10 Juli 1916.
KH Mas Abdurrahman menjadi salah satu tokoh sentral di dalamnya. Nama Mathla'ul Anwar sendiri bermakna “tempat terbitnya cahaya”. Nama tersebut dapat dibaca sebagai representasi dari semangat pendidikan untuk menghadirkan ilmu dan menerangi masyarakat dari kebodohan.
Dalam konteks kolonialisme, pendidikan memiliki makna yang lebih luas. Pendidikan bisa dijadikan sebagai instrumen untuk membangun kesadaran masyarakat. Karena itu, berdirinya Mathla'ul Anwar dapat dipahami sebagai bentuk respons masyarakat Muslim Banten terhadap persoalan pendidikan pada masa tersebut.
Mathla'ul Anwar kemudian tidak hanya bergerak dalam pendidikan. Gerakannya berkembang dalam bidang dakwah dan sosial kemasyarakatan. Universitas Mathla'ul Anwar juga menempatkan sejarah organisasinya sebagai bagian dari perjalanan panjang pendidikan Islam di Banten sejak 1916.
KH Mas Abdurrahman sebagai Ulama dan Pendidik
KH Mas Abdurrahman hadir sebagai tempat masyarakat bertanya tentang persoalan agama, sekaligus juga sebagai sosok yang berusaha membaca perubahan zaman dan memberikan jawaban melalui pendidikan. Pada diri KH Mas Abdurrahman, peran tersebut sedikitnya tampak dalam tiga posisi yang saling berkaitan: sebagai ulama, sebagai pendidik, dan sebagai penggerak masyarakat. Ketiganya bukanlah peran yang berdiri sendiri, melainkan membentuk satu rangkaian perjuangan. Keulamaannya memberikan dasar keilmuan dan legitimasi moral; perannya sebagai pendidik menerjemahkan ilmu tersebut ke dalam proses pembentukan manusia; sedangkan perannya sebagai penggerak masyarakat menjadikan pendidikan sebagai kekuatan yang dapat bekerja secara lebih luas dan berkelanjutan.
Sebagai ulama, KH Mas Abdurrahman berada dalam tradisi keilmuan Islam yang menempatkan pengajaran agama sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Namun, baginya, ilmu agama tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan yang hanya disampaikan dalam ruang pengajian. Ilmu harus memiliki daya guna bagi kehidupan. Dari sinilah pendidikan memperoleh tempat yang penting dalam perjuangannya. Pendidikan menjadi jalan untuk menyebarkan ilmu secara lebih terarah sekaligus membentuk generasi yang mampu meneruskan pengetahuan tersebut.
Karena itu, membangun lembaga pendidikan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan tempat belajar. Lembaga memungkinkan gagasan untuk memiliki umur yang lebih panjang daripada penciptanya. Di dalam lembaga, ilmu dapat diajarkan kembali, guru dapat mencetak guru, dan murid dapat menjadi penerus. Dengan cara demikian, pendidikan menjadi sebuah tradisi yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sinilah salah satu sisi penting dari kepemimpinan KH Mas Abdurrahman dapat dipahami. Ia tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga berusaha membangun ruang agar pengetahuan tersebut terus hidup.
Peran tersebut kemudian berkelindan dengan posisi KH Mas Abdurrahman sebagai penggerak masyarakat. Pendidikan yang dibangun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial tempatnya tumbuh. Madrasah bukan hanya ruang untuk memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, pendidikan merupakan ruang untuk membangun kesadaran dan menyiapkan generasi yang kelak kembali ke tengah masyarakat.
Cara pandang tersebut membuat pengaruh seorang ulama tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang yang pernah mendengar ceramahnya atau seberapa besar pengaruhnya ketika masih hidup. Ukuran yang lebih panjang adalah sejauh mana gagasan yang ia tanamkan mampu bertahan setelah dirinya tidak lagi berada di tengah masyarakat. Jika gagasan itu dapat hidup melalui lembaga, diteruskan oleh murid, dan berkembang dalam kehidupan sosial, maka di situlah sebuah kepemimpinan intelektual menemukan bentuknya yang paling kuat.
Karena itu, warisan KH Mas Abdurrahman tidak semata-mata terletak pada sosok pribadinya, warisannya terletak pula pada gagasan yang berhasil ia tanamkan dan kelembagaan yang menjadi ruang bagi gagasan tersebut untuk terus berkembang.
Pada masa kolonial sendiri, keterbatasan akses pendidikan menjadi salah satu faktor yang mempertahankan keterbelakangan masyarakat pribumi. Gerakan pendidikan Mathla’ul Anwar yang dirintis KH Mas Abdurrahman dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap kebodohan dan keterbelakangan.
Oleh karena itu, kiprah KH Mas Abdurrahman perlu ditempatkan dalam perspektif sejarah transformasi sosial Banten. Pendidikan yang dikembangkannya merupakan strategi kultural untuk membangun kapasitas intelektual masyarakat sekaligus menghadapi keterbelakangan yang diwariskan oleh struktur sosial kolonial.
Tentunya, mengenalkan kembali sosok KH Mas Abdurrahman tidak dimaksudkan untuk membangun kultus terhadap tokoh, kita harus mampu untuk menempatkan pemikirannya dalam kajian sejarah secara kritis dan kontekstual. Yang penting bukan sekadar mengingat biografi dan tanggal kehidupannya, tetapi memahami gagasan serta relevansinya bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Kesimpulan
KH Mas Abdurrahman merupakan salah satu figur penting dalam sejarah perkembangan Islam dan pendidikan di Banten pada awal abad ke-20. Ia hidup dalam masa ketika masyarakat Banten menghadapi perubahan besar akibat kolonialisme, perkembangan sistem pendidikan modern, dan munculnya gagasan pembaruan Islam.
Dalam situasi tersebut, KH Mas Abdurrahman tidak memilih untuk bertahan hanya pada pola pengajaran tradisional. Ia ikut mendorong lahirnya pembaruan pendidikan Islam melalui Mathla'ul Anwar di Menes pada 1916. Pembaruan tersebut diwujudkan melalui pengembangan sistem madrasah, sistem klasikal, kurikulum, bahan ajar, dakwah, dan penguatan kelembagaan. Peran tersebut menjadikan KH Mas Abdurrahman sebagai pendidik dan agen perubahan sosial.
Warisan terbesarnya tidak berhenti pada nama Mathla'ul Anwar. Warisan tersebut terletak pada cara berpikir bahwa umat dapat dibangun melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dakwah, dan kelembagaan.
Dari Menes, gagasan itu berkembang melampaui batas geografis Banten. Dari satu generasi, ia diteruskan kepada generasi berikutnya. Inilah alasan mengapa jejak KH Mas Abdurrahman dapat dikatakan menembus zaman.
*Peneliti Badan Riset dan Inovasi Mathla’ul Anwar
Daftar Pustaka
Kusman, Agus. Implikasi Gerakan Pembaharuan KH Mas Abdurahman (1875–1943) di Banten. Skripsi, IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2017. (UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
Maddais. Modernisasi Pendidikan Islam: Studi Peran dan Pemikiran K.H. Mas Abdurrahman tentang Pendidikan Madrasah dan Praksisnya. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2025. (Repository UIN Jakarta)
Pratama, Lalu Muh Reza, dan Suparto. “Gerakan Organisasi Mathla'ul Anwar dalam Bidang Pendidikan Pemikiran K.H. Mas Abdurrahman.” Al-Idarah: Jurnal Manajemen Dakwah, Vol. 1, No. 1, 2025, hlm. 22–34. (IAI Al-Aziz Journals)
Universitas Mathla'ul Anwar Banten. “Sejarah Mathla'ul Anwar.” Universitas Mathla'ul Anwar Banten. (Universitas Mathla'ul Anwar Banten)
Mathla'ul Anwar. “Sejarah Perjuangan.” Sumber kelembagaan Mathla'ul Anwar. (MA Digital)
“Sejarah dan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Mathla'ul Anwar Menes Pandeglang dan Kontribusinya terhadap Pendidikan Islam di Provinsi Banten.” Repository UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (Repository UIN Banten)